Gadis SMU

 http://img422.imageshack.us/img422/6674/monmon5eq.jpg

Ben dengan nafsu yang besar mencium dan melumat bibir Rere, pelajar berusia 16 tahun yang sangat popular yang disekap di dalam villanya. Tangannya menjamah seluruh permukaan tubuh Rere tanpa sedikitpun terlewatkan. Buah dada Rere yang ranum sekarang sedang dilumat habis-habisan oleh Ben yang seakan takut kedua benda itu akan habis atau menghilang. Seperti tidak mengenal hari esok, Ben memuaskan nafsu biologisnya tanpa lelah sedikitpun. Semenjak 3 hari yang lalu dia berhasil membawa –atau tepatnya menculik– Rere dari sekolahnya. Semenjak 3 hari yang lalu pula nafsu seks Ben menjadi sangat tinggi dan selalu disalurkan kepada tawanannya itu. Segala jenis posisi yang dari dulu selalu ingin dicobanya sekarang terpenuhi sudah semenjak Rere ‘menemani hari-hari’nya. Ben selalu mencoba menginginkan gaya baru setiap kali sehabis bercinta dengan Rere yang Ben tahu Rere tidak bisa menikmati.

Ben merasa bosan dengan segala penolakan Rere setiap kali dia coba mencumbunya. Selalu menangis dan memohon untuk dilepaskan. Sudah berkali-kali Ben menegaskan pada Rere bahwa apa yang dikatakannya beberapa hari lalu itu sudah keputusan dan tekad finalnya. Dia akan ‘menyimpan’ Rere sampai batas waktu yang tidak tertentu. Tetapi dari semua kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan buat Ben, jeritan-jeritan dan rintihan-rintihan Rere di ranjang seolah membangunkan monster besar dalam dirinya gembira dan semakin bernafsu untuk menambah bumbu-bumbu percintaannya menjadi tinggi. Monster ini selalu menggeliat setiap mendengar Rere menjerit dan menangis setiap kali tuannya mencumbunya.

Permainan kasar tidak bisa dielakkan dalam tiap percintaan mereka. Meskipun Ben selalu menginginkan respon yang baik dari Rere. Dia ingin sekali mendapatkan permainan ‘dua arah’ setiap dia berusaha mencumbu Rere. Ataupun sekedar membalas ciumannya. Ben tahu Rere selalu mencari cara untuk menolak atau menggagalkan rencananya. Tetapi rupanya ancaman-ancaman dan gertakan dinginnya selalu membuat Rere ciut.

Permainan kali ini Ben sudah siap menerima semua penolakan Rere. Toh dia juga menikmati manakala Rere menjerit, menangis dan merintih kesakitan karena penetrasi kering. Tetapi, ketika dia mulai menjamah tubuh tawanannya, di luar dugaan Ben, Rere seperti berubah. Sekarang dia menikmati semua ciuman-ciumannya. Ben sungguh terpana ketika kedua lengan Rere merangkul lehernya. Ada monster lain yang bangkit dalam tubuh Ben. Monster baru yang lebih lembut dan penuh perasaan yang meluluhkan dan membuat Ben secara lembut mencium bibir Rere. Dia merasakan bibir lembut Rere beradu dengan bibirnya. Lidah Rere pun sekarang menjalar pelan di dinding-dinding mulutnya. Membuat nafsunya menjadi tinggi.
“Udah berubah ya…? tumben sekarang gak nolak lagi?” Ben berbisik pelan kepada Rere. Rere pun melepaskan rangkulan tangannya di leher Ben. Dan untuk pertama kalinya Ben melihat Rere tersenyum padanya. Senyum yang sangat menyejukkan perasaannya dan mengairahkan cintanya. Lalu dirasakannya Rere memeluk pinggangnya dan berkata sambil memberikan senyum yang paling menawan yang pernah dilihat Ben.
“Well, aku kan gak bisa selamanya nolak terus…“ kata Rere “Aku juga kadang-kadang suka… Toh aku sekarang gak bisa kemana-mana lagi… ya kan…? daripada sakit, mendingan aku nikmatin…“ jelas Rere lancar. Tidak ada nada ragu dalam setiap kalimatnya. Hal ini membuat Ben merasakan bahwa Rere sudah benar-benar jatuh dalam pelukannya.

Tanpa di duga, Ben merasakan Rere memegang kedua tangannya. Masih dengan senyum manisnya, Rere meremas tangannya dan lagi-lagi di luar dugaan Ben, dia merasakan jari-jari lembut gadis di depannya itu sekarang menuntun kedua tangannya ke arah dadanya yang masih terbungkus lingerie hitam dan diletakan tepat di kedua payudaranya.
“Aku tau kamu suka banget sama mereka…“ Rere berbisik erotis dan mengedip nakal kepada Ben “Sekarang mereka punya kamu… tapi, don’t be rough… You must treat them real nice… Like how they’re supposed to be treated… no hush no rush… smooth and thoughtful…” Ben tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Tetapi sekarang dia lebih santai meremas kedua benda itu dengan lambut. Dilihatnya Rere memejamkan mata menikmati setiap sentuhannya saat remasan pertama diberikan. Ben menyukai permainan sekarang. ‘Dua arah’ seperti yang selalu diinginkannya. Cumbuan pun terus berlanjut Rere mendesah-desah membuat Ben sungguh terangsang.

Sementara Ben terus mengeluarkan jurus ’lembut’nya, dengan halus Rere memeluk Ben dan mencium bibirnya, melepaskan rasa jijik dalam pikirannya. Kedua tangannya sekarang bergerak nakal di seluruh tubuh Ben. Tetapi ada rencana Rere yang lain dibalik permainan erotis ini. Merasa Ben sudah terlena dan sudah waktunya, dengan mantap Rere menyelipkan tangannya memasuki kantong celana Ben yang sekarang terletak sembarang di atas tempat tidur di mana mereka bergumul. Rere merasakan benda logam di dalam celana itu. Benda logam panjang pipih dengan keyring bulat. Dengan berbinar-binar, sambil berciuman Rere mencoba menarik dengan hati-hati benda logam yang sekarang ada di genggamannya.

Tetapi sebelum keluar dari kantong celana itu, Rere merasakan pergelangan tangannya dicengkeram kuat oleh tangan Ben. Rere juga merasakan ciuman Ben sekarang berhenti. Sedetik kemudian Ben menarik tangannya keluar dari kantong celananya dan melihat kuncinya sendiri sekarang berada dalam genggaman Rere. Sekejap saja senyum di bibir Ben sirna bergantikan raut murka di wajahnya. Entah untuk yang keberapa kali, lagi-lagi Rere merasakan tamparan keras di pipinya. Jatuh tersungkur di kasur yang empuk dan masih merasakan perih di pipinya, tanpa peringatan dirasakannya Ben menjambak rambutnya dengan kasar dan menariknya bangun.

“Ternyata lo licik juga!!“ desis Ben murka, dengan kasar dia merampas kunci itu dari tangan Rere “Jangan pernah lo berharap bisa keluar dari sini!!“ Ben menghempaskan tubuh Rere ke tempat tidur. Wajahnya merah menahan amarah dan nafsu yang tertunda.
“Lo gak bisa ngurung gue selamanya di sini…“ rintih Rere berusaha berkomunikasi. “Gue bukan barang… Gue harus keluar… gue udah lama gak kena matahari…gue udah bolos sekolah 3 hari, gak ada kabar… mereka akan pikir gue mati atau apa… orangtua gue.. sodara gue… Apa lo pikir lo gak terlalu egois?!” protes Rere memelas. “Lo udah ngedapetin semuanya… gue gak akan lapor polisi… please……biarin gue hidup tenang… gue bakal ngelupain semuanya…. Please…lepasin gue”
“Bagus!” ketus Ben, “Bagus kalo mereka pikir lo mati! Jadi gak ada yang cari-cari lagi!” raung Ben masih dengan tatapan murka. “Dan lo salah… lo itu udah jadi hak milik gue!” Rere ketakutan mendengar Ben memberi tekanan pada kata ‘hak milik’ menunjukkan kalau dia sudah berkuasa atas dirinya. “Dengar! Gue bisa ngelakuin apa aja yang gue mau! Apa lo pikir gue peduli ama komentar orang-orang!! Dan jangan bahas soal matahari! such a lame excuse!!” sambil membentak, Ben mulai mengenakan pakaiannya satu per satu. Dia merasa terhina ditipu seperti itu. Angan-angannya untuk bermain ‘dua arah’ hilang sudah. “Dan gue gak takut polisi!!, jadi simpen aja semua cara-cara lo buat keluar dari sini!! Lo tau sendiri gue bisa lebih kejam dari yang tadi!! Gue bisa nekat lebih dari yang bisa lo bayangin!! Jangan bikin gue ngelupain semua akal sehat gue!! Paham lo!!”

“Ben, lo gak bisa ngancurin masa depan gue Ben..” Rere masih berusaha menyakinkan Ben. Berharap dia bisa mengerti. “Biarin gue selesain sekolah gue dulu Ben…” “Kalo satu hari lo dah bosen ma gue, dan lo pengen ngebuang gue… Gue gak bakal bisa hidup tanpa pendidikan…” Rere berusaha menjelaskan. Tetapi rupanya Ben sudah siap-siap untuk meninggalkan kamar menuju ke pintu. Rere menyadarinya dan segera saja dia bangkit dari tempat tidurnya, berlari membuang tubuhnya di kaki Ben.
“Please Ben… lepasin gue… Lo masih bisa ngedapetin orang yang lebih cantik dari gue… lebih seksi… pasti banyak Ben… Please…”Seru Rere memelas memeluk kaki Ben sambil menatap lantai karpet. Sekali lagi Ben tidak bergeming. Dia berkutat melepaskan kakinya dari pelukan Rere, membuka pintu dan keluar meninggalkan Rere yang masih bersimpuh di lantai karpet. Lagi-lagi Rere mendengar pintu dikunci dari luar. Dia sekarang sudah kehilangan akal. Rencananya yang dia pikir akan berhasil ternyata dimentahkan dengan mudah oleh Ben. Seperti tidak ada harapan lagi Rere akhirnya mengangkat tubuhnya berjalan menuju kamar mandi. Mungkin membenamkan tubuhnya di air hangat akan melunturkan masalahnya sedikit demi sedikit.

Rasanya air yang tadi begitu hangat menentramkan sekarang dingin seperti jarum-jarum kecil yang menusuk setiap inci kulit tubuhnya. Rere terbangun menggigil dari bathup, dia mengeringkan tubuhnya, mengenakan bathrobe dan keluar dari kamar mandi.

Dilihatnya Ben sudah duduk di sofa samping tempat tidur. Ekspresi kecewa sebelum dia meninggalkan kamar sekarang sudah sedikit berkurang. Dengan takut-takut Rere berjalan ke arah lemari pakaian. Dia mengambil pakaian dalam yang segera dikenakan. Selama tinggal di dalam sekapan, Rere mendapat begitu banyak pakaian dari Ben. Hampir setiap kali Ben keluar kamar pergi entah kemana, dia selalu membawa pakaian baru untuk dikenakan Rere. Niatnya untuk mengurung Rere lebih lama ternyata memang sungguh-sungguh ditunjukkannya. Masih dalam diam, Rere mengambil salah satu baju dan celana pendek dan baru saja selesai dikenakan ketika dengan tiba-tiba Ben berbicara padanya.

“Duduk Re…” suara Ben hampir tanpa nada. Rere takut dengan suara itu. Seperti tidak bisa ditebak apa yang akan terjadi. Dia lebih suka Ben berteriak atau marah-marah daripada tanpa ekspresi. Rere pun dengan perlahan duduk di sofa di dekat Ben. Dia melihat ada bungkusan plastik di tangan Ben yang Rere nilai dari bentuknya, isinya pasti berbentuk segi empat pipih. Prediksi Rere ternyata betul. Ben segera mengeluarkan isi dari bungkusan plastik itu. Langsung saja dalam genggaman Ben, sebuah CD silver ditunjukkan kepadanya. Rere tidak melihat ada semacam tulisan atau gambar pada CD itu.
“d’u wanna see this…?” tanya Ben pelan. Tanpa menunggu jawaban, Ben beranjak ke depan dan menyalakan TV yang berada tepat di hadapan mereka. Dia mengambil remote control dan mengarahkan ke arah DVD player yang berada di bawah TV. DVD player terbuka dan Ben langsung memasukkan CD itu ke dalamnya. Rere terdiam. Melihat ke layar TV, menunggu dengan perasaan tidak wajar dalam dirinya. Hatinya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan oleh Ben.

Screen TV sekarang berubah menjadi biru. Perlahan tapi pasti, gambar di TV menayangkan sesuatu dengan gerakan kasar. Seperti terekam oleh handycam yang di ambil oleh orang yang sangat amatir. Tayangan itu menunjukkan sebuah ruangan yang lumayan terang menurut Rere. Hatinya berdebar-debar karena dia tahu ruangan apa itu. Seperti disambar petir, Rere tidak mengira hal ini akan terjadi. Ruangan itu adalah ruangan BP sekolahnya tempat di mana dia pernah diperkosa beramai-ramai oleh Ben dan teman-temannya. Dan benar saja. Sekarang TV sedang menayangkan dirinya yang tertidur –karena pingsan– dengan tubuh terlanjang. Tayangan amatir ini sekarang secara perlahan meng-close up tubuh Rere yang bugil. Rere tidak tega untuk melihatnya. Dia sungguh marah pada Ben. Spontan matanya memanas dan airmatanya tidak bisa dibendungnya lagi. Jatuh menetes di kedua pipinya yang mulus. Adegan di TV masih terus berlangsung, layar bergerak-gerak perlahan mendetailkan setiap lekuk tubuh Rere. Sekarang Rere bisa melihat selangkangannya sendiri. Ada tangan seseorang membuka kedua pahanya dan mengambil gambar yang tentu saja membuat mata Ben nanar bernafsu. Wajah Rere memerah malu kepada dirinya sendiri. Melihat tayangan di TV membuat hatinya menangis, sakit hati dan menyesali nasibnya sendiri. Setelah puas meng-close up bagian sensitif Rere, kamera sekarang bergerak ke atas. Tidak ada sosok figur lain kecuali buah dada Rere yang meski basah oleh keringat, tetapi terlihat putih mengkilap yang pasti membuat batang kejantanan siapapun akan menggeliat bangun.

Kemudian, kamera menjelajahi seluruh permukaan kulit Rere yang berkeringat merangsang. Walaupun matanya terpejam, di dalam kamera Rere terlihat sangat cantik dan menawan. Tidak ada suara-suara orang berbicara dalam rekaman ini. Tetapi Rere mendengar bunyi sesuatu yang berat sedang ditarik –atau diseret– dan bunyi langkah-langkah kaki. Semenit kemudian, dengan sangat terkejut, Rere melihat sosok Albie yang juga tertidur sekarang tergeletak disebelahnya. Scene sekarang terputus-putus. Tetapi setiap scene menunjukan pergumulan yang tidak wajar antara Albie dan Rere. Scene berubah lagi. Tampak Albie sekarang tertidur terlentang dengan kepala Rere merebah di dadanya, tangan Albie memeluk pundak Rere, masih dengan terpejam tampak Rere menggenggam kemaluan Albie yang tertidur, selama semenit kamera memutari Rere dan Albie dalam posisi itu.

Scene berganti lagi, kali ini Albie tertidur miring menghadap Rere yang terlentang. Wajah Rere dihadapkan ke Albie yang juga menghadap ke dirinya. Ketika kamera menjauh, Rere melihat tangan Albie tepat di buah dadanya, seolah meremasnya, tetapi Rere tahu dengan keadaan pingsan seperti itu Albie tidak mungkin meremas. Tangan itu terlihat seperti hanya tergeletak lemas tak berdaya di atas buah dadanya. Scene berganti lagi, posisi Rere di atas Albie. Scene berganti lagi, kepala Rere tepat berada di selangkangan Albie. Dan setiap pergantian scene berikutnya membuat hati Rere hancur, seperti tersayat. Sakit, marah dan sedih dengan perlakuan keempat kawanan itu. Dia akhirnya sadar kenapa dia terbangun tepat di sebelah Albie ketika dia tersadar dari pingsannya setelah kejadian pemerkosaan itu.

“Apa maksudmu…” Rere bertanya protes. Tetapi Ben men ‘ssshh’nya diam. Menyuruhnya untuk tetap melihat ke arah TV. Rere tidak tega untuk menontonnya. Tetapi tiba-tiba, terkejut bukan kepalang, adegan sekarang menunjukkan pusaran hitam melingkar yang berputar-putar semakin lama semakin menjauh dan menghilang menghadirkan gambar lain dalam TV. Adegan yang ini rasanya benar-benar menghancurkan seluruh masa depannya. Rere melihat adegan percintaannya dengan sadar bersama Albie di dalam mobil. Dia mendengar dirinya yang di dalam TV meracau, mengerang dan mendesah hebat. “ Bie… masukin Bie… Aku udah gak tahan…“. spontan muka Rere memerah mendengar dan mengingat kata-katanya sendiri ketika bercinta dengan albie waktu itu.
“UDAH!!!! CUKUP!!!“ Raung Rere tiba-tiba. Dia mendadak bangun dari sofanya, menatap Ben tidak pecaya. “Apa maksud lo sebenernya??!” Rere menuntut Ben yang masih dengan santai duduk disebelahnya, terus menatap TV tanpa ekspresi . “Kenapa lo bisa setega itu??” seakan Rere berbicara dengan patung. “Apa sih yang lo pengenin dari gue sebenarnya??” Rere merampas pengendali jarak jauh dari tangan Ben. Tanpa reaksi Ben beranjak ke sudut ruangan dimana tempat dia meletakan bungkus rokoknya. Menarik sebatang dari dalam bungkusnya dan menyulutkan api sebelum dia menghisap dalam-dalam.

“Sekarang lo tau siapa gue… gue dah pernah bilang kalo lo belum tau apa-apa tentang gue…“ Ben melanjutkan, “Gue gak akan ngebiarin mangsa gue lolos dengan mudah Re…“ Rere mendengar sambil menatap Ben tidak percaya, dia melihat bibir Ben menipis mendesis menakutkan, “Kalo lo pikir gue gak mikirin masa depan lo… lo salah!! Gue udah nentuin masa depan lo, yaitu ama gue…” Rere tidak mempercayai kata-kata yang didengarnya sendiri. “Gue cinta sama lo Re…. Gue gak nganggap lo barang ato apa… tapi gue emang dah nganggap lo milik gue…” sekarang nada dalam kata-kata Ben berubah hangat dan misterius.

“Kalo lo mau gue ngelepasin lo…“ lanjut Ben, “OK! Lo boleh mulai besok sekolah seperti biasa…tapi, lo akan setiap hari pulang ke tempat di mana gue tinggal… Lo engga akan memberitahu siapa-siapa mengenai ini… Lo bakal matuhin semua perintah gue… Lo bakal ngejauhin Albie di sekolah! Lo akan mutusin dia dan lo gak akan bergaul lagi sama dia…” Rere tahu, ketika Ben bilang ‘OK’ dia tidak akan membuat semuanya mudah untuk Rere.
“Engga, engga bisa,” kata Rere, dia menggeleng kepalanya tidak percaya dengan pernyataan Ben. “Sama aja lo ngurung gu…”
“Ato video ini gue sebar… “Ben memotong Rere dengan santai. Dan rupanya ancamannya cukup membuat Rere shock. Dilema menggeluti pikirannya. Dia sudah menduga tidak akan lepas dengan mudah dari Ben. “Kalo sekali aja lo coba kabur dari gue… gue gak akan mikir dua kali buat ngancurin hidup lo!! Lo tinggal milih, internet or VCD, DVD porno?!” Seakan ditampar oleh tangan yang tak terlihat, Rere merasa pernyataan Ben tentang hidupnya membuatnya tidak ada harapan lagi untuk bisa terlepas dari masalah ini.
“Dengar!” Ben melanjutkan, “Gue bukannya lagi bikin penawaran buat lo, tapi perintah!! Kalo lo masih ngelawan kaya tadi… sumpah, gue gak bakal ngampunin lo lagi! Ngerti?!”

“Kenapa?” Rere berkata lebih kepada dirinya sendiri.
“Sorry?”
“Kenapa gue?!” Rere melanjutkan tanpa menatap lawan bicaranya, “Apa salah gue sama lo?? Selalu, gue nanya ke diri gue sendiri, kenapa gue yang lo pilih buat ngelakuin semua keanehan lo?!” Rere tidak menatap Ben, melainkan menatap kedua lututnya yang sekarang bergetar. “Selalu, gue nanya sama diri gue sendiri… apa lo masih punya hati… apa lo masih punya perasaan?” masih menunduk Rere merasa matanya memanas dan menghasilkan segumpal air yang sudah siap untuk jatuh di kedua pipinya. “Kenapa lo gak mikirin perasaan gue sama sek…” tetapi kalimat Rere tidak pernah selesai, tiba-tiba Ben mencekik lehernya dengan kuat. Rere terkejut bukan main.

“Jangan pernah lo sekali-sekali nyeramahin gue!!” desis Ben, serasa Rere belum pernah melihat bibir Ben yang setipis itu. “Gue bilang semua yang gue pengenin selalu gue dapetin…” masih dengan mencekik “Sekarang, lo tinggal bilang ok, ato lo gue kurung selamanya di sini? Jawab…” tetapi Rere tidak menjawab. Dia seakan tidak peduli cekikan Ben semakin kuat di lehernya. Dia juga seakan tidak peduli, tidak ada udara yang mengisi paru-parunya sekarang. Dia masih tidak peduli perubahan kemerahan pada warna kulit di wajahnya. Rere tetap terdiam.
“JAWAB!!” bentak Ben menuntut, tetapi Rere tetap bisu. Seolah dia pasrah dengan apa yang akan dihadapinya. Ben dapat melihat wajah Rere yang mulai kebiruan di balik cekikan tangannya. Seakan baru menemukan otaknya, Ben mengenali aksi diam Rere. Segera saja dia melepaskan cekikannya. Kaget, sekaligus takut dengan apa yang baru saja dilakukannya. Hampir saja dia melakukan sesuatu yang sangat fatal.

Rere pun terjatuh dan terbatuk-batuk mengelus-ngelus lehernya sendiri. Sungguh 5 menit yang menyakitkan buatnya. Sementara Ben terlihat seperti terpukul dan shock saking kagetnya. Tetapi kemudian Ben bisa menguasai dirinya sendiri.
“ee.. k..kalo kamu diam.. berarti kamu setuju… iya, iya…kamu setuju..” suara Ben terbata-bata berbicara lebih kepada dirinya sendiri. “Oke kalo begitu… em… kamu boleh sekolah lagi… besok… ato kapan aja…” masih dengan terbata-bata, kini Ben mulai menemukan kesombongan hatinya kembali. “Tapi, peraturan aku tetap harus dipatuhi… Baik, kalo kamu udah ngerti… aku keluar dulu… em… cari udara seger…”

Ben pun keluar dengan tak lupa mengunci pintu dibelakangnya. Sementara Rere seperti tidak memerdulikannya lagi. Hatinya sekarang hampa. Semenjak melihat video itu, dia merasa masa depannya sudah tidak cerah lagi. Seperti Ben benar-benar sudah memegang ‘kartu’nya. Rere tidak bisa berkutik lagi. Apakah dia harus pasrah? Tetapi Rere merasa tidak mau pasrah. Melawan? Apakah Ben benar-benar akan menyebarluaskan video itu? Rasanya dia ingin mati saja. Cekikan tadi rasanya seperti suatu titik terang meninggalkan masalahnya menuju dunia lain. Cekikan tadi sepertinya obat dan solusi untuk masalah berat yang ditanggungnya sekarang. Cekikan tadi, memang tidak diharapkan Rere, tetapi dia tidak akan menolak lagi melihat masa depannya yang sudah semakin buram di balik jeruji emas ciptaan Ben. “Albie…” rintih Rere, mata indahnya menerawang kosong menyesali perasaannya sendiri. Kenapa, bahkan sebelum ini dia pernah tidak memikirkan apapun tentang laki-laki. Dan seolah semuanya jelas pangkal permasalahan yang didapatnya sekarang berawal dari perasaannya terhadap seseorang.

***

Entah sudah berapa lama Rere berdiskusi dengan dirinya sendiri sampai akhirnya dia tertidur dengan membiarkan air matanya mengering sendiri di pelipis kirinya. Seakan tidurnya menjadi nyenyak. Mungkin karena kelelahan sampai dia benar-benar terlelap. Tetapi sesuatu mengganggu tidurnya. Tawa manja seorang wanita, tidak! Beberapa wanita, mungkin 2 atau 3 wanita. Rere melawan rasa kantuk dalam dirinya dan membuka paksa matanya.

Segala sesuatu sudah redup dan remang di dalam kamar. Rere mencoba membelalakkan matanya, mencoba mempercayai penglihatannya. “Apa ini….” katanya pelan ketika 2 orang gadis manis sekarang berada di atas ranjang di sebelahnya. Mereka bermain-main dengan tubuh mereka yang terlanjang satu sama lainnya, seolah menikmati dan saling mengagumi masing-masing detail dari bentuk tubuh mereka. Tampaknya kedua gadis itu tidak memperhatikan dan menyadari bahwa Rere sudah terbangun. Mereka tetap dengan nafsu saling memeluk, mencium dan menggigit-gigit kecil merangsang pasangannya. Rere melihat kedua gadis itu benar-benar menikmati permainan mereka, tubuh bugil mereka seakan kebal dengan dinginnya AC yang meniupi ruangan tersebut. Rere merasa –meskipun dia wanita– dia menganggap mereka semua cantik. Walaupun dalam gelap, Rere bisa melihat bahwa mereka semua sangat mempesona dengan kulit putih dan bersih yang terawat. Diperhatikannya seseorang dari mereka yang berambut ombak sebahu, berwajah oval dengan mata indahnya yang bulat kecil, bibirnya yang ranum terbelah sekarang sedang menciumi puting lawan wanitanya, menelusuri setiap inci kulit buah dadanya dengan lidahnya. Sementara menurut Rere, gadis yang dirangsang juga tidak kalah menariknya, dia sungguh manis dengan postur tubuh langsing tetapi berbuah dada besar yang Rere tafsir berukuran 36A, hidung mancung dengan rambut panjangnya yang lurus hitam yang memejamkan matanya menikmati rangsangan dari si rambut ombak sambil terus memegangi dan membenamkan kepala seseorang di kemaluannya. Rere bisa mendengar tawa manja gadis itu sekarang diiringi erangan yang sangat nikmat.

Rere sungguh tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Dia berpikir bagaimana mereka bisa menikmati semua itu dan tidak menghiraukan dan menyadari bahwa orang lain juga sedang berada di ruangan yang sama. Spontan Rere mengangkat tubuhnya sendiri, berusaha menghindar dan berharap tidak mengganggu permainan mereka. Mungkin belum terlambat untuk membuat dirinya tidak terlihat oleh mereka dan dia bisa diam di salah satu sudut ruangan. Tetapi entah kenapa perhatiannya tidak lepas dari kedua wanita yang sekarang sedang bermain cinta di atas tempat tidurnya. “siapa mereka..“ katanya dalam hati. Dan tiba-tiba, matanya terfokus ke seseorang yang sedang membenamkan wajahnya di kemaluan si rambut lurus.

Tidak salah lagi. Itu Ben yang mengoral si rambut lurus. Meskipun ruangan remang, Rere bisa mengenali profil siluet tubuh laki-laki yang hampir 3 hari ini selalu bersamanya setiap hari. Saat itu juga, Rere tau dia seharusnya tidak berada di ruangan ini. Dia tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi. “Shit!!..“ katanya dalam hati. Kenapa tadi dia harus bangun, kenapa dia tadi tidak pura-pura tidur saja dan pura-pura tidak merasakan dan mendengar rintihan-rintihan dan tawa manja dari kedua gadis tersebut.

Dengan sangat hati-hati Rere mengendap ke belakang. Mungkin Ben tidak akan menyadari kalau dirinya bangun dan berharap Ben akan menghiraukannya.
“Hallo say… dah bangun ya…“ rencana Rere tidak berhasil. Ben sudah mengetahui Rere sudah terjaga dari tidurnya. Sedetik kemudian Ben sudah berada di hadapannya.
“Eeeng…“ kata Rere kaku.
“Aku tadi jalan-jalan say… cari angin… “ Rere benci nada suara Ben. Nada itu sama seperti nada bicaranya ketika kali pertama bertemu Ben.
“Trus aku kenalan sama mereka…“ lanjut Ben sambil mengerling genit tersenyum kepada kedua gadis yang masih saja tetap berbugil ria di ranjang, menanti Ben sambil merangsang diri mereka masing-masing. Seolah mereka tidak sabar menunggu jeda yang sangat mengganggu aktivitas seksual mereka tadi.
“Aku ngobrol… trus curhat sama mereka kalo aku lagi berantem sama kamu…“ masih lanjut Ben sambil memainkan telunjuknya di lengan Rere yang sekarang merasa risih sekali. Rere menangkap tidak ada rasa menyesal sama sekali yang ditunjukkan Ben, dia masih tetap tersenyum. Senyum sinis yang dingin yang sudah dikenal Rere. Lalu tiba-tiba, gadis si rambut lurus datang menghampiri Ben, dengan manja dan erotis memeluk Ben, meletakan lidahnya disepanjang leher Ben sambil memainkan mata nakalnya ke arah Rere.
“Mereka bilang bisa bantu aku… bisa ngehibur aku…“
“Ok… kalo gitu…“ potong Rere, “Gue gak akan ganggu…“ Rere menunduk siap-siap untuk pergi. Tetapi ketika dia akan berjalan ke sudut ruangan, Rere merasakan tangan Ben sudah memegang pergelangan tangannya. Menariknya kepelukan Ben dan memeluknya dengan mesra. Gadis si rambut lurus menatap Rere dari belakang bahu Ben dengan penuh makna. Rere tidak bisa mnegenali tatapan itu, marahkah atau haus penuh nafsu. Tetapi si rambut lurus tersenyum penuh arti kepadanya. Rere berusaha menghindari pelukan Ben yang meskipun terlihat mesra bergairah, rangkulan Ben di sekitar pinggangnya sangat erat
“Ini bukan buat aku aja kok say… buat kamu juga… biar kamu tahu gimana caranya jadi erotis. Gak kaya akting kamu yang tadi…payah banget deh…“ Dengan mesra Ben menatap Rere dan mengecup lembut bibirnya. Kedua bibir mereka menyatu tanpa bisa dielak Rere. Basah dan sensasional yang pernah Rere rasakan ketika bibirnya menyentuh dan disedot oleh bibir Ben.

Entah memang karena kedua gadis bugil itu yang membuat suasana menjadi panas atau memang hal lain, Rere merasakan kecupan Ben kali ini benar-benar penuh nafsu. Dia tidak bisa mengenali siapa yang lebih menikmati kehadiran dua gadis panas tersebut. Ben atau dirinya. Tetapi ciuman Ben di bibirnya benar-benar membuatnya ingin dan ingin terus menikmati bibir Ben yang sekarang terlihat sangat sexy membuat nafsu Rere bangkit tak sengaja. Rere berusaha keras menolak perasaannya sendiri. Tetapi entah kenapa ciuman itu betul-betul membuatnya melayang-layang.

Sekarang, segala sesuatunya membuat Rere terbang. Ciuman Ben yang maut membuat semua penolakan atas pelukan Ben menjadi kendur. Rere merasakan dirinya sekarang pasrah dalam pelukan Ben. Dan yang membuatnya tak habis pikir, dia ’membalas’ kecupan dan permainan lidah Ben di dalam mulutnya.

Sementara Ben sendiri sekarang merasa bahwa ruangan itu menjadi sangat indah. Dia melihat Rere sepertinya sudah terlena. Dengan senyum kemenangan Ben mencumbui Rere. Bahkan dilihatnya gadis itu memejamkan kedua matanya dan membalas pelukannya. “Mimpi apa gue semalam“ katanya dalam hati. Bahkan Ben merasakan Rere terus memejamkan matanya dan terus menciumi bibirnya ketika dia tidak lagi menggerakkan bibirnya di bibir Rere.

“Re…“ kata Ben pelan-pelan mencoba menyadarkan Rere. “Kenalin dulu temen aku nih say…“ masih dengan nada pelan, Ben menambahkan kesan lembut di setiap kata-katanya.

Dilihatnya Rere mulai menghentikan ciumannya dan membuka matanya. Selama sepersekian detik tampaknya Ben menyadari bahwa Rere sudah setengah sadar dan menyadari tindakannya tadi. Bahkan dalam ruangan gelap, Ben bisa melihat semburat merah merona di pipi Rere. Akhirnya Ben beranjak ke sudut ruangan, menekan tombol listrik di sana dan menerangkan seluruh ruangan.

“Ini Tania… “ ketika kembali ke posisi semula, Ben memperkenalkan gadis si rambut lurus di belakangnya yang masih saja menjadi penonton setia sambil memeluk lagi dan menciumi Ben dari belakang. “Yang di sana namanya Niken…“ katanya kemudian sambil menunjuk ke arah gadis berambut ombak. Rere pun spontan menoleh ke arah gadis yang dimaksud. Niken, begitu kata Ben yang ternyata sedari tadi merangsang dirinya sendiri dengan meremasi buah dadanya yang berukuran luar biasa. Gadis yang bernama Niken pun dengan tidak menghentikan aktivitasnya, melambai ke arah Ben dan tersenyum menatap Rere.

Rere tidak tahu harus berbuat apa. Ini kali pertamanya dia dalam posisi yang ganjil seperti ini. Sementara nafsunya yang tadi tertunda sempat membuatnya malu dan senewen. Dia juga tidak berani menatap Ben, akhirnya Rere hanya menundukkan kepalanya saja seakan jari-jari kakinya sekarang menjadi sangat menarik untuk diperhatikan.

Entah berapa lama keadaan kaku tersebut berlangsung, sampai akhirnya Rere melihat Tania sekarang menjatuhkan dirinya di kaki Rere, menatap Rere dari bawah sana dengan mesra dan nafsu, menjilati kedua betis Rere. Rere merasa saat itu sangat risih sekali untuknya. Tetapi dia tidak berani untuk menarik kakinya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya dia menghindar. Jilatan-jilatan tania di kedua betisnya sungguh sangat erotis. Sekarang jilatan-jilatan itu merambah ke atas ke kedua paha Rere. Rere merasakan kedua buah dada Tania sekarang digesek-gesekan di kakinya. Sungguh sensasi yang aneh menurut Rere.

Sementara Rere tidak tahu harus berbuat apa, Ben dengan lembut mulai kembali mencium bibirnya. Rere mengerti kalau Ben berusaha mencairkan suasana. Bingung dengan suasana hatinya sendiri atau memang sudah waktunya, Rere kembali membalas ciuman Ben. Mereka berpagut sungguh mesra. Ben pun mulai membuka pakaian Rere satu persatu. Sampai akhirnya Rere sekarang sudah telanjang, memperlihatkan buah dadanya yang sangat ranum dan kemaluannya, sama seperti Tania dan Niken.

Di bawah sana, Tania semakin gencar memberikan serangan di kedua kaki Rere, dengan berusaha mengerti, Ben merubah posisinya, dia sekarang memeluk dan meremasi buah dada Rere dari belakang sambil terus menciumi bibir dan leher Rere memberi kesempatan dan ruang gerak pada Tania sehingga Tania dengan leluasa menikmati kaki Rere.

Rere saat itu mulai semakin menjauh dari alam sadarnya. Dia terbuai ke alam di mana Ben sangat memegang peran atas tubuhnya, dan juga gadis asing di kamar sekapannya. Rere sekarang merasa remasan-remasan Ben di kedua buah dadanya sekarang sungguh nikmat dan membuat tingkat rangsangnya menjadi tinggi. Sementara tangan Tania di kakinya sekarang membuka kedua kakinya membuat bukit kemaluannya membuka menunjukkan bentuk kemaluan Rere yang sangat dikagumi Ben. Dengan tidak merasa jijik sama sekali Tania menjilati kemaluan Rere. Menelusuri setiap inci bibir kemaluannya dan menusukkan lidahnya ke dalam lubang rahimnya. Entah apa yang dirasakan Tania, tetapi Rere merasa sekarang dia melayang makin tinggi.

Ben semakin bergairah, dia tidak henti-hentinya memperhatikan reaksi dan ekspresi wajah Rere ketika dia sudah terangsang berat. Bahkan didengarnya Rere sudah mendesah pelan. Buat Ben, ini adalah hal baru. Dia tidak pernah melihat Rere sungguh-sungguh menikmati permainan ini. Hal ini juga membuat adik kecilnya yang sedari tadi memang sudah menggeliat bangun, sekarang sudah tegak bangun berdiri berusaha mencari kesempatan untuk bergabung dengan mereka bertiga. Ben melihat bahwa sekarang permainan sudah didominasi oleh hawa nafsu yang membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat. Dan juga untuk pertama kalinya, mendengar Rere sekarang mendesah keras ketika Tania yang sekarang membenamkan kepalanya di kemaluan Rere menggerakan kepalanya di sana seakan ingin mengobrak-abrik segala sesuatu di dalamnya. Ben berusaha keras untuk memegangi Rere, dia tahu, kalu dia sekarang tidak berada di belakang Rere, pasti Rere akan jatuh ke lantai kehilangan keseimbangan. Ben masih tetap terus berusaha agar Rere tetap berdiri dan terus menimatinya. Ben berfikir, dia sudah cukup merasa seperti seseorang yang sangat beruntung dengan ketiga gadis ini di dalam kamarnya. Ben pun kembali merangsang Rere dengan menciumi leher dan bibir Rere sambil meremasi kedua buah dada Rere.

Tetapi tiba-tiba, Ben merasa seseorang merebut bibir Rere dari pagutannya. Ingin marah rasanya ketika dia sedang menikmati bibir gadis dalam pelukannya. Tetapi ketika dilihatnya bahwa Niken yang melakukannya dan melihat Niken yang sekarang mulai ikut bergabung dan mengambil bagian dalam kegiatan ini mulai mencium bibir Rere, Ben mengurungkan niat marahnya. Dia semakin bergairah melihat ciuman panas antara Rere dan Niken. Sungguh bukan pemandangan yang biasa buat Ben. Akhirnya Ben hanya bisa puas –dan memang puas– menikmati segala sesuatu yang ada di depannya.

Sementara Rere sendiri, merasa agak terkejut ketika Niken dengan rakus melahap bibirnya. Dia sebenarnya juga menikmati pergelutannya dengan Ben. Tetapi entah apa yang telah merasukinya, dia merasa semua permainan ini sangat dinikmatinya. Kewalahan menghadapi Niken dan Tania, Rere berusaha untuk tidak hanya menerima. Dia mencoba untuk tetap berkonsentrasi terhadap Ben yang masih saja menciumi belakangnya sementara di bawah sana, Tania seolah tidak puas-puasnya dengan bukit kemaluan Rere, sekarang perasaan Rere sungguh tak karuan ketika Tania memasukkan kedua jari telunjuk dan tengahnya ke dalam lubang rahimnya dan mengocoknya di sana. Dia pun tidak menolak ketika Niken meraba dan meremas buah dada menggeser tangan Ben. Rere juga tidak memperdulikan perasaan Ben ketika tangan dan bibirnya digusur oleh Niken dari depan, tetapi dia sadar ketika batang kemaluan Ben yang sedari tadi meraba-raba bongkahan pantatnya sekarang mencoba merayap masuk kecelah-celah lubang duburnya.

Rere tahu bahwa Ben mencoba untuk menganalnya. Hatinya sekarang sedang dilanda dilema. Dia tidak mau di anal oleh Ben, tetapi dia juga tidak mau menghentikan kenikmatan surga dunia ini. Selagi berpikir ternyata tubuh Rere bergerak refleks memberikan keleluasaan kepada kemaluan Ben untuk memasuki lubang belakangnya. Dalam beberapa saat Ben sudah berpenetrasi ke dalam lubang duburnya. Mendiaminya sebentar dan menariknya maju mundur di dalam lubang belakang Rere.
“Ach… sshh… Ben… mmmhhfff… hakit… aacchhh…Ben…“ Rere meracau keras. Dia juga tidak mengerti kenapa dia bisa menikmati semua, yang pasti Rere merasa, rasa nikmat yang diberikan kedua gadis itu mengalahkan rasa sakit yang bersarang di lubang belakangnya.

Tania merayap ke atas dan mulai menjilati buah dada Rere tanpa melepaskan kocokan kedua jarinya di dalam kemaluan Rere. Bahkan ketika lidah Tania menggelitik putingnya, Rere merasakan sensasi yang sangat asing dalam dirinya. Malu, geli, risih, nikmat, enak semua menjadi satu. Juga manakala gesekan-gesekan Ben di dalam lubang duburnya lama kelamaan berubah menjadi nikmat dan menggetarkan seluruh pikirannya, akhirnya Rere benar-benar jatuh dalam buaian kenikmatan permainan ini. Rere merasa bahwa sekarang tanpa pelukan Ben di tubuhnya dia merasa kosong dan hampa. Rere pun sudah tidak lagi menahan kuasa untuk memeluk Ben dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ben yang masih di belakangnya. Hal ini semakin membuat posisi Rere menguntungkan Tania karena dengan demikian buah dada Rere semakin membusung ke depan membuat Tania lebih lahap mencumbuinya. Dan juga membuat Ben semakin bersemangat memompa tubuh Rere karena permainan “dua arah“ sedang berlangsung di hadapannya. Geliat monster lain sekarang bangkit di dalam perut Ben. Monster yang sudah lama ingin bangkit, akhirnya setelah sekian lama bangkit dan merasakan permainan cinta antara tuannya dengan wanita yang disukai tuannya.
“ya… Re… kamu hebat banget sekarang…say…kamu nikmatin aja ya… uggh… ssshhh… tutup aja mata kamu… nikmatin semuanya… ya… sshhh… mmmffhh…“ demikian yang keluar dari mulut Ben sebelum tiba-tiba Tania mencium Ben dari depan. Ben pun langsung merespon Tania dan memainkan lidahnya di dalam mulut gadis itu. “Sungguh seandainya ini mimpi, gue gak mau bangun-bangun lagi…“ kata Ben dalam hati.

Sekali lagi Rere merasakan sesuatu yang sungguh di luar pengetahuannya. Rasa nikmat yang begitu asing, membuat seluruh energinya berpusat di selangkangannya, menekan perutnya dan memuntahkan cairan yang mengalir keluar dari sela-sela kemaluannya. Serasa seluruh tenaga itu ikut terkuras habis seiring mengalirnya cairan itu.
“Say… pacar kamu keluar nih…“ Rere mendengar Tania menghentikan ciumannya dan berbicara lebih kepada Ben yang tanpa lelah masih menggenjot dubur Rere dari belakang. Rupanya dia merasakan bahwa kemaluan yang sedari tadi dikocok-kocoknya sudah mencapai puncaknya. Sedetik setelah Tania selesai bicara, Rere merasa tangan seseorang menarik wajahnya ke belakang dan langsung saja bibirnya di lumat dahsyat oleh Ben. Rere pun tak kuasa menolak ciuman itu.

Sambil berciuman, Ben melepaskan batang kejantanannya dari lubang dubur Rere. Niken yang mengetahui hal itu segera saja mengoral batang Ben dengan rakusnya. Rere tidak mengerti, apakah hal itu nikmat untuknya. Tetapi dia tidak mau berlama-lama menghiraukan itu, Rere berusaha untuk terus mengumpulkan kesadarannya setelah merasakan rasa lelah yang teramat sangat saat ’keluar’ tadi. Rere merasa kenikmatan yang tinggi tadi ingin sekali direngguhnya kembali. Maka Rere dengan egois merebut Ben dari sisi Niken, memutar badannya dan memeluk Ben dari depan, mengalungkan lengannya di leher Ben dan merespon panas lumatan-lumatan Ben di bibirnya, memainkan dan membalas semua perlakuan lidah Ben di dalam mulutnya. Rere merasa bahwa dia memang sudah hilang kesadaran sampai-sampai dia merasakan kehilangan yang sangat besar tanpa batang kemaluan Ben di rongga kewanitaannya.

Nampaknya Ben pun mengerti akan isi hati Rere, dia pun langsung menuntun, membawa dan merebahkan Rere di ranjang, seolah ini adalah malam pertamanya dengan Rere, tidak menghiraukan kedua gadis lain yang ada di ruangan itu.

Sementara Rere merasa Ben sungguh tampan saat itu. Senyum Ben yang selalu tersungging saat itu sekarang tidak di anggap ’sinis’ olehnya, bahkan senyum itu seakan sungguh-sungguh melegakan tenggorokannya dari haus yang berkepanjangannya. Rere pun langsung membuka kedua kakinya ketika dilihatnya wajah Ben sudah mendekati kemaluannya. Yang langsung di lahap dan di stimulasi Ben dengan rakus. Rere kembali terbang ke awang-awang. Bahkan ketika tidak ada dua gadis lain merangsangnya di sisinya, dia merasa awan yang indah dan sejuk sekarang berada di dekatnya menyejukan dirinya walaupun peluh keringatnya bercucuran. Ben masih terus saja menjilati dan menggigit kecil daging kecil di antara bibir kemaluannya.
“Aacchhh… ssshhh… Ben…!!“racaunya ketika dia merasa Ben menghisap daging klitnya kuat-kuat. Juga ketika Ben bangkit dan bersiap-siap untuk berpenetrasi, Rere kembali melebarkan kakinya serasa menanti saat-saat itu. Dan ketika batang kejantanan Ben sudah ada di dalam tubuhnya, Rere merasakan rasa lega yang luar biasa. Nikmat yang sungguh dirindukannya. Apalagi ketika Ben menatap matanya saat dia menggerakkan batangnya di dalam tubuh Rere, serasa tatapan mata Ben adalah tatapan mata yang sangat intim yang pernah didapatnya.

Entah perasaan apa yang sedang dialami Rere saat ini, tetapi lagi-lagi dia merasakan perasaan aneh ketika Niken dan Tania datang mendekati Ben dan meletakan tubuhnya di masing-masing sisi Ben. Rere melihat mereka berdua mencumbu Ben yang sedang bercinta dengannya. Ciuman Niken yang dahsyat sekarang mendarat di bibir Ben sementara Tania menjilat ganas telinga dan leher Ben di sisi lainnya. Dan perasaan yang nikmat tadi kembali menghampirinya. Dia yakin bahwa cairan apalah itu yang ada dalam dirinya sekarang sudah bersiap-siap untuk meletus lagi. Rere pun menahan nafasnya, berkonsentrasi dengan setiap denyut yang berkontraksi di dinding-dinding kemaluannya, sungguh hal yang sangat nikmat luar biasa, Rere pun mengeluarkan cairannya lagi.

Ben mengetahui bahwa Rere sudah orgsame untuk yang kedua kali setelah jepitan yang amat kuat mengurut batangnya, dia pun juga tidak bisa membendung spermanya lagi. Spontan Ben melepaskan segala pergelutannya dengan Tania dan Niken, memeluk erat Rere yang berbaring lemah dihadapannya, menciumi lehernya dan berkonsentrasi mendengar desahan panas Rere dalam setiap derik-derik tempat tidur yang bergoyang akibat dorongan-dorongannya, Ben mendorong dengan sekuat tenaga berusaha menanamkan batang kejantanannya lebih dalam dan membenamkannya di sana. Ben pun berejakulasi di dalam rahim Rere.

Peluh keringat mereka bercampur baur. Rere merasa tenaganya terkuras habis bersamaan dengan masuknya sperma Ben di dalam rahimnya. Dia pun juga tidak punya kekuatan lagi untuk membalas ciuman Ben yang sekarang menempel di bibirnya.
“Kamu hebat banget say…“ kata Ben penuh sayang, “Aku mau lanjutin lagi tapi takut kamu nanti pingsan…“ “Kamu istirahat aja ya… aku bersihin badan dulu…“ “Nanti aku cari makanan… kamu pasti laper… ya kan?“ “Masalah yang tadi, kita bahas besok aja ya…“ Ben menyudahi kata-katanya dengan mengecup kening Rere. Sedetik kemudian, Ben beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi diikuti Niken dan Tania. Rere melihat mereka bertiga memasuki kamar mandi dengan mesranya.

Bahkan Rere tidak bisa memaksa otaknya untuk berpikir apa yang baru saja terjadi. Kenapa dia bisa hilang kendali? Obat perangsang? Dia bahkan tidak minum apa-apa sebelum tidur tadi. Tetapi kenapa? Bagaimana nikmat seksual yang tadi dirasakannya baru didapatkannya sekarang? Pikiran itu berkecamuk di dalam otaknya yang buntu. Rere juga kembali meng-compare permainan cinta antara dirinya dengan Albie atau permainan cinta yang barusan. Dia tidak bisa memprediksi, apakah dia menginginkan perasaan nikmat yang seperti tadi lagi atau tidak. “Lapar…“ perutnya mengingatkannya, “Tapi nanti Ben mau cari makanan…“ katanya membalas dirinya sendiri mengingat kata-kata Ben sebelum pergi ke kamar mandi. Kapan dia akan keluar dari kamar mandi? Rere berpikir ketika didengarnya desahan penuh kenikmatan bergaung dari dalam kamar mandi. Apa yang sedang mereka lakukan?

Ah, dia terlalu lelah untuk perduli. Mungkin dia akan istirahat sebentar sebelum Ben membangunkannya nanti untuk makan. Dan besok, dengan adanya kejadian tadi, mungkin Rere akan bisa melunakkan sedikit kekerasan hati Ben dan membicarakan kesepakatan untuk kembali ke sekolah lagi. “I miss school…“ celotehnya, senyum lebar berkembang manakala dia mengingat bahwa akan ada kesempatan untuk bertemu teman-teman sekolahnya lagi.

2 thoughts on “Gadis SMU

KOMENTAR YANG BERISI ALAMAT EMAIL, NO. TELP/HP ATAU PIN BB PADA BOX KOMENTAR AKAN DIHAPUS OLEH ADMIN (SPAM)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s