Main Di Kapal Dengan lia

Jam 20:30 Aku dan Lia sudah berada dalam pesawat. Aku duduk di sebelah jendela, Lia ditengah dan kursi sebelah kanannya nampak kosong. Beberapa menit sesudahnya terdengar suara pesawat meluncur di landasan.
Aku dan Lia adalah sahabat lama. Hubungan antara kami sebenarnya tidak bisa dikatakan kekasih. Namun meski statusnya sahabat tapi sikap dan perilaku hubungan kami sangat mesra seperti sepasang kekasih.

Akhirnya lampu kabin pesawat dimatikan aku dan Lia pun siap-siap untuk tidur. Lia bersandar dipundakku dan dia menaikkan kakinya dikursi sebelah. Karena posisinya kurang enak, aku menaikkan sandaran lengan kursiku sehingga Lia bisa dengan bebas menyandarkan kepalanya dipahaku. Baru sebentar memejamkan mata, tiba-tiba gadis itu terbangun, kemudian membuka jaketnya dan kembali merebahkan kepalanya.

Aku menghela nafas setelah Lia memejamkan matanya kembali. Huh? untung saja tidak ketahuan tadi kalau sebenarnya sempat terbersit lamunan jorok di otakku dikarenakan menatap wajahnya yang cantik. Gadis itu baik memakai kacamata atau tidak namun wajahnya memang cantik. Kulitnya putih pucat, namun karena pucat itulah membuat gairahku berdesir setiap kali bertatap muka dengannya.

Kami hendak bertolak pergi ke-Bali untuk berlibur, setelah mengambil cuti satu minggu. Kami berdua memang partner bekerja yang akrab, sampai-sampai teman-teman sekantor banyak yang mengatakan bahwa kami berpacaran. Namun mereka semua salah besar, karena diantara kami tidak pernah ada ikatan dan komitmen.

Ketika aku sedang asik melamun, sambil memandang wajahnya tiba-tiba kurasakan jemari halus dan lembut itu meraba bagian depan celanaku
“Hayo, ngelamun jorok ya?” terdengar suara Lia pelan, tapi matanya masih terpejam. Aku pun merasa terpojok dan malu karena tertangkap basah. Akhirnya kujawab pertanyaan Lia dengan jujur “Hehehehe.. tahu aja kamu” jawabku.

Kedua matanya membuka perlahan dan bibirnya tersenyum, “Si Rina bilang kontol kamu gede banget, ternyata ia benar juga”
Ups, baru kali ini aku dengar ia berbicara lugas seperti itu. Sekejap kemudian suasana berubah biasa lagi, “Kamu tuh, mau aja percaya orang lain.” Baru saja aku berbicara demikian, tahu-tahu Lia sudah meremas batang kemaluanku yang masih terbungkus dalam celana. “Jahat, aku yang sudah berteman lama sama kamu gak pernah dikasih tahu, tapi si Rina malah udah pernah nyobain!” Ujarnya menggemaskan.

“Aduh, sakit tahu. Kamu nih maen remas-remas aja. Awas ya, kubalas nanti!”
“Siapa takut, weee?salahnya sendiri ngasih bantal yang bisa turun naik gitu!” ucapnya lagi sambil menjulurkan lidahnya. Semakin tidak tahan saja aku menahan penisku untuk tidak berdiri tegang. Kebetulan sekali tempat duduk kami berada di urutan paling ujung, sehingga aku bisa melihat dengan jelas apabila ada orang yang berjalan ke arah kami untuk ke toilet. Langsung saja satu tanganku menyelusup kebawah selimut Lia dan mengelus-elus paha mulusnya. Lia pun mulai membuka risleting celanaku dengan tangannya, kubiarkan sejenak ia menikmati melakukan hal tesebut. Setelah berhasil menurunkan retsleting celanaku, kubantu Lia dengan menurunkan sedikit celana dan celana dalamku, akibatnya batang kemaluanku yang telah menegang dari tadi langsung mencuat keluar. Membuat Lia sedikit terkejut, kaget menatapnya.

“Waw…Ri, Ini kontol apa kontol?” Ucapnya setengah berbisik. Aku tersenyum dan menunduk sebentar. “Ini pelir kuda namanya, Ya” Jawabku dan juga berbisik ditelinganya. “Kalau gitu pasangannya ada dibawah sini sayang” Ucapnya lagi, sambil menuntun tangan kiriku turun lebih dalam kepangkal paha-nya. Ternyata didalam rok Lia, ia tidak mengenakan celana dalam. Aku terheran sejenak. Tapi Lia yang menangkap ekspresi mukaku cepat berkata.
“Kaget ya? Aku sengaja nggak pakai celana dalam” katanya sambil tertawa kecil. Tanpa diperintah lagi, tanganku langsung meremas gundukan vaginanya itu, ia tersenyak tapi cepat pula wajah cantiknya merona merah, aku tahu ia menikmati hal itu. Aku mengelus-elus bibir vaginanya yang lembut, sementara Lia sudah meraih batang kemaluanku dan menjilatinya penuh nafsu. Mengulum-ngulum penisku dengan bibirnya, atau dimasukkan kedalam mulutnya, dihisap dalam sehingga membuat tubuhku terasa melayang. Aku perhatikan keadaan kursi-kursi didepanku sepi, sunyi. Kemungkinan semua orang telah tertidur.

Kali ini kepala Lia sudah bergerak maju mundur mengocok kemaluanku. Slop..slop…slop.. begitu bunyi air liurnya yang banjir membasahi penisku. Bibirnya yang seksi berdecap-decap, Lia seperti tidak mau tahu dengan keadaanku yang semakin lama semakin dekat dengan saat ejakulasi. Namun aku sendiri berusaha menahannya, sekaligus mempermainkan gadis cantik itu, dan membuktikan padanya kalau aku bukan tipe cowo yang mudah sekali meraih klimaks.
“Lia, kamu nafsu sekali sih sayang!” Kucoba mengalihkan perhatiannya. Gadis itu
tersenyum, “Abis aku dah dua minggu gak dikasih kontol ama pacarku, makanya aku lagi nafsu banget. Aku mau makan kontolmu Ri…Nyaamm!” Lia kembali mengemut penisku, sekarang ia juga mengocok kemaluanku itu dengan tangannya. Aku pun mendesah keenakan.
Kepala Lia semakin kencang bergerak maju mundur, malah posisinya sudah berjongkok didepanku, celanaku semakin turun kebawah…”Ahhhh…Liaa, enak bangett..aku dah gak tahan nih!”

“Keluarin sayang, keluarin..aja…Lia siap menerimanya…Lia hauss…!” hisapan dan kocokan Lia semakin cepat mengerjai penisku..”Liaa…sudah hampir nih, cepetin lagi sepongannya…!”, ia tidak menjawab kata-kataku, tapi gerakan mulutnya semakin cepat dan suara decapan mulutnya menjadi jelas sekali ditelingaku, kami berdua sudah tidak perduli lagi….., slurrpppppppp.. Lia menghisap dalam-dalam kemaluanku, rasanya seluruh persendian tubuhku seperti tertarik hendak keluar saja….tangannya digerakkan kencang, dan…crootttttt….croooottt….

Cairan maniku keluar bermuncratan dengan deras di mulut Lia, ia menjilat semuanya tanpa sisa. “Enak banget..pinter kamu ya!”, tapi Lia tidak menjawab, malahan ia mencium bibirku dan berkata “Susul Aku ke toilet, I need you now”.

Aku menunggu beberapa saat setelah Lia masuk ke toilet lebih dahulu. Kemudian aku mengikutinya masuk. Didalam toilet Lia sudah telanjang bulat, bajunya terserak di lantai. langsung saja aku memburu bibirnya nafsu sambil meremas-remas payudara dan pantatnya. Lalu ia menarik bajuku ke atas dan menjilat putingku, rasanya sangat geli dan enak. Aku mendudukkan Lia di atas wastafel, kakinya yang panjang ia sandarkan pada pundakku, barulah aku mulai menjilat vaginanya yang bersih.

“Rajin dicukur ya sayang?” Tanyaku menggoda sambil meraba-raba bibir vaginanya. “Iya-lah, biar enak nanti pas digesek jembutmu!”. Lagi-lagi gadis cantik ini tidak malu-malu untuk berbicara vulgar, dengan cepat kuciumi paha bagian dalamnya. Aku beri cupangan merah, sedangkan Lia menggigit bibirnya agar tidak menjerit dan mendesah, “Uummpphh.. Gila enak banget Ri”

Aku tidak ingin buru-buru mencicipi vaginanya, kubiarkan dulu dirinya sambil terus menciumi paha dan meraba-raba vaginanya, Lia pun tambah blingsatan, pinggulnya bergoyang-goyang?”Ssshhh?Ri, jilat memek Lia Ri?.memek Lia mau dijilat?aaahh!” Kata-kata seperti itulah yang hendak aku dengar darinya, tapi tetap saja aku biarkan hingga kedua tangan Lia sendiri yang memegang kepalaku dan menekannya pada daerah kemaluannya.
Haaapp?dengan lahap aku hisap kemaluan gadis ini, Lia pun menjerit kecil..”Awww?ssshh?terus Ri, enak banget!” kugigit-gigit kecil bibir kemaluannya, birahi Lia semakin meninggi, ia mendesah dan mengaduh sambil meremas-remas buah dadanya sendiri. Sluuurrpp..Cairan yang keluar deras dari vaginanya aku hisap dalam-dalam, sekaligus kuraih klitorisnya dengan bibirku dan kumainkan, “Aduhh?Ri, Lia gak tahan?aduhhhh?masukin kontolmu sayang?masukin ke memek Lia?!”

“Mau diapain sayang?”, tanyaku masih menggodanya, “Aaahh?mau dimasukkin kontolmu Ri?Ayo cepat!” Tiba-tiba tubuh seksinya itu segera kuangkat dan dengan cepat ku tusukkan batang kemaluanku?Blessssss? Lia menjerit, tangannya erat merangkul leherku, sampai-sampai jari-jemarinya mencakar punggungku juga?”Akkhhhhh?sakitttt Riii!” Begitu bunyi jerit teriakannya yang menurutku sangat erotis ditambah wajah pucatnya disaat ia menjerit tadi, menambah horni diriku yang melihatnya.

Aku duduk ditoilet memangku Lia, kudiamkan sebentar kemaluanku didalam vaginanya yang sempit dan hangat.. “Uuuu?kamu jahat, gak bilang-bilang dulu!” Ucapnya manja sambil memukul-mukul kecil dadaku. “Tadi katanya minta dimasukin, eh sekarang malah dibilang jahat, aku keluarin deh!” Lia segera berseru, “Ri, Jangan dikeluarin, orang lagi enak kok!” Ujarnya sambil menggoyangkan pinggulnya dengan sangat erotis. “Memek Lia kerasa penuh nih, kontolmu sih gede banget, tadi aku keluar lho sayang!” Wah, secepat itukah gadis yang kuanggap kalem ini keluar? Ternyata dirinya sangat menghayati cumbuanku tadi, sehingga sebelum kumasukkan batang kemaluanku ia sudah hampir mencapai orgasme-nya.

Aku meremas payudaranya dengan dua tanganku sambil ku jilati dan ku hisap, apalagi kedua tangan lia terangkat karena mendekap dan mengacak-acak rambutku. Sementara pinggulnya masih bergerak pelan maju mundur atau memutar, kumainkan putting Lia didalam mulut dengan lidahku, “Aww?geli, ihhh?suka banget sih nenen di tetek Lia? Enak ya sayang?” Tanyanya manja, “Iya nih, tetek kamu enak banget yang!” ucapku yang masih saja mengelomoti payudara kencang tersebut. “Terusin sayang, Lia juga suka di sepong nenen-nya?asshhh!” Lia mendesah nikmat, goyangan pantatnya pun semakin kencang.

Tanganku mulai bergerak, tidak lagi meremas susunya tapi kini memegang pinggulnya dan membantu tubuh Lia naik turun, “Aduhhh..Ri, aduhhhh?jangan digini-in, nanti Lia nggak kuat!” Nada ucapan gadis itu seperti menolak, tapi gerakan tubuhnya ternyata menandakan ia tidak ingin berhenti dari permainanku, tubuhnya melunjak-lunjak kencang diatas tubuhku, terdengar suara vaginanya yang becek dan basah?plek?plek?plek, payudaranya bergoyang kesana kemari, “Ri?kontolmu..enakkk..iya?teruss..nancep banget?aaaahhhh?Ri, Lia gak tahan?aaaahhh!”
“Tahan sayang?, sebentar lagi Lia..!” Gerakan tubuhnya makin cepat saja, “Gak tahan Ri, enakkkk?aduhhhh?terusss..sodok?tancepin?.shhhh?ent ot yang keras sayang..sshhh”
Aku menghentak tubuhnya keras-keras beberapa kali untuk memberikan sensasi, Lia pun mengaduh?Crepp..creppp.creppp, Makin indah payudara gadis itu terlihat, dengan cepat ku raih, dan kuhisap dalam-dalam, “Akhhh..Ariiii jangan diiseppp?aaaahh?makin gak kuat memek Liaaaa!” Jemarinya menjambak rambutku.

“Memek Liaaa enakkk?sempittt sayang, makin suka aku ngentotin!”
“Argghhh?.iya Ri, entot pake kontolmu yang gedeeeeeeeee?.aaaaahhhhh!” Seketika tubuh Lia mengejang beberapa kali, payudaranya membusung kedepan, kedua tangannya mengapit erat kepalaku di bagian dadanya, dan wajah manisnya menengadah.
Tampaknya Lia sedang menikmati saat-saat puncaknya, terdengar nafasnya masih tersengal-sengal, ia mencium bibirku, “Shhhh?enak banget sayang, Lia gak pernah ngerasain yang kaya gini!”, aku pun membalas ciumannya.

Karena aku masih belum keluar, maka kembali aku menggerakkan pinggul Lia keatas kebawah, dan juga mempercepat gerakan penisku didalam vaginanya. “Ariiii?masih ngilu sayang!”, namun aku tidak memperdulikan kata-kata Lia.

Malah sekarang ku angkat tubuh Lia dan kurapatkan dengan dinding toilet, “Jangan Ri?Lia masih capek!”, namun semakin cepat sodokan penisku, gairah Lia pun menjadi tinggi kembali. Ia mendesah dan meracau keenakan, “Ahhhh?teruss Riiii?entot yang enakkkkk!”
“Argghhhhh?!”, kusentak lagi beberapa kali vagina Lia, membuat gadis itu tambah melayang, “Aduhhhh..kontolmu Ri, Lia mau dientot kontolmuuuu?”

Mendengar racauan Lia yang liar itu, menyebabkan diriku semakin dekat dengan puncak, penisku sudah berdenyut-denyut dari tadi. “Sayang, Ari mau keluar nihhhh?”
“Keluarin didalem Rii?dimemek Liaaaa?aaakhhhhh!”
“Mau pejuh Ari yaaa?”

“Iyahhhhh..memek Lia hausssss?lebih cepat sayang?aaaahhh, siramin memek Lia pake pejuh?”
Crootttt, crooottt?air maniku muncrat begitu saja membanjiri liang vaginanya, sedangkan tubuh Lia bergetar beberapa saat sambil mengeluarkan suara lenguhan, nikmat sekali rasanya bercinta dengan gadis itu.
Entah berapa kali penisku berkedut-kedut memuntahkan isinya, aku sendiri tidak mencoba menghitungnya karena kehangatan menjalar disekujur badan membuatku tetap diam merasakan puncak orgasmeku tadi.

“Makasih ya Ri!” ucapnya pelan dan tersenyum padaku. Kulihat wajah cantik gadis itu merona merah dalam letihnya.
“Sekarang udah tenang yah otakmu? Gak ngeres lagi kan?” Ujarku bercanda.
“Enak aja, selama masih ada kontolmu gimana otak gak ngeres, kamu tuh yang bikin aku ngeres!”
“Yeee?Bilang aja suka sama kontolku!”
“Emang, tau aja sih!”
“Ya tau dong, orang memek kamu ketagihan gitu!”
“Huuuu?bisa aja!”
“Kalau gak ketagihan kok masih ditancepin terus?”
“Iiihh..itu mah kamu yang nancepin, emang enak ya memek Lia?”
“Enak banget Ya, kalau kamu pacarku udah aku entot tiap hari!”
“Hah! Ihhh?Emangnya kuat gitu?”
“Kuat aja kalau ada obat kuatnya!”
“Masak?”
“Iya dong, makanya kasih dulu obatnya!”
“Emangnya ada sama Lia?”
“Ada tuh, nih obat kuatnya!” Ucapku sambil menyentuh payudaranya. “Hihihi?bisa aja kamu ah, bilang aja mau nenen lagi!”
“Emang mau, nenen dong yang!”Aku meminta dengan manja sambil pelan-pelan meremas-remas payudaranya.
“Tapi janji ya cayang, ntar puasin Lia lagi?” ia menjawab dengan nada manjanya juga. “Iya deh, sekarang Ari mau mimik susu nih!”
“Aduh kacian yayang, ya udah sini mimik susu Lia dulu!”
“Asikkk nenen lagi..Nyammm!” Selanjutnya aku sudah melahap payudara Lia lagi yang mulai mengeras bereaksi menerima rangsanganku.

Tidak berhenti aku menjilati dan mengulum serta mengisap putingnya, sesekali tanganku memijit pahanya serta mengusap bibir kemaluannya, membuat nafas gadis cantik ini tersengal-sengal dan mendesah-desah, “Terus sayang, ohhh?sshhh?nenenin tetek Lia Ri, nikmat banget sih Ri?, ayo Ri terusss?biar kuat ngentotnya!”
Tampaknya Lia sudah mulai bangkit kembali birahinya, pantatnya kini bergoyang-goyang, sementara penisku masih ada didalamnya. “Puasin Lia lagi Ri, ayo sayang!”
“Yang, belum bangun nih dedeknya!”
“Ahhh Ariii?Lia udah gak tahan nih mau dimasukin lagi!” cepat sekali rupanya anak ini terangsang, padahal aku saja belum sama sekali. Akhirnya kusuruh ia untuk gantian duduk diatas toilet pesawat.

“Minta disepong yah kontolnya, sini Lia sepongin biar bangun lagi!” Rupanya Lia telah mengerti maksudku, tanpa pikir panjang lagi ia langsung meraih batang kemaluanku itu dan melumatnya.
Seksi kelihatannya memperhatikan bibir merah gadis itu menyetubuhi penisku, indah dan menggiurkan, ditambah sekarang kubantu ia menyalurkan gairahnya dengan memasukkan dua jari ke dalam lubang kewanitaannya.
“Oughhhh?Ssshhhhh!”

“Hmmmppp?!” Semakin kencang gerakan jariku semakin banyak Lia mendesah meski mulutnya tersumpal oleh kemaluanku, tapi aku tahu ia sangat menikmati permainan jemariku ini.
Tiba-tiba, Lia melepaskan pegangan tangan dan isapannya dari penisku, “Ahhhhhhh..Ri gak tahan nih, aduhhhh?.aduhhhh?..!” Ia mengocok vaginanya sendiri dengan jarinya, mencolok-colok cepat tanda ia hampir sampai.
Namun muncul niatan jahilku, aku langsung menarik dua tangannya keatas, Lia pun meronta-ronta, “Ariiii..jangan Ri, Lia gak kuat lagi?mau keluar..ahhhh..Ri!”
Melihat wajahnya merengek-rengek seperti itu akhirnya membuat nafsuku naik kembali. Segera saja, aku merengkuh pinggang gadis itu bangun lalu kemudian kubalikkan tubuhnya dan Sleppppppppppppp
Penisku menusuk liang kewanitaannya dari arah belakang, pantat sekal gadis ini bergetar. Lia menjerit menyebut namaku, “Ariiiiiiiii?.!”
Ternyata gadis ini mengalami orgasmenya lagi, jarang kutemui gadis yang mampu mengalami klimaks berulang kali. “Gimana? Enak sayang?”
“Enak banget Ri, enak banget?!”
“Aku pasrah Ri kamu apain aja, yang penting aku puas. Ayo Ri, entotin lagi aku?Lia mau dientot seharian..mau kontol Ariiii!”
kini pantatnya bergoyang maju mundur, sepertinya ia mengharapkan aku bergerak untuk menyetubuhi kemaluannya. “Ayo Ri, jangan diem aja?Riiiii?Ahhhh?Ahhh, entotin Lia Riii?” Pantatnya semakin kencang di hujamkan kebelakang sampai terdengar keras bunyi pantatnya yang beradu dengan pahaku.
Puas melihat Lia menderita seperti itu, lekas tanganku menelusup dari ketiaknya lalu cepat meremas susunya. Lia mengaduh dan berdesis?
Bersamaan dengan itu aku langsung menggerakkan batang kemaluanku di vaginanya dengan cepat. Membuat lia menjerit, kepalanya menengadah, “Terus Riiii?Terusss? yang kenceng sayang, yang kenceng kontolin Lianyaaaa?aaaahhh.”
Gila, kata-katanya semakin jorok, semakin liar dan kasar. Langsung saja aku raih pinggul gadis itu dan semakin cepat kugerakkan maju mundur dalam vaginanya, dilain sisi Lia juga ikut menyeimbangkan gerakanku. Tubuh gadis ini sesekali terhentak-hentak kedepan diiringi desahannya yang meraung-raung. “Iyahhhhh..teruss yang?memek Lia buat Ariii?buat di entot..aaaghhhh?terussssin?shhhhhh”
“Nih kontolku say, rasain kontolku nih!”
“Mana, mana yang?ahhhhh pengin kontol kontol kontol!” Gadis itu seperti sudah menjadi gila, terbawa oleh nafsunya sendiri. Tidak sadar ia berada dimana, ia terus berteriak meracau keenakan.
Bahkan kini tingkah gadis itu semakin gila, ia menjatuhkan diri dilantai toilet, membuka pahanya lebar-lebar lalu mendesah, “Riii?masukin lagi sayang, Lia pasrah?sshhhh, masukkin disini?nih memek Lia sayang?minta di entotin?aghhhhh” erangnya sambil mengucek-ngucek kemaluannya sendiri

“Kamu gila Lia, kamu gila!”
“Kontolmu yang bikin aku gila Ri?ahhhhh?tusuk disini yang..ayooo!”
Aku pun ikut terbawa arus permainan gilanya, kuangkat paha gadis itu hingga ke bahuku, lalu kusetubuhi lagi dirinya.
Ah, vaginanya memang terasa legit sekali. Menjepit kemaluanku, hangat didalamnya.
“Yahhh..teruss..sayang?ahhhh?nikmat..oughhh!” Jeritnya sembari meremas buah dadanya sendiri.
“Terus Riii?Lia keluar lagii..ahhhhhhhhh!” Tak lama kemudian tubuhnya bergetar hebat lagi, mengejan tertahan beberapa detik. Lalu terbaring lemas keenakan. Yang tertinggal sekarang hanya gairah nafsuku yang masih meninggi dan ketika Lia mengalami orgasmenya tadi, aku merasa seperti terhenti begitu saja di tengah jalan. Hal tersebut menimbulkan ganjalan dalam diriku, hatiku berbicara menuntut kepuasan.
“Lia..” Aku memanggil namanya. Ia hanya memandangku dengan matanya yang sayu. “Aku belum keluar nih sayang!”

“Ahhhh..kuat banget sih dedeknya yang!” Jawabnya pelan walaupun aku tahu ia terkejut.
“Iya nih!” lalu muncul niat iseng ku lagi, yaitu aku ingin menyenggamai payudaranya yang indah itu, maka aku bilang sama Lia. “Lia, dedek Ari mau mimik susu juga nih!”
Tapi ternyata gadis itu lebih paham dari yang kukira, “Hayooo?mau entotin tetek Lia kan?”
“Hehehehe? Ngerti aja sih kamu, sering yah emangnya?”
“Baru aja mau aku tawarin, eh udah minta duluan dedek kamu, sini dedeknya sayang, taruh di nenen Lia!” lalu aku cabut penisku dari kemaluannya dan aku pas-kan tepat pada belahan susunya. Lia pun menekan buah dadanya dari kedua sisi hingga kemaluanku diapit payudara gadis cantik ini dengan rapat. Kenyal, keras dan nikmat sekali rasanya. Pemandangan saat itu lebih dari yang namanya erotis. Benar-benar sensasional.
“Ih si dedek, pinter banget mimiknya..uhhh, enak banget Ri, geli deh!”
“geli ya sayang?”
“Iya nih, ada jembutnya sih?Nyammm!” Gadis itu mengisap kemaluanku yang bergerak-gerak di payudaranya.
“Terus sayang di isep yah, biar enak nih!”
“Hmmpppfhh?” bibirnya terus bergerak-gerak mengelomoti kemaluanku.
“Yang? Dedeknya keenakan nih!” Penisku mulai kugerakkan perlahan, terdengar bunyi plok plok plok biji pelirku yang beradu dengan payudara Lia, ditambah lagi suara lomotan mulutnya -slurrpppppp, semakin membuat diriku melayang.
“Terus Ri, dientot yah teteknya? aduhhhh? enak banget kontolmu? ahhhhh!” Begitu desahnya sambil memainkan penisku. Lidahnya menelusuri batang kemaluanku lalu naik lagi ke ujungnya dan kembali menelan penisku yang panjang, gemuk serta berdiameter lebar.
Lama kelamaan aku merasa saatnya tiba untuk mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi terus kutahan, “Liaaaa?Ari mau keluar nih!” ujarku sedikit menggeram.

“he-eh keluarin aja, lia pengin peju Ariii?” Jawabnya yang sedang mengemut buah pelirku, sambil dibantu dengan menggunakan tangannya mengocok penisku.
“Pengen dipejuin yah teteknya!”
“Iyahhhhh?mau peju kontol Ariiii..”
“Isepin yang enak say, ntar keluar pejuhnya.”
Lia semakin bersemangat memainkan kemaluanku. Ia menggerakkan payudaranya sekaligus melumat kemaluanku. “Terus sayang, sebentar lagi?sebentar lagi.” Teriakku
“Nyammmm?.pejuin Lia, pejuin Lia?Ahhhhhhhh?.ssshhhhhh?.teteknya mau peju.”
“Nih peju Ari nih Lia, nih peju Ariiii?.Ahhhhhhhh” Dan akhirnya kubiarkan pertahananku bobol begitu saja. Croooottttttttttt?Croooottttttttt? air maniku bermuncratan menyirami buah dada gadis cantik itu. Banyak sekali keluarnya, hingga belepotan disana sini.

“Ahhhhhhhh? tetek Lia dipejuin? Angetttt?terus pejuin?” Ujar Lia yang ternyata juga mengalami orgasme lagi. Tetapi cepat seakan tak mau ketinggalannya mulutnya langsung melahap batang kemaluanku lagi, sehingga leleran terakhir cairan spermaku semuanya tumpah ke dalam mulut Lia. Gadis cantik itu menelannya sampai habis, bahkan ia masih menjilati penisku yang basah oleh bekas cairan vaginanya bercampur maniku sendiri.
Saat itu aku baru sadar jika permainan gila kami berlangsung sangat lama sekali. Aku heran mengapa tidak ada penumpang yang mengetuk toilet untuk buang air atau sekedar membasahi wajah mereka. Apakah semuanya telah tertidur? Aku sendiri tak mengerti. Namun bergegas kami merapihkan segalanya. Sebelum keluar dari toilet aku mengintip terlebih dahulu, ternyata tak ada siapa-siapa, maka dengan cepat kami berjalan kembali ke kursi penumpang. Benar-benar pengalaman yang tak akan terlupakan, tetapi juga melelahkan. Lia berbisik di telingaku ketika hendak memejamkan mata, “Kapan-kapan aku mau mengulang seperti tadi lagi.” Katanya sambil tersenyum. Lalu ia memejamkan matanya untuk tidur.

Jam 20:30 Aku dan Lia sudah berada dalam pesawat. Aku duduk di sebelah jendela, Lia ditengah dan kursi sebelah kanannya nampak kosong. Beberapa menit sesudahnya terdengar suara pesawat meluncur di landasan.
Aku dan Lia adalah sahabat lama. Hubungan antara kami sebenarnya tidak bisa dikatakan kekasih. Namun meski statusnya sahabat tapi sikap dan perilaku hubungan kami sangat mesra seperti sepasang kekasih.
Akhirnya lampu kabin pesawat dimatikan aku dan Lia pun siap-siap untuk tidur. Lia bersandar dipundakku dan dia menaikkan kakinya dikursi sebelah. Karena posisinya kurang enak, aku menaikkan sandaran lengan kursiku sehingga Lia bisa dengan bebas menyandarkan kepalanya dipahaku. Baru sebentar memejamkan mata, tiba-tiba gadis itu terbangun, kemudian membuka jaketnya dan kembali merebahkan kepalanya.

Aku menghela nafas setelah Lia memejamkan matanya kembali. Huh? untung saja tidak ketahuan tadi kalau sebenarnya sempat terbersit lamunan jorok di otakku dikarenakan menatap wajahnya yang cantik. Gadis itu baik memakai kacamata atau tidak namun wajahnya memang cantik. Kulitnya putih pucat, namun karena pucat itulah membuat gairahku berdesir setiap kali bertatap muka dengannya.

Kami hendak bertolak pergi ke-Bali untuk berlibur, setelah mengambil cuti satu minggu. Kami berdua memang partner bekerja yang akrab, sampai-sampai teman-teman sekantor banyak yang mengatakan bahwa kami berpacaran. Namun mereka semua salah besar, karena diantara kami tidak pernah ada ikatan dan komitmen.
Ketika aku sedang asik melamun, sambil memandang wajahnya tiba-tiba kurasakan jemari halus dan lembut itu meraba bagian depan celanaku
“Hayo, ngelamun jorok ya?” terdengar suara Lia pelan, tapi matanya masih terpejam. Aku pun merasa terpojok dan malu karena tertangkap basah. Akhirnya kujawab pertanyaan Lia dengan jujur “Hehehehe.. tahu aja kamu” jawabku.
Kedua matanya membuka perlahan dan bibirnya tersenyum, “Si Rina bilang kontol kamu gede banget, ternyata ia benar juga”
Ups, baru kali ini aku dengar ia berbicara lugas seperti itu. Sekejap kemudian suasana berubah biasa lagi, “Kamu tuh, mau aja percaya orang lain.” Baru saja aku berbicara demikian, tahu-tahu Lia sudah meremas batang kemaluanku yang masih terbungkus dalam celana. “Jahat, aku yang sudah berteman lama sama kamu gak pernah dikasih tahu, tapi si Rina malah udah pernah nyobain!” Ujarnya menggemaskan.

“Aduh, sakit tahu. Kamu nih maen remas-remas aja. Awas ya, kubalas nanti!”
“Siapa takut, weee?salahnya sendiri ngasih bantal yang bisa turun naik gitu!” ucapnya lagi sambil menjulurkan lidahnya. Semakin tidak tahan saja aku menahan penisku untuk tidak berdiri tegang. Kebetulan sekali tempat duduk kami berada di urutan paling ujung, sehingga aku bisa melihat dengan jelas apabila ada orang yang berjalan ke arah kami untuk ke toilet. Langsung saja satu tanganku menyelusup kebawah selimut Lia dan mengelus-elus paha mulusnya. Lia pun mulai membuka risleting celanaku dengan tangannya, kubiarkan sejenak ia menikmati melakukan hal tesebut. Setelah berhasil menurunkan retsleting celanaku, kubantu Lia dengan menurunkan sedikit celana dan celana dalamku, akibatnya batang kemaluanku yang telah menegang dari tadi langsung mencuat keluar. Membuat Lia sedikit terkejut, kaget menatapnya.
“Waw…Ri, Ini kontol apa kontol?” Ucapnya setengah berbisik. Aku tersenyum dan menunduk sebentar. “Ini pelir kuda namanya, Ya” Jawabku dan juga berbisik ditelinganya. “Kalau gitu pasangannya ada dibawah sini sayang” Ucapnya lagi, sambil menuntun tangan kiriku turun lebih dalam kepangkal paha-nya. Ternyata didalam rok Lia, ia tidak mengenakan celana dalam. Aku terheran sejenak. Tapi Lia yang menangkap ekspresi mukaku cepat berkata.

“Kaget ya? Aku sengaja nggak pakai celana dalam” katanya sambil tertawa kecil. Tanpa diperintah lagi, tanganku langsung meremas gundukan vaginanya itu, ia tersenyak tapi cepat pula wajah cantiknya merona merah, aku tahu ia menikmati hal itu. Aku mengelus-elus bibir vaginanya yang lembut, sementara Lia sudah meraih batang kemaluanku dan menjilatinya penuh nafsu. Mengulum-ngulum penisku dengan bibirnya, atau dimasukkan kedalam mulutnya, dihisap dalam sehingga membuat tubuhku terasa melayang. Aku perhatikan keadaan kursi-kursi didepanku sepi, sunyi. Kemungkinan semua orang telah tertidur.

Kali ini kepala Lia sudah bergerak maju mundur mengocok kemaluanku. Slop..slop…slop.. begitu bunyi air liurnya yang banjir membasahi penisku. Bibirnya yang seksi berdecap-decap, Lia seperti tidak mau tahu dengan keadaanku yang semakin lama semakin dekat dengan saat ejakulasi. Namun aku sendiri berusaha menahannya, sekaligus mempermainkan gadis cantik itu, dan membuktikan padanya kalau aku bukan tipe cowo yang mudah sekali meraih klimaks.
“Lia, kamu nafsu sekali sih sayang!” Kucoba mengalihkan perhatiannya. Gadis itu tersenyum, “Abis aku dah dua minggu gak dikasih kontol ama pacarku, makanya aku lagi nafsu banget. Aku mau makan kontolmu Ri…Nyaamm!” Lia kembali mengemut penisku, sekarang ia juga mengocok kemaluanku itu dengan tangannya. Aku pun mendesah keenakan.
Kepala Lia semakin kencang bergerak maju mundur, malah posisinya sudah berjongkok didepanku, celanaku semakin turun kebawah…”Ahhhh…Liaa, enak bangett..aku dah gak tahan nih!”

“Keluarin sayang, keluarin..aja…Lia siap menerimanya…Lia hauss…!” hisapan dan kocokan Lia semakin cepat mengerjai penisku..”Liaa…sudah hampir nih, cepetin lagi sepongannya…!”, ia tidak menjawab kata-kataku, tapi gerakan mulutnya semakin cepat dan suara decapan mulutnya menjadi jelas sekali ditelingaku, kami berdua sudah tidak perduli lagi….., slurrpppppppp.. Lia menghisap dalam-dalam kemaluanku, rasanya seluruh persendian tubuhku seperti tertarik hendak keluar saja….tangannya digerakkan kencang, dan…crootttttt….croooottt….
Cairan maniku keluar bermuncratan dengan deras di mulut Lia, ia menjilat semuanya tanpa sisa. “Enak banget..pinter kamu ya!”, tapi Lia tidak menjawab, malahan ia mencium bibirku dan berkata “Susul Aku ke toilet, I need you now”.

Aku menunggu beberapa saat setelah Lia masuk ke toilet lebih dahulu. Kemudian aku mengikutinya masuk. Didalam toilet Lia sudah telanjang bulat, bajunya terserak di lantai. langsung saja aku memburu bibirnya nafsu sambil meremas-remas payudara dan pantatnya. Lalu ia menarik bajuku ke atas dan menjilat putingku, rasanya sangat geli dan enak. Aku mendudukkan Lia di atas wastafel, kakinya yang panjang ia sandarkan pada pundakku, barulah aku mulai menjilat vaginanya yang bersih.
“Rajin dicukur ya sayang?” Tanyaku menggoda sambil meraba-raba bibir vaginanya. “Iya-lah, biar enak nanti pas digesek jembutmu!”. Lagi-lagi gadis cantik ini tidak malu-malu untuk berbicara vulgar, dengan cepat kuciumi paha bagian dalamnya. Aku beri cupangan merah, sedangkan Lia menggigit bibirnya agar tidak menjerit dan mendesah, “Uummpphh.. Gila enak banget Ri”

Aku tidak ingin buru-buru mencicipi vaginanya, kubiarkan dulu dirinya sambil terus menciumi paha dan meraba-raba vaginanya, Lia pun tambah blingsatan, pinggulnya bergoyang-goyang?”Ssshhh?Ri, jilat memek Lia Ri?.memek Lia mau dijilat?aaahh!” Kata-kata seperti itulah yang hendak aku dengar darinya, tapi tetap saja aku biarkan hingga kedua tangan Lia sendiri yang memegang kepalaku dan menekannya pada daerah kemaluannya.
Haaapp?dengan lahap aku hisap kemaluan gadis ini, Lia pun menjerit kecil..”Awww?ssshh?terus Ri, enak banget!” kugigit-gigit kecil bibir kemaluannya, birahi Lia semakin meninggi, ia mendesah dan mengaduh sambil meremas-remas buah dadanya sendiri. Sluuurrpp..Cairan yang keluar deras dari vaginanya aku hisap dalam-dalam, sekaligus kuraih klitorisnya dengan bibirku dan kumainkan, “Aduhh?Ri, Lia gak tahan?aduhhhh?masukin kontolmu sayang?masukin ke memek Lia?!”

“Mau diapain sayang?”, tanyaku masih menggodanya, “Aaahh?mau dimasukkin kontolmu Ri?Ayo cepat!” Tiba-tiba tubuh seksinya itu segera kuangkat dan dengan cepat ku tusukkan batang kemaluanku?Blessssss? Lia menjerit, tangannya erat merangkul leherku, sampai-sampai jari-jemarinya mencakar punggungku juga?”Akkhhhhh?sakitttt Riii!” Begitu bunyi jerit teriakannya yang menurutku sangat erotis ditambah wajah pucatnya disaat ia menjerit tadi, menambah horni diriku yang melihatnya.

Aku duduk ditoilet memangku Lia, kudiamkan sebentar kemaluanku didalam vaginanya yang sempit dan hangat.. “Uuuu?kamu jahat, gak bilang-bilang dulu!” Ucapnya manja sambil memukul-mukul kecil dadaku. “Tadi katanya minta dimasukin, eh sekarang malah dibilang jahat, aku keluarin deh!” Lia segera berseru, “Ri, Jangan dikeluarin, orang lagi enak kok!” Ujarnya sambil menggoyangkan pinggulnya dengan sangat erotis. “Memek Lia kerasa penuh nih, kontolmu sih gede banget, tadi aku keluar lho sayang!” Wah, secepat itukah gadis yang kuanggap kalem ini keluar? Ternyata dirinya sangat menghayati cumbuanku tadi, sehingga sebelum kumasukkan batang kemaluanku ia sudah hampir mencapai orgasme-nya.

Aku meremas payudaranya dengan dua tanganku sambil ku jilati dan ku hisap, apalagi kedua tangan lia terangkat karena mendekap dan mengacak-acak rambutku. Sementara pinggulnya masih bergerak pelan maju mundur atau memutar, kumainkan putting Lia didalam mulut dengan lidahku, “Aww?geli, ihhh?suka banget sih nenen di tetek Lia? Enak ya sayang?” Tanyanya manja, “Iya nih, tetek kamu enak banget yang!” ucapku yang masih saja mengelomoti payudara kencang tersebut. “Terusin sayang, Lia juga suka di sepong nenen-nya?asshhh!” Lia mendesah nikmat, goyangan pantatnya pun semakin kencang.

Tanganku mulai bergerak, tidak lagi meremas susunya tapi kini memegang pinggulnya dan membantu tubuh Lia naik turun, “Aduhhh..Ri, aduhhhh?jangan digini-in, nanti Lia nggak kuat!” Nada ucapan gadis itu seperti menolak, tapi gerakan tubuhnya ternyata menandakan ia tidak ingin berhenti dari permainanku, tubuhnya melunjak-lunjak kencang diatas tubuhku, terdengar suara vaginanya yang becek dan basah?plek?plek?plek, payudaranya bergoyang kesana kemari, “Ri?kontolmu..enakkk..iya?teruss..nancep banget?aaaahhhh?Ri, Lia gak tahan?aaaahhh!”
“Tahan sayang?, sebentar lagi Lia..!” Gerakan tubuhnya makin cepat saja, “Gak tahan Ri, enakkkk?aduhhhh?terusss..sodok?tancepin?.shhhh?ent ot yang keras sayang..sshhh”
Aku menghentak tubuhnya keras-keras beberapa kali untuk memberikan sensasi, Lia pun mengaduh?Crepp..creppp.creppp, Makin indah payudara gadis itu terlihat, dengan cepat ku raih, dan kuhisap dalam-dalam, “Akhhh..Ariiii jangan diiseppp?aaaahh?makin gak kuat memek Liaaaa!” Jemarinya menjambak rambutku.

“Memek Liaaa enakkk?sempittt sayang, makin suka aku ngentotin!”
“Argghhh?.iya Ri, entot pake kontolmu yang gedeeeeeeeee?.aaaaahhhhh!” Seketika tubuh Lia mengejang beberapa kali, payudaranya membusung kedepan, kedua tangannya mengapit erat kepalaku di bagian dadanya, dan wajah manisnya menengadah.
Tampaknya Lia sedang menikmati saat-saat puncaknya, terdengar nafasnya masih tersengal-sengal, ia mencium bibirku, “Shhhh?enak banget sayang, Lia gak pernah ngerasain yang kaya gini!”, aku pun membalas ciumannya.

Karena aku masih belum keluar, maka kembali aku menggerakkan pinggul Lia keatas kebawah, dan juga mempercepat gerakan penisku didalam vaginanya. “Ariiii?masih ngilu sayang!”, namun aku tidak memperdulikan kata-kata Lia.
Malah sekarang ku angkat tubuh Lia dan kurapatkan dengan dinding toilet, “Jangan Ri?Lia masih capek!”, namun semakin cepat sodokan penisku, gairah Lia pun menjadi tinggi kembali. Ia mendesah dan meracau keenakan, “Ahhhh?teruss Riiii?entot yang enakkkkk!”
“Argghhhhh?!”, kusentak lagi beberapa kali vagina Lia, membuat gadis itu tambah melayang, “Aduhhhh..kontolmu Ri, Lia mau dientot kontolmuuuu?”
Mendengar racauan Lia yang liar itu, menyebabkan diriku semakin dekat dengan puncak, penisku sudah berdenyut-denyut dari tadi. “Sayang, Ari mau keluar nihhhh?”
“Keluarin didalem Rii?dimemek Liaaaa?aaakhhhhh!”
“Mau pejuh Ari yaaa?”

“Iyahhhhh..memek Lia hausssss?lebih cepat sayang?aaaahhh, siramin memek Lia pake pejuh?”
Crootttt, crooottt?air maniku muncrat begitu saja membanjiri liang vaginanya, sedangkan tubuh Lia bergetar beberapa saat sambil mengeluarkan suara lenguhan, nikmat sekali rasanya bercinta dengan gadis itu.
Entah berapa kali penisku berkedut-kedut memuntahkan isinya, aku sendiri tidak mencoba menghitungnya karena kehangatan menjalar disekujur badan membuatku tetap diam merasakan puncak orgasmeku tadi.
“Makasih ya Ri!” ucapnya pelan dan tersenyum padaku. Kulihat wajah cantik gadis itu merona merah dalam letihnya.
“Sekarang udah tenang yah otakmu? Gak ngeres lagi kan?” Ujarku bercanda.
“Enak aja, selama masih ada kontolmu gimana otak gak ngeres, kamu tuh yang bikin aku ngeres!”
“Yeee?Bilang aja suka sama kontolku!”
“Emang, tau aja sih!”
“Ya tau dong, orang memek kamu ketagihan gitu!”
“Huuuu?bisa aja!”
“Kalau gak ketagihan kok masih ditancepin terus?”
“Iiihh..itu mah kamu yang nancepin, emang enak ya memek Lia?”
“Enak banget Ya, kalau kamu pacarku udah aku entot tiap hari!”
“Hah! Ihhh?Emangnya kuat gitu?”
“Kuat aja kalau ada obat kuatnya!”
“Masak?”
“Iya dong, makanya kasih dulu obatnya!”
“Emangnya ada sama Lia?”
“Ada tuh, nih obat kuatnya!” Ucapku sambil menyentuh payudaranya. “Hihihi?bisa aja kamu ah, bilang aja mau nenen lagi!”
“Emang mau, nenen dong yang!”Aku meminta dengan manja sambil pelan-pelan meremas-remas payudaranya.

“Tapi janji ya cayang, ntar puasin Lia lagi?” ia menjawab dengan nada manjanya juga. “Iya deh, sekarang Ari mau mimik susu nih!”
“Aduh kacian yayang, ya udah sini mimik susu Lia dulu!”
“Asikkk nenen lagi..Nyammm!” Selanjutnya aku sudah melahap payudara Lia lagi yang mulai mengeras bereaksi menerima rangsanganku.
Tidak berhenti aku menjilati dan mengulum serta mengisap putingnya, sesekali tanganku memijit pahanya serta mengusap bibir kemaluannya, membuat nafas gadis cantik ini tersengal-sengal dan mendesah-desah, “Terus sayang, ohhh?sshhh?nenenin tetek Lia Ri, nikmat banget sih Ri?, ayo Ri terusss?biar kuat ngentotnya!”

Tampaknya Lia sudah mulai bangkit kembali birahinya, pantatnya kini bergoyang-goyang, sementara penisku masih ada didalamnya. “Puasin Lia lagi Ri, ayo sayang!”
“Yang, belum bangun nih dedeknya!”
“Ahhh Ariii?Lia udah gak tahan nih mau dimasukin lagi!” cepat sekali rupanya anak ini terangsang, padahal aku saja belum sama sekali. Akhirnya kusuruh ia untuk gantian duduk diatas toilet pesawat.

“Minta disepong yah kontolnya, sini Lia sepongin biar bangun lagi!” Rupanya Lia telah mengerti maksudku, tanpa pikir panjang lagi ia langsung meraih batang kemaluanku itu dan melumatnya.
Seksi kelihatannya memperhatikan bibir merah gadis itu menyetubuhi penisku, indah dan menggiurkan, ditambah sekarang kubantu ia menyalurkan gairahnya dengan memasukkan dua jari ke dalam lubang kewanitaannya.
“Oughhhh?Ssshhhhh!”

“Hmmmppp?!” Semakin kencang gerakan jariku semakin banyak Lia mendesah meski mulutnya tersumpal oleh kemaluanku, tapi aku tahu ia sangat menikmati permainan jemariku ini.
Tiba-tiba, Lia melepaskan pegangan tangan dan isapannya dari penisku, “Ahhhhhhh..Ri gak tahan nih, aduhhhh?.aduhhhh?..!” Ia mengocok vaginanya sendiri dengan jarinya, mencolok-colok cepat tanda ia hampir sampai.
Namun muncul niatan jahilku, aku langsung menarik dua tangannya keatas, Lia pun meronta-ronta, “Ariiii..jangan Ri, Lia gak kuat lagi?mau keluar..ahhhh..Ri!”
Melihat wajahnya merengek-rengek seperti itu akhirnya membuat nafsuku naik kembali. Segera saja, aku merengkuh pinggang gadis itu bangun lalu kemudian kubalikkan tubuhnya dan Sleppppppppppppp
Penisku menusuk liang kewanitaannya dari arah belakang, pantat sekal gadis ini bergetar. Lia menjerit menyebut namaku, “Ariiiiiiiii?.!”
Ternyata gadis ini mengalami orgasmenya lagi, jarang kutemui gadis yang mampu mengalami klimaks berulang kali. “Gimana? Enak sayang?”
“Enak banget Ri, enak banget?!”
“Aku pasrah Ri kamu apain aja, yang penting aku puas. Ayo Ri, entotin lagi aku?Lia mau dientot seharian..mau kontol Ariiii!”

kini pantatnya bergoyang maju mundur, sepertinya ia mengharapkan aku bergerak untuk menyetubuhi kemaluannya. “Ayo Ri, jangan diem aja?Riiiii?Ahhhh?Ahhh, entotin Lia Riii?” Pantatnya semakin kencang di hujamkan kebelakang sampai terdengar keras bunyi pantatnya yang beradu dengan pahaku.

Puas melihat Lia menderita seperti itu, lekas tanganku menelusup dari ketiaknya lalu cepat meremas susunya. Lia mengaduh dan berdesis?
Bersamaan dengan itu aku langsung menggerakkan batang kemaluanku di vaginanya dengan cepat. Membuat lia menjerit, kepalanya menengadah, “Terus Riiii?Terusss? yang kenceng sayang, yang kenceng kontolin Lianyaaaa?aaaahhh.”
Gila, kata-katanya semakin jorok, semakin liar dan kasar. Langsung saja aku raih pinggul gadis itu dan semakin cepat kugerakkan maju mundur dalam vaginanya, dilain sisi Lia juga ikut menyeimbangkan gerakanku. Tubuh gadis ini sesekali terhentak-hentak kedepan diiringi desahannya yang meraung-raung. “Iyahhhhh..teruss yang?memek Lia buat Ariii?buat di entot..aaaghhhh?terussssin?shhhhhh”
“Nih kontolku say, rasain kontolku nih!”

“Mana, mana yang?ahhhhh pengin kontol kontol kontol!” Gadis itu seperti sudah menjadi gila, terbawa oleh nafsunya sendiri. Tidak sadar ia berada dimana, ia terus berteriak meracau keenakan.
Bahkan kini tingkah gadis itu semakin gila, ia menjatuhkan diri dilantai toilet, membuka pahanya lebar-lebar lalu mendesah, “Riii?masukin lagi sayang, Lia pasrah?sshhhh, masukkin disini?nih memek Lia sayang?minta di entotin?aghhhhh” erangnya sambil mengucek-ngucek kemaluannya sendiri
“Kamu gila Lia, kamu gila!”
“Kontolmu yang bikin aku gila Ri?ahhhhh?tusuk disini yang..ayooo!”
Aku pun ikut terbawa arus permainan gilanya, kuangkat paha gadis itu hingga ke bahuku, lalu kusetubuhi lagi dirinya.

Ah, vaginanya memang terasa legit sekali. Menjepit kemaluanku, hangat didalamnya.
“Yahhh..teruss..sayang?ahhhh?nikmat..oughhh!” Jeritnya sembari meremas buah dadanya sendiri.
“Terus Riii?Lia keluar lagii..ahhhhhhhhh!” Tak lama kemudian tubuhnya bergetar hebat lagi, mengejan tertahan beberapa detik. Lalu terbaring lemas keenakan. Yang tertinggal sekarang hanya gairah nafsuku yang masih meninggi dan ketika Lia mengalami orgasmenya tadi, aku merasa seperti terhenti begitu saja di tengah jalan. Hal tersebut menimbulkan ganjalan dalam diriku, hatiku berbicara menuntut kepuasan.
“Lia..” Aku memanggil namanya. Ia hanya memandangku dengan matanya yang sayu. “Aku belum keluar nih sayang!”

“Ahhhh..kuat banget sih dedeknya yang!” Jawabnya pelan walaupun aku tahu ia terkejut.
“Iya nih!” lalu muncul niat iseng ku lagi, yaitu aku ingin menyenggamai payudaranya yang indah itu, maka aku bilang sama Lia. “Lia, dedek Ari mau mimik susu juga nih!”
Tapi ternyata gadis itu lebih paham dari yang kukira, “Hayooo?mau entotin tetek Lia kan?”
“Hehehehe? Ngerti aja sih kamu, sering yah emangnya?”
“Baru aja mau aku tawarin, eh udah minta duluan dedek kamu, sini dedeknya sayang, taruh di nenen Lia!” lalu aku cabut penisku dari kemaluannya dan aku pas-kan tepat pada belahan susunya. Lia pun menekan buah dadanya dari kedua sisi hingga kemaluanku diapit payudara gadis cantik ini dengan rapat. Kenyal, keras dan nikmat sekali rasanya. Pemandangan saat itu lebih dari yang namanya erotis. Benar-benar sensasional.

“Ih si dedek, pinter banget mimiknya..uhhh, enak banget Ri, geli deh!”
“geli ya sayang?”
“Iya nih, ada jembutnya sih?Nyammm!” Gadis itu mengisap kemaluanku yang bergerak-gerak di payudaranya.
“Terus sayang di isep yah, biar enak nih!”
“Hmmpppfhh?” bibirnya terus bergerak-gerak mengelomoti kemaluanku.
“Yang? Dedeknya keenakan nih!” Penisku mulai kugerakkan perlahan, terdengar bunyi plok plok plok biji pelirku yang beradu dengan payudara Lia, ditambah lagi suara lomotan mulutnya -slurrpppppp, semakin membuat diriku melayang.

“Terus Ri, dientot yah teteknya? aduhhhh? enak banget kontolmu? ahhhhh!” Begitu desahnya sambil memainkan penisku. Lidahnya menelusuri batang kemaluanku lalu naik lagi ke ujungnya dan kembali menelan penisku yang panjang, gemuk serta berdiameter lebar.
Lama kelamaan aku merasa saatnya tiba untuk mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi terus kutahan, “Liaaaa?Ari mau keluar nih!” ujarku sedikit menggeram.
“he-eh keluarin aja, lia pengin peju Ariii?” Jawabnya yang sedang mengemut buah pelirku, sambil dibantu dengan menggunakan tangannya mengocok penisku.
“Pengen dipejuin yah teteknya!”
“Iyahhhhh?mau peju kontol Ariiii..”
“Isepin yang enak say, ntar keluar pejuhnya.”

Lia semakin bersemangat memainkan kemaluanku. Ia menggerakkan payudaranya sekaligus melumat kemaluanku. “Terus sayang, sebentar lagi?sebentar lagi.” Teriakku
“Nyammmm?.pejuin Lia, pejuin Lia?Ahhhhhhhh?.ssshhhhhh?.teteknya mau peju.”
“Nih peju Ari nih Lia, nih peju Ariiii?.Ahhhhhhhh” Dan akhirnya kubiarkan pertahananku bobol begitu saja. Croooottttttttttt?Croooottttttttt? air maniku bermuncratan menyirami buah dada gadis cantik itu. Banyak sekali keluarnya, hingga belepotan disana sini.

“Ahhhhhhhh? tetek Lia dipejuin? Angetttt?terus pejuin?” Ujar Lia yang ternyata juga mengalami orgasme lagi. Tetapi cepat seakan tak mau ketinggalannya mulutnya langsung melahap batang kemaluanku lagi, sehingga leleran terakhir cairan spermaku semuanya tumpah ke dalam mulut Lia. Gadis cantik itu menelannya sampai habis, bahkan ia masih menjilati penisku yang basah oleh bekas cairan vaginanya bercampur maniku sendiri.

Saat itu aku baru sadar jika permainan gila kami berlangsung sangat lama sekali. Aku heran mengapa tidak ada penumpang yang mengetuk toilet untuk buang air atau sekedar membasahi wajah mereka. Apakah semuanya telah tertidur? Aku sendiri tak mengerti. Namun bergegas kami merapihkan segalanya. Sebelum keluar dari toilet aku mengintip terlebih dahulu, ternyata tak ada siapa-siapa, maka dengan cepat kami berjalan kembali ke kursi penumpang. Benar-benar pengalaman yang tak akan terlupakan, tetapi juga melelahkan. Lia berbisik di telingaku ketika hendak memejamkan mata, “Kapan-kapan aku mau mengulang seperti tadi lagi.” Katanya sambil tersenyum. Lalu ia memejamkan matanya untuk tidur.

13 pemikiran pada “Main Di Kapal Dengan lia

  1. Aku pengendt d.entotin ..
    Akh .. Akh .. Akh ..
    Aku cewe 17 tahun, kulit sawo mtang ukuran panyudara 34c memek mulus ..
    Silahkan mau d.apain aja ..
    Gratis ..

  2. karien lo seriuss tuch pngen ngentot???
    klo mau sinih gw bntwin,,biat kyak si ari dan lia!!hahahahaha
    nah ntar gw bkn judulnya gni
    MAIN DI GEROBAK DENGAN KARIEN!!!
    hahahahahahahahahahahahahaha,,
    duh gw jdy horny baca critanya!!
    gw onani dulu ahh…

  3. Ari aQ maU d0ng k0nt0L kaMu YG gdE. .PAsti ENak tUh kLo mEmek aq ma k0nt0LmU nGeNt0t. . .aih, ,aaghh. . .jd gK tahn. . . .eh buAt cE c0 . . .ma aq aZa y0o. . . .maRi budaYAkan NGenT0t. . . .cR0ooottt. . .CRoooottt. . ,aghh. .aghh. . .

KOMENTAR YANG BERISI ALAMAT EMAIL, NO. TELP/HP ATAU PIN BB PADA BOX KOMENTAR AKAN DIHAPUS OLEH ADMIN (SPAM)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s