<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>CERITA DEWASA-RATU BOKEP-MESUM-SEKS</title>
	<atom:link href="http://ratubokep.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratubokep.wordpress.com</link>
	<description>Hentai Movies Review, Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Bokep, Cerita Mesum, Dan Cerita Seks</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Dec 2008 21:06:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ratubokep.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>CERITA DEWASA-RATU BOKEP-MESUM-SEKS</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ratubokep.wordpress.com/osd.xml" title="CERITA DEWASA-RATU BOKEP-MESUM-SEKS" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ratubokep.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mbak Parmi</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/10/26/mbak-parmi/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/10/26/mbak-parmi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Oct 2008 17:39:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[Ngeseks Dengan Pembantunya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.wordpress.com/?p=331</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Dari Komentator: Jati P (Terima kasih atas bantuan ceritanya) Biasanya aku sarapan pagi bersama papa dan mama, tapi pagi itu sarapan sendiri, karena papa dan mama pulang kampung ke Yogya mengajak Sigit, anak mbak Parmi. Di rumah hanya ada mbak Parmi, pembantu asal jawa dan aku. Selesai sarapan, aku menaruh piring di cucian. Ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=331&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Cerita Dari Komentator:</em> <strong>Jati P </strong>(Terima kasih atas bantuan ceritanya)</p>
<p>Biasanya aku sarapan pagi bersama papa dan mama, tapi pagi itu sarapan sendiri, karena papa dan mama pulang kampung ke Yogya mengajak Sigit, anak mbak Parmi. Di rumah hanya ada mbak Parmi, pembantu asal jawa dan aku.</p>
<p>Selesai sarapan, aku menaruh piring di cucian. Ketika melewati kamar mandi, pemandanganku terhenti memperhatikan mbak Parmi lagi mandi. Badannya membelakangi pintu sehingga tidak sadar pintu kamar mandi setengah terbuka. Tubuh tinggi padat berisi dan rambut hitam lebat panjang basah tersiram air menyebabkan sexku muncul menggebu. Aku segera kembali ke kamar. Disana langsung onani menggunakan pelicin baby oil sambil membayangkan seolah sedang menyetubuhi mbak Parmi. Tiba-tiba terpikir olehku kenapa tidak sekali-kali minta mbak Parmi melayani sexku? Bukankah dia juga pernah memergoki aku lagi onani di kamar?</p>
<p>Aku tidak menyelesaikan onaniku. Dengan penis mengacung tegang tanpa busana bagian bawah, aku menuju kamar madi. Ternyata mbak Parmi sudah selesai mandi dan ada di kamarnya. Kamar mbak Parmi yang tertutup langsung aku buka. Saat itu mbak Parmi sedang mengeringkan badan dengan handuk. Ia menjerit kaget. Tapi secepatnya mbak Parmi aku peluk dan aku dorong rebah ke tempat tidurnya. Ia meronta “jangan…..mas….. aku nggak mau…. Jangan….. aku takut…..”. Aku memaksanya sambil membentak “mbak diam saja…. nurut aku”. Aku semakin kalap ketika mbak Parmi mendorongku dan akhirnya tangan mbak Parmi aku kunci ke belakang. Setelah beberapa kali meronta tidak berhasil, akhirnya mbak Parmi menangis sesenggukan. Aku mengendorkan pegangan tanganku dan mengusap air matanya “Mbak, maafin aku ya…. aku kepingin merasakan. Mbak mau ya…. “. Kemudian mbak Parmi aku tarik berdiri dan aku peluk, aku ciumi. Penisku yang telah kendur kembali berdiri perkasa. Mbak Parmi diam dan kedua tangannya menutup dada dan perut bawah. Sekali lagi aku membisikkan kata “mbak,….. aku sayang sama mbak, maafin. Aku belum pernah merasakan seperti ini, beri aku sekali saja ya mbak….”. Aku usap-usap keningnya dan aku dekatkan mukaku ke mukanya sampai hidungku bersentuhan dengan hidungnya. “Mas…. mbak takut……mbak…. nggak mau…. nanti papa dan mama marah kalau tahu dan …. mbak takut hamil”. Aku peluk mbak Parmi dengan erat dan aku bisikkan kata “Mbak…. aku tahu caranya tidak hamil. Aku tidak keluarkan di dalam dan aku keluarkan di luar seperti onani. Aku ingin sekarang mbak, mumpung papa dan mama juga tidak di rumah. Aku kepingin banget merasakan dari mbak,…. boleh ya mbak….”.</p>
<p>Setelah mendapatkan berbagai bujukan dan rayuan, nafas mbak parmi melonggar dan kelihatan sedikit tenang. Kemudian ia semakin bisa menerima pelukanku yang tidak pernah lepas. Harum wangi sabun yang melekat di tubuh mbak Parmi menambah tinggi gairahku. Badan mbak Parmi aku balik searah dengan tubuhku. Penisku yang tegak berdiri menonjol ke pantatnya. Tanganku mengarah ke dadanya. Ternyata ia tetap tidak mau melepaskan kedua tangan yang menutupinya. Beberapa kali tanganku disibakkan. Akhirnya leherku menjulur dan mulutku menelusuri belakang telinga dengan kecupan lembut dan jilatan merangsang. Perlahan-lahan mbak Parmi bereaksi menengokkan kepala supaya lehernya tidak terjangkau mulutku. Setelah beberapa saat kemudian mbak Parmi bertambah tenang, tanganku berhasil menjangkau ujung buah dadanya. Dengan tarikan dan pelintiran halus di putingnya, mbak Parmi tidak melawan lagi. Tangan kananku melingkar meraba ke perut bawah tapi dengan sigap tangannya menyingkirkan tanganku. Ketika tanganku ke atas menuju buah dadanya kembali, ternyata ia membiarkan saja. Aku semakin yakin bisa berhasil menyetubuhi sehingga jariku dengan pelan mengusap gunung kenyal menonjol. Remasan halus di buah dada mbak Parmi dengan pijitan ke arah depan dan pelintiran perlahan di puting susu, menyebabkan mbak Parmi menarik nafas dalam.</p>
<p>Ketika mulutku mengisap tengkuknya dan kedua tanganku meremas gemas di kedua gunung kembarnya, nafas mbak Parmi mulai memburu. Aku melirik matanya terpejam. Tarikan nafas di mulutnya terdengar mendesis dan kepala yang semula tegak sudah dirobohkan ke pundakku. Aku mendudukkan dan merebahkan mbak Parmi ke tempat tidurnya dengan kaki menjuntai ke bawah. Mulutku mulai menelusuri gunung kembar sambil melepaskan baju kaus yang masih di badanku. Puting kecil kemerahan mulai aku sedot dengan mulutku dan satunya aku memelintir. Semakin ke bawah mulutku bergerak menelusuri perutnya, semakin panjang tarikan nafas mbak Parmi.</p>
<p>Ketika mulutku sampai ke belahan paha, lidahku menjulur memasuki lipatan basah dan menyusup ke dalam. Aku mencari daging kecil seperti yang aku lidat dalam tontonan VCD. Daging itu aku usap dengan ujung lidah. Tiba-tiba mbak Parmi menggelinjang dan tangannya meremas rambutku serta menekan ke dalam. Lidahku liar masuk ke liang vagina dan daging lembut menonjol itu aku permainkan dengan lidahku. Mbak Parmi mengerang lembut sambil nafasnya sedikit tersengal dan kepalanya digoyangkan ke kanan dan kiri, aku segera mengakhiri permainan itu dan ganti penisku menyusup vagina mbak Parmi.</p>
<p>Posisiku berdiri dan badan mbak Parmi rebah di kasur dan kakinya menjuntai ke tanah. Ketika ujung penisku menyusup di ujung liang senggama, mbak Parmi membuka pahanya lebar sehingga memudahkan aku memasukkan penis. Untuk lebih memudahkan, maka kedua kakinya aku letakkan di atas pundak. Aku merasakan nikmat ketika penis makin masuk ke dalam dan akhirnya …. bles…. sampai pangkalnya. Tarikan dan dorongan sambil gerakan diputar menyebabkan gerakan kepala mbak Parmi ke kiri dan kanan semakin sering. Tiba-tiba ujung penisku seperti disedot dalam vagina sehingga aku mengocok maju mundur lebih cepat. Mbak Parmi tiba-tiba mengejang dan pantatnya diangkat sambil mendesis suara tertahan “…….mmmaaass…….ssss…..ooohhhahhh…..sessss…..aauuw…..ssss….”. Di penisku terasa ada gerakan denyut yang memeras. Begitu nikmat sehingga ujung penisku merasakan ada sesuatu yang mau keluar. Dengan cepat penisku aku cabut. Tumpahlah maniku di pahanya dan jatuh di ubin. Terasa badabku ringan dan otot-otot mengendur santai. Kemudian aku tertidur disisi mbak Parmi. Hari itu perjakaku hilang untuk mbak Parmi.</p>
<p>Aku terbangun dan mbak Parmi tidak ada disisiku. Aku mencarinya karena kawatir mbak Parmi minggat dari rumah. Aku menemukan mbak Parmi di gudang belakang duduk di lantai sambil menangis. Aku dekati dia dan aku usap rambutnya yang hitam panjang. Aku bisikan kata-kata “mbak, maafin aku ya….. aku telah khilaf membuat mbak Parmi marah”. Kemudian aku berkotbah tentang moralitas dan kebutuhan sex perempuan “mbak… bayangkan kalau aku tidak dikasih mbak Parmi, berarti aku dengan pelacur kan…. Mbak Parmi pasti tahu seusiaku seperti ini kebutuhan penyaluran pasti sangat besar”. Kepala mbak Parmi aku jatuhkan ke pundakku “begitu juga kalau wanita nggak pernah melakukan senggama, dia cepat tua dan bisa kena kangker lho… dan yang menakutkan keinginannya bisa hilang..” Khotbahku panjang lebar mulai meluluhkan hatinya “Apapun yang telah terjadi…. aku berterimakasih aku lebih memilih mbak Parmi yang pasti bersih, sehat dan pernah punya pengalaman. Disamping itu mbak Parmi sangat sayang padaku”. Setelah aku merayu cukup lama, akhirnya mbak Parmi mau ku ajak makan siang. Untuk menambah kemesraan, sesekali mbak Parmi aku suapi.</p>
<p>Sambil makan aku mengemukakan keinginanku merasakan lagi. Semula mbak Parmi menolak, tapi akhirnya dia bersedia dengan syarat tidak boleh ada yang keluar dalam rahimnya. Aku setuju dan aku juga meminta ke mbak Parmi kalau merasa nikmat dan kepingin menjerit, jangan sungkan-sungkan. Kemudian aku keluar sebentar membeli jamu biar bisa main lebih lama. Mbak Parmi aku minta menutup semua pintu agar tidak ada tamu yang mengganggu.</p>
<p>Aku dan mbak Parmi mandi bersama. Elusan dan remasan di buah dada dengan sabun cair menyebabkan mbak Parmi seperti tersihir dengan menciumi pipi dan bibirku seperti kesetanan. Kelihatan sekali nafsu mbak Parmi tiba-tiba berkobar luar biasa. Shower air hangat aku buka untuk mengakhiri mandi bersama. Mbak Parmi aku peluk menghadap ke depan di bawah shower air hangat sambil kedua tanganku meremas dan menarik buah dadanya. Aku merasakan gejolak nafsunya mbak Parmi telah sampai puncak dengan ditandai dia menarik penisku untuk dimasukkan ke vaginanya. Secepatnya aku dan mbak Parmi mengeringkan badan dan menuju kamarku.</p>
<p>Pantatnya aku ganjal bantal sehingga vaginanya menonjol lebih tinggi. Aku susupkan penisku setahap-setahap dan tiba-tiba tanganku diraih mbak Parmi diletakkan ke buah dadanya. Aku remas kedua gunung kenyal itu dan pinggulku bergerak maju-mundur, sesekali diputar dan dalam hitungan tertentu hanya tudung penis yang masuk dan saat berikutnya dengan gerak menggenjot seluruh penis masuk sampai pangkal pinggul. Mbak Parmi menggoyangkan pantat dan kepalanya bergerak kanan kiri.<br />
“Ooooohhhhh……..aaaahhhhhhh……sssstttttttt……ttterrrruuuuuusssss ……… yaaaaaaahhhhhh.. mbbaaakk….. ma..u.. keluaaaarrrrrr ….. oohh..oohh..oohh…aahh..aahh..” . Mbak Parmi tidak malu lagi mengeluarkan suara rintih dan jerit kenikmatan. Remasan di penisku dan suara rintih dan jerit kenikmatan yang dikeluarkan mbak Parmi menyebabkan aku tidak kuat menahan lebih lama. Ujung penis yang semakin mendesak menyebabkan aku cabut dari liang vagina dan …. croott……crootttt……croott…. maniku muncrat ke perut mbak Parmi.</p>
<p>Hari itu aku dan mbak Parmi bermain sampai puas. Pagi harinya mbak Parmi aku ajak ke dokter untuk pasang susuk KB. Sejak saat itu aku tidak perlu mencabut penis setiap kali maniku muncrat. Nikmat dan nikmat paling tinggi rasakan ketika penis dalam cengekeraman vagina disodokkan sampai pangkal sambil memuncratkan air mani.</p>
<p>Selesai</p>
<br />Posted in Pembantu Tagged: Ngeseks Dengan Pembantunya <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/331/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=331&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/10/26/mbak-parmi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenangan Cinta Pertama</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/10/26/kenangan-cinta-pertama/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/10/26/kenangan-cinta-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Oct 2008 17:37:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Pertama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.wordpress.com/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Dari Komentator: Jati P (Terima kasih atas bantuan ceritanya) Jakarta saat itu temaram mendung. Hari itu adalah hari kedua aku bersama teman-teman mengikuti pelatihan manajemen. Salah satu instruktur manajemen ternyata Idham Prawira mantan pacarku yang telah putus hubungan 7 tahun lalu. Aku terpaksa meninggalkan dia karena dia lebih suka main bola katimbang bekerja formal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=329&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Cerita Dari Komentator:</em> <strong>Jati P </strong>(Terima kasih atas bantuan ceritanya)<br />
Jakarta saat itu temaram mendung. Hari itu adalah hari kedua aku bersama teman-teman mengikuti pelatihan manajemen. Salah satu instruktur manajemen ternyata Idham Prawira mantan pacarku yang telah putus hubungan 7 tahun lalu. Aku terpaksa meninggalkan dia karena dia lebih suka main bola katimbang bekerja formal atau mengurus bisnis ayahnya. Padahal bekal pendidikannya mencukupi sebagai lulusan LN. Statusku sekarang manajer PR di perusahaan minyak luar Jawa dan bersuami dengan satu anak. Sejak putus aku tidak pernah berhubungan dengan Idham agar bisa memendam kenangan, terutama di Yogya ketika aku telah menyerahkan keperawananku untuknya.</p>
<p>Sekarang giliran Idham yang memberikan presentasi. Pada saat membagi bahan presentasi, dengan lihai tangan Idam menyelipkan kartu nama dan dibaliknya tertulis “hubungi aku”. Selama dalam kelas, Idham tidak menunjukkan bahwa ia mengenalku. Selesai pelatihan seluruh peserta kembali ke kamar hotel. Begitu juga Idham telah menyelinap entah kemana. Padahal saat itu aku kepingin menemui barang sejenak.</p>
<p>Sampai di kamar aku melamun sambil memegang kartu nama Idham. Lamunanku terpotong oleh suara dering telepon. Sambil tiduran aku mengangkat gagang telepon. Terdengar suara Idham “Rin, ini aku…. aku kepingin ketemu… aku di kamar sebelah. Kalau kamu membuka pintu penghubung, aku bisa ke kamarmu. Kita bisa ngobrol… aku kangen banget Rin….”. Aku terdiam dan tidak menjawab. Dengan perasaan gundah telepon itu terlepas dari tanganku. Ketika aku angkat kembali, suara Idham tidak kedengaran.</p>
<p>Dari pintu penghubung terdengar suara pintu sebelah kiri dibuka perlahan dari sisi sebelah. Ada suara ketukan halus serta panggilan namaku. Jantungku berdetak kencang. Suara itu yang memberikan kerinduan dalam hidupku. Dengan perlahan grendel pintu penghubung aku buka. Begitu pintu terbuka, Idham langsung memelukku erat sekali dan mukanya dibenamkan dalam dadaku. Ia tidak berkata apapun. Aku elus kepalanya dan kemudian Idham mendongakkan mukanya. “Rin….. aku kangen…”. Kemudian Idham menggeretku dan merebahkan di tempat tidur. Kerinduanku padanya berkobar kembali seperti ketika masih bersama. Bibirnya melumat bibirku…. kemudian pindah ke leher dan terus ke telinga, turun ke dadaku… “Ssstttt…… ohh……” aku masih hapal urutan tubuhku yang bakal menjadi sasarannya. Dia akan betah lama mempermainkan buah dada dan putingku, mengusap-usap, meremas, mengenyot dan mempermainkan ujung hidung dan kumisnya di puting susu.</p>
<p>Satu persatu bajuku luar dalam lepas dari badan. Idham sangat paham kemana dia harus merangsang bagian berikutnya. Sebelum mulutnya sampai di perut, dia akan membalikkan badanku dan mengendus punggung dan pantat. Setelah aku semakin kelojotan, dia akan membalikkan badanku dan memulai menciumi ujung jari kaki kemudian naik betis dan paha. Sampai disitu aku biasanya sudah tidak tahan dan kalau dulu penisnya langsung aku tarik untuk dimasukkan ke liang senggama. Tapi aku ingin menikmati lebih lama, aku buka pahaku dan dia mencari dengan lidahnya mengusap bibir luar. Hidungnya ia gosokkan diantara belahan vagina. Aku hapal apa yang selanjutnya akan dia lakukan. Setelah puas, bibirnya mulai menyusup diantara lipatan lobang vagina untuk mencari sepotong daging kecil yang menggelembung. “Aaauuuuhhhh………. ” aku menjerit kecil. Dia akan bermain-main dengan ujung lidahnya dan sesekali mulutnya menghisap dan memelintir.</p>
<p>Cukup lama aku tidak merasakan permainan seperti ini. Suamiku tidak pernah mengoral bagian yang sensitif di rongga vaginaku. Paling suamiku hanya memasukkan ujung jari saja. “ooohh ……..sstttt…….aahhhhhhh……. ke atas sedikit say…aangg…”. Bila gerakan lidahnya kurang pas, aku langsung meminta ke arah mana lidah diarahkan. Permainan berikutnya adalah menggosokkan ujung penis Idham untuk membasahi. Slepp…… dan “aaauuu…..hhhhhh”. Mulailah gerakan perlahan menarik dan menyodok diselingi gerakan memutar. Aku semakin hanyut dalam kenikmatan. “haaahhh….. ssttt….sssstttt…. ooohhhhhsssssstttt……..” semakin lama gerakan Idham semakin cepat. Aku semakin tidak tahan. “teruuussss…..ssstttt oooohhh…. terus…. terus…. terus.. haahhhhhhhhhh………” kontraksi dalam vaginaku meloloskan semua kenikmatan. Aku telah mengakhiri tapi Idham masih meyodok maju mundur. Ketika tangannya mengangkat pantatku, itu pertanda Idham segera mencapai puncak. Tiba-tiba dia berteriak, penisnya disodokkan lebih dalam dan dipepetkan sampai pangkal. “Auahhh.aaaaa………..”. Crot….. crot ….. crot…..denyut penis menumpahkan air mani menyiram vaginaku.</p>
<p>Aku ketiduran lemas tanpa daya. Idham tiduran miring sambil mengelus-elus buah dadaku. Hidungnya menciumi lenganku. Masa-masa pemulihan dari puncak kenikmatan ke kondisi normal selalu dilakukan Idham dengan usapan dan ciuman lembut menambah kenikmatanku.</p>
<p>Tiba-tiba telepon di kamarku berdering. Aku melompat dan menyeberang ke kamar sebelah. Telepon dari stafku memberitahu aku ditunggu makan malam. Aku belum mandi, aku tidak siap makan dengan mereka. Akirnya aku katakan aku ketiduran jadi tidak siap makan dengan mereka saat ini. Aku persilakan mereka makan lebih dahulu biar aku pesan di kamar saja.</p>
<p>Badanku aku jatuhkan ke tempat tidur, lemas rasanya dan aku menarik selimut. Rasanya tidur akan terasa nikmat. Belum sampai pulas Idham ikut menyusup dalam selimut. Aku acuhkan dia karena aku ingin lelap. Antara sadar dengan tidak, Idham kembali menciumi tubuhku. Ketika ia membuka pahaku dan memasukkan penisnya, aku mulai terlelap tidur. Entah apa yang telah dia lakukan. Tengah malam aku terbangun dan terasa di pahaku ada cairan yang mengalir. Setelah ingatanku pulih kembali, aku masuk kamar mandi dan berendah air panas. Tubuhku hangat dan kembali aku menemukan gairah sex. Aku bangkit dari tempat berendam menuju kamar Idham. Dia masih terlelap tidur dengan nafas teratur halus.</p>
<p>Aku menyusup ke dalam selimutnya dan tanganku mencari kemudian mengusap-usap penisnya yang lagi bangun dalam tidur. Aku kenyot penisnya sampai-sampai Idham terbangun. Pelukannya menyambut tubuhku yang masih telanjang. Akhirnya kami berguling membentuk 69 tapi tidak sampai klimax. Setelah puas saling mengoral, aku diajak mandi berendam. Tubuh kami yang terkena air hangat menjadi segar dan lebih sesitif pada rangsangan. Akhirnya kami mulai lagi dengan gaya yang dia sukai, aku melayaninya dengan cara berdiri bersandar dinding. Kaki kiriku dia angkat dengan tangan kanan dan Idham memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. “Aaahhhh….. aaahhhh……. ahhhhh…” kenikmatan mulai menjalar ke ubun-ubun. Aku semakin memuncak “ter……uuuusss……sssttttt …. terus…s..s..s..s” dan kontraksi berupa denyutan panjang menyebabkan aku lemas. Idham masih bersemangat. Tapi tubuhku sudah lemas. Akhirnya aku pindah ke tempat tidur. Aku menungging dan Idham dari belakang memompa vaginaku.</p>
<p>Kenangan manis dengan pacar lama aku tinggalkan. Pesawat terakhir telah membawaku kembali ke kota dimana aku berumah tangga. Nun disana suamiku dan anakku melambaikan tangan menjemput di bandara. Bayangan Idham selama dalam penerbangan tiba-tiba hilang. Aku berlari dan aku peluk anakku serta aku ciumi suamiku.</p>
<br />Posted in cinta Tagged: Cinta Pertama <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/329/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=329&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/10/26/kenangan-cinta-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hasrat pada pembantu rumah tangga yang tertahan</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/09/20/hasrat-pada-pembantu-rumah-tangga-yang-tertahan/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/09/20/hasrat-pada-pembantu-rumah-tangga-yang-tertahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 20:57:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[Pembantu Sexy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.com/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Dari Komentator: sori (Terima kasih atas bantuan ceritanya) Kakak aq mempunyai seorang pembantu yg berasal dari desa. Orang nya agak pemalas dan suka jalan jalan walaupun wajah nya agak biasa aja, tapi orang nya sangat ceria, itu yg saya suka dari dia dan sangat mudah bergaul enak di ajak bercanda kadang banyak jutek dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=339&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Cerita Dari Komentator</em>: <strong>sori</strong> (Terima kasih atas bantuan ceritanya)</p>
<p>Kakak aq mempunyai seorang pembantu yg berasal dari desa. Orang nya agak pemalas dan suka jalan jalan walaupun wajah nya agak biasa aja, tapi orang nya sangat ceria, itu yg saya suka dari dia dan sangat mudah bergaul enak di ajak bercanda kadang banyak jutek dan mau nya. Karena daerah ku suka listrik padam maka aq dan dia sering naik kelantai atas duduk sambil cerita cerita kadang2 sambil makan ( beli gorengan, bakar-bakar,dll (g yg jorok2))</p>
<p>Suatu hari dia akan pulang kampung alasannya mau menikah dengan pacarnya, maka kakak mencari seorang pembantu lagi.</p>
<p>Waktu itu Mereka bedua sedang bersih bersih dan menemukan buku novel, judulnya agak porno sih, berbau porno lah gitu deh. Karena di rumah sepi makan kami bertiga membaca buku tersebut. lalu aq bertanya kepada inem (bukan nama sebenarnya),kamu udah beli tiket blom, kerena dia udah mau pulang 2 hari depan maka aq marah kepadanya dari pada g dpt tiket pulang, lebih baik aq mengantarnya naik sepeda motor membeli tiket.</p>
<p>Gara2 membaca buku tadi diperjalanan dia memjepit kedua belah paha nya ke paha aq kadang dia mendekatkan dadanya kepunggungku,kerap aja adekku naik. sampe di tempat beli tiket aq dia ternyata membeli tiket untuk besok paginya pulang. Karena merasa kangen aq gmn aq menyuruh nya untuk menundanya sampe besoknya lage, karena ini malam akan mati lampu, aq juga kangen sama dia karena tlah lama aq berteman sama dia walaupun dia seorang pembantu. Ia pun menyutujuinya kubilang ntar malam kita bakar cumi cumi aja sambil mengajak atik (bukan nama asli) bakar bakar di lantai atas(seperti yg kami lakukan waktu mati lampu)dan dia pun pergi ke pasar dekat pantai untuk membeli cumi cumi. di tengah jalan aq mengodai dia kalo dia memakai bra spon, dada nya ukuran kecil hehe.</p>
<p>Malam Harinya g jadi bakar bakar, karena lupa beli arang. setelah abis makan kami pun naik ke lantai atas sambil membawa tikar duduk duduk cerita cerita, si atik (pembantu baru) lage ada di kamar nya, aq pun menyuruh inem untuk memanggil atik untuk naik keatas karena angin pada malam itu sedang bertiup sepoi ( enak dari pada di bwh kepanasan ). atik pun naik karena mungkin kelelahan karena bersih bersih atik pun turun tidur. Sisa aq dan inem yg lage cerita cerita, ga lama berselang dia katanya mau tidur diatas karena kepanasan di kamar dan ada atik pula di kamar, dia naik sambil membawa bantal kepala. sambil cerita cerita g lama listrik nyala. aq pun menyuruhnya turun untuk tidur di bawah aja. Tapi dia tetap bersikeras untuk tidur diatas. aq pun memutar otak untuk menganggu dia. kubilang kepegang pantat lo kalo g mau turun ke bawah, kuhitung sampe 10, kupegang dada mu, kupeluk lo dari belakang (tapi g kupegang kok hanya menggertak kok) tapi dia tapi g mau beranjak. lama ku terdiam, aq pun mengocar-ngacir rambutnya. sebel sebel ku tarik bantalnya dia pun bangun dah marah marah. Aq pun melempar bantal itu ke dia, sambil menggulung tikar, tapi dia dengan cepat tidur kembali ke atas tikar itu aq pun marah. habis pun akalku.</p>
<p>Aq pun memegang pantai inem, mengoyang goyangkannya, sebel dia g menghiraukan aq. sebel sebel aq menjengkal dia dari kaki sampe pantat pake tangan, dari pantat sampe kepala.<br />
kubilang jika aq tidur dgn dia posisi dan tinggi nya pas deh dengan gaya apapun. Karena dia masi tetep tidur aq pun tidur sambil memeluk dia dari belakang, adek gw yg dari tadi naik kini naik lage dikit.kurasakan pantatnya mulai memanas. aq pun menarik badanku. sambil berkata nem lo turun aja tidur di bwh, dari pada disini lo ntar masuk angin dan aq mulai berpikiran kotor nih. kutidur lage memeluk dia dari belakang sambil mendeketkan adik gw ke pantat dia. napas nya kini mulai satu satu, jantungnya berdetak agak cepat sedikit. kucoba untuk tidak berpikir kotor hanya untuk membuatnya mau turun dan tidur di kamarnya bersama atik.Karena cape aq berusaha aq pun tidur sambil memeluk dia. napas kami 1 1.</p>
<p>g tau dari mana tangan ku mulai menjelajahi dadanya, ku pun mencium rambutnya dah lehernya. tangan kiri ku membelai kepala dan rambutnya. lalu turun lagi payudaranya yg mengencang ( plus bra spon hahahahah). turun ke perut terus ke selangkangannya, terasa agak panas. kugesek gesek dikit dengan lembut. Mungkin kalo cewe digituin mungkin marah tapi dia hanya terdiam aja, mungkin udah terangsang ato gmn aq g tau, aq hanya ingin dia turun kebawah jadi aq g sepenuhnya tegang, napsu itu ku kontrol. aq pun lebih dengan yg lebih berani mendekatkan adek gw ke pantat dia sambil memeluk dia aq tidur disampingnya. sambil mengusap2 selangkangan dia dan mengosok v dia dengan jari tengah tangan kiri, kurasakan napas dia satu satu, aq pun mengikuti jalur napas itu. tangan kiri ku kini menjejelah payudaranya kembali lalu kembali ke bagian bawahnya kembali.</p>
<p>kuberbalik badan kearah mukanya dan tidur didepan dia membelai rambutnya, lalu tanpa basa basi ku cium dia. ciuman kedua kalinya insting apa ?? aq mempermainkan lidah kurasakan giginya mengigit kecil lidah ku. sambil kunikmati lidahku digigit dia ku mendekatkan tubuh mendekap dan mau menindih dia bwh ku udah goyang goyang. pada saat itu kakinya mulai melingkari paha ku maka makin dekat deh adek gw ke bagian bwh dia. rasanya panas tiba tiba adek ku menyeruduk ke bagian atas cawat ku aduh sakit kejepit,rasanya ngaceng 120% aq pun tersadar bahwa aq telah berbuat salah.</p>
<p>serentak kubangun dan mulai menenangkan pikiran, sambil meminta maaf nem sori nem nem maaf nem, kulakukan berulang2. sambil liat hp aq berkata wow mau 2 jam aq warming up, dalam pikiran gmn bila berlanjut apa yg telah kulakukan gmn jika aq mulai membuka baju celana dll. apa yg telah kulakukan pada anaknya orang. kini yang dalam pikiranku hanya rasa bersalah sambil meminta maaf. akhirnya dia bangun lalu berjalan menjauhiku, cepat cepat kutangkap tangannya. aq ku pu meminta maaf lage berulang2, dia berkata iya dengan juteknya. mungkin terima ato g perlakuanku tadi, ku lepas tangannya. sambil turun di biarkan tikar diatas atik tidur dengan pintu kamarnya kebuka, dia tidur dengan baju agak tersingkap ke atas dan resleting celana terbuka, kuberkata ew perut kelihatan n cd merah. inem cepat cepat masuk kamar dan menutupnya. aq pun tiduran di sofa sambil berpikir mungkin itu gara2 buku yg di baca tadi.tapi bagus juga sebagai pengalaman untuk malam pertama dia sama suaminya hehe. adek gw masi ngaceng nih ku berpikir juga aduh aduh knp g kulanjutin saya tadi di atas kan bisa tanpa membuka pakaian yg penting keluar dolo T_T.</p>
<p>Akupun tidur di kamar besoknya aq bangun pertama kali ku cari dia. dia selalu menhindariku. ku ikuti dia terus sambil minta maaf terus.cape kuputar lagunya lyla tahta ungu juga.akhirnya aq dpt berbicara dengan dia.akhirnya dia mau memaafkan ku, dia bilang gpp kok ya udah lupakan aja, tapi jgn bilang sapa sapa, tapi aq masi rasa bersalah, cuma ta bisa kulupakan, makanya kutulis disini mungkin sebagai saring ato apa kek mungkin untuk memindahkan memori jadi memori dalam otak gw bisa di hapus. g lama kemudian dia mau duduk cerita cerita dan ceria kembali aq pun lega melihat keceriaan dia dan g merusak anaknya orang.</p>
<p>esoknya dia pergi. atik mulai melirik ku yg g bener dan kadang mengosok perut dengan tangannya kearah atas aq ku menjauhhinya. dah tobat ku bilang dalam hati. mohon jgn menghina, berkata aq bodoh bahkan mereplay ini. ntar aq bersin bersin loh.</p>
<br />Posted in Pembantu Tagged: Pembantu Sexy <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/339/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=339&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/09/20/hasrat-pada-pembantu-rumah-tangga-yang-tertahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenangan Cinta Pertama</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/09/20/kenangan-cinta-pertama-2/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/09/20/kenangan-cinta-pertama-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 00:34:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kenangan Cinta Pertama]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Pertama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Dari Komentator: Jati P (Terima kasih atas bantuan ceritanya) Jakarta saat itu temaram mendung. Hari itu adalah hari kedua aku bersama teman-teman mengikuti pelatihan manajemen. Salah satu instruktur manajemen ternyata Idham Prawira mantan pacarku yang telah putus hubungan 7 tahun lalu. Aku terpaksa meninggalkan dia karena dia lebih suka main bola katimbang bekerja formal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=336&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Cerita Dari Komentator</em>: <strong>Jati P</strong> (Terima kasih atas bantuan ceritanya)</p>
<p>Jakarta saat itu temaram mendung. Hari itu adalah hari kedua aku bersama teman-teman mengikuti pelatihan manajemen. Salah satu instruktur manajemen ternyata Idham Prawira mantan pacarku yang telah putus hubungan 7 tahun lalu. Aku terpaksa meninggalkan dia karena dia lebih suka main bola katimbang bekerja formal atau mengurus bisnis ayahnya. Padahal bekal pendidikannya mencukupi sebagai lulusan LN. Statusku sekarang manajer PR di perusahaan minyak luar Jawa dan bersuami dengan satu anak. Sejak putus aku tidak pernah berhubungan dengan Idham agar bisa memendam kenangan, terutama di Yogya ketika aku telah menyerahkan keperawananku untuknya.</p>
<p>Sekarang giliran Idham yang memberikan presentasi. Pada saat membagi bahan presentasi, dengan lihai tangan Idam menyelipkan kartu nama dan dibaliknya tertulis “hubungi aku”. Selama dalam kelas, Idham tidak menunjukkan bahwa ia mengenalku. Selesai pelatihan seluruh peserta kembali ke kamar hotel. Begitu juga Idham telah menyelinap entah kemana. Padahal saat itu aku kepingin menemui barang sejenak.</p>
<p>Sampai di kamar aku melamun sambil memegang kartu nama Idham. Lamunanku terpotong oleh suara dering telepon. Sambil tiduran aku mengangkat gagang telepon. Terdengar suara Idham “Rin, ini aku…. aku kepingin ketemu… aku di kamar sebelah. Kalau kamu membuka pintu penghubung, aku bisa ke kamarmu. Kita bisa ngobrol… aku kangen banget Rin….”. Aku terdiam dan tidak menjawab. Dengan perasaan gundah telepon itu terlepas dari tanganku. Ketika aku angkat kembali, suara Idham tidak kedengaran.</p>
<p>Dari pintu penghubung terdengar suara pintu sebelah kiri dibuka perlahan dari sisi sebelah. Ada suara ketukan halus serta panggilan namaku. Jantungku berdetak kencang. Suara itu yang memberikan kerinduan dalam hidupku. Dengan perlahan grendel pintu penghubung aku buka. Begitu pintu terbuka, Idham langsung memelukku erat sekali dan mukanya dibenamkan dalam dadaku. Ia tidak berkata apapun. Aku elus kepalanya dan kemudian Idham mendongakkan mukanya. “Rin….. aku kangen…”. Kemudian Idham menggeretku dan merebahkan di tempat tidur. Kerinduanku padanya berkobar kembali seperti ketika masih bersama. Bibirnya melumat bibirku…. kemudian pindah ke leher dan terus ke telinga, turun ke dadaku… “Ssstttt…… ohh……” aku masih hapal urutan tubuhku yang bakal menjadi sasarannya. Dia akan betah lama mempermainkan buah dada dan putingku, mengusap-usap, meremas, mengenyot dan mempermainkan ujung hidung dan kumisnya di puting susu.</p>
<p>Satu persatu bajuku luar dalam lepas dari badan. Idham sangat paham kemana dia harus merangsang bagian berikutnya. Sebelum mulutnya sampai di perut, dia akan membalikkan badanku dan mengendus punggung dan pantat. Setelah aku semakin kelojotan, dia akan membalikkan badanku dan memulai menciumi ujung jari kaki kemudian naik betis dan paha. Sampai disitu aku biasanya sudah tidak tahan dan kalau dulu penisnya langsung aku tarik untuk dimasukkan ke liang senggama. Tapi aku ingin menikmati lebih lama, aku buka pahaku dan dia mencari dengan lidahnya mengusap bibir luar. Hidungnya ia gosokkan diantara belahan vagina. Aku hapal apa yang selanjutnya akan dia lakukan. Setelah puas, bibirnya mulai menyusup diantara lipatan lobang vagina untuk mencari sepotong daging kecil yang menggelembung. “Aaauuuuhhhh………. ” aku menjerit kecil. Dia akan bermain-main dengan ujung lidahnya dan sesekali mulutnya menghisap dan memelintir.</p>
<p>Cukup lama aku tidak merasakan permainan seperti ini. Suamiku tidak pernah mengoral bagian yang sensitif di rongga vaginaku. Paling suamiku hanya memasukkan ujung jari saja. “ooohh ……..sstttt…….aahhhhhhh……. ke atas sedikit say…aangg…”. Bila gerakan lidahnya kurang pas, aku langsung meminta ke arah mana lidah diarahkan. Permainan berikutnya adalah menggosokkan ujung penis Idham untuk membasahi. Slepp…… dan “aaauuu…..hhhhhh”. Mulailah gerakan perlahan menarik dan menyodok diselingi gerakan memutar. Aku semakin hanyut dalam kenikmatan. “haaahhh….. ssttt….sssstttt…. ooohhhhhsssssstttt……..” semakin lama gerakan Idham semakin cepat. Aku semakin tidak tahan. “teruuussss…..ssstttt oooohhh…. terus…. terus…. terus.. haahhhhhhhhhh………” kontraksi dalam vaginaku meloloskan semua kenikmatan. Aku telah mengakhiri tapi Idham masih meyodok maju mundur. Ketika tangannya mengangkat pantatku, itu pertanda Idham segera mencapai puncak. Tiba-tiba dia berteriak, penisnya disodokkan lebih dalam dan dipepetkan sampai pangkal. “Auahhh.aaaaa………..”. Crot….. crot ….. crot…..denyut penis menumpahkan air mani menyiram vaginaku.</p>
<p>Aku ketiduran lemas tanpa daya. Idham tiduran miring sambil mengelus-elus buah dadaku. Hidungnya menciumi lenganku. Masa-masa pemulihan dari puncak kenikmatan ke kondisi normal selalu dilakukan Idham dengan usapan dan ciuman lembut menambah kenikmatanku.</p>
<p>Tiba-tiba telepon di kamarku berdering. Aku melompat dan menyeberang ke kamar sebelah. Telepon dari stafku memberitahu aku ditunggu makan malam. Aku belum mandi, aku tidak siap makan dengan mereka. Akirnya aku katakan aku ketiduran jadi tidak siap makan dengan mereka saat ini. Aku persilakan mereka makan lebih dahulu biar aku pesan di kamar saja.</p>
<p>Badanku aku jatuhkan ke tempat tidur, lemas rasanya dan aku menarik selimut. Rasanya tidur akan terasa nikmat. Belum sampai pulas Idham ikut menyusup dalam selimut. Aku acuhkan dia karena aku ingin lelap. Antara sadar dengan tidak, Idham kembali menciumi tubuhku. Ketika ia membuka pahaku dan memasukkan penisnya, aku mulai terlelap tidur. Entah apa yang telah dia lakukan. Tengah malam aku terbangun dan terasa di pahaku ada cairan yang mengalir. Setelah ingatanku pulih kembali, aku masuk kamar mandi dan berendah air panas. Tubuhku hangat dan kembali aku menemukan gairah sex. Aku bangkit dari tempat berendam menuju kamar Idham. Dia masih terlelap tidur dengan nafas teratur halus.</p>
<p>Aku menyusup ke dalam selimutnya dan tanganku mencari kemudian mengusap-usap penisnya yang lagi bangun dalam tidur. Aku kenyot penisnya sampai-sampai Idham terbangun. Pelukannya menyambut tubuhku yang masih telanjang. Akhirnya kami berguling membentuk 69 tapi tidak sampai klimax. Setelah puas saling mengoral, aku diajak mandi berendam. Tubuh kami yang terkena air hangat menjadi segar dan lebih sesitif pada rangsangan. Akhirnya kami mulai lagi dengan gaya yang dia sukai, aku melayaninya dengan cara berdiri bersandar dinding. Kaki kiriku dia angkat dengan tangan kanan dan Idham memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. “Aaahhhh….. aaahhhh……. ahhhhh…” kenikmatan mulai menjalar ke ubun-ubun. Aku semakin memuncak “ter……uuuusss……sssttttt …. terus…s..s..s..s” dan kontraksi berupa denyutan panjang menyebabkan aku lemas. Idham masih bersemangat. Tapi tubuhku sudah lemas. Akhirnya aku pindah ke tempat tidur. Aku menungging dan Idham dari belakang memompa vaginaku.</p>
<p>Kenangan manis dengan pacar lama aku tinggalkan. Pesawat terakhir telah membawaku kembali ke kota dimana aku berumah tangga. Nun disana suamiku dan anakku melambaikan tangan menjemput di bandara. Bayangan Idham selama dalam penerbangan tiba-tiba hilang. Aku berlari dan aku peluk anakku serta aku ciumi suamiku.</p>
<br />Posted in Kenangan Cinta Pertama Tagged: Cinta Pertama <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/336/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=336&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/09/20/kenangan-cinta-pertama-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jejak Petualang Mesum</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/09/20/jejak-petualang-mesum/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/09/20/jejak-petualang-mesum/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 00:22:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Petualang]]></category>
		<category><![CDATA[Petualang Mesum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.com/?p=334</guid>
		<description><![CDATA[(Cerita dari salah satu pengunjung blog ini : &#8220;Petualang&#8221;) Gue punya cerita juga ni, usiaku kini udah 30 tahun. ceritanya gini ! waktu itu usia gue baru 13 tahun, kebetulan rumah gue cuma punya dua kamar. kamar yang satu miliki bokap dan nyokap gue. Kamar yang satunya ada dua tempat tidur, yang besar dihuni tante, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=334&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>(Cerita dari salah satu pengunjung blog ini : &#8220;Petualang&#8221;)</strong><br />
Gue punya cerita juga ni, usiaku kini udah 30 tahun. ceritanya gini ! waktu itu usia gue baru 13 tahun, kebetulan rumah gue cuma punya dua kamar. kamar yang satu miliki bokap dan nyokap gue. Kamar yang satunya ada dua tempat tidur, yang besar dihuni tante, adik, ama sepupu dari ibu. Kebetulan ada sepupu dari ayah yang datang dari kampung untuk lanjutin sekolah dikotaku. Jadi selama tinggal dirumah dia tidur diranjangku berdua. Pada awalnya biasa-biasa saja, namun pada suatu malam ada perasaan aneh setelah mimpi basah. Gue terbangun dapatin sepupu gue lagi ngangkang di samping gue, sebelah kakinya terkangkang sampai keluar dari kelambu, yang sebelahnya lagi nindih kontol gue yang lagi konak.Pelan-pelan tangan gue alasan bergerak keatas kemaluannya, sambil tunggu reaksi jangan-jangan dia bangun. Namun kayaknya tidur mati. Pelan-pelan gue tarik roknya keatas sedikit-demi sedikit hingga kepangkal pahanya, tunggu lagi reaksinya, eh.. kayaknya nggak bangun-bangun, gue terusin aja. perlahan-lahan tangan gue susupin kedalam celana dalamnya, jari tengah gue telusurin turun kecelah bibir kemaluannya, semakin-lama gue gerak-gerakkan jari makin lama makin basah saja, gue pikir mungkinh udah bangun. namun setelah di peratiin nafasnya tetap teratur. kemudian gue lanjutin lagi. kali ini gue geser kakinya supaya gue bisa bangun, selanjunya posisi gue atur supaya lebih lelauasa ngobok memeknya, kembali jari gue nempel gi atas celana dalamnya, kali ini lewat samping celana dalamnya yang kayaknya kelonggaran. perlu diketahui sepupu gue ini baru 15 tahun, badannya tinggi namun ramping, pinggulnya baru terbentuk, cetakan dadanya pun baru sedikit menonjol kira-kira segenggam telapak orang dewasa. oh ia ampir lupa gue lanjutin lagi pengalaman gue ! kemudian gue sibak aja celana dalamnya kesamping, kelihatan memek yang memerah, gue coba tekan-tekan kok nggak masuk pakai jari tengah, kemudian gue ganti pakai jari kelingking akhirnya masuk juga, pelan-pelan gue keluar masukkan makin lama-makin basah saja. karna udah lancar ganti dengan jari tengah, akhinya juga lolos dan lancar masukinnya . makin lama makin konak gue. kemudian gue keluarin kontol gue yang udah nganceng, kemudian gue sibak lagi celana dalamnya sambil masukin kontol gue pelan-pelan setelah pas rasanya gue tempatkan tangan gue di samping kiri dan kanan pinggangnya sambil nekan pelan-pelan namkun kayaknya nggak bisa masuk semua hanya sebatas lehernya doang, ya udah dasar nggak pengalaman. pikirnya cuma sampai disitu batasnya, ya udah gue tarik tekan berulang-ulang kira-kira sekitar 25 menit terasa ada yang nyut-nyut di kepala kontol gue, rencananya mau di tarik keluar, namun terlambat udah muncrat duluan, gue panik, gimana ni! gue inget cerita guru biologi kalau airnya laki masuk ke memeknya perempuan bisa-bisa dikawinin udahnya. ya… gimana ni, akhirnya gue putusin nyari yang bisa di bikin lap, yang ada cuman baju kaos gue, ya udah! pakai ini saja gue ngelap memeknya. Pada saat lagi ngelap kelihatan sepupu gue gelisah tapi tidak bangun malahan, terasa memeknya makin lama makin basah dan terasa berdenyut-denyut. karna nggak mau ngambil resiko gue hentikan saja dan pura-pura tidur lagi.</p>
<br />Posted in Jejak Petualang Tagged: Petualang Mesum <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/334/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=334&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/09/20/jejak-petualang-mesum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Napsunya Pembantu</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/30/napsunya-pembantu/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/30/napsunya-pembantu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 19:14:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis berbuah Seks]]></category>
		<category><![CDATA[cerita bokep]]></category>
		<category><![CDATA[cerita dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.wordpress.com/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[Di tempat aku tinggal ada pembantu baru, lelaki, orangnya sepantaran aku, tinggi besar, lumayan ganteng, malah terlalu ganteng untuk jadi pembantu, harusnya jadi cover boy. Namanya Budi. Aku tertarik padanya karena dia type cowok idaman buatku. Aku kerap kali membayangkan gimana kalo aku dientot olehnya, memekku dienjot kontolnya yang dari luar celananya kelihatan menggembung, pertanda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=327&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di tempat aku tinggal ada pembantu baru, lelaki, orangnya sepantaran aku, tinggi besar, lumayan ganteng, malah terlalu ganteng untuk jadi pembantu, harusnya jadi cover boy. Namanya Budi. Aku tertarik padanya karena dia type cowok idaman buatku. Aku kerap kali membayangkan gimana kalo aku dientot olehnya, memekku dienjot kontolnya yang dari luar celananya kelihatan menggembung, pertanda kontolnya besar.<span id="more-327"></span></p>
<p>Satu hari, aku tidak kerja sehingga dirumah seharian. Aku cuma pake daster yang mini tanpa bra, sehingga toketku bergerak2 kalo aku jalan. Kalo papasan dengan dia, kulihat matanya lekat menatap toketku yang bergerak2 itu, aku sih gak perduli. Siang itu gak ada siapa2 di tempat tinggalku. Aku duduk di meja makan membaca koran setelah menyantap makan siangku. Dia sedang ngepel di ruang makan. Aku sengaja mengangkangkan pahaku, sehingga dasterku yang mini itu makin tersingkap ke atas dan pastinya cd ku akan bisa dilihat dengan jelas oleh dia yang sedang ngepel itu. Aku tau bahwa dia pasti sedang melotot melihat paha dan cdku walaupun aku tidak melihatnya karena terhalang meja makan, karena dia tidak selesai2 ngepel lantai di sekitar meja makan itu. Aku kaget juga karena ternyata dia berani banget. Aku merasa ada rabaan di pahaku. Paha makin kukangkangkan karena aku tau pasti dia sedang ngelus2 pahaku. Aku jadi menggeliat2 karena rabaannya pada paha bagian dalam, “Aah”, erangku, karena napsuku mulai naik. “Kenapa Nes, napsu ya”, katanya. Dia memang memanggil semua yang sepantaran dia di tumah itu dengan namanya. “Tanganmu nakal sih”, kataku terengah. “Abis kamu nantang duluan sih. Udah tau aku lagi ngepel pake ngangkangin paha segala”, jawabnya dengan tetap ngelus2 pahaku, elusannya makin lama makin naik ke atas. Kini tangannya mulai meraba dan meremes memekku dari luar cdku, Aku semakin terangsang karena ulahnya, “Aah Bud, ines jadi napsu nih”, erangku. “Iya Nes, cd kamu udah basah begini. Kamu ternyata napsunya besar ya, mau ngentot gak dengan aku”, katanya terus terang. Aku terdiam mendengar ajakannya yang to the point itu. Aku yakin kontolnya pasti udah ngaceng berat. Terasa jarinya menyusup kedalam cdku lewat samping. Memang aku pake cd yang minim sekali sehingga dia mudah mengakses memekku dari samping cdku. Terasa sekali jarinya mengorek2 memekku mencari itilku, setelah ketemu langsung saja dikilik2nya. “Bud…”, erangku. Memekku menjadi makin basah. Aku duduknya menjadi setengah melorot sehingga dasterku makin terangkat keatas, membebaskan selangkanganku. Dia makin nakal ulahnya, pahaku makin dikangkangkannya dan terasa hembusan napasnya yang hangat di pahaku. Dia mulai menjilati pahaku, dari bawah bergerak perlahan keatas sambil digigit2nya pelan. Aku menggigil menahan geli saat lidahnya menyelisuri pahaku. “Bud, kamu pinter banget ngerangsang Ines, udah biasa ngerangsang cewek ya”, kataku terengah. CD ku yang minim itu dengan mudah disingkirkan disingkirkan kesamping dan tak lama kemudian terasa lidahnya menghunjam ke memekku yang sudah sangat basah. Aku hanya pasrah saja atas perlakuannya, aku hanya bisa mengerang karena rangsangan pada memekku itu. Lidahnya menyusup ke dalam memekku dan mulai bergerak keatas. Aku makin mengejang ketika dia mulai menjilati itilku. “Aah Bud, Ines sudah pengen dientot”, aku mengerang saking napsunya. Dia menghentikan aksinya, berdiri dan menarikku berdiri juga. Karena rumah sedang sepi, dia langsung memelukku dan mencium bibirku dengan napsunya. Lidahnya menerobos bibirku dan mencari lidahku, segera aku bereaksi yang sama sehingga lidah kami saling membelit didalam mulutku. Pelukannya makin erat, Terasa ada sesuatu yang mengganjal diperutku, kontolnya rupanya sudah ngaceng berat seperti dugaanku. Tangannya mulai bergerak kebawah, meremas pantatku dari luar dasterku, sedang tangan satunya masih ketat mendekapku. Aku menggelinjang karena remasan dipantatku dan tekanan kontolnya yang ngaceng itu makin terasa diperutku. “Aah”, lenguhku sementara bibirku masih terus dikulumnya dengan penuh napsu juga. Lidahnya kemudian dikeluarkan dari mulutku, bibirku dijilati kemudian turun ke daguku. Tangannya bergeser dari pantatku ke arah memekku, “Aah”, kembali aku mengerang ketika jarinya mulai mengilik memekku dari luar cdku. Lidahnya mengarah ke leherku, dijilatinya sehingga aku menggeliat2 kegelian. Sementara itu jarinya sudah menyusup kembali ke dalam cdku lewat samping dan mulai mengelus2 memekku yang sudah sangat basah itu dan kemudian menjadikan itilku sasaran berikutnya.Digerakkannya jarinya memutar menggesek itilku. Aku menjadi lemes dan bersender dipelukannya. “Nes kekamarmu aja yuk”, katanya sambil menyeret tubuhku yang lemes itu kekamarku.</p>
<p>Di kamar aku didorongnya dengan keras sehingga terbaring diranjang, sementara dia mengunci pintunya. Korden jendela ditutupnya sehingga ruangan menjadi agak gelap. Dia segera menghampiriku, cdku ditariknya sehingga lepas dan dia mulai menggarap memekku lagi. “Nes, jembut kamu lebat sekali, gak heran napsu kamu gede banget. Dikilik sebentar aja udah basah begini”, katanya sambil mengangkangkan pahaku lagi. Jembutku disingkirkannya dan langsung saja mulutnya menyosor memekku lagi. Bibir memekku diemutnya, lidahnya menyyusup masuk melalui bibir memekku. Tanpa sadar aku meremes2 rambutnya. Lidahnya mulai menjilati itilku, perutku mengejang karena menahan kenikmatan rangsangannya. “Aah terus Bud, enak”, teriakku. Kepalanya kutekan sehingga menempel erat di memekku. Lidahnya makin seru saja mengilik memek dan itilku. Cairan memekku diisepnya, itu membuatku makin melayang2. Ketika aku udah hampir nyampe, dia menghentikan aksinya, “Kenapa brenti”, protesku. “ines sudah ampir nyampe”. Dia membuka baju dan celannya, sekaligus dengan cdnya, benar dugaanku. Ternyata kontolnya besar dan panjang, berdiri tegak karena sudah ngaceng berat. Aku ditariknya bangun kemudian disuruh menelungkup dipinggir ranjang, saat itu aku masih memakai daster miniku. Dia memposisikan dirinya dibelakangku, punggungku didorong sedikit sehingga aku menjadi lebih nungging. Pahaku digesernya agar lebih membuka.</p>
<p>Aku menggelinjang ketika merasa ada menggesek2 memekku. Memekku yang sudah sangat licin itu membantu masuknya kontol besarnya dengan lebih mudah. Kepala kontolnya sudah terjepit di memekku. Terasa sekali kontolnya sesek mengganjal di selangkanganku. “Aah, gede banget kontolmu”, erangku. Dia diam saja, malah terus mendorong kontolnya masuk pelan2. Aku menggeletar ketika kontolnya masuk makin dalam. Nikmat banget rasanya kemasukan kontolnya yang besar itu. Pelan2 dia menarik kontolnya keluar dan didorongnya lagi dengan pelan juga, gerakan keluar masuk kontolnya makin cepat sehingga akhirnya dengan satu hentakan kontolnya nancep semua di memekku. “Aah, enak banget Bud kontolmu”, jeritku. “memekmu juga peret banget deh Nes. baru sekali aku ngerasain memek seperet memekmu”, katanya sambil mengenjotkan kontolnya keluar masuk memekku. “Huh”, dengusku ketika terasa kontolnya nancep semua di memekku, Terasa biji pelernya menempel ketat di pantatku. Memekku terasa berdenyut meremes2 kontolnya yang nancep dalem sekali karena panjangnya. Tangannya yang tadinya memegang pinggulku mulai menyusup kedalam dasterku dan meremes toketku dengan gemesnya. Aku menjadi menggelinjang karenanya, sementara itu enjotan keluar masuk kontolnya makin dipercepat. Tubuhku makin bergetar merasakan gesekan kontolnya di memekku. “Enak Bud, enjotin yang keras, aah, nikmatnya. Ines mau deh kamu entot tiap hari”, erangku gak karuan. Keluar masuknya kontolnya di memekku makin lancar karena cairan memekku makin banyak, seakan menjadi pelumas kontolnya. Dia menelungkup dibadanku dan mencium kudukku. Aku menjadi menggelinjang kegelian. Pinter banget dia merangsang dan memberi aku nikmat yang luar biasa. Toketku dilepaskannya dan tangannya menarik wajahku agar menengok ke belakang, kemudian bibirku segera diciumnya dengan napsunya. Lidahnya kembali menyusup kedalam mulutku dan membelit lidahku. Tangannya kembali menyusup kedalam dasterku dan meneruskan tugasnya meremes2 toketku. Sementara itu, kontolnya tetep dienjotkan keluar masuk dengan cepat dan keras. Jembutnya yang kasar dan lebat itu berkali2 menggesek pantatku ketika kontolnya nancep semuanya di memekku. Aku menjadi mengerang keenakan berkali2, ini menambah semangatnya untuk makin mgencar mengenjot memekku. Pantatku mulai bergerak mengikuti irama enjotan kontolnya. Pantatku makin cepat bergerak maju mundur menyambut enjotan kontolnya sehingga rasanya kontolnya nancep lebih dalem lagi di memekku. “Terus Bud, enjot yang keras, aah nikmat banget deh dientot kamu”, erangku. Dia makin seru saja mengenjot memekku dengan kontolnya. Aku tersentak. Perutku terasa kejang menahan kenikmatan yang luar biasa. Bibirku kembali dilumatnya, aku membalas melumat bibirnya juga, sementara gesekan kontolnya pada memekku tetep saja terjadi. Akhirnya aku tidak dapat menahan rangsangan lebih lama, memekku mengejang dan “Bud, Ines nyampe aah”, teriakku. Memekku berdenyut hebat mencengkeram kontolnya sehingga akhirnya, kontolnya mengedut mengecretkan pejunya sampe 5 semburan. Terasa banget pejunya yang anget menyembur menyirami memekku. Kontolnya terus dienjotkan keluar masuk seiring ngecretnya pejunya. Akhirnya aku ambruk keranjang dan dia menindihku. Napasku memburu, demikian juga napasnya. Kontolnya terlepas dari jepitan memekku sehingga terasa pejunya ikut keluar mengalir di pahaku. Dia segera telentang diranjangku supaya tidak menindih aku. “Nes, nikmat banget deh memek kamu, peret dan empotannya kerasa banget”, katanya. “Kamu sudah sering ngentot ya Bud, ahli banget bikin Ines nikmat. Kamu ngentot ama siapa aja”, tanyaku. “Kalo enggak anak majikan ya istri majikan”, jawabnya sambil cengar cengir. “Wah nikmat banget kamu, ada yang muasin kamu sembari kerja”, jawabku sambil menelentangkan badanku disebelahnya.</p>
<p>Dia bangun dan masuk kamar mandi, memang kamarku ada kamar mandi didalemnya. Terdengar grujuan air, dia rupanya sedang membersihkan dirinya, sementara aku masih saja telentang di ranjang menikmati sisa2 kenikmatan yang baru saja aku rasakan. Dia keluar dari kamar mandi, dasterku yang sudah basah karena keringat dilepasnya sehingga aku terkapar telanjang bulat. “kamu napsuin deh Nes, toket kamu gede dan kenceng, mana pentilnya gede lagi. sering diemut ya Nes, kamu nentotnya sama siapa sih”, tanyanya. Aku hanya tersenyum mendengar ocehannya. “Aku paling suka liat jembut kamu, lebat banget sih. Aku paling napsu ngeliat cewek kayak kamu ini, toketnya gede kenceng dan jembutnya lebat, nikmat banget dientotnya,” katanya lagi. Dia berbaring disebelahku dan memelukku, “Nes aku pengen lagi deh”, katanya. Aku kaget juga dengernya, baru aja ngecret udah napsu lagi, tapi aku suka cowok kaya begini, udah kontolnya gede dan panjang, kuat lagi ngentotnya. Dia mulai menciumi leherku dan lidahnya menjilati leherku. Aku menggelinjang dan mulai terangsang juga. Bibirku segera diciumnya, lidahnya kembali menyusup kedalam mulutku dan membelit lidahku. Sementara itu tangannya mulai meremes2 toketku dengan gemes. Dia melepaskan bibirku tetapi lidahnya terus saja menjilati bibirku, daguku, leherku dan akhirnya toketku. Pentilku yang sudah mengeras dijilatinya kemudian diemutnya dengan rakus. Aku menggeliat2 karena napsuku makin memuncak juga. “Aash, kamu napsu banget sih Bud, tapi Ines suka banget”, erangku. Toketku yang sebelah lagi diremes2nya dengan gemes. Jari2nya menggeser kebawah, keperutlu, Puserku dikorek2nya sehingga aku makin menggelinjang kegelian. Akhirnya jembutku dielus2nya, tidak lama karena kemudian jarinya menyusup melalui jembutku mengilik2 memekku. Pahaku otomatis kukangkangkan untuk mempermudah dia mengilik memekku. “Aah”, aku melenguh saking nikmatnya. Dia membalik posisinya sehingga kepalanya ada di memekku, otomatis kontolnya yang sudah ngaceng ada didekat mukaku. Sementara dia mengilik memek dan itilku dengan lidahnya, kontolnya kuremes dan kukocok2, keras banget kontolnya. Kepalanya mulai kujilati dan kuemut pelan, lidahnya makin terasa menekan2 itilku sehingga pantatku terangkat dengan sendirinya.</p>
<p>Enggak lama aku mengemut kontolnya sebab dia segera membalikkan badannya dan menelungkup diatasku, kontolnya ditancapkannya di memekku dan mulai ditekennya masuk kedalam. Setelah nancep semua, mulai dia mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat da keras. Bibirku kembali dilumatnya dengan penuh napsu, sementara itu terasa banget kontolnya mengisi seluruh ruang memekku sampe terasa sesek. Nikmat banget ngentot sama dia. Aku menggeliat2kan pantatku mengiringi enjotan kontolnya itu. Cukup lama dia mengenjotkan kontolnya keluar masuk, tiba2 dia berhenti dan mencabut kontolnya dari memekku. Dia turun dari ranjang dan duduk di kursi, aku dimintanya untuk duduk dipangkuannya mengangkang diantara kedua kakinya. Dia memelukku dengan erat. Aku sedikit berdiri supaya dia bisa mengarahkan kontolnya yang masih ngaceng itu masuk ke memekku. Aku menurunkan badanku sehingga sedikit2 kontolnya mulai ambles lagi di memekku. Aku menggeliat merasakan nikmatnya kontolnya mendesak masuk memekku sampe nancep semuanya. Jembutnya menggesek jembutku dan biji pelernya terasa menyenggol2 pantatku. Aku muali menaik turunkan badanku mengocok kontolnya dengan memekku. Dia mengemut pentilku sementara aku aktif bergerak naik turun. Nikmat banget, kayanya lebih nikmat dari tadi. “Aah Bud, enak banget deh, lebih nikmat dari yang tadi”, erangku sambil terus menurun naikkan badanku mengocok kontolnya yang terjepit erat di memekku. Memekku mulai berdenyut lagi meremes2 kontolnya, gerakanku makin liar, aku berusaha menancepkan kontolnya sedalam2nya di memekku sambil mengerang2. Tangannya memegang pinggulku dan membantu agar aku terus mengocok<br />
kontolnya dengan memekku. Aku memeluk lehernya supaya isa tetep mengenjot kontolnya, denyutan memekku makin terasa kuat, dia juga melenguh saking nikmatnya’ “Nes, empotan memekmu kerasa banget deh, mau deh aku ngentot ama kamu tiap hari”. Akhirnya aku gak bisa menahan rangsangan lebih lama dan “Bud, Ines nyampe, aah”, teriakku dan kemudian aku terduduk lemas dipangkuannya.</p>
<p>Hebatnya dia belum ngecret juga, kayanya ronde kedua membuat dia bisa ngentot lebih lama. “Cape Nes”, tanyanya tersenyum sambil terus memelukku. “He eh”, jawabku singkat. Pelan dia mengangkat badanku dari pangkuannya sehingga aku berdiri, kontolnya lepas dari jepitan memekku. Kontolnya masih keras dan berlumuran cairan memekku. Kembali aku dimintanya nungging dipinggir ranjang, doyan banget dia dengan doggie style. aku sih oke aja dengan gaya apa saja karena semua gaya juga nikmat buat aku. Dia menjilati kudukku sehingga aku menggelinjang kegelian, perlahan jilatannya turun ke punggung. Terus turun ke pinggang dan akhirnya sampe dipinggulku. Otot perutku terasa tertarik karena rangsangan jilatan itu. Mulutnya terus menjilati, yang menjadi sasaran sekarang adalah pantatku, diciuminya dan digigitnya pelan. Apalagi saat lidahnya mulai menyapu daerah sekitar lubang pantatku. Geli rasanya. Jilatannya turun terus kearah memekku, kakiku dikangkangkannya supaya dia bisa menjilati memekku dari belakang, Aku lebih menelungkup sehingga pantatku makin menungging dan memekku terlihat jelas dari belakang. Dia menjilati memekku, sehingga kembali aku berteriak2 minta segera dientot, “Bud, nakal deh kamu, ayo dong Ines cepetan dientotnya”. Dia berdiri dan memposisikan kontolnya dibibir memekku dan dienjotkannya kedalam dengan keras sehingga nancep semua dengan sekali enjotan. Dia mulai mengenjot memekku dengan kontolnya, makin<br />
lama makin cepat. Aku kembali menggeliat2kan pantatku mengimbangi enjotan kontolnya dimemekku. Jika dia mengejotkan kontolnya masuk aku mendorong pantatku kebelakang sehingga menyambut kontolnya supaya nancep sedalam2nya di memekku. Toketku berguncang2 ketika dia mengenjot memekku. Dia merems2 toketku dan memlintir2 pentilnya sambil terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk. “Terus Bud, nikmat banget deh”, erangku lagi. Enjotan berjalan terus, sementara itu aku mengganti gerakan pantatku dengan memutar sehingga efeknya seperti meremes kontolnya. Dengan gerakan memutar, itilku tergesek kontolnya setiap kali dia mengenjotkan kontolnya masuk. Denyutan memekku makin terasa keras, diapun melenguh, “Nes, nikmat banget empotan memek kamu”. Akhirnya kembali aku kalah, aku nyampe lagi dengan lenguhan panjang, “Aah nikmatnya, Ines nyampeee”.Otot perutku mengejang dan aku ambruk ke ranjang karena lemesnya.</p>
<p>Aku ditelentangkan di ranjang dan segera dia menaiki tubuhku yang sudah terkapar karena lemesnya. Pahaku dikangkangkannya dan segera dia menancapkan kembali kontolnya di memekku. Kontolnya dengan mudah meluncur kedalam sehingga nancep semuanya karena memekku masih licin karena cairan yang berhamburan ketika aku nyampe. Dia mulai mengenjotkan lagi kontolnya keluar masuk. Hebat sekali staminanya, kayanya gak ada matinya ni orang. Aku hanya bisa terkapar menikmati sisa kenikmatan dan rangsangan baru dari enjotan kontolnya. Dia terus mengejotkan kontolnya dengan cepat dan keras. Dia kembali menciumi bibirku, lherku dan dengan agak membungkukkan badan dia mengemut pentilku. Sementara itu enjotan kontolnya tetap berlangsung dengan cepat dan keras. Aku agak sulit bergerak karena dia agak menindih badanku, keringatku sudah bercampur aduk dengan keringatnya. Enggak tau sudah berapa lama dia mengentoti ku sejak pertama tadi. Dia menyusupkan kedua tangannya kepunggungku dan menciumku lagi. Kontolnya terus saja dienjotkan keluar masuk. Pertutku mengejang lagi, aku heran juga kok aku cepet banget mau nyampe lagio dientot dia. Aku mulai menggeliatkan pantatku, kuputar2 mengimbangi enjotan kontolnya. Memekku makin mengedut mencengkeram kontolnya, pantatku terkadang terangkat menyambut enjotannya yang keras, sampe akhirnya, “terus Bud, yang cepet, Ines udah mau nyampe lagi”, teriakku. Dia dengan gencarnya mengenjotkan kontolnya keluar masuk dan, “Aah Ines nyampe lagi”, aku berteriak keenakan. Berbarengan dengan itu terasa sekali semburan pejunya yang kuat di memekku. Diapun ngecret dan ambruk diatas badanku. Kami sama2 terkulai lemes, lebih2 aku karena aku udah nyampe 3 kali sebelum dia akhirnya ngecret dimemekku. “Bud, kamu kuat banget deh ngentotnya, mana lama<br />
lagi. Nikmat banget ngentot ama kamu. Kapan kamu ngentotin Ines lagi”, kataku. Dia tersenyum mendengar sanjunganku. “Kalo ada kesempatan ya aku sih mau aja ngentotin kamu. memek kamu yang paling nikmat dari semua cewek yang pernah aku entot”, jawabnya memuji. Dia kemudian meninggalkanku terkapar telanjang karena nikmat.</p>
<p>Malemnya, aku sudah tertidur, terdengar garukan di pintu kamarku. Aku terbangun, “Siapa” kataku lirih. “Aku Nes”, terdengar suara Budi, rupanya dia belum puas ngentotin aku tadi siang, minta nambah lagi malem ini. Gak ada matinya rupanya dia. Aku bangun dan membukakan pintu. Segera dia masuk dan memeluk tubuhku yang hanya terbalut cd minim. “Nes, aku pengen ngerasain empotan memek kamu lagi ya, boleh kan”, katanya. Aku kalo tidur hanya pake cd saja karena gerah hawanya dikamar. Dia lalu berbaring telentang di ranjang, lalu aku mulaijongkok di atasnya dan menciumi nya, tangannya mengusap-usap punggungku. Bibirnya kukulum, ”Hmmmhh… hmmhhh…” dia mendesah-desah. Setelah puas melumat bibir dan lidahnya, aku mulai bergerak ke bawah, menciumi dagunya, lalu lehernya. Kaosnya kusingkapkan dari bawah lalu kuciumi dadanya. “Hmmmhhh… aduh Nes enak ..” rintihnya. Dia terus mendesah sementara aku mulai menciumi perutnya, lalu pusarnya, sesekali dia berteriak kecil kegelian. Akhirnya<br />
risleting celana pendeknya kubuka, kusingkapkan cdnya, kontolnya yang sudah ngaceng berat kupegang dan kukocok2, “Ahhhhh… Hhhh…. Hmmhmh… Ohhh Nes…” dia cuman bisa mendesah doang. Kontolnya langsung kukenyot-kenyot, sementara dia meemas-remas rambutku saking enaknya, “Ehmm… Ehmm…” Mungkin sekitar 5 menitan aku ngemut kontolnya, kemudian aku bilang, “Bud… sekarang giliran kamu yach?” Dia cuma tersenyum, lalu bangkit sembari memelorotkan celana pendek dan celana dalamnya, sedangkan aku sekarang yang ganti tiduran. Dia mulai nyiumin bibirku, aku mencoba ngelepasin kaosnya, lalu dia langsung melepasnya dan meletakkan di sebelahnya. Dia pun mulai menciumi leherku sementara tangannya meraba-raba toketku dan diremasnya. “Hmhmhhm… Hmhmhmh…” ganti aku yang mendesah keenakan. Apalagi ketika dia menjilati pentilku yang tebal dan berwarna coklat tua. Setelah puas melumat pentilku bergantian, dia mulai menjilati perutku dan ingin memelorotkan CDku. Aku mengangkat pantatku, lalu dia memelorotkan CDku. Dia langsung menciumi memekku dengan penuh napsu, otomatis pahaku mengangkang supaya dia bisa mudah menjilati memek dan itilku. “Ahh.. Ahhhh…” aku mengerang dan mendesah keras keenakan. Sesekali kudengar “slurrp… slurrp…” dia menyedot memekku yang sudah<br />
mulai basah itu. ”Ahhhh… Bud… Enak …” desahan ku semakin keras saja karena merasa nikmat, seakan tidak peduli kalau terdengar orang di luar. Napsuku sudah sampe ubun2, dia kutarik untuk segera menancapkan kontol besarnya di memekku yang sudah gatel sekali rasanya, pengen digaruk pake kontol.</p>
<p>Pelan-pelan dia memasukkan kontolnya ke dalam memekku. dengan satu enjotan keras dia menancapkan seluruh kontolnya dalam memekku. “Uh… uhhh…. Ahhhhhhh…nikmat banget Bud” desahku ketika dia mulai asyik menggesek-gesekkan kontolnya dalam memekku. Aku menggoyang pinggulku seirama dengan keluar masuknya kontolnya di memekku. Dia mempercepat gerakannya. Gak lama dienjot aku sudah merasa mau nyampe, “Ah…Bud…Aku sepertinya mau… ahhh…” dia malah mempergencar enjotan kontolnya dimemekku, “Bareng nyampenya ya Nes, aku juga dah mau ngecret”, katanya terengah. Enjotan kontolnya makin cepat saja, sampe akhirnya, “Bud, Ines nyampe aah”, badanku mengejang karena nikmatnya, terasa memekknu berdenyut2 meremas kontolnya sehingga diapun menyodokkan kontolnya dengan keras, “Nes, aku ngecret aah”, terasa semburan pejunya yang deres dimemekku. Dia terkapar lemes diatas badanku, demikian pula aku. Setelah istirahat sejenak, dia mencabut kontolnya , memakai pakaiannya dan keluar meninggalkan aku terkapar telanjang di ranjang. Sejak itu setiap ada kesempatan, aku selalu minta dientot sama dia.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ratubokep.wordpress.com/327/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ratubokep.wordpress.com/327/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/327/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=327&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/30/napsunya-pembantu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ani and Me</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/28/ani-and-me/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/28/ani-and-me/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 19:09:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis berbuah Seks]]></category>
		<category><![CDATA[cerita bokep]]></category>
		<category><![CDATA[cerita dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Hentai]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Di Sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.wordpress.com/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah cerita aku ml untuk pertama kalinya, tentu saja dengan cewekku. dia adalah my girl yang paling kusukai, keturunan chinese, toket ukuran 32. aku sangat puas tiap kali berhubungan dengannya, sebut saya namanya Ani. Ani adalah adik angkatanku, persis setahun dibawahku. kumulai berhubungan dengannya setelah kegiatan inisiasi kampus berakhir. kumulai dengan sering telepon, main [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=323&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah cerita aku ml untuk pertama kalinya, tentu saja dengan cewekku. dia adalah my girl yang paling kusukai, keturunan chinese, toket ukuran 32. aku sangat puas tiap kali berhubungan dengannya, sebut saya namanya Ani.</p>
<p>Ani adalah adik angkatanku, persis setahun dibawahku. kumulai berhubungan dengannya setelah kegiatan inisiasi kampus berakhir. kumulai dengan sering telepon, main ke tempatnya, dan akhirnya kupinang dia. Ani mau. mulai saat itu kami sering keluar bersama. Ani tinggal dikota ini disebuah rumah kontrakan, bersama dengan saudara sepupunya dan pembantu, semuanya wanita. aku sangat mencintainya, diapun begitu. pada suatu malam kuberanikan mencium bibirnya. dia suka, lalu langsung kucium lagi dan lebih lama serta dengan permainan lidahku. saat itu aku belum terlalu memikirkan untuk ml, aku terlalu lugu untuk itu, aku hanya menikmati bibirnya. setiap kali bertemu dan ada kesempatan aku smooch dia, dan Ani sangat menyukainya, ini yang pertama untuknya, katanya.<span id="more-323"></span></p>
<p>suatu hari Ani memintaku untuk menemaninya, dan kami sudah jalan bareng untuk 1 tahun. kami sangat mesra sekali dan belum ada pikiran untuk melakukannya. sampailah aku di rumahnya, ternyata Ani hanya sendiri. saudaranya pergi maen, dan pembantunya dapat jatah balik kampung katanya. kesempatan ini tak kulewatkan untuk menciuminya. Ani mengajakku ke kamarnya. kuawali dengan ciuman kecil dibibir, lalu semakin panas. kubaringkan Ani diranjangnya, lalu lehernya. saat aku mulai panas, kuberanikan untuk meminta izin memegang dadanya, Ani mengizinkan tetapi hanya dari luar. dengan lembut kumeremasnya, sambil menciumi bibirnya. tapi aku makin penasaran, kuminta izin untuk merasakan dadanya langsung. ternyata Ani meluluskannya dengan satu syarat mataku dipejamkan. perlahan Ani membimbing tanganku menuju ke sana. kenyal sekali dadanya, lalu kucari puntingnya, keras. aku langsung jatuh cinta dengan dadanya juga, pas dalam tanganku. dan dengan sengaja kubuka mataku dan tampaklah payudara yang indah sekali untukku. Ani kaget ketika melihatku melek, tapi langsung kukatakan padanya aku sangat menyukai dadanya yang indah, wajah Ani memerah. terus kumeremas-remasnya perlahan dan lembut. Ani tampaknya menyukainya. kudekatkan wajahku ke dadanya dan kuciumi payudaranya, kiri dan kanan. Ani tampaknya diam saja. lalu aku menyusu padanya, aku nenen padanya. dan terdengar lenguhan panjang Ani, &#8220;uh&#8230;&#8221;. aku semakin semangat menikmati dada dan puntingnya. nikmat sekali, sepetinya nipplenya lumer dalam mulutku. untuk sesaat kuistirahatkan dadanya. kulucuti t-shirt dan branya, Ani tak menolak, Ani topless sekarang. dan ku ciumi bibirnya. &#8220;kenapa?&#8221; tanya ku. Ani diam saja dan tanganya masuk ke dalam t-shirtku dan melucutinya. &#8220;lanjutin donk&#8230;u make me drunk.&#8221; katanya. aku pun begitu, batinku. Ani bersandar didadaku, tanganku memeluk dadanya yang kusuka, lehernya kuciumi dan kujilati, Ani sangat menikmatinya. &#8220;uh&#8230;m&#8230;&#8221; terdengar dari bibirnya. kuturunkan salah satu tanganku dan kumainkan di daerah selangkangannya, dari luar celana pendeknya. Ani diam saja. lalu ku coba memasukkan tanganku kedalam celananya turun menuju vaginanya, lembab kurasakan. mulai kumainkan jariku, perlahan. dan dengan perlahan pula Ani membuka selangkangannya, tanganku turun lebih dalam. ternyata cdnya sudah basah. &#8220;Ani&#8230;kamu sudah horny ya&#8230;&#8221; tanyaku. Ani terdiam dan mulai menciumku dan memainkan lidahnya, ini jawaban &#8216;iya&#8217; untukku. kusandarkan Ani dan kulucuti celana dan cdnya, sebuah pemandangan indah dan kali pertama dimataku, vagina dengan rambut yang tak lebat, basah. &#8220;Ani&#8230;aku suka vagina mu&#8221; kataku, &#8220;masa&#8230;&#8221; jawabnya sambil menutupi payudaranya dan wajah memerah. masih dengan ragu-ragu, kudekatkan wajahku ke vaginanya. kuciumi dan kujilat perlahan permukaannya. wow, rasanya aneh namun tidak berbau (padahal bayanganku pasti bau!). Ani menggelinjang. lalu kupegang kedua pahanya dengan erat sambil terus kubenamkan lidahku ke vaginanya. rasanya asin namun nikmat. lalu vagina tersebut aku kuakkan dengan jariku. terlihatlah daging merah yang sangat lembut bersama sebentuk daging kecil yang menggantung dan berkilat-kilat. itu klitorisnya. tiba-tiba kurasakan jenggutan dirambutku yang semakin menekan kepalaku ke vaginanya. segera kupercepat jilatanku sehingga mulutku penuh dengan lendir dari vagina Ani. kudengar desahan Lina semakin keras. tangannya menuntun tanganku untuk meremas payudaranya (32B). aku semakin exciting. sebenarnya aku belum telalu terangsang tapi semakin ingin tahu apa yang akan terjadi berikutnya. terus saja kusedot kuat klitorisnya sambil kujilat-jilat lubang vaginanya. tiba-tiba otot pahanya menegang dan cengkramannya makin kuat disusul dengan &#8216;muncratnya&#8217; cairan dari vagina Ani. kontank kuhentikan kegiatanku melihat peristiwa tsb.What a surprise! lalu ku jilati sisa cairannya, ternyata aku suka. kupandangi rona wajahnya yang memerah. rambutnya berantakan dengan bulir-bulir keringat di lehernya. matanya terpejam, kemudian membuka dan tersenyum ke arahku. &#8220;kamu ngapain sih barusan,enak banget&#8230;!&#8221;desahnya mesra. &#8220;kamu ga kan mau tau lah.&#8221;kataku. &#8220;kasih tau dong ngapain, sampe mulut kamu belepotan gitu.&#8221;kata Ani sambil tertawa. kucium bibirnya, &#8220;ih&#8230;asin&#8221; katanya. &#8220;itu khan punya kamu&#8230;&#8221;balasku. dan aku duduk disampingnya.</p>
<p>&#8220;ini yang pertama buatku&#8230;&#8221; katanya &#8220;aku suka banget,dan aku sayang sama kamu&#8221; &#8220;aku juga begitu&#8221; lanjutku &#8220;ini juga yang pertama&#8221; &#8220;aku nggak nyesel ko&#8221; katanya &#8220;aku ingin kamu berikan lebih dari ini, aku ingin punyamu, sungguh&#8221; lanjutnya sambil mengelus-elus penisku. &#8220;ini sebenernya rahasiaku, tapi aku ingin kamu tahu&#8221; katanya &#8220;aku sengaja bikin suasana rumah seperti ini, saudaraku pulang ke rumahnya, bukannya maen, terus pembatuku kebetulan dapet jatah pulang ke kampungnya. jadi aku bebas sama kamu. sekarang cuma aku dan kamu berdua. aku ingin punya kamu. aku cuman tahu hal ini dari cerita-cerita temen, tapi ngga bisa bayangin yang sebenernya, sekarang aku bisa sama kamu.&#8221; mendengarnya aku merinding dan suka. ini kesempatanku untuk melepaskan rasa ingin tahuku dan aku tak ingiin terlalu lugu lagi. dan sekali lagi aku terdiam tapi sangat suka.</p>
<p>lalu ku terkam bibirnya dengan bibirku, lalu tanganku memainkan tugasnya di toket dan vaggynya. Ani terangsang lagi, lalu bangun dan menghempakanku ke ranjang. Ani melucuti celana dan cdku, aku bugil. penisku yang baru setengah on, dibuatnya fully on. Ani menjilatinya, seperti lolipop. dari kepalanya, batangnya dan bijinya. nikmat sekali. kuminta Ani menaruh vaginanya diatas wajahku, lalu lidahku mulai bergerak. pose ini menjadi favorit Ani dalam foreplay. kujilati bibir vaginanya, lalu klitorisnya. kusedot-sedot perlahan dan sesekali kugigit kecil. Ani pun menikmati penisku, dijilatinya dan perlahan-lahan dikocoknya. lalu dimasukkan kedalam mulutnya dan dikocok. nikmat sekali, kamu berdua sesekali mendesah dan melenguh menikmati rangsangan yang saling kami berikan. rasanya semua otot pahaku berkedutan menahan nikmat yang kurasakan. dan sesekali Ani menggerakkan pantatnya maju-mundur menggesekkan vaginanya di lidahku. vaginanya makin basah, dan berkedut, Ani melenguh dan mendongakkan badannya sambil memegangi penisku, cairan itu keluar lagi, Ani orgasme kembali.</p>
<p>Ani membalikkan badannya dan berbaring diatas badanku. kami berdua sama-sama berkeringat, penisku masih ngacung dan belum terpenuhi. &#8220;Donn, nikmat sekali rasanya, aku dapat lagi. Aku ingin malam ini terpuaskan&#8221; katanya. ku peluk dia. &#8220;ayo mulai lagi&#8221; ajakku. Ani menyanggupinya. dia berbaring, kukecup keningnya, kuciumi bibirnya, kujilati lehernya sambil meremas-remas dadanya. turun lagi kujilati payudaranya, kusedot-sedot puntingnya dan sesekali kugigit kecil. Ani menikmati sekali, dan kepalakupun dipeluknya. setelah puas dengan dadanya, ku jilati klitorisnya dan ku sedot-sedot vaginannya yang basah lagi. kunikmati vaginanya yang merah dan tangan ku meremas-remas dadanya dan memelintir puntingnya perlahan dan lembut. vagina Ani berkedut lagi, kugesekkan kepala penisku dimulut vaginanya terdengar desahan lirih &#8220;uh&#8230;&#8221; dari bibirnya. kubisiki Ani, &#8220;sekarang kau seorang wanita sejati&#8221; lalu ku cium bibirnya dan penisku mulai masuk ke dalam lubang senggamanya. &#8220;Au&#8230;sakit&#8230;&#8221; teriaknya, &#8220;tenang sayangku, sebentar lagi kamu akan merasa nyaman dan nikmat&#8221; hiburku dan penisku masuk. kudiamkan sebentar didalam vaginanya, dengan dinding vagina yang berkontraksi, ku peluk Ani. &#8220;kamu sekarang seorang wanita dewasa, sayang&#8221; bisikku. dia mencium bibirku, lembut dan dalam. dan mulai kukocok vaginanya dengan penisku itu, perlahan. hangat sekali didalam sana, basah, licin. badan kami yang sudah mandi keringat terasa hangat pula, dan tak lupa kubisiki dia dengan kata-kata yang erotis, berciuman dan meremas-remas dadanya. indah sekali malam itu, erotis. kukocok vaginanya perlahan-lahan dengan penisku, kuselingi dengan menyusu pada Ani, serta menciumi ketiaknya yang mulus. kugendong Ani dan sodokkanku lebih terasa. &#8220;Aku nggak nyesel Donn&#8230;, kamu lembut sekali&#8230;&#8221; katanya sambil terus ku sodokkan penisku. vagina Ani makin basah dan terus memijat batang penisku, seakan-akan disedot olehnya. terdengar pula suara gesekan vagina dan penis, suara yang basah. aku duduk diranjang, Ani mulai mengocok penisku dalam-dalam, dia hunjamkan pantatnya ke penisku, nikmat sekali. lalu Ani mengayangkan badannya, sambil mulutnya meracau nggak jelas. kulumat habis dadanya kunikmati puntingnya. kami sangat menikmati dan kami berdua mandi keringat. akhirnya Ani mengejang dan memelukku erat lalu membenamkan penisku dalam-dalam, terasa cairan memandikan penisku dan dindingnya memijat dan terasa pula menyedot penisku, Ani orgasme lagi, ku balas dengan kocockanku dan kupeluk dia dan penisku berkedut, crot, spermaku muncrat didalam vaginanya, aku duduk memangkunya dan berpelukan, lalu kucium bibirnya, &#8220;terimakasih sayang&#8221; kataku, &#8220;aku juga&#8221; jawabnya. aku berbaring dengan Ani diatasku, penisku masih didalam, dan kubiarkan mengendur. &#8220;Donn, aku ngga ingin terpisah dari kamu. I love, and I always do&#8221; katanya, &#8220;aku juga sayang&#8221; lanjutku.</p>
<p>ini ml-ku yang pertama, dan bagian pertama kenangan hari itu. kenangan yang tak perna hilang, walau Ani sudah pergi ke luar bersama ortunya.<br />
anjir182 is online now<br />
Reply With Quote<br />
Sponsored links<br />
Your Ad Here<br />
anjir182<br />
View Public Profile<br />
Send a private message to anjir182<br />
Find More Posts by anjir182<br />
Old 07-21-2008, 05:59 PM 	  #2<br />
anjir182</p>
<p>Join Date: Jun 2008<br />
Location: Planet Keron<br />
Posts: 552<br />
Thanks: 4<br />
Thanked 76 Times in 29 Posts<br />
anjir182 is on a distinguished road</p>
<p>Default<br />
kami tidur bersama, dengan keadaan bugil dan penis ku masih didalam vaginanya. ketika subuh, penisku ereksi. kejadian alami ini membuat Ani terbangun. &#8220;Don, penis kamu bangun. lagi yuk&#8221; katanya bersemangat. langsung ku lahap bibirnya dan kumainkan lidahku. kutindih Ani, dan mulai meremas-remas dadanya. kenyal sekali sambil memandangi wajahnya, Ani sunggguh cantik dalam hatiku. aku percaya jika wanita paling cantik saat bangun tidur. kami makin panas, vagina Ani makin basah dan berkedut. kulanjutkan permainan mulutku ditoketnya. kulumat nipplesnya dan ku sedot-sedot toketnya. Ani mendesah dan meracau keenakan. &#8220;Don&#8230;kocok penismu&#8230;say&#8221; pintanya keenakan. perlahan-lahan kusodok vaginanya dengan penisku, terdengar suara becek yang terkesan erotis bagiku. aku paling suka mengocokkan penisku perlahan, sebab gesekan antara dinding vagina dan penis lebih dapat dirasakan, dan tidak menyakiti vagina.</p>
<p>peluh mulai keluar dari pori-pori kulit kami, bau alami kami mulai keluar membuat suasana makin erotis bagiku. Ani tampaknya mulai menggerakkan pantatnya maju-mundur membalas gerakan penisku yang juga demikian, tampaknya Ani sungguh menikmatinya, langsung kubalik posisi kami. kini Ani diatasku. kedua tangan Ani bertumpu didadaku, dan payudaranya kuremas-remas perlahan-lahan dan kupelintir-pelintir puntingnya. Ani memejamkan mata, dan pantatnya maju-mundur mengocok penisku. suara becek makin kencang, dan penisku makin becek pula. vagina Ani berkedut kencang, dia memelukku dan berbisik &#8220;aku da sampe&#8221;. Ani sudah orgasme lagi, sedang aku belum. &#8220;giliranku ya&#8230;&#8221; balasku. kugendong dia menuju kursi. Ani masih memelukku dan langsung kukocok vaginanya kembali, Ani menciumi bibirku. lima menit kemudian aku keluarkan spermaku divaginanya, nikmat sekali sarapan pagi ini. kami berpelukan untuk mengambil nafas sebentar. &#8220;Ani, sungguh kamu ngga menyesal malam ini?&#8221; tanyaku penuh keraguan. &#8220;Tidak&#8221; jawabnya sambil menciumi bibirku.</p>
<p>tak henti-hentinya aku smooch Ani. akhirnya penisku di cabut dari vaginanya, tampak sperma dan cairan vagina Ani bercampur, sesaat setelah ku cabut, campuran cairan itu keluar dari mulut vagina Ani yang dihiasi jembut yang nggak terlalu lebat. Ani menggandengku ke kamar mandi. &#8220;Mandi bareng yuk&#8221; pintanya. kamar mandinya memiliki shower dan bath tub. &#8220;Ani, kucukurin pubic hair-mu (jembut) ya&#8230;&#8221; pintaku, &#8220;kita mandi dulu sayang&#8221; jawabnya. kami berdua masuk ke shower, tiba2 Ani jongkok di hadapanku dan kencing, ku lihat dia&#8230;sexy sekali batinku. &#8220;Say,&#8230;agak perih ni vaginaku&#8221; katanya, &#8220;mungkin karena pertama kali ml, say&#8221; jawabku. Ani mengangguk tanda setuju. &#8220;walau sakit tapi enakkan&#8221; kataku sambil memeluknya dan meremas dadanya. kami mandi bersama dan saling membersihkan tubuh kita, tak henti-hentinya pula kucumbu Ani. saat berbilas, sambil diguyur shower, kupeluk tubuhnya serta kugesek klitorisnya perlahan. Ani menikmatinya dan perlahan mendesah keenakan, Ani berpegangan di leherku bersandar di dadaku. cairan hangat vaginanya bercampur dengan air shower yang agak dingin, dan tangan ku yang lain meremas-remas dadanya perlahan. perlahan ku masukkan jari tengahku dan klitorisnya kukerjai dengan ibu jariku. mulai kukocok memeknya dengan jariku perlahan. tubuh Ani mengejang keenakan, pahanya menjepit tanganku, puntingnya mengeras kembali. terus kukocok vaginanya perlahan lalu ku masukkan jari manisku, membantu jari tengah mengocok. diding vagina Ani mulai berkedut kecang, kocokkan makin perlahan dan mantap klitorisnya tak ketinggalan oleh ibu jariku. desahan makin kencang terdengar disaingi suara shower &#8220;ah&#8230;uh&#8230;m&#8230;m&#8230;m&#8230;&#8221; desahnya sambil bersandar didadaku penuh kenikmatan. tubuh Ani mengejang EE&#8221;kembali dan crot cairan vaginanya muncrat membasahi jemariku, Ani kemudian menciumi bibirku &#8220;enak say&#8230;&#8221; katanya. kami keluar dari shower, mengeringkan diri. &#8220;jadi ngga dicukur&#8221; tanyaku, &#8220;boleh&#8221; jawabnya sambil mencari pisau cukur. &#8220;ini cukurannya&#8221; katanya. kusuruh Ani duduk ditutup closet beralaskan handuk. &#8220;ku gundulin yaa&#8230;vagina kamu&#8221; kataku padanya sambil meratakan busa divaginanya &#8220;terserah kamu dech say&#8221; jawabnya. selangkanganya yang indah, perlahan kucukur jembutnya dan Ani memperhatikanku. dan selsesailah pekerjaanku, lalu ku bersihkan dengan tisu basah dan kukeringkan vaginanya. &#8220;gimana, suka ngga say&#8230;&#8221; tanya ku, &#8220;suka, kayak maasi anak-anak&#8230;&#8221; jawabnya sambil tersenyum. &#8220;nah&#8230;sekarang bonus dariku&#8221; kataku sambil menjilati bibir vaginanya dan klitorisnya. &#8220;Don&#8230;uh&#8230;m&#8230;m&#8230;m&#8230;&#8221; desahnya memelas keenakan. kutatap Ani, wajahnya memelas dan penuh rangsangan kenikmatan, puntingnya yang kecil kembali mengeras. Ani meremas-remas dadanya serta memencet-pencet nipples-nya sendiri. terus ku-oral vaginanya. aku menikmati vagina Ani, terutama cairan vagiannya aku ketagihan. memeknya yang kedutan kurasakan dilidahku, Ani menjepit kepalaku lalu menuntun tanganku untuk mengerjai dadanya. kuremas-remas perlahan dadanya sambil menyedot-sedot klitorisnya perlahan, tangan Ani menjambak rambutku dan menekannya ke vaginanya. Ani semakin keras meracau dan mendesah &#8220;terus Don&#8230;terus&#8230;ah&#8230;ah&#8230;uh&#8230;uh&#8230;&#8221;</p>
<p>vagina Ani makin banjir, beberapa saat kemudian, kakinya menjepit kepalaku dan sekarang makin kuat lalu vaginya berkedut kencang. Ani orgasme lagi, tubuhnya mengejang bersamaan dengan itu. jepitan kakinya kemudian mengendur. cairan vaginanya cukup banyak, kubersihkan dengan menjilatinya sedang Ani keenakan dan mengelus-elus kepalaku. setelah cukup bersih ku berdiri, lalu Ani memjilati sisa cairannya dimulutku dan tanganku meremas-remas dadanya perlahan. &#8220;Don, aku suka oralmu&#8230;lidahmu itu lo&#8221; katanya menyanjungku. &#8220;trims ya say&#8221; sambil mengendongnya.</p>
<p>&#8220;sarapan yuk&#8221; ajak Ani sambil mengenakan lingerie putihnya, dia ga pake daleman, dan aku hanya pakai cdku aja. Ani mengandengku ke dapur. dapurnya bersih, bisa buat ml ni, batinku. &#8220;bikin sandwich aja yah&#8221; katanya. Ani segera menyiapkan lalu meraciknya. Ani hari itu bikin aku horny terus, melihatnya meracik makanan bikin aku ON. penisku ngaceng lagi. kudekati dia, ternyata ada timun yang dingin, keluar dari refrigetor, bisa dipakai nih pikirku. langsung kusingkap lingerie yang dipakai Ani, dan toketnya kuremas-remas dan memeknya ku kocok dengan tanganku perlahan lalu penisku kutempelkan dibelahan pantatnya. Ani sesaat berhenti meracik sandwich yang setengah jadi, dia menahan tubuhnya dengan kedua tangan ditepi meja dan membuka selangkangannya. memeknya basah lagi, kutanggalkan lingerienya, dia bugil. kuambil timun tadi, ga begitu besar sich dibandingin penisku, perlahan kumasukkan ke dalam memeknya lalu kukocok, perlahan lalu agak cepat. terdengar suara becek, dari vaginanya, Ani pun keenakan &#8220;oh&#8230;sh&#8230;sh&#8230;sh&#8230;&#8221; terdengar berkali-kali dari mulutnya &#8220;Don&#8230;timunnya dingin&#8230;dingin&#8230;enak&#8230;sh&#8230;sh&#8230;&#8221; terus Ani menahan kenikmatan ini, lalu &#8220;ah&#8230;Don&#8230;mo&#8230;keluar&#8230;nih&#8221; katanya sambil mendongakkan kepalanya, dan cairan vaginanya menetes keluar, beberapa tetesannya jatuh ke lantai, tangan dan timunnya basah. &#8220;Ani&#8230;timunnya dimasukin di sandwich yaa&#8230;&#8221; pintaku, &#8220;keduluan&#8230;de&#8221; jawabya dengan senyum. kubersihkan vaginanya dengan ku jilati. timunnya langsung dipotong-potong dan sandwichpun jadi.</p>
<p>&#8220;kamu dapet ide dari mana, say&#8221; tanya Ani sambil duduk dipangkuanku. &#8220;pas liat timunnya nganggur aja&#8221; jawabku sambil makan disuapi Ani, dan tanganku tak henti-hentinya meremas-remas dadanya. &#8220;suka ya sama toketku&#8221; melihat aksi ku &#8220;dari tadi malem ga berhenti, pegang, pas tidur juga dipegang.&#8221; kubalas dengan menyedot pentilnya kanan kiri. &#8220;aku minta dessert ya&#8221; katanya sambil membuka pintu refrigerator. diambilnya segelas kecil yoghurt, lantas Ani melucuti cd ku, dan penisku yang ngaceng terus hari itu dielus-elus Ani. lalu yoghurt itu di minumnya sedikit dan aku diciumnya, yoghurtnya dipindahkan ke dalam mulutku, sebagian lagi dituang dipenisku. dingin terasa dipenisku membuat agak mengendur. lanjutnya Ani jongkok di depanku dan mulai menjilati penisku, naik turun, jilatin kepalanya, batangnya dan zakarnya sambil tanganya mengelus-elus bolaku. aku mendesah keenakan dan sesekali memejamkan mataku. Ani perlahan-lahan mengemut penisku, sesekali dimasukkannyaselurih batang dalam mulutnya. &#8220;argh&#8230;&#8221; desahku kencang saat lidahnya memainkan kepala penisku yang besar sambil tanganku mengelus rambutnya yang hitam panjang. terdengar suara sepongan Ani dipenisku, spluk&#8230;spluk&#8230;spluk&#8230; penisku yang gundul dilibasnya, demikian pula kedua bolaku. sentuhan bibir, tangan dan lidahnya sungguh terasa di penisku yang gundul. &#8220;argh&#8230;&#8221; desahku sambil mendongakkan kepalaku dan menyodokkan penisku di dalam mulut Ani, saat lidahnya menggosok kepala penisku sambil dia menyedotnya. spluk&#8230;spluk&#8230;spluk terdengar kocokannya, Ani menikmatinya, seperti dapet mainan baru. kemudian &#8220;argh&#8230;&#8221; teriakku sambil menekan kepala Ani dipenisku penisku mengeluarkan sperma, lima kali berkedut. Ani mendesah &#8220;mmm&#8230;&#8221; getarannya terasa dipenisku lalu Ani menikmati vla yang keluar dari penisku itu. Ani menunjukkan pejuku yang ada dimulutnya, kemudian dia telan. &#8220;mmm&#8230;kaya putih telor&#8230;&#8221; katanya sambil menjilati penisku menikmati sisa pejuku, dan aku mengelus-elus kepalanya. lalu penisku mengeras kembali merasakan rangsangan lidah Ani dipenisku.</p>
<p>&#8220;lho&#8230;bangun lagi&#8230;&#8221; Ani keheranan. Ani berdiri lalu menuntun tanganku mengelus memeknya yang gundul diklitorisnya sambil berkata &#8220;mau masukin ke sini?&#8221; tanyannya. kujawab dengan menggerakkan jari tengahku di klitorisnya, Ani memejamkan mata dan kedua tangannya ditaruh dipundakku. aku berdiri dan menciumi bibirnya yang masih ada sisa pejuku, dan kumainkan lidah ku. lalu Ani kubaringkan ditengah meja makan, kami naik di atasnya. kubuka selangkangannya, Ani melihat pasrah, ku gesek klitorisnya dengan kepala penisku, Ani memejamkan mata dan mendesah &#8220;sh&#8230;sh&#8230;sh&#8230;&#8221;, dan perlahan kumasukkan ke dalam memeknya yang masih agak sempit berwarna merah segar slep&#8230; penisku disedot memeknya dan terdengar suara becek. kusodok memeknya perlahan lalu lebih cepat, suara becek divaginannya dan benturan biji pelerku terdengar bersamaan. Ani menggenggam tanganku yang menahan badanku sambil mendesah liar keenakan &#8220;sh&#8230;sh&#8230;ah&#8230;ah&#8230;ah&#8230;oh&#8230;yeh&#8230;&#8221; sesekali mendongakkan kepalanya saat penisku mentok di dalam memeknya, menyentuh mulut rahimnya &#8220;terus&#8230;lebih&#8230;cepat&#8230;&#8221; pintanya nggak sabar. sesaat kemudian, kuputar badannya Ai dengan penisku masih di dalam memeknya, kuajak dia doggy. langsung kukocok memeknya, sambil tanganku meremas-remas toketnya yang udah mengeras pentilnya. &#8220;ergh&#8230;argh&#8230;&#8221; desah Ani agak berat &#8220;kocok&#8230;memekku&#8230;sampe&#8230;penis&#8230;kamu&#8230;patah&#8230; sh&#8230;sh&#8230;&#8221; sesekali kupukul pantatnya kir kanan, &#8220;argh&#8230;kamu..mulai&#8230;nakal..donnie&#8230;sh&#8230;sh. ..&#8221; Ani meracau. peluh mulai keluar dari pori-pori kulit kami, terus kusodokin memeknya dan sambil kujambak rambutnya. Ani makin liar mendesah &#8220;arg&#8230;ah&#8230;sh&#8230;&#8221; berkali-kali keluar dari mulutnya, dan dinding vaginanya terasa mulai menyedot penisku. kucabut penisku sebentar. &#8220;cepet masukin lagi&#8230;&#8221; pintanya penuh nafsu. aku turun dan duduk terbalik dikursi makan. Ani tahu aku mengajaknya dikursi, dia menghampiri dan perlahan memasukkan penisku dilubang senggamanya. Ani mulai bergerak naik turun, kursinya pun ikut bergerak dibandingkan meja. memek Ani makin banjir, suara becek makin terdengar, rambut Ani acak-acakan, akupun netek padanya dan kumengikuti irama goyangan pantatnya kugerakkan pantatku berlawanan, kusedot-sedot pentilnya sesekali kugigit kecil. jika kugigit pentilnya, Ani makin gila menggoyangkan pantatnya. peluh dan aroma tubuh kami bercampur dengan nafsu dan desahan makin membuat kami bersemangat. slep&#8230;bless&#8230;cplok&#8230;cplok&#8230;cplok irama persetubuhan kami sungguh indah hingga saya ketagihan.</p>
<p>&#8220;aduh say aku nggak tahan lagi ingin keluar&#8230;kamu hampir keluar blum say&#8230;aduh say&#8230;enak&#8230;yang cepat say&#8230;sh&#8230;ah&#8230;aduh sayang&#8230; terus&#8230;ah&#8230; enak say&#8230;, nikmat sekali&#8230;rasanya ingin keluar say, nikmatnya, terus&#8230; yang cepat&#8230;aduh saya nggak tahan ingin keluar&#8230;crett&#8230;cret&#8230;&#8221; kulihat Ani terkulai lemas dan memeknya kurasakan semakin licin, sehingga pahaku basah oleh cairan memeknya yang keluar sangat banyak. Sebenarnya aku juga sudah nggak tahan ingin keluar, apalagi mendengar desahan-desahan yang erotis pada saat Ani akan orgasme. &#8220;aduh, sayang, aku kalah lagi nih, udah mau orgasme!&#8221; cairan hangat terasa masih mengalir dari dalam vagina Ani. aku masih terus menggenjot memeknya. wajah Ani terlihat pucat karena sudah keseringan orgasme. melihat wajah cantik yang melemah itu, genjotanku dipercepat. &#8220;sayang, saya mau keluar nich&#8230;&#8221; &#8220;keluarkan di dalam aja sayang, kita keluarin bersamaan, Ani juga mo keluar lagi.&#8221; dan Akhirnya spermaku mendesir ke batang zakar dan aku mencapai orgasme yang diikuti pula dengan orgasme Ani. &#8220;ough&#8230; saya sampai nih&#8230;ah&#8230;.crot&#8230;crot&#8230;&#8221; air maniku keluar dengan derasnya ke dalam memek Ani, Ani pun menikmatinya. &#8220;akhirnya saya berhasil membuatmu mencapai puncak kenikmatan sayang,&#8221; kata Ani sambil memeluk dan menciumi bibirku. terasa nikmat, licin, geli bercampur jadi satu menjadi sensasi yang membuatku ketagihan. kami bertahan pada posisi itu sampai kami sama sama melepaskan air mani kami. Ani menyandar ditubuhku setelah itu. kami beristirahat sebentar mengumpulkan kembali tenaga kami. ternyata hari sudah mulai siang.</p>
<p>sore ini rencananya pembantunya kembali. siang itu kami berdua menghabiskan waktu untuk ngobrol dalam keadaan bugil, saling oral dan orgasme bersama dalam posisi 69. hari menjelang sore, kami berdua mandi bersama dan saling rangsang. setelah mengeringkan diri, Ani kugendong menuju tempat tidur dan kubaringkan. selanjutnya ku buka selangkangannya dan kumulai oral di vaginanya, Ani mengelinjang keenakan dan menekan kepalaku ke vaginanya. kujilati klitorisnya, kumainkan lidahku di sana bergerak melingkar-lingkar, naik-turun, dan sesekali kusedot lembut klitorisnya serta gigitan kecil yang membuatnya sesekali mendongakkan kepala dan badannya. vaginanya sudah mudah banjir, karena rangsangan lidahku memeknya sudah kebajiran dan bibir vaginanya kedutan. kutangkupkan mulutku menutupi vagianya, kusedot kuat-lemah bergantian sambil kujilatin klitorisnya dan kutusuk-tusuk lubang senggamanya, Ani makin keenakan. desahan-desahan lirih yang terdengar dari mulutnya tiba-tiba &#8220;argh&#8230;argh&#8230;&#8221; Ani orgasme, kontan tengannya menekan kepalaku dan kakinya menjepit kepalaku. kusedot kuat-kuat vaginanya. setelah selesai, Ani melepaskan jepitannya dan tangannya, terkulai lemas. kudekati dia, dan berbisik &#8220;aku masuk yang terakhir hari ini yaa&#8230;&#8221; dikupingnya sambil meremas-remas payudaranya. kemudian kujilati kupingnya, turun ke lehernya, bibirnya dengan tanganku memainkan toketnya kanan dan kiri, tak lupa puntingnya. Ani pasrah dengan kedua tangannya memelukku. lalu aku nenen, kuemut-sedot puntingnya, tanganku memegangi penisku agar siap menusuk memeknya. dan slep&#8230;perlahan penisku masuk ke vaginanya, Ani mendesah panjang &#8220;ah&#8230;&#8221; dengan tempo lambat ke cepat kukocok memeknya dengan penisku sambil nenen Ani. selain tangannya memelukku, kakinya menjepit pinggangku serta pantatnya bergerak berirama dengan pantatku. &#8220;uh&#8230;ah&#8230;ah&#8230;sh&#8230;sh&#8230;oh yeah&#8230;oh&#8230;harder&#8230;&#8221; desah Ani, dan ku kocok lebih keras memeknya dan suara becek makin terdengar seiring dengan suara benturan biji penisku &#8220;slep&#8230;slep&#8230;slep&#8230;cplok&#8230;cplok&#8230;cplok&#8230; &#8221; kami berdua mulai berkeringat. dinding vagina Ani terasa sangat lembut, berkedut dan menyedot batang penisku kuat. kami keenakan. &#8220;Don&#8230;mo&#8230;sampe&#8230;lagi&#8230;&#8221; desahnya di kupingku, &#8220;bareng&#8230;ya&#8230;hunny&#8221; jawabku. kocokan kuperdalam, dan beberapa menit kemudian Ani mengejang, didni vaginanya berkedut kuat, dan cairan vaginanya membanjiri penisku mulai dari topi bajanya. sesaat kemudian &#8220;argh&#8230;&#8221; aku orgasme juga&#8230;kupeluk erat Ani. kumemutar badanku sehingga Ani di atasku dan berbaring, penisku masin didalam vaginanya.</p>
<p>kami sangat menikmati hari itu, sorenya aku pulang setelah pembantunya kembali. setiap ada kesempatan kami ml, baik indoor atau outdoor. sejak itu kami selalu bersama seperti pengantin baru.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ratubokep.wordpress.com/323/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ratubokep.wordpress.com/323/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/323/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=323&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/28/ani-and-me/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seks dengan ABG Bule</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/26/seks-dengan-abg-bule/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/26/seks-dengan-abg-bule/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 19:11:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis berbuah Seks]]></category>
		<category><![CDATA[cerita bokep]]></category>
		<category><![CDATA[cerita dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Hentai]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Di Sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.wordpress.com/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[Jam sudah menunjukkan pukul 2.00 siang. Hari ini berlalu dengan sangat membosankan. Meeting tentang implementasi software masih saja berlangsung sedari pagi tadi. Si konsultan yang sok pinter itu masih melakukan presentasi tentang feature-feature softwarenya. Sudah penat pikiranku mendengarnya, sehingga kadang kala aku berpikir.. Kalau saja ini semua cuma film, aku tinggal menekan tombol &#8220;fast forward&#8221; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=325&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jam sudah menunjukkan pukul 2.00 siang. Hari ini berlalu dengan sangat membosankan. Meeting tentang implementasi software masih saja berlangsung sedari pagi tadi. Si konsultan yang sok pinter itu masih melakukan presentasi tentang feature-feature softwarenya. Sudah penat pikiranku mendengarnya, sehingga kadang kala aku berpikir.. Kalau saja ini semua cuma film, aku tinggal menekan tombol &#8220;fast forward&#8221; saja biar cepat selesai. Aku terpaksa ikut meeting ini karena semua board of management datang, termasuk the big boss.., my dad.<span id="more-325"></span></p>
<p>Begitu seriusnya meeting tersebut, hingga makan siangpun dilakukan di ruang meeting dengan membeli nasi kotak. Shit! Because having lunch is my favorite time in the office.. He.. He..</p>
<p>Jam 3.15 selesai jugalah segala macam cobaan ini. Aku bergegas kembali ke ruanganku bersama Lia, sekretarisku. Di lobby tampak resepsionis baru, Dian, tersenyum sambil menganggukkan kepala tanda hormat. Kubalas senyumnya sambil memperhatikan Noni yang duduk di sebelah Dian. Resepsionis yang satu lagi ini tampak jengah dan pura-pura tidak melihatku. Memang akhir-akhir ini dia tampak ketakutan bila bertemu, mungkin karena sering aku pakai dia untuk memuaskan nafsu birahiku.</p>
<p>Resepsionis baru Dian, adalah bekas pegawai salon langgananku. Aku rekrut dia karena memang kantorku butuh resepsionis cadangan kalau-kalau Noni tidak masuk. Tetapi alasan utama adalah karena bentuk fisik terutama buah dadanya yang amat mengusik nafsu kelelakianku.</p>
<p>Lia kembali ke mejanya, sedangkan aku masuk ke ruanganku. Sesampai di dalam, kuhempaskan tubuhku di kursi sambil menghela nafas panjang. Kubuka laptopku untuk browsing internet guna menghilangkan penat. Aku buka situs &#8220;barely legal teens&#8221; yang menampilkan ABG bule yang cantik-cantik. Melihat gambar-gambar itu, tiba-tiba aku teringat pengalamanku beberapa tahun yang lalu ketika aku masih kuliah di Amerika.</p>
<p>*****</p>
<p>Aku tinggal di sebuah apartemen di daerah Anaheim, California. Apartemenku ini terletak tak jauh dari Disneyland, sehingga banyak turis yang berkunjung ke daerah itu. Aku mengambil pasca sarjana di sebuah universitas yang tak jauh dari apartemenku. Singkat kata, lokasi apartemenku ini strategis sekali, kemana-mana dekat.</p>
<p>Kadang kala di akhir pekan, bila tidak ada acara lain, aku berkunjung ke rumah sepupuku di Long Beach. Sepupuku ini, Linda, berusia jauh lebih tua dariku, dan mempunyai anak laki-laki remaja. Namanya Franky, berumur 17 tahun, dan waktu itu duduk di bangku SMA/high school.</p>
<p>Pada suatu hari, aku mendapat undangan bbq dari Linda, sepupuku itu. Kukebut Honda Civic-ku menembus belantara highway menuju Long Beach. Tak lama, akupun sampai di rumahnya yang mempunyai pekarangan cukup luas.</p>
<p>&#8220;Hi.. Bert, ayo masuk&#8221; Linda menyapaku.<br />
&#8220;Sombong nih udah lama nggak ke sini&#8221;<br />
&#8220;Sedang sibuk nih, banyak tugas&#8221; alasanku.</p>
<p>Memang beberapa minggu ini aku menghabiskan akhir minggu bersama-sama dengan teman-temanku.</p>
<p>&#8220;Hi.. Oom Robert&#8221; Franky menyapaku.<br />
&#8220;Gimana notebook-nya sudah nggak pernah ngadat lagi khan?&#8221;<br />
&#8220;Nggak Frank.. Kamu memang jago&#8221; pujiku.</p>
<p>Franky ini memang terkenal pintar, dan hobby komputer. Notebook-ku yang rusak bisa dia perbaiki, sedangkan saat aku bawa ke toko tempat aku membeli, aku disarankan untuk membeli yang baru saja. Wajahnya pun ganteng, hanya saja dia agak sedikit feminin. Berkacamata, selalu berpakaian rapi, dengan rambut kelimis disisir ke samping, membuatnya tampak smart, santun, dan.. Anak Mami.</p>
<p>&#8220;Ini Oom, kenalin my special friend&#8221; katanya.</p>
<p>Agak kaget juga aku melihat gadis ABG yang muncul dari dalam. Dia gadis bule seusia Franky, dengan tubuh yang tinggi semampai dan rambut pirang sebahu.</p>
<p>&#8220;Hi.. I am Kirsten&#8221; katanya menyapaku.<br />
&#8220;Hello.. I am Robert. Nice to meet you&#8221; kataku sambil menatap matanya yang berwarna biru.<br />
&#8220;Hebat juga kamu Frank&#8221; kataku menggoda. Diapun tertawa senang.</p>
<p>Kami pun lalu ke halaman belakang, dimana bbq diadakan. Beberapa tamu telah datang. Freddy, suami Linda tampak sedang mempersiapkan peralatannya. Akupun kemudian berbincang basa-basi dengannya.</p>
<p>Sepanjang acara, kadang aku lirik Kirsten, ABG bule itu. T-shirt warna hijau ketatnya memperlihatkan tonjolan buah dadanya yang terbungkus BH. Karena ukuran buah dadanya yang besar, saat dia berjalan, buah dadanya itupun bergoyang-goyang menggemaskan. Ditambah dengan celana pendek jeans yang memperlihatkan pahanya yang mulus menambah indahnya pemandangan saat itu. Celana jeans yang pendek itu kadang memperlihatkan sebagian bongkahan pantatnya. Memang saat itu sedang musim panas, sehingga mungkin wajar saja berpakaian minim seperti itu.</p>
<p>&#8220;Bert, kita mau minta tolong nih. Aku dan Freddy mau ke pesta penikahan temanku di New York. Tolong ya kamu jagain rumah sama si Franky. Tolong awasin dia supaya nggak macem-macem&#8221; Linda meminta bantuanku ketika kami telah menyantap makan malam kami.<br />
&#8220;Yach OK deh.. Asal ada oleh-olehnya saja&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Beres deh..&#8221; sahut Linda sambil tertawa.<br />
&#8220;Memang perlu juga nih pergantian suasana untuk beberapa hari&#8221;, pikirku.</p>
<p>*****</p>
<p>&#8220;Frank.. Oom pergi dulu ke kampus. Ada tugas kelompok nih. Pulangnya agak malam, OK. Take care, and behave&#8221;<br />
&#8220;Iya Oom.. Jangan kuatir.&#8221; jawabnya sambil memakan cerealnya.</p>
<p>Sesampai di kampus, aku pun mulai menyelesaikan tugas bersama kelompokku. Ternyata cepat selesai juga tugas tersebut. Setelah makan siang di cafetaria, akupun kembali ke rumah sepupuku.</p>
<p>Tiba di depan rumah sepupuku itu, tampak sebuah mobil lain sedang parkir di halaman rumah. Akupun tak ambil pusing dan masuk ke ruang tamu lewat pintu belakang. Saat duduk si sofa, tiba-tiba kudengar suara-suara mencurigakan dari dalam kamar Franky. Akupun mengendap-endap menuju jendela kamarnya yang terkuak sedikit. Di dalam kulihat Kirsten sedang menciumi Franky dengan bernafsu.</p>
<p>&#8220;Come on open your mouth a little bit&#8221; katanya sambil kemudian terus menciumi Franky yang tampak kewalahan.<br />
&#8220;Here touch my breasts&#8221; Kirsten menarik tangan Franky untuk kemudian diletakkannya di dadanya yang terbungkus tank top warna pink.</p>
<p>Aku terbeliak melihat pemandangan ini, dan tiba-tiba saja akalku berjalan. Aku bergegas ke ruanganku untuk mengambil videocam yang kugunakan kemarin untuk merekam pesta bbq. Saat aku kembali mengintip ke kamar Franky, tampak Kirsten mengangkat tank topnya sehingga menampakkan buah dadanya yang mulus dan ranum di depan wajah Franky.</p>
<p>&#8220;You may kiss them.. Come on.. Suck my breasts&#8221; katanya. Franky masih tampak terdiam bengong sehingga Kirstenpun tampak tak sabar dan menarik kepalanya menuju buah dadanya.<br />
&#8220;Ahh.. Shit.. Yeah.. Suck it.. That&#8217;s right.. Ahh&#8221; erangnya ketika Franky mulai menghisapi buah dadanya yang putih mulus berputing merah muda itu.</p>
<p>Kemaluanku memberontak di dalam celanaku, tapi tetap aku berkonsentrasi merekam semua adegan ini.</p>
<p>&#8220;Now it&#8217;s my turn. I want to suck your cock. I want to taste Indonesian cock&#8221; Kirsten berkata seperti itu sambil berlutut di depan Franky. Dibukanya celana Franky sehingga tinggal celana dalamnya saja yang masih tertinggal.</p>
<p>Kirsten mulai menjilati kemaluan Franky dari luar celana dalamnya, sambil matanya menatap menggoda ke arah Franky.</p>
<p>&#8220;You like that? Hmm.. You like that? &#8221; erangnya menggoda.<br />
&#8220;Ohh..&#8221; tiba-tiba Franky mengejang dan tampak cairan ejakulasinya membasahi celana dalamnya.<br />
&#8220;Shit.. Franky.. You came already?&#8221; tampak Kirsten kecewa.<br />
&#8220;You&#8217;ve never done this before huh?&#8221;</p>
<p>Frankypun tertunduk lesu, sementara Kirsten dengan sedikit kesal membenahi pakaiannya dan kembali bangkit berdiri. Saat itu aku mengambil keputusan untuk menerjang masuk ke dalam. Pintu ternyata tidak terkunci, dan mereka tampak kaget melihat aku masuk membawa video camera.</p>
<p>&#8220;What the hell are you doing?!!&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Oh anu Oom.. Nggak kok.. Anu..&#8221; Franky tampak terbata-bata tidak bisa menjawab.<br />
&#8220;It is not what it looks like. Nothing happened, sir..&#8221; Kirstenpun tampak agak sedikit ketakutan.<br />
&#8220;Hey.. I got all the proof here&#8221; sahutku.<br />
&#8220;I am going to tell your Mom and your parents too, Kirsten&#8221;<br />
&#8220;Please don&#8217;t.. Sir&#8221; tampak Kirsten mulai panik dan mencoba merayuku agar menyimpan rahasia ini. Sementara Franky tampak pucat pasi sambil mengenakan kembali pakaiannya.<br />
&#8220;Stay here.. I want to talk with both of you&#8221; kataku sambil keluar membawa videocam meninggalkan mereka berdua. Kusimpan baik-baik barang bukti ini.</p>
<p>Sekembalinya ke ruangan itu, Franky dan Kirsten tampak gelisah duduk di tepi ranjang. Persis seperti maling yang tertangkap di tayangan Buser SCTV He. He..</p>
<p>&#8220;You won&#8217;t tell anybody, will you sir? &#8221; tanya Kirsten berharap.<br />
&#8220;Well.. It depends. If you let me fuck you.. I won&#8217;t&#8221; jawabku.</p>
<p>Aku memang horny sekali melihat Kirsten saat itu. Dengan rok mini dan tank top-nya, tampak kesegaran tubuh ranum ABG bule ini.</p>
<p>&#8220;Lho kok..&#8221; tanya Franky kaget.<br />
&#8220;Iya Frank. Oom pengen ngerasain pacarmu ini. Ngerti!! Sekalian kamu bisa belajar gimana lelaki sejati make love. Biar nggak malu-maluin&#8221; jawabku.<br />
&#8220;You want to taste real indonesian cock, don&#8217;t you? You little slut&#8221; kataku sambil meremas-remas rambut pirang Kirsten.</p>
<p>Akupun lalu duduk di samping gadis remaja bule ini di ranjang. Kuremas-remas pundaknya yang mulus.</p>
<p>&#8220;Pindah sana.. Duduk di kursi!!&#8221; perintahku pada Franky.</p>
<p>Kutarik wajah cantik Kirsten, dan kukulum bibirnya. Sementara tanganku meremas-remas buah dadanya dari balik tank topnya. Pertama kali dia tak memberikan reaksi, akan tetapi setelah beberapa lama, dia mulai mengerang nikmat.</p>
<p>&#8220;Hmm.. Hmm&#8221; erangnya ketika tanganku merogoh ke balik tanktopnya dan memilin puting buah dadanya yang telah mengeras.</p>
<p>Kuangkat ke atas tank topnya sehingga buah dadanya yang tak tertutup BH mencuat menantang di depan wajahku.</p>
<p>&#8220;You want me to suck your breast?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Hmm.. Yeah.. Please sir..&#8221; jawabnya mendesah.<br />
&#8220;Ahh.. Sstt.. Oh yeah..&#8221; erangnya lagi ketika buah dadanya aku hisap sambil tanganku memainkan puting buah dadanya yang lain.<br />
&#8220;Ini namanya nipple, Frank. Cewek biasanya suka kalau bagian ini dijilat dan dihisap. Ngerti?&#8221; kataku sambil menunjukkan cara menjilat dan menghisap puting buah dada kekasih cantiknya ini. Sementara Kirsten makin mengerang tak karuan menerima kenikmatan yang diberikan mulutku di dadanya.<br />
&#8220;Ok now it is your turn to suck my cock. You want it, right?&#8221; tanyaku sambil berdiri menghadapnya yang duduk di atas ranjang.<br />
&#8220;Come on open your present, you naughty girl!!&#8221; perintahku lebih lanjut.</p>
<p>Tangan halus Kirstenpun mulai membuka retsleting celanaku. Karena tak sabar, akupun membantunya membuka celana itu berikut celana dalamnya. Tampak kemaluanku sudah berdiri tegak dengan gagahnya di depan wajah cantik Kirsten.</p>
<p>&#8220;Is it big enough for you, Kirsten?&#8221; tanyaku sambil meremas-remas rambut pirangnya.<br />
&#8220;Yes, sir.. Very big..&#8221; jawabnya sambil tangannya mengelus-elus kemaluanku. Matanya yang biru indah tampak sedang mengagumi kemaluanku yang besar.<br />
&#8220;What are you waiting for? Come on suck my big Indonesian cock. Let your boyfriend watch!!&#8221; perintahku sambil sedikit mendorong kepalanya ke arah kemaluanku.</p>
<p>Kirstenpun mulai mengulum kemaluanku. Sesekali dijilatinya batang kemaluanku sambil matanya menatapku menggoda.</p>
<p>&#8220;You like it, huh?&#8221; tanyaku sambil meremas remas rambutnya gemas.<br />
&#8220;Yes.. Very much, sir&#8221; katanya sambil tersenyum manis.</p>
<p>Tangannya yang halus mengocok-ngocok kemaluanku. Dijilatinya kepala kemaluanku, dan kemudian dikulumnya lagi senjata pamungkasku. Mulutnya yang berbibir tipis khas orang bule tampak penuh disesaki kemaluanku. Kusibakkan rambutnya yang jatuh menutupi, sehingga pipinya yang menonjol menghisapi kemaluanku tampak jelas tertampang di hadapan Franky.</p>
<p>&#8220;Lihat Frank.. Cewekmu suka banget kontol Oom. Makanya kalau punya kontol yang besar..&#8221; kataku menggoda Franky.</p>
<p>Di atas kursi, Franky terdiam bengong melihat pacar bulenya yang cantik sedang dengan lahap menghisapi kemaluanku. Tampak Franky mulai terangsang karena dia mulai memegang-megang kemaluannya sendiri.</p>
<p>&#8220;OK.. It&#8217;s time to fuck you&#8221; kataku sambil melepas baju yang kukenakan sehingga aku sekarang sudah telanjang bulat.</p>
<p>Aku duduk di kursi di hadapan Franky dan kuminta Kirsten untuk menghampiriku. Kusuruh dia duduk dipangkuan membelakangiku. Kuciumi pundak Kirsten yang masih mengenakan tank topnya, dan kuraba pahanya yang putih menggairahkan itu. Sesampai di celana dalamnya, kusibakkan celana itu ke samping sehingga tampak vaginanya yang bersih tak berbulu, merekah mengundang. Kupermainkan jariku di vaginanya, dan kuusap-usap klitorisnya. Tubuh Kirsten agak sedikit melonjak sambil dia mengerang-erang kenikmatan.</p>
<p>&#8220;Yeaah.. That&#8217;s it.. That&#8217;s it&#8221; desahnya sambil menggelinjang.<br />
&#8220;Ini namanya klitoris, Frank. Ini daerah paling sensitif. Catat itu!&#8221; kataku. Franky tampak masih mengusap-usap kemaluannya sendiri melihat kekasih bulenya kukerjai.<br />
&#8220;You want me to fuck you now?&#8221; tanyaku pada Kirsten yang terus menerus mengerang dan mendesah.<br />
&#8220;Please.. Please..&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;But your boyfriend is looking&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;I don&#8217;t care. Please fuck me, sir..&#8221; Kirsten menjawab sambil meraba-raba buah dadanya sendiri. Tanganku masih mengusap-usap kemaluan gadis remaja cantik ini sementara mulutku menciumi pundaknya yang bersih mulus.</p>
<p>Franky tiba-tiba berdiri dari kursi dan menuju Kirsten. Tangannya mengusapi rambut Kirsten sementara tangannya yang lain mulai membuka retsleting celana yang dikenakannya.</p>
<p>&#8220;Hey!! Mau ngapain kamu? Nggak usah ikut-ikut. Balik duduk sana. Kamu lihat saja dulu!!&#8221; perintahku. Dengan menurut Frankypun kembali duduk menatap pacarnya yang sedang akan disetubuhi Oomnya.</p>
<p>Kirsten mengarahkan kemaluanku ke vaginanya. Ketika dia merendahkan tubuhnya, sedikit demi sedikit kemaluanku pun memasuki tubuhnya.</p>
<p>&#8220;Hmm.. Oh my god.. Ohh..&#8221; erangnya ketika vaginanya disesaki kemaluanku.<br />
&#8220;You like that?&#8221; tanyaku.</p>
<p>Kirsten tak menjawab, akan tetapi dia mulai menaik turunkan tubuhnya di atas pangkuanku. Badannya agak aku condongkan ke belakang hingga aku dapat menciumi bibirnya, tatkala kemaluanku memompa vagina ABG bule cantik ini. Tanganku menarik tanktopnya ke atas sehingga buah dadanya yang berayun-ayun menggemaskan dapat aku remas sepuas hati.</p>
<p>&#8220;Perhatikan baik-baik Franky. Begini caranya memuaskan pacarmu!!&#8221; kataku di sela-sela erangan Kirsten.</p>
<p>Setelah beberapa lama, aku turunkan tubuh Kirsten dari pangkuanku, dan kutarik dia menuju ranjang. Kurebahkan tubuhku di ranjang dan Kirsten kemudian menaiki tubuhku.</p>
<p>&#8220;I want to ride your big dick. Is it Ok, sir?&#8221; tanyanya.<br />
&#8220;Yes.. Do it. Let your boyfriend watch and learn!&#8221; kataku.</p>
<p>Kembali vagina sempit Kirsten menjepit nikmat kemaluanku. Tubuh padatnya tampak naik turun menikmati kelelakianku, terkadang digesek-gesekkannya pantatnya maju mundur menambah sensasi nikmat yang aku rasakan.</p>
<p>&#8220;Oh my god.. So big.. Yes.. Yess.. Oh yess..&#8221; erang Kirsten sambil terus memompa kemaluanku.</p>
<p>Kulihat Franky sekarang sedang mengocok kemaluannya sendiri. Mungkin sudah tidak tahan dia melihat pacarnya aku setubuhi.</p>
<p>&#8220;Ohh.. I am cumming.. Yeahh..&#8221; jerit Kirsten sambil menjatuhkan tubuhnya dipelukanku.</p>
<p>Tampak butiran keringat membasahi keningnya. Kuusap rambutnya dan kuciumi wajahnya yang cantik itu.</p>
<p>&#8220;OK I want to cum in your pretty face. Suck it again&#8221; perintahku.</p>
<p>Kirstenpun kemudian menciumi wajahku, leherku kemudian menghisap puting dadaku. Kemudian dengan gaya menggoda, dia menjilati perutku dan terus menuju ke bawah. Tak lama kembali mulutnya menghisapi kemaluanku dengan bernafsu.</p>
<p>&#8220;Look at your boyfriend while you are sucking my cock!!&#8221; perintahku.</p>
<p>Kirsten pun menoleh ke kiri ke arah Franky sementara kemaluanku masih menyesaki mulutnya. Tangannya menyibakkan rambutnya sendiri, sehingga pacarnya dapat melihatnya dengan jelas ketika dia mengulum kemaluanku.</p>
<p>&#8220;Ehmm.. Ehmm..&#8221; erangnya sambil tangannya mengocok bagian bawah batang kemaluanku yang tidak muat masuk ke dalam mulutnya.</p>
<p>Aku memandang Franky sambil mengelus-elus rambut pirang pacarnya yang cantik ini. Tampak makin cepat Franky mengocok kemaluannya sendiri sambil menatap Kirsten yang sedang menghisapi kemaluanku.</p>
<p>&#8220;Ahh&#8221; Tak lama Frankypun menjerit ketika dia mengalami orgasme. Sementara Kirsten, pacarnya, masih menikmati kemaluanku dengan lahap.<br />
&#8220;Oh shit.. I am cumming..&#8221; jeritku.</p>
<p>Kirsten membuka mulutnya ketika cairan ejakulasiku tersembur keluar mengenai wajah dan mulutnya.</p>
<p>*****</p>
<p>Mengenang kejadian itu, terasa nafsu birahiku timbul. Terlebih setelah melihat gambar di notebookku dimana seorang laki-laki sedang dihisap kemaluannya oleh seorang wanita, sementara dia melahap buah dada wanita yang lain dengan rakusnya.</p>
<p>&#8220;Masih ada waktu untuk melakukan seperti itu&#8221;, pikirku setelah melihat jam tanganku. Memang sore itu aku ada janji untuk latihan driving dengan seorang teman.<br />
&#8220;Lia.. Tadi bapak sudah pulang belum?&#8221; tanyaku lewat telepon pada sekretarisku.<br />
&#8220;Sudah Pak.. Sehabis meeting tadi langsung pulang&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Kalau gitu kamu kemari sebentar. Ajak Dian juga&#8221;, perintahku lebih lanjut. Memang enak punya karyawati cantik. </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ratubokep.wordpress.com/325/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ratubokep.wordpress.com/325/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/325/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=325&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/26/seks-dengan-abg-bule/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sex After Chatting</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/24/sex-after-chatting/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/24/sex-after-chatting/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 19:06:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bokep]]></category>
		<category><![CDATA[cerita dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.wordpress.com/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[Setelah aku posting beberapa pengalaman sex ku disatu situs sex, banyak lelaki yang kontal alamat imelku, aku bales saja satu persatu untuk membina kontak dengan mereka walaupun hampir semuanya ngajakin aku ngentot, minta fotoku lagi telanjang lah, lagi dientotlah. Dari semua yang kontak aku ada satu yang menarik perhatianku, namanya Adi dari Denpasar. Imelku dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=319&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah aku posting beberapa pengalaman sex ku disatu situs sex, banyak lelaki yang kontal alamat imelku, aku bales saja satu persatu untuk membina kontak dengan mereka walaupun hampir semuanya ngajakin aku ngentot, minta fotoku lagi telanjang lah, lagi dientotlah. Dari semua yang kontak aku ada satu yang menarik perhatianku, namanya Adi dari Denpasar. Imelku dengan Adi selalu blak2an sehingga aku juga nulis apa adanya. Adi malah ngirimi aku foto abg yang pernah dientotnya, namanya Susan. ceweknya cantil, toketnya besar dan jembutnya lebat. Yang menarik buat aku umurnya baru 17tahun, tapi kata Adi binalnya luar biasa kalo lagi dientot. Fotonya telanjang bulat dalam posisi telentang dan ngangkang sehingga semua ‘modalnya’ terpampang dengan jelas. Tanpa sengaja, foto Susan terlihat oleh mas Handi ketika aku diskusi dengan dia di kantorku. Mas Handi, customer yang akhir2 ini sering ngentotin aku, iseng buka2 komputerku, dan terlihat lah foto Susan yang sangat menantang itu. <span id="more-319"></span>Dia nanya kepadaku, ini foto siapa. Aku jawab itu foto cewek abgnya chattinganku di Denpasar. Dia dengan sangat bernapsu nyuruh aku kontak ke Adi apakah Susan bisa dia book, kalo bisa dia mau ke Denpasar sambil melihat peluar bisnis yang ada disana. Aku bilang ke dia, aku ikutan ya. Mas Handi gak keberatan kalo akupun ikut dengan dia, cuma dia mengatakan kalo Susan mau dientotnya, dia sebenarnya gak perlu aku, jadi aku harus cari kesibukan sendiri. Gak masalah buat aku kalo demikian, kan ada Adi yang bisa aku kontak, rasanya dia gak akan keberatan menemani aku selama ada di Denpasar. Ternyata jawaban Adi positif, Susan bersedia menemani mas Handi selama berasa di Denpasar. Mas Handi sangat bersemangat mengurus kepergian ke Denpasar. Akupun kontak Adi mengenai hal ini.</p>
<p>Sampailah aku di Denpasar, sudah senja. Adi dan Susan menjemput kami di airport. Susan sangat menarik, dia make kemben dan celana jin yang ketat sehingga toketnya yang montok menyembul dengan jelas, demikian pula pantatnya yang membulat sangat memancing gairah mas Handi untuk segera mengentotinya. Dengan taksi, mas Handi segera memboyong Susan ke hotel yang sudah di booknya. Aku ditinggalkannya dengan Adi. Adi orangnya cukup ganteng, tinggi besar dengan badan atletis. Adi mengajak aku dengan mobilnya untuk mencari makan malam. Sambil makan malam, Adi menceritakan siapa dirinya. Dia duren &#8211; duda keren tanpa anak &#8211; wiraswasta di Bali, seumur dengan mas Handilah. Aku bilang apakah aku haru manggil dia mas, jawabnya gak udahlah. Panggil Adi sudah cukup, gak usah formal. Habis makan dia nanya aku mau kemana lagi, jawabku aku ikut kemana dia membawaku. Malah kutambahi, Ines milik kamu selama di denpasar. Dia tersenyum mendengarnya. “Kalo begitu, kita ke villa aja ya”, katanya. “Vila? Diluar kota?” tanyaku. “Enggak kok, masih di dalem kota. Vila itu gak besar tapi punya private pool sendiri. Kamu bawa bikini gak”, jawabnya. “Bawa Di, daleman Ines juga model bikini semua, minim dan tipis sekali”, jawabku. Aku sudah tau kemana arah perkataannya. Dia cuma tersenyum saja dan mengarahkan mobilnya ke vila itu. Mobilnya langsung masuk ke garasi vila, rolling door garasi pun ditutup oleh petugas vila. Adi mengajakku turun dari mobil, aku membawa tasku dan Adi membawa tas yang berisi makanan dan minuman, mungkin juga pakaiannya. Vila itu cuma satu ruang, seperti kamar hotel, isinya ranjang besar, lemari pakaian, meja makan dari kayu dan lemari es kecil, di ruangan lain ada pantri kecil dan kamar mandi. Adi meletakkan makanan dan minuman yang dibawanya di meja pantri. Tersedia kompor gas dan peralatan masak sederhana di pantri itu. Yang menarik, keluar dari ruang vila ada tempat terbuka yang terlindung oleh tembok yang tinggi dan pepohonan yang sangat rindang, sehingga privacy sangat terjamin. Ada pool kecil, semacam whirlpool untuk berendam, dan ada gazebo yang berisi sipan tanpa matras. Disamping dipan ada meja kecil untuk meletakkan makanan, minuman dan peralatan kecil lainnya. “Tempatnya nyaman ya Di”, kataku. Adi hanya tersenyum, kemudian dia masuk ke kamar mandi. Keluar dari kamar mandi dia hanya mengenakan celana pendek yang gombrong, dia menuju ke gazebo sambil membawa matrasnya. Matras diletakkan di dipan dan dia berbaring sambil membuka coca cola kaleng dan meminumnya. “Ayo Nes, pake dong bikininya, mau pake daleman bikini kamu juga gak apa”, ajaknya. Aku segera melepaskan pakaian luarku, tinggallah aku berbalut bra tipis model ikatan dan g string yang juga tipis. Aku keluar ruang menuju gazebo.<br />
Adi membelalak melihat pemandangan indah yang sedang mendekatinya. “Nes kamu napsuin banget”, katanya. Aku duduk disebelahnya, segera aku ditariknya hingga terbaring disebelahnya. Dan yang kurasakan berikutnya adalah bibirnya yang langsung mencium bibirku dan melumat. Aku tergagap sesaat sebelum aku membalas lumatannya. Aku merasakan lidahnya menyusup ke dalam mulutku. Dan reflekku adalah mengisapnya. Lidahnya menari-nari di mulutku. Napsuku naik. Sambil melumat, tangannya juga merambah tubuhku. Kemudian kurasakan remasan jari kasar pada toketku yang masih terbungkus bra tipis. Aku menggelinjang. Menggeliat-geliat hingga pantatku terangkat naik dari matras karena rasa nikmat yang luar biasa. Bibirnya melumatku, dan aku menyambutnya dengan penuh napsu. Dirangkulnya tubuhku, bibirnya lebih menekan lagi. Disedotnya lidahku, sekaligus juga ludahku. Kemudian tangannya kembali meremasi kedua toketku, dan dilepaskannya ikatan braku. Ganti bibirnyalah yang menjilati dan mengemut toket dan pentilku. Aku nggak mampu menahan gelinjang ini, rintihan keluar dari mulutku. Tangannya turun untuk meraih g stringku. Aku makin tak mampu menahan napsu saat jari-jari kasar itu merabai bibir memekku dari luar g string dan kemudian mengilik itilku ..aku langsung merasa melayang karena kenikmatan itu. Jarinya meraih memekku melalui samping g stringku. Aku rasakan ujung jari nya bermain di bibir memekku. Cairan memekku yang sudah mengalir sejak tadi menjadi pelumas untuk memudahkan masuknya jari-jarinya ke memekku. Dia terus menggumuli tubuhku dan merangsek ke ketiakku. Dia jilati dan sedoti ketiakku. Dia menikmati rintihan yang keluar dari bibirku. Dia nampaknya ingin memberikan sesuatu yang lain dari yang lain. Sementara jari-jarinya terus mengilik memekku. Dinding-dindingnya yang penuh saraf-saraf peka dia kutik-kutik, hingga aku serasa kelenger kenikmatan. Dan tak terbendung lagi, cairan memekku mengalir dengan derasnya. Yang semula satu jari, kini disusulkan lagi jari lainnya. Kenikmatan yang aku terimapun bertambah. Dia tahu persis titik-titik<br />
kelemahanku. Jari-jarinya mengarah pada G-spotku. Dan tak ayal lagi. Hanya dengan jilatan di ketiak dan kobokan jari-jari di memekku, dia berhasil membuatku nyampe. Kepalanya kuraih dan kuremasi rambutnya. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan kuhunjamkan kukuku ke punggungnya. Pahaku menjepit tangannya, sementara pantatku terangkat agar jarinya lebih melesek ke memekku. Aku berteriak histeris. Kakiku mengejang menahan kedutan memekku yang memuntahkan cairan bening. Keringatku yang mengucur deras mengalir ke mataku, ke pipiku, kebibirku. Kusibakkan rambutku untuk mengurangi gerahnya tubuhku.</p>
<p>Saat telah reda, kurasakan tangannya mengusap-usap rambutku yang basah sambil meniup-niup dengan penuh kasih sayang. Dia eluskan tangannya, dia sisir rambutku dengan jari-jarinya. Hawa dingin merasuki kepalaku. “Nes, kamu liar banget deh. Istirahat dulu yaa. Aku ambilkan minum dulu”, dia masuk kembali ke pantri untuk mengambilkan minuman. Aku dibawakan kaleng coca cola, dibukakan dan diberikannya kepadaku. Segera kuminum coca cola itu sampe habis. Sementara aku masih terlena di dipan dan menarik nafas panjang sesudah nyampe tadi, dia terus menciumi dan ngusel-uselkan hidungnya ke perutku. Bahkan lidah dan bibirnya menjilati dan menyedoti keringatku. Tangannya tak henti-hentinya merabai selangkanganku. Aku<br />
terdiam. Aku perlu mengembalikan staminaku. “Masih capek Nes”, bisiknya. “Nggak Di. Lagi narik napas saja. Tadi nikmat banget yaa padahal kamu belum apa-apa. Baru di utik-utik saja Ines sudah kelabakkan”, jawabku. Dengan jawabanku tadi dengan penuh semangat dia turun dari dipan. Dia lepasin sendiri celana pendeknya. aku sangat tergetar menyaksikan tubuhnya. Bahunya bidang. Lengannya kekar, dengan otot-otot yang kokoh. Perutnya nggak nampak membesar, rata dengan otot-otot perut yang kencang, seperti papan penggilasan. Bukit dadanya yang kokoh, dengan dua pentil besar kecoklatan, sangat menantang menunggu gigitan dan jilatan. Pandanganku terus meluncur ke bawah. Dan yang paling membuatku terpesona adalah kontolnya yang besar, panjang, keras hingga nampak kepalanya berkilatan sangat menantang. Dengan sobekan lubang kencing yang gede, kontol itu mengundang untuk diremes, dikocok dan diemut.Sesudah telanjang Dia menarik lepas g stringku sehingga sekarang kita berdua sudah bertelanjang bulat. “Nes, jembut kamu lebat banget, pantes kamu tadi jadi liar”, katanya sambil mengelus2 jembutku. “Bukannya liar Di, itu namanya menikmati”, jawabku. Aku mendorong tubuhnya hingga terbaring di matras. Kontolnya yang keras kugelitik dengan rambutku. Kemudian kepala kontolnya kubasahi dengan ludahku. Kuratakan ludah dengan jariku. Dia menggeliat kegelian. Dengan lembut kuusap seluruh permukaan kepala kontolnya yang besar, dia melenguh karena nikmatnya. Kugenggam pangkal kontolnya dan kepalanya yang basah mulai kujilati. Diujung kepalanya ada setitik cairan bening. Sambil menjilati cairan bening itu, kontolnya kukocok turun naik. Terasa agak asin. Dengan lidah kujilati kepala dan leher kontolnya, semua daerah sensitif kujelajahi dengan lidah. Akhirnya kepalanya kuemut dan kukeluar masukkan ke dalam mulutku. Perutnya kuelus2, dia meremas2 rambutku. Aku terus saja mengisap kontolnya. kontol yang Gede, panjang, kepalanya yang bulat berkilatan. kepalaku dielus-elusnya. Dan dia menyibakkan rambutku agar tidak menggangu keasyikanku. dengan penuh semangat aku terus mengulum kontolnya. “Nes, nikmat banget emutanmu”, erangnya. “Kamu pinter banget<br />
siihh”. aku terus memompa dengan lembut. Berkali2 aku mengeluarkan kepala itu dari mulutku.. Aku menjilati tepi-tepinya .. Pada pangkal kepala ada alur semacam cincin atau bingkai yang mengelilingi kepala itu. Dan sobekan lubang kencingnya kujilati habis-habisan. “Nes, nikmatnya aah”, kembali dia mengerang.Rupanya dia tak tahan dengan rangsanganku, aku ditariknya dari kontolnya, dibaringkannya dan kembali mulutnya mengarah ke memekku. Dengan lembut dia menjilati daerah sekeliling memekku, pahaku dikangkangkan supaya dia mudah mengakses memekku. “Di…”, ganti aku yang melenguh keenakan. Lidahnya makin liar menjelajahi memekku. Bibir memekku dikuakkan dengan jarinya dan kembali itilku yang menjadi sasaran lidahnya. Aku makin menggelinjang gak karuan. Napasku menjadi gak teratur, “Di .., Ines dientot dong”, erangku. Dari memekku kembali membanjir cairan bening. Dia menjilati cairan itu. Badannya kutarik, dia segera menempatkan kontol besarnya di bibir memekku. Pelan2 dimasukkannya sedikit demi sedikit, nikmat banget rasanya kemasukan kontol yang gede banget. Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk, mula2 pelan dan makin lama makin cepat sehingga dengan satu hentakan keras, kontolnya sudah ambles semuanya di memekku, “Aah, Di”, erangku lagi. Dia terus saja mengenjotkan kontolnya dengan keras dan cepat, sehingga akhirnya memekku makin berdenyut mencengkeram kontolnya dengan keras. “Di, terus yang cepat Di, Ines mau nyampe, aah”, erangku dengan liar. Dia terus saja mengenjotkan kontolnya sampe akhirnya, “Aah Di, Ines nyampe…”, kembali aku berteriak. Dia menghentikan enjotannya. Kembali aku dibelai2 dan bibirku diciumnya dengan mesra. “Di nikmat banget dientot ama kamu, baru sebentar dienjot, Ines dah nyampe,” kataku. Dia mencabut kontolnya dan minta aku nungging Segera ditancapkannya kembali kontolnya di memekku dari belakang. Pinggulku dipeganginya sambil mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat, rasanya kontol panjangnya masuk lebih dalam lagi ke memekku, nikmat banget rasanya. Dia rupanya ingin merasakan macem2 gaya ngentot, segera dia telentang dan minta aku yang diatas. Aku menancapkan kontolnya dimemekku dan kuturunkan tubuhku sehingga kontolnya kembali ambles di memekku. Aku emnggerakkan pinggulku turun naik dan juga dengan gerakan memutar. Dia meremas2 toketku dan memlintir pentilku. Aku membungkukkan badanku sehingga dia bisa mengemut pentilku, sesekali digigitnya pelan, aku menjerit2 karena nikmatnya. “Nes, aku dah mau ngecret, didalem boleh gak”, katanya sambil terus meremes toketku. “Ngecretin didalem aja Di, biar lebih nikmat”, jawabku sambil terus menaik turunkan pinggulku mengocok kontolnya yang ambles di memekku. Aku kembali membungkuk, kali ini bibirnya kucium dengan ganas. Dia memegangi pinggangku. Gerakan pinggulku makin cepat, aku juga merasa akan nyampe lagi. Memekku terasa berdenyut2, “dia aku mau nyampe juga, bareng ya Di”, kataku terengah. Terus kugerakan pinggulku naik turun dengan cepat sampe akhirnya pejunya muncrat menyembur2 didalam memekku. Bersamaan dengan ngecretnya dia, akupun nyampe kembali’ “Di, nikmatnya..”, erangku. Aku menelungkup lemas dibadannya, dia memelukku dan mengecup bibirku, sementara kontolnya masih nancap di memekku. “Di lemes banget, tapi nikmatnya luar biasa”, kataku. “ini baru ronde pertama lo Nes”, jawabnya. “Ines mau kok kamu entotin sampe pagi”, kataku. “Kita kedalem yuk”, katanya. Dia mendorongku bangun sehingga kontolnya tercabut dari memekku. Kita segera pindah kedalam.</p>
<p>Aku berbaring kelelahan diranjang. DIa berbaring disebelahku, kayaknya dia belum puas karena tangannya kembali meremas toketku. “Kamu seksi banget ya Nes, toket kamu besar dan kenceng. Jembut kamu lebat banget, aku suka ngentot ama yang jembutnya lebat. Mana memek kamu kenceng banget empotannya, aku mau ngerasain lagi ya Nes”, katanya dan dia kembali mencium bibirku. Dia bangun dan segera mengarah ke memekku, dia tau titik lemahku ada dimemekku. Lidahnya kembali menjilati memekku. Ujung lidahnya kembali menelusup masuk ke memekku. Rambutnya segera kuremas2 dan kutekankan kepalanya supaya lidahnya lebih masuk lagi ke memekku. Pantatku menggelinjang naik keatas. Dia terus saja menggarap memekku,<br />
pahaku dipeganginya erat2 sehingga aku sulit untuk bergerak2, aku hanya bisa mendesah2 kenikmatan. Rupanya desahanku merangsang napsunya sehingga segera dia melepaskan memekku dan menaiki tubuhku. “Di, kamu kuat banget sih. Baru aja ngecret udah pengen masuk lagi”, keluhku. Dia tidak menjawab.</p>
<p>Digenggamnya kontolnya, diarahkan ke memekku. Aku menggelinjang saat kepala tumpul yang bulat gede itu menyentuh dan langsung mendorong bibir memekku. Kepala kontolnya menguak gerbang memekku. Memekku langsung menyedotnya, agar seluruh batang kontol gede itu bisa dilahapnya. Uuhh .. aku merasakan nikmat desakan kontol yang hangat panas memasuki memekku.Sesak. Penuh. Tak ada ruang dan celah yang tersisa. Kontol panas itu terus mendesak masuk. Rahimku terasa disodok-sodoknya. Kontol itu akhirnya mentok di mulut rahimku. Kemudian dia mulai melakukan pemompaan. Ditariknya pelan kemudian didorongnya. Ditariknya pelan kembali dan kembali didorongnya. Begitu dia ulang-ulangi dengan frekuensi yang makin sering dan makin cepat. Dan aku mengimbangi secara reflek. Saat dia menarik kontolnya, pantatku juga menarik kecil sambil sedikit ngebor. Dan saat dia menusukkan kontolnya, pantatku cepat menjemputnya disertai goyangan igelnya. Demikian secara beruntun, semakin lama makin cepat.Toketku bergoncang-goncang, rambutku terburai, keringatku bercampur keringatnya mengalir dan berjatuhan di tubuh masing-masing, mataku dan matanya sama-sama melihat keatas dengan menyisakan sedikit putih matanya. Goncangan makin cepat itu juga membuat ranjang kokoh itu ikut berderak-derak. “Nes, nikmat banget deh memek kamu”, dia melenguh. “Iya Di, kontol kamu enak banget, Panjangg .. Uhh gede banget.” Posisi nikmat ini berlangsung bermenit-menit. Kulihat tubuh kekar nya tampak berkilatan karena keringatnya. keringatnya mengalir dari lehernya, terus ke dada bidangnya, dan akhirnya ke tonjolan otot di perutnya. Dengan gemas kumainkan pentilnya yang bekilatan itu. Kugigiti, kujilati, kuremas-remas. Tambah buas gerakannya. Sodokan kontolnya tambah kencang di memekku dan tangannya meremes2 toketku. Pada akhirnya, setelah sekian lama dia mengenjot memekku dan aku nyampe 2 kali secara berturut2, kontolnya terasa berdenyut keras dan kuat sekali.. Kemudian menyusul denyut-denyut berikutnya. Pada setiap denyutan aku rasakan memekku sepertinya disemprot air kawah yang panas. Pejunya kembali berkali-kali ngcret di dalam memekku. Uhh .. Aku jadi lemes banget. “Di, Ines lemes Di, tapi nikmat banget. Istirahat dulu ya Di”, kataku. Aku langsung terkapar di ranjang dan tak lama kemudian aku tertidur.</p>
<p>Pagi hari. Aku terbangun karena ada ciuman di bibirku. Diluar udah terang. Dia sedang mencium bibirku. Aku menyambut ciumannya, kayanya sarapan pagiku ya dientot lagi. wajah kami sama-sama maju saling berciuman dengan mesra dan hangat, saling menghisap bibir, lalu lama kelamaan, entah siapa yang memulai, aku dan dia saling menghisap lidah dan ciuman pun semakin bertambah panas dan bergairah. Ciuman dan hisapan berlanjut terus, sementara tangan nya mulai beralih dari betisku, merayap ke pahaku dan membelainya dengan lembut. Darahku semakin berdesir. Mataku terpejam. Kembali dia melepas bibirnya dari bibirku. satu tangannya masih terus membelai pahaku, akupun terbaring pasrah menikmati belaiannya, sementara ia sendiri membaringkan tubuhnya miring di sisiku. Dia mencium bibirku kembali, yang serta merta kubalas dengan hisapan pada lidahnya. Mungkin saat itu gairahku semakin menggelegak akibat tangannya yang mulai beralih dari pahaku ke selangkanganku, membelai memekku. “Mmhh.. Di” desahku disela2 ciuman panas kami. Dari mencium bibirku, lidahnya mulai berpindah ke telinga dan leherku, dan kembali lagi ke bibir dan lidahku.Permainannya yang lembut dan tak tergesa-gesa ini membuatku terpancing menjadi semakin bernapsu, sampai akhirnya ia mulai memainkan tangannya meraba2 toketku, pentilku yang saat itu sudah tegak mengacung digesek2nya. Diciuminya toketku, kemudian mulai menjilati pentilku. “Ooohh.. sshh.. aachh.. Di..” desahku langsung terlontar tak tertahankan begitu lidahnya yang basah dan kasar menggesek pentilku yang terasa sangat peka. Dia menjilati dan menghisap toket dan pentilku di sela-sela desah dan rintihku yang sangat menikmati gelombang rangsangannya. Dia melepas pentilku lalu bangkit berlutut mengangkangi betisku, dan mulai menciumi pahaku. Kembali bibirnya yang basah dan lidahnya yang kasar menghantarkan rangsangan hebat yang merebak ke seluruh tubuhku pada setiap sentuhannya di pahaku. Apalagi ketika lidahnya menggoda selangkanganku dengan jilatannya yang sesekali melibas bibir memekku. Yang bisa kulakukan hanya mendesah dan merintih pasrah melawan gejolak napsu. Dia mengalihkan jilatannya kejembutku yang telah begitu basah penuh lendir memekku. “Di .. ohh..” lenguhku. Lidahnya melalap vaginaku dari bawah sampai ke atas, menyentuh itilku. Dia menghentikan jilatannya dan berlutut di depanku. Memekku terasa panas, basah dan berdenyut-denyut melihat kontolnya yang tegang besar kekar berotot.</p>
<p>Dia membuka kakiku hingga mengangkang lebar lebar, lalu di turunkannya pantatnya dan menuntun kontolnya ke bibir memekku. Terasa sekali kepala kontolnya menembus memekku.”Hngk! Besaar..sekalii..Di,” erangku. Tanpa terburu-buru, dia kembali menjilati dan menghisap pentilku yang masih mengacung dengan lembut, kadang menggodaku dengan menggesekkan giginya pada pentilku, tak sampai menggigitnya, lalu kembali menjilati dan menghisap pentilku, nikmat banget rasanya, sementara setengah kontolnya bergerak perlahan dan lembut menembus memekku. Ia menggerak-gerakkan pantatnya maju mundur dengan perlahan, membuat lendir memekku semakin banyak meleleh di memekku, melicinkan jalan masuk kontol berototnya ini ke dalam memekku tahap demi tahap. Lidahnya yang kasar dan basah berpindah-pindah dari satu pentil ke pentil yang lain. “Ouuch.. sshh.. aachh.. teruuss.. Di. masukin kontolmu yang dalaam..! oouch..niikmaatnya!” erangku. Seluruh rongga memekku terasa penuuh, kurasakan begitu nikmatnya dinding memekku digesek kontolnya yang keras dan besaar..! Akhirnya seluruh kontolnya yang kekar besar itu tertelan kedalam memekku. Terasa bibir<br />
memekku dipaksa meregang, mencengkeram otot besar dan keras ini. Melepas<br />
pentilku, dia mulai memaju-mundurkan pantatnya perlahan, “..oouch. niikmaat..Di..!!” aku pun tak kuasa lagi untuk tidak merespon kenikmatan ini dengan membalas menggerakan pantatku maju-mundur dan kadang berputar menyelaraskan gerakan pantatnya, dan akhirnya napasku semakin tersengal2 diselingi desah desah penuh kenikmatan. “hh.. sshh.. hh.. Di..oohh ..suungguuhh.. niikmmaat.” lidahnya kembali menari di pentilku. Aku benar benar menikmati permainannya sambil meremas-remas rambutnya. Kontolnya yang dahsyat semakin cepat dan kasar menggenjot memekku dan menggesek dinding memekku yang mencengkeram erat. Hisapan dan jilatannya pada pentilku pun semakin cepat dan bernapsu. Seluruh tubuhku bergelinjang liar tanpa bisa kukendalikan. Desahanku sudah berganti dengan erangan liar, “Ahh.. Ouchh.. entootin Ines terus Di, .. genjoott.. habis memekku..!! genjoott.. kontolmu sampe mentok..!!” Ooohh.. Di.. bukan maiin.. eennaaknyaa.. ngeentoot denganmu..!!” mendengar celotehanku, dia<br />
berubah menjadi semakin beringas, kontolnya makin cepat dienjotkan keluar masuk memekku. Akhirnya aku tidak bisa lagi menahan gelombang kenikmatan melanda seluruh tubuhku ”Ngghh.. nghh .. nghh.. Di.. Akku mau nyampe..!!” pekikanku meledak menyertai gelinjang liar tubuhku sambil memeluk erat tubuhnya mencoba menahan kenikmatan dalam tubuhku, dia mengendalikan gerakannya yang tadinya cepat dan kasar itu menjadi perlahan sambil menekan kontolnya dalam2 dengan memutar mutar keras sekalii.. Itilku yang sudah begitu mengeras habis digencetnya. “..aacchh.. Di.. niikmaat.. tekeen.. teruuss.. itilkuu..!!” Akhirnya aku nyampe, kupeluk tubuhnya erat sekali. wajahnya kuciumi sambil mengerang2 dikupingnya sementara dia terus menggerakkan sambil menekan kontolnya secara sangat perlahan. tubuhku yang terkulai lemas dengan kontolnya masih di dalam memekku yang masih berdenyut-denyut. Tanpa tergesa-gesa, dia mengecup bibir, pipi dan leherku dengan lembut dan mesra, sementara kedua lengan kekarnya memeluk tubuh lemasku dengan erat. Ia sama sekali tidak menggerakkan kontolnya yang masih besar dan keras di dalam memekku. Ia memberiku kesempatan untuk mengatur napasku yang terengah-engah. Setelah aku kembali “sadar” , aku pun mulai membalas ciumannya, sehingga dia kembali memainkan lidahnya pada lidahku dan menghisap bibir dan lidahku semakin liar. Napsuku kembali terpancing dan aku mulai kembali menggerak-gerakkan pantatku perlahan-lahan, menggesekkan kontolnya pada dinding memekku. Respon gerakan pantatku membuatnya semakin liar. Genjotan kontolnya pada memekku mulai cepat, kasar dan liar. Lalu dia memintaku untuk berbalik, sambil merangkak dan menungging kubuka kakiku lebar, kutatap mukanya sayu sambil memelas “Di..masukin kontol gedemu dari belakang kelobang memekku..” Dia pun menatap bokongku. Sambil memegang kontolnya disodokannya ketempat yang dituju ”Bleess..” ..Ooohh. Di.. teruss.. yang.. dalaam..!”! terasa besar dan panjang kontolnya menyodok memekku, terasa sekali gesekannya di memekku yang menyempit karena tertekuk tubuhku yang sedang menungging ini. Dia menggarapku dengan penuh napsu, tubuhku kuayun ayunkan maju mundur, ketika kebelakang kusentakan keras sekali menyambut sodokannya sehingga kontol yang besar dan panjang itu lenyap tertelan memekku. “Hngk.. ngghh..Adi..Ines mau keluaar lagii.. aargghh..!!” aku melenguh panjang, aku nyampe lagi. Kudorong pantatku ke belakang keras sekali menancapkan kontolnya yang besar sedalam-dalam2nya di dalam memekku, terasa memekku berdenyut2 mengempot kontol besarnya. Setelah mengejang beberapa detik diterjang gelombang kenikmatan, tubuhku melemas dipelukannya yang menindih tubuhku dari belakang.</p>
<p>Berat memang tubuhnya, namun dia menyadari itu dan segera menggulingkan dirinya, rebah di sisiku. Tubuhku yang telanjang bulat bermandikan keringat terbaring pasrah di ranjang, penuh dengan rasa kepuasan. Dia memeluk tubuhku dan mengecup pipiku, membuatku merasa semakin nyaman dan puas. “Nes aku belum ngecret..! tolong isepin kontolku dong..!” tanpa sungkan lagi kuemut kontolnya, kujilati biji pelernya, bahkan<br />
selangkangannya ketika kulihat dia menggeliat geliat kenikmatan, “..Ohh Nes.. nikmat sekalii.. teruss .. lumat kontolku iseep yang daleemm.. ohh..” dia mengerang penuh semangat membuatku semakin gairah saja mengemut kontolnya yang besar. untuk makin merangsang dirinya aku merangkak dihadapannya tanpa melepaskan kontolnya dari mulutku, kutunggingkan pantatku kuputar putar sambil kuhentak2 kebelakang. benar saja melihat gerakan erotisku dia makin mendengus2. Emutanku makin beringas, kontol yang besar itu yang menyumpal mulutku, kepalaku naik turun cepat sekali, dia menggelinjang hebat. akhirnya kurasakan memekku ingin melahap kembali kontolnya yang masih perkasa ini, dengan cepat aku lepas kontolnya dari mulutku langsung aku merangkak ke atas tubuhnya kuraih kontolnya lalu kududuki sembari ku tuju ke memekku. Bleess.. “..Ooohh..Nes..masuukin kontolku semuanya..!!” dia mengerang. kuputar-putar pinggulku dengan cepatnya sekali kali kuangkat pantatku lalu kujatuhkan dengan keras sehingga kontol yang besar itu melesak dalaam sekali.. “..aachh.. Nes.. putaar..habiisiin kontoolku..eennakk.. sekaallii..!!” gilirannya merintih mengerang bahkan mengejang-ngejangkan tubuhnya.Kugenjot bahkan sambil menekan keras sekali pantatku. Kontolnya kugenjot dan kupelintir habis, bahkan kukontraksikan otot2 memekku sehingga kontol yang besar itu terhisap dan terkenyot didalam memekku. Dia menggelinjang habis kadang mengejangkan tubuhnya sambil meremas pantatku keras sekali, kutekan lagi pantatku lebih keras, kontolnya melesak seluruhnya bahkan jembutnya sudah menyatu dengan jembutku, itilku tergencet kontolnya. Badanku sedikit kumiringkan ke belakang, biji pelernya kuraih dan kuremas-remas, “..Ooohh.. aachh.. yeess.Nes”, dia membelalakan matanya. lalu dia bangkit, dengan posisi duduk ia mengemut toketku… aachh tubuhku semakin panaas.. kubusungkan kedua toketku. “..Emut pentilku.. dua. duanya.. ..yeess..!! …sshh.. …oohh..!! erangku. “..Ooohh.. Nes.. nikmatnya bukan main posisi ini..! kontolku<br />
melesak dalam sekali menembus memekmu..!” dia mendengus2. kurasakan kontolnya mengembung pertanda pejunya setiap saat akan meletup, “..Ohh.. sshh..aahh.. Di ..keluaar.. bareeng..”, erangku lagi. “..iya..Nes..aku…udah mau ngecret”. tubuhku mengejang ketika kurasakan semburan dahsyat di dalam memekku, “..aachh. jepiit kontoolku.. yeess.. sshh..oohh..nikmaatnya.. memekmu Nes..!!” dia mengecretkan pejunya di dalam memekku, terasa kental dan banyak sekali. Akupun menggelinjang hebat, “..Nggkkh..sshh.. uugghh.. Di.. teekeen kontoolmu.. sampe mentookkhh.. aarrgghh..!! Kutekan kujepit kekepit seluruh tubuhnya mulai kontolnya, pantatnya, pinggangnya bahkan dadanya yang kekar kupeluk erat sekali. Seluruh pejunya kuperas dari kontolnya yang sedang terjepit didalam memekku. Nikmatnya sungguh luar biasa. Akhirnya perlahan lahan kesadaranku pulih kembali, tubuhku terasa lemas sekali. “Di, sarapan ini lebih nikmat dari semalem, Ines mau lagi dong”, kataku. “Iya Nes, kamu mau gak jalan2 sama aku keliling Bali. Kamu bilang aja ke mas Handi kamu mau pulang sendiri. Tiketmu diubah saja tanggal pulangnya, kamu pulang sendiri aja ke Jakarta. Kita kan bisa jalan2 sambil ngentot sepuasnya. Mau ya Nes”, dia membujukku. Aku tergiur juga dengan ajakannya. Aku memberitahukan hal itu ke mas Handi dan dia sama sekali tidak keberatan. Aku tinggal selama beberapa hari di Bali, menikmati pemandangan yang indah dan tentu saja menikmati kontol Adi yang nikmat bang</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ratubokep.wordpress.com/319/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ratubokep.wordpress.com/319/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/319/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=319&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/24/sex-after-chatting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Putri Ibu Kost</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/22/putri-ibu-kost/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/22/putri-ibu-kost/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 19:04:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bokep]]></category>
		<category><![CDATA[cerita dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.wordpress.com/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[Waktu itu usiaku 23 tahun. Aku duduk di tingkat akhir suatu perguruan tinggi teknik di kota Bandung. Wajahku ganteng. Badanku tinggi dan tegap, mungkin karena aku selalu berolahraga seminggu tiga kali. Teman-¬temanku bilang, kalau aku bermobil pasti banyak cewek yang dengan sukahati menempel padaku. Aku sendiri sudah punya pacar. Kami pacaran secara serius. Baik orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=317&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu itu usiaku 23 tahun. Aku duduk di tingkat akhir suatu perguruan tinggi teknik di kota Bandung. Wajahku ganteng. Badanku tinggi dan tegap, mungkin karena aku selalu berolahraga seminggu tiga kali. Teman-¬temanku bilang, kalau aku bermobil pasti banyak cewek yang dengan sukahati menempel padaku. Aku sendiri sudah punya pacar. Kami pacaran secara serius. Baik orang tuaku maupun orang tuanya sudah setuju kami nanti menikah. Tempat kos-ku dan tempat kos-nya hanya berjarak sekitar 700 m. Aku sendiri sudah dipegangi kunci kamar kosnya. Walaupun demikian bukan berarti aku sudah berpacaran tanpa batas dengannya. Dalam masalah pacaran, kami sudah saling cium-ciuman, <span id="more-317"></span>gumul-gumulan, dan remas-remasan. Namun semua itu kami lakukan dengan masih berpakaian. Toh walaupun hanya begitu, kalau “voltase’-ku sudah amat tinggi, aku dapat ‘muntah” juga. Dia adalah seorang yang menjaga keperawanan sampai dengan menikah, karena itu dia tidak mau berhubungan sex sebelum menikah. Aku menghargai prinsipnya tersebut. Karena aku belum pernah pacaran sebelumnya, maka sampai saat itu aku belum pernah merasakan memek perempuan.</p>
<p>Pacarku seorang anak bungsu. Kecuali kolokan, dia juga seorang penakut, sehingga sampai jam 10 malam minta ditemani. Sehabis mandi sore, aku pergi ke kosnya. Sampai dia berangkat tidur. aku belajar atau menulis tugas akhir dan dia belajar atau mengerjakan tugas-tugas kuliahnya di ruang tamu. Kamar kos-nya sendiri berukuran cukup besar, yakni 3mX6m. Kamar sebesar itu disekat dengan triplex menjadi ruang tamu dengan ukuran 3mX2.5m dan ruang tidur dengan ukuran 3mX3.5m. Lobang pintu di antara kedua ruang itu hanya ditutup dengan kain korden.</p>
<p>lbu kost-nya mempunyai empat anak, semua perempuan. Semua manis-manis sebagaimana kebanyakan perempuan Sunda. Anak yang pertama sudah menikah, anak yang kedua duduk di kelas 3 SMA, anak ketiga kelas I SMA, dan anak bungsu masih di SMP. Menurut desas-desus yang sampai di telingaku, menikahnya anak pertama adalah karena hamil duluan. Kemudian anak yang kedua pun sudah mempunyai prestasi. Nama panggilannya Ika. Dia dikabarkan sudah pernah hamil dengan pacarya, namun digugurkan. Menurut penilaianku, Ika seorang playgirl. Walaupun sudah punya pacar, pacarnya kuliah di suatu politeknik, namun dia suka mejeng dan menggoda laki-laki lain yang kelihatan keren. Kalau aku datang ke kos pacarku, dia pun suka mejeng dan bersikap genit dalam menyapaku.</p>
<p>lka memang mojang Sunda yang amat aduhai. Usianya akan 18 tahun. Tingginya 160 cm. Kulitnya berwarna kuning langsat dan kelihatan licin. Badannya kenyal dan berisi. Pinggangnya ramping. Buah dadanya padat dan besar membusung. Pinggulnya besar, kecuali melebar dengan indahnya juga pantatnya membusung dengan montoknya. Untuk gadis seusia dia, mungkin payudara dan pinggul yang sudah terbentuk sedemikian indahnya karena terbiasa dinaiki dan digumuli oleh pacarnya. Paha dan betisnya bagus dan mulus. Lehernya jenjang. Matanya bagus. Hidungnya mungil dan sedikit mancung. Bibirnya mempunyai garis yang sexy dan sensual, sehingga kalau memakai lipstik tidak perlu membuat garis baru, tinggal mengikuti batas bibir yang sudah ada. Rambutnya lebat yang dipotong bob dengan indahnya.</p>
<p>Sore itu sehabis mandi aku ke kos pacarku seperti biasanya. Di teras rumah tampak Ika sedang mengobrol dengan dua orang adiknya. Ika mengenakan baju atas ‘you can see’ dan rok span yang pendek dan ketat sehingga lengan, paha dan betisnya yang mulus itu dipertontonkan dengan jelasnya.</p>
<p>“Mas Bob, ngapel ke Mbak Dina? Wah… sedang nggak ada tuh. Tadi pergi sama dua temannya. Katanya mau bikin tugas,” sapa Ika dengan centilnya.</p>
<p>“He… masa?” balasku.</p>
<p>“Iya… Sudah, ngapelin Ika sajalah Mas Bob,” kata Ika dengan senyum menggoda. Edan! Cewek Sunda satu ini benar-benar menggoda hasrat. Kalau mau mengajak beneran aku tidak menolak nih, he-he-he…</p>
<p>“Ah, neng Ika macam-macam saja…,” tanggapanku sok menjaga wibawa. “Kak Dai belum datang?”</p>
<p>Pacar Ika namanya Daniel, namun Ika memanggilnya Kak Dai. Mungkin Dai adalah panggilan akrab atau panggilan masa kecil si Daniel. Daniel berasal dan Bogor. Dia ngapeli anak yang masih SMA macam minum obat saja. Dan pulang kuliah sampai malam hari. Lebih hebat dan aku, dan selama ngapel waktu dia habiskan untuk ngobrol. Atau kalau setelah waktu isya, dia masuk ke kamar Ika. Kapan dia punya kesempatan belajar?</p>
<p>“Wah… dua bulan ini saya menjadi singgel lagi. Kak Dai lagi kerja praktek di Riau. Makanya carikan teman Mas Bob buat menemani Ika dong, biar Ika tidak kesepian… Tapi yang keren lho,” kata Ika dengan suara yang amat manja. Edan si playgirl Sunda mi. Dia bukan tipe orang yang ngomong begitu bukan sekedar bercanda, namun tipe orang yang suka nyerempet-nyerempet hat yang berbahaya.</p>
<p>“Neng Ika ini… Nanti Kak Dainya ngamuk dong.”</p>
<p>“Kak Dai kan tidak akan tahu…”</p>
<p>Aku kembali memaki dalam hati. Perempuan Sunda macam Ika ini memang enak ditiduri. Enak digenjot dan dinikmati kekenyalan bagian-bagian tubuhnya.</p>
<p>Aku mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar kos Dina. Di atas meja pendek di ruang tamu ada sehelai memo dari Dina. Sambil membuka jendela ruang depan dan ruang tidur, kubaca isi memo tadi. ‘Mas Bobby, gue ngerjain tugas kelompok bersama Niken dan Wiwin. Tugasnya banyak, jadi gue malam ini tidak pulang. Gue tidur di rumah Wiwin. Di kulkas ada jeruk, ambil saja. Soen sayang, Dina’</p>
<p>Aku mengambil bukuku yang sehari-harinya kutinggal di tempat kos Di. Sambil menyetel radio dengan suara perlahan, aku mulai membaca buku itu. Biarlah aku belajar di situ sampai jam sepuluh malam.</p>
<p>Sedang asyik belajar, sekitar jam setengah sembilan malam pintu diketok dan luar. Tok-tok-tok…</p>
<p>Kusingkapkan korden jendela ruang tamu yang telah kututup pada jam delapan malam tadi, sesuai dengan kebiasaan pacarku. Sepertinya Ika yang berdiri di depan pintu.</p>
<p>“Mbak Di… Mbak Dina…,” terdengar suara Ika memanggil-manggil dan luar. Aku membuka pintu.</p>
<p>“Mbak Dina sudah pulang?” tanya Ika.</p>
<p>“Belum. Hari ini Dina tidak pulang. Tidur di rumah temannya karena banyak tugas. Ada apa?”</p>
<p>“Mau pinjam kalkulator, mas Bob. Sebentar saja. Buat bikin pe-er.”</p>
<p>“Ng… bolehlah. Pakai kalkulatorku saja, asal cepat kembali.”</p>
<p>“Beres deh mas Bob. Ika berjanji,” kata Ika dengan genit. Bibirnya tersenyum manis, dan pandang matanya menggoda menggemaskan.</p>
<p>Kuberikan kalkulatorku pada Ika. Ketika berbalik, kutatap tajam-tajam tubuhnya yang aduhai. Pinggulnya yang melebar dan montok itu menggial ke kiri-kanan, seolah menantang diriku untuk meremas¬-remasnya. Sialan! Kontholku jadi berdiri. Si ‘boy-ku ini responsif sekali kalau ada cewek cakep yang enak digenjot.</p>
<p>Sepeninggal Ika, sesaat aku tidak dapat berkonsentrasi. Namun kemudian kuusir pikiran yang tidak-tidak itu. Kuteruskan kembali membaca textbook yang menunjang penulisan tugas sarjana itu.</p>
<p>Tok-tok-tok! Baru sekitar limabelas menit pintu kembali diketok.</p>
<p>“Mas Bob… Mas Bob…,” terdengar Ika memanggil lirih.</p>
<p>Pintu kubuka. Mendadak kontholku mengeras lagi. Di depan pintu berdiri Ika dengan senyum genitnya. Bajunya bukan atasan ‘you can see’ yang dipakai sebelumnya. Dia menggunakan baju yang hanya setinggi separuh dada dengan ikatan tali ke pundaknya. Baju tersebut berwarna kuning muda dan berbahan mengkilat. Dadanya tampak membusung dengan gagahnya, yang ujungnya menonjol dengan tajam dan batik bajunya. Sepertinya dia tidak memakai BH. Juga, bau harum sekarang terpancar dan tubuhnya. Tadi, bau parfum harum semacam ini tidak tercium sama sekali, berarti datang yang kali ini si Ika menyempatkan diri memakai parfum. Kali ini bibirnya pun dipolesi lipstik pink.</p>
<p>“Ini kalkulatornya, Mas Bob,” kata Ika manja, membuyarkan keterpanaanku.</p>
<p>“Sudah selesai. Neng Ika?” tanyaku basa-basi.</p>
<p>“Sudah Mas Bob, namun boleh Ika minta diajari Matematika?”</p>
<p>“0, boleh saja kalau sekiranya bisa.”</p>
<p>Tanpa kupersilakan Ika menyelonong masuk dan membuka buku matematika di atas meja tamu yang rendah. Ruang tamu kamar kos pacarku itu tanpa kursi. Hanya digelari karpet tebal dan sebuah meja pendek dengan di salah satu sisinya terpasang rak buku. Aku pun duduk di hadapannya, sementara pintu masuk tertutup dengan sendirinya dengan perlahan. Memang pintu kamar kos pacarku kalau mau disengaja terbuka harus diganjal potongan kayu kecil.</p>
<p>“Ini mas Bob, Ika ada soal tentang bunga majemuk yang tidak tahu cara penyelesaiannya.” Ika mencari-cari halaman buku yang akan ditanyakannya.</p>
<p>Menunggu halaman itu ditemukan, mataku mencari kesempatan melihat ke dadanya. Amboi! Benar, Ika tidak memakai bra. Dalam posisi agak menunduk, kedua gundukan payudaranya kelihatan sangat jelas. Sungguh padat, mulus, dan indah. Kontholku terasa mengeras dan sedikit berdenyut-denyut.</p>
<p>Halaman yang dicari ketemu. Ika dengan centilnya membaca soal tersebut. Soalnya cukup mudah. Aku menerangkan sedikit dan memberitahu rumusnya, kemudian Ika menghitungnya. Sambil menunggu Ika menghitung, mataku mencuri pandang ke buah dada Ika. Uhhh… ranum dan segarnya.</p>
<p>“Kok sepi? Mamah, Ema, dan Nur sudah tidur?” tanyaku sambil menelan ludah. Kalau bapaknya tidak aku tanyakan karena dia bekerja di Cirebon yang pulangnya setiap akhir pekan.</p>
<p>“Sudah. Mamah sudah tidur jam setengah delapan tadi. Kemudian Erna dan Nur berangkat tidur waktu Ika bermain-main kalkulator tadi,” jawab Ika dengan tatapan mata yang menggoda.</p>
<p>Hasratku mulai naik. Kenapa tidak kusetubuhi saja si Ika. Mumpung sepi. Orang-orang di rumahnya sudah tidur. Kamar kos sebelah sudah sepi dan sudah mati lampunya. Berarti penghuninya juga sudah tidur. Kalau kupaksa dia meladeni hasratku, tenaganya tidak akan berarti dalam melawanku. Tetapi mengapa dia akan melawanku? jangan-jangan dia ke sini justru ingin bersetubuh denganku. Soal tanya Matematika, itu hanya sebagai atasan saja. Bukankah dia menyempatkan ganti baju, dari atasan you can see ke atasan yang memamerkan separuh payudaranya? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan tidak memakai bra? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan memakai parfum dan lipstik? Apa lagi artinya kalau tidak menyodorkan din?</p>
<p>Tiba-tiba Ika bangkit dan duduk di sebelah kananku.</p>
<p>“Mas Bob… ini benar nggak?” tanya Ika.</p>
<p>Ada kekeliruan di tengah jalan saat Ika menghitung. Antara konsentrasi dan menahan nafsu yang tengah berkecamuk, aku mengambil pensil dan menjelaskan kekeliruannya. Tiba-tiba Ika lebih mendekat ke arahku, seolah mau memperhatikan hal yang kujelaskan dan jarak yang lebih dekat. Akibatnya… gumpalan daging yang membusung di dadanya itu menekan lengan tangan kananku. Terasa hangat dan lunak, namun ketika dia lebih menekanku terasa lebih kenyal.</p>
<p>Dengan sengaja lenganku kutekankan ke payudaranya.</p>
<p>“Ih… Mas Bob nakal deh tangannya,” katanya sambil merengut manja. Dia pura-pura menjauh.</p>
<p>“Lho, yang salah kan Neng Ika duluan. Buah dadanya menyodok-nyodok lenganku,” jawabku.</p>
<p>lka cemberut. Dia mengambil buku dan kembali duduk di hadapanku. Dia terlihat kembali membetulkan yang kesalahan, namun menurut perasaanku itu hanya berpura-pura saja. Aku merasa semakin ditantang. Kenapa aku tidak berani? Memangnya aku impoten? Dia sudah berani datang ke sini malam-malam sendirian. Dia menyempatkan pakai parfum. Dia sengaja memakai baju atasan yang memamerkan gundukan payudara. Dia sengaja tidak pakai bra. Artinya, dia sudah mempersilakan diriku untuk menikmati kemolekan tubuhnya. Tinggal aku yang jadi penentunya, mau menyia-siakan kesempatan yang dia berikan atau memanfaatkannya. Kalau aku menyia-siakan berarti aku band!</p>
<p>Aku pun bangkit. Aku berdiri di atas lutut dan mendekatinya dari belakang. Aku pura-pura mengawasi dia dalam mengerjakan soal. Padahal mataku mengawasi tubuhnya dari belakang. Kulit punggung dan lengannya benar-benar mulus, tanpa goresan sedikitpun. Karena padat tubuhnya, kulit yang kuning langsat itu tampak licin mengkilap walaupun ditumbuhi oleh bulu-bulu rambut yang halus.</p>
<p>Kemudian aku menempelkan kontholku yang menegang ke punggungnya. Ika sedikit terkejut ketika merasa ada yang menempel punggungnya.</p>
<p>“Ih… Mas Bob jangan begitu dong…,” kata Ika manja.</p>
<p>“Sudah… udah-udah… Aku sekedar mengawasi pekerjaan Neng Ika,” jawabku.</p>
<p>lka cemberut. Namun dengan cemberut begitu, bibir yang sensual itu malah tampak menggemaskan. Sungguh sedap sekali bila dikulum-kulum dan dilumat-lumat. Ika berpura-pura meneruskan pekerjaannya. Aku semakin berani. Kontholku kutekankan ke punggungnya yang kenyal. Ika menggelinjang. Tidak tahan lagi. tubuh Ika kurengkuh dan kurebahkan di atas karpet. Bibirnya kulumat-lumat, sementara kulit punggungnya kuremas-remas. Bibir Ika mengadakan perlawanan, mengimbangi kuluman-¬kuluman bibirku yang diselingi dengan permainan lidahnya. Terlihat bahkan dalam masalah ciuman Ika yang masih kelas tiga SMA sudah sangat mahir. Bahkan mengalahkan kemahiranku.</p>
<p>Beberapa saat kemudian ciumanku berpindah ke lehernya yang jenjang. Bau harum terpancar dan kulitnya. Sambil kusedot-sedot kulit lehernya dengan hidungku, tanganku berpindah ke buah dadanya. Buah dada yang tidak dilindungi bra itu terasa kenyal dalam remasan tanganku. Kadang-kadang dan batik kain licin baju atasannya, putingnya kutekan-tekan dan kupelintir-pelintir dengan jari-jari tanganku. Puting itu terasa mengeras.</p>
<p>“Mas Bob Mas Bob buka baju saja Mas Bob…,” rintih Ika. Tanpa menunggu persetujuanku, jari-jari tangannya membuka Ikat pinggang dan ritsleteng celanaku. Aku mengimbangi, tall baju atasannya kulepas dan baju tersebut kubebaskan dan tubuhnya. Aku terpana melihat kemulusan tubuh atasnya tanpa penutup sehelai kain pun. Buah dadanya yang padat membusung dengan indahnya. Ditimpa sinar lampu neon ruang tamu, payudaranya kelihatan amat mulus dan licin. Putingnya berdiri tegak di ujung gumpalan payudara. Putingnya berwarna pink kecoklat-coklatan, sementara puncak bukit payudara di sekitarnya berwarna coklat tua dan sedikit menggembung dibanding dengan permukaan kulit payudaranya.</p>
<p>Celana panjang yang sudah dibuka oleh Ika kulepas dengan segera. Menyusul. kemeja dan kaos singlet kulepas dan tubuhku. Kini aku cuma tertutup oleh celana dalamku, sementara Ika tertutup oleh rok span ketat yang mempertontonkan bentuk pinggangnya yang ramping dan bentuk pinggulnya yang melebar dengan bagusnya. Ika pun melepaskan rok spannya itu, sehingga pinggul yang indah itu kini hanya terbungkus celana dalam minim yang tipis dan berwarna pink. Di daerah bawah perutnya, celana dalam itu tidak mampu menyembunyikan warna hitam dari jembut lebat Ika yang terbungkus di dalamnya. Juga, beberapa helai jembut Ika tampak keluar dan lobang celana dalamnya.</p>
<p>lka memandangi dadaku yang bidang. Kemudian dia memandang ke arah kontholku yang besar dan panjang, yang menonjol dari balik celana dalamku. Pandangan matanya memancarkan nafsu yang sudah menggelegak. Perlahan aku mendekatkan badanku ke badannya yang sudah terbaring pasrah. Kupeluk tubuhnya sambil mengulum kembali bibirnya yang hangat. Ika pun mengimbanginya. Dia memeluk leherku sambil membalas kuluman di bibirnya. Payudaranya pun menekan dadaku. Payudara itu terasa kenyal dan lembut. Putingnya yang mengeras terasa benar menekan dadaku. Aku dan Ika saling mengulum bibir, saling menekankan dada, dan saling meremas kulit punggung dengan penuh nafsu.</p>
<p>Ciumanku berpindah ke leher Ika. Leher mulus yang memancarkan keharuman parfum yang segar itu kugumuli dengan bibir dan hidungku. Ika mendongakkan dagunya agar aku dapat menciumi segenap pori-pori kulit lehernya.</p>
<p>“Ahhh… Mas Bob… Ika sudah menginginkannya dan kemarin… Gelutilah tubuh Ika… puasin Ika ya Mas Bob…,” bisik Ika terpatah-patah.</p>
<p>Aku menyambutnya dengan penuh antusias. Kini wajahku bergerak ke arah payudaranya. Payudaranya begitu menggembung dan padat. namun berkulit lembut. Bau keharuman yang segar terpancar dan pori-porinya. Agaknya Ika tadi sengaja memakai parfum di sekujur payudaranya sebelum datang ke sini. Aku menghirup kuat-kuat lembah di antara kedua bukit payudaranya itu. Kemudian wajahku kugesek-gesekkan di kedua bukit payudara itu secara bergantian, sambil hidungku terus menghirup keharuman yang terpancar dan kulit payudara. Puncak bukit payudara kanannya pun kulahap dalam mulutku. Kusedot kuat-kuat payudara itu sehingga daging yang masuk ke dalam mulutku menjadi sebesar-besarnya. Ika menggelinjang.</p>
<p>“Mas Bob… ngilu… ngilu…,” rintih Ika.</p>
<p>Gelinjang dan rintihan Ika itu semakin membangkitkan hasratku. Kuremas bukit payudara sebelah kirinya dengan gemasnya, sementara puting payudara kanannya kumainkan dengan ujung lidahku. Puting itu kadang kugencet dengan tekanan ujung lidah dengan gigi. Kemudian secara mendadak kusedot kembali payudara kanan itu kuat-kuat. sementara jari tanganku menekan dan memelintir puting payudara kirinya. Ika semakin menggelinjang-gelinjang seperti ikan belut yang memburu makanan sambil mulutnya mendesah-desah.</p>
<p>“Aduh mas Booob… ssshh… ssshhh… ngilu mas Booob… ssshhh… geli… geli…,” cuma kata-kata itu yang berulang-ulang keluar dan mulutnya yang merangsang.</p>
<p>Aku tidak puas dengan hanya menggeluti payudara kanannya. Kini mulutku berganti menggeluti payudara kiri. sementara tanganku meremas-remas payudara kanannya kuat-kuat. Kalau payudara kirinya kusedot kuat-kuat. tanganku memijit-mijit dan memelintir-pelintir puting payudara kanannya. Sedang bila gigi dan ujung lidahku menekan-nekan puting payudara kiri, tanganku meremas sebesar-besarnya payudara kanannya dengan sekuat-kuatnya.</p>
<p>“Mas Booob… kamu nakal…. ssshhh… ssshhh… ngilu mas Booob… geli…” Ika tidak henti-hentinya menggelinjang dan mendesah manja.</p>
<p>Setelah puas dengan payudara, aku meneruskan permainan lidah ke arah perut Ika yang rata dan berkulit amat mulus itu. Mulutku berhenti di daerah pusarnya. Aku pun berkonsentrasi mengecupi bagian pusarnya. Sementara kedua telapak tanganku menyusup ke belakang dan meremas-remas pantatnya yang melebar dan menggembung padat. Kedua tanganku menyelip ke dalam celana yang melindungi pantatnya itu. Perlahan¬-lahan celana dalamnya kupelorotkan ke bawah. Ika sedikit mengangkat pantatnya untuk memberi kemudahan celana dalamnya lepas. Dan dengan sekali sentakan kakinya, celana dalamnya sudah terlempar ke bawah.</p>
<p>Saat berikutnya, terhamparlah pemandangan yang luar biasa merangsangnya. Jembut Ika sungguh lebat dan subur sekali. Jembut itu mengitari bibir memek yang berwarna coklat tua. Sambil kembali menciumi kulit perut di sekitar pusarnya, tanganku mengelus-elus pahanya yang berkulit licin dan mulus. Elusanku pun ke arah dalam dan merangkak naik. Sampailah jari-jari tanganku di tepi kiri-kanan bibir luar memeknya. Tanganku pun mengelus-elus memeknya dengan dua jariku bergerak dan bawah ke atas. Dengan mata terpejam, Ika berinisiatif meremas-remas payudaranya sendiri. Tampak jelas kalau Ika sangat menikmati permainan ini.</p>
<p>Perlahan kusibak bibir memek Ika dengan ibu jari dan telunjukku mengarah ke atas sampai kelentitnya menongol keluar. Wajahku bergerak ke memeknya, sementara tanganku kembali memegangi payudaranya. Kujilati kelentit Ika perlahan-lahan dengan jilatan-jilatan pendek dan terputus-putus sambil satu tanganku mempermainkan puting payudaranya.</p>
<p>“Au Mas Bob… shhhhh… betul… betul di situ mas Bob… di situ… enak mas… shhhh…,” Ika mendesah-desah sambil matanya merem-melek. Bulu alisnya yang tebal dan indah bergerak ke atas-bawah mengimbangi gerakan merem-meleknya mata. Keningnya pun berkerut pertanda dia sedang mengalami kenikmatan yang semakin meninggi.</p>
<p>Aku meneruskan permainan lidah dengan melakukan jilatan-jilatan panjang dan lubang anus sampai ke kelentitnya.</p>
<p>Karena gerakan ujung hidungku pun secara berkala menyentuh memek Ika. Terasa benar bahkan dinding vaginanya mulai basah. Bahkan sebagian cairan vaginanya mulai mengalir hingga mencapai lubang anusnya. Sesekali pinggulnya bergetar. Di saat bergetar itu pinggulnya yang padat dan amat mulus kuremas kuat-kuat sambil ujung hidungku kutusukkan ke lobang memeknya.</p>
<p>“Mas Booob… enak sekali mas Bob…,” Ika mengerang dengan kerasnya. Aku segera memfokuskan jilatan-jilatan lidah serta tusukan-tusukan ujung hidung di vaginanya. Semakin lama vagina itu semakin basah saja. Dua jari tanganku lalu kumasukkan ke lobang memeknya. Setelah masuk hampir semuanya, jari kubengkokkan ke arah atas dengan tekanan yang cukup terasa agar kena ‘G-spot’-nya. Dan berhasil!</p>
<p>“Auwww… mas Bob…!” jerit Ika sambil menyentakkan pantat ke atas. sampai-sampai jari tangan yang sudah terbenam di dalam memek terlepas. Perut bawahnya yang ditumbuhi bulu-bulu jembut hitam yang lebat itu pun menghantam ke wajahku. Bau harum dan bau khas cairan vaginanya merasuk ke sel-sel syaraf penciumanku.</p>
<p>Aku segera memasukkan kembali dua jariku ke dalam vagina Ika dan melakukan gerakan yang sama. Kali ini aku mengimbangi gerakan jariku dengan permainan lidah di kelentit Ika. Kelentit itu tampak semakin menonjol sehingga gampang bagiku untuk menjilat dan mengisapnya. Ketika kelentit itu aku gelitiki dengan lidah serta kuisap-isap perlahan, Ika semakin keras merintih-rintih bagaikan orang yang sedang mengalami sakit demam. Sementara pinggulnya yang amat aduhai itu menggial ke kiri-kanan dengan sangat merangsangnya.</p>
<p>“Mas Bob… mas Bob… mas Bob…,” hanya kata-kata itu yang dapat diucapkan Ika karena menahan kenikmatan yang semakin menjadi-jadi.</p>
<p>Permainan jari-jariku dan lidahku di memeknya semakin bertambah ganas. Ika sambil mengerang¬-erang dan menggeliat-geliat meremas apa saja yang dapat dia raih. Meremas rambut kepalaku, meremas bahuku, dan meremas payudaranya sendiri.</p>
<p>“Mas Bob… Ika sudah tidak tahan lagi… Masukin konthol saja mas Bob… Ohhh… sekarang juga mas Bob…! Sshhh. . . ,“ erangnya sambil menahan nafsu yang sudah menguasai segenap tubuhnya.</p>
<p>Namun aku tidak perduli. Kusengaja untuk mempermainkan Ika terlebih dahulu. Aku mau membuatnya orgasme, sementara aku masih segar bugar. Karena itu lidah dan wajahku kujauhkan dan memeknya. Kemudian kocokan dua jari tanganku di dalam memeknya semakin kupercepat. Gerakan jari tanganku yang di dalam memeknya ke atas-bawah, sampai terasa ujung jariku menghentak-hentak dinding atasnya secara perlahan-lahan. Sementara ibu jariku mengusap-usap dan menghentak-hentak kelentitnya. Gerakan jari tanganku di memeknya yang basah itu sampai menimbulkan suara crrk-crrrk-crrrk-crrk crrrk… Sementara dan mulut Ika keluar pekikan-pekikan kecil yang terputus-putus:</p>
<p>“Ah-ah-ah-ah-ah…”</p>
<p>Sementara aku semakin memperdahsyat kocokan jari-jariku di memeknya, sambil memandangi wajahnya. Mata Ika merem-melek, sementara keningnya berkerut-kerut.</p>
<p>Crrrk! Crrrk! Crrek! Crek! Crek! Crok! Crok! Suara yang keluar dan kocokan jariku di memeknya semakin terdengar keras. Aku mempertahankan kocokan tersebut. Dua menit sudah si Ika mampu bertahan sambil mengeluarkan jeritan-jeritan yang membangkitkan nafsu. Payudaranya tampak semakin kencang dan licin, sedang putingnya tampak berdiri dengan tegangnya.</p>
<p>Sampai akhirnya tubuh Ika mengejang hebat. Pantatnya terangkat tinggi-tinggi. Matanya membeliak-¬beliak. Dan bibirnya yang sensual itu keluar jeritan hebat, “Mas Booo00oob …!“ Dua jariku yang tertanam di dalam vagina Ika terasa dijepit oleh dindingnya dengan kuatnya. Seiring dengan keluar masuknya jariku dalam vaginanya, dan sela-sela celah antara tanganku dengan bibir memeknya terpancarlah semprotan cairan vaginanya dengan kuatnya. Prut! Prut! Pruttt! Semprotan cairan tersebut sampai mencapai pergelangan tanganku.</p>
<p>Beberapa detik kemudian Ika terbaring lemas di atas karpet. Matanya memejam rapat. Tampaknya dia baru saja mengalami orgasme yang begitu hebat. Kocokan jari tanganku di vaginanya pun kuhentikan. Kubiarkan jari tertanam dalam vaginanya sampai jepitan dinding vaginanya terasa lemah. Setelah lemah. jari tangan kucabut dan memeknya. Cairan vagina yang terkumpul di telapak tanganku pun kubersihkan dengan kertas tissue.</p>
<p>Ketegangan kontholku belum juga mau berkurang. Apalagi tubuh telanjang Ika yang terbaring diam di hadapanku itu benar-benar aduhai. seolah menantang diriku untuk membuktikan kejantananku pada tubuh mulusnya. Aku pun mulai menindih kembali tubuh Ika, sehingga kontholku yang masih di dalam celana dalam tergencet oleh perut bawahku dan perut bawahnya dengan enaknya. Sementara bibirku mengulum-kulum kembali bibir hangat Ika, sambil tanganku meremas-remas payudara dan mempermainkan putingnya. Ika kembali membuka mata dan mengimbangi serangan bibirku. Tubuhnya kembali menggelinjang-gelinjang karena menahan rasa geli dan ngilu di payudaranya.</p>
<p>Setelah puas melumat-lumat bibir. wajahku pun menyusuri leher Ika yang mulus dan harum hingga akhirnya mencapai belahan dadanya. Wajahku kemudian menggeluti belahan payudaranya yang berkulit lembut dan halus, sementara kedua tanganku meremas-remas kedua belah payudaranya. Segala kelembutan dan keharuman belahan dada itu kukecupi dengan bibirku. Segala keharuman yang terpancar dan belahan payudara itu kuhirup kuat-kuat dengan hidungku, seolah tidak rela apabila ada keharuman yang terlewatkan sedikitpun.</p>
<p>Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan payudara itu. Kemudian bibirku bergerak ke atas bukit payudara sebelah kiri. Kuciumi bukit payudara yang membusung dengan gagahnya itu. Dan kumasukkan puting payudara di atasnya ke dalam mulutku. Kini aku menyedot-sedot puting payudara kiri Ika. Kumainkan puting di dalam mulutku itu dengan lidahku. Sedotan kadang kuperbesar ke puncak bukit payudara di sekitar puting yang berwarna coklat.</p>
<p>“Ah… ah… mas Bob… geli… geli …,“ mulut indah Ika mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. bagaikan desisan ular kelaparan yang sedang mencari mangsa.</p>
<p>Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas-remas payudara kanan Ika yang montok dan kenyal itu. Kadang remasan kuperkuat dan kuperkecil menuju puncak bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada putingnya.</p>
<p>“Mas Bob… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu… ngilu…”</p>
<p>Aku semakin gemas. Payudara aduhai Ika itu kumainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit payudara kadang kusedot besarnya-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot hanya putingnya dan kucepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang kuremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan kupelintir-pelintir kecil puting yang mencuat gagah di puncaknya.</p>
<p>“Ah… mas Bob… terus mas Bob… terus… hzzz… ngilu… ngilu…” Ika mendesis-desis keenakan. Hasratnya tampak sudah kembali tinggi. Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya ke kanan-kini semakin sening fnekuensinya.</p>
<p>Sampai akhirnya Ika tidak kuat mehayani senangan-senangan keduaku. Dia dengan gerakan eepat memehorotkan celana dalamku hingga tunun ke paha. Aku memaklumi maksudnya, segera kulepas eelana dalamku. Jan-jari tangan kanan Ika yang mulus dan lembut kemudian menangkap kontholku yang sudah berdiri dengan gagahnya. Sejenak dia memperlihatkan rasa terkejut.</p>
<p>“Edan… mas Bob, edan… Kontholmu besar sekali… Konthol pacan-pacanku dahulu dan juga konthol kak Dai tidak sampai sebesar in Edan… edan…,” ucapnya terkagum-kagum. Sambil membiankan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan menggeluti kedua belah payudaranya, jan-jari lentik tangan kanannya meremas¬remas perlahan kontholku secara berirama, seolah berusaha mencari kehangatan dan kenikmatan di hiatnya menana kejantananku. Remasannya itu mempenhebat vohtase dam rasa nikmat pada batang kontholku.</p>
<p>“Mas Bob. kita main di atas kasur saja…,” ajak Ika dengan sinar mata yang sudah dikuasai nafsu binahi.</p>
<p>Aku pun membopong tubuh telanjang Ika ke ruang dalam, dan membaringkannya di atas tempat tidun pacarku. Ranjang pacarku ini amat pendek, dasan kasurnya hanya terangkat sekitar 6 centimeter dari lantai. Ketika kubopong. Ika tidak mau melepaskan tangannya dari leherku. Bahkan, begitu tubuhnya menyentuh kasur, tangannya menanik wajahku mendekat ke wajahnya. Tak ayal lagi, bibirnya yang pink menekan itu melumat bibirku dengan ganasnya. Aku pun tidak mau mengalah. Kulumat bibirnya dengan penuh nafsu yang menggelora, sementara tanganku mendekap tubuhnya dengan kuatnya. Kuhit punggungnya yang halus mulus kuremas-remas dengan gemasnya.</p>
<p>Kemudian aku menindih tubuh Ika. Kontholku terjepit di antara pangkal pahanya yang mulus dan perut bawahku sendiri. Kehangatan kulit pahanya mengalir ke batang kontholku yang tegang dan keras. Bibirku kemudian melepaskan bibir sensual Ika. Kecupan bibirku pun turun. Kukecup dagu Ika yang bagus. Kukecup leher jenjang Ika yang memancarkan bau wangi dan segarnya parfum yang dia pakai. Kuciumi dan kugeluti leher indah itu dengan wajahku, sementara pantatku mulai bergerak aktif sehingga kontholku menekan dan menggesek-gesek paha Ika. Gesekan di kulit paha yang licin itu membuat batang kontholku bagai diplirit-plirit. Kepala kontholku merasa geli-geli enak oleh gesekan-gesekan paha Ika.</p>
<p>Puas menggeluti leher indah, wajahku pun turun ke buah dada montok Ika. Dengan gemas dan ganasnya aku membenamkan wajahku ke belahan dadanya, sementara kedua tanganku meraup kedua belah payudaranya dan menekannya ke arah wajahku. Keharuman payudaranya kuhirup sepuas-puasku. Belum puas dengan menyungsep ke belahan dadanya, wajahku kini menggesek-gesek memutar sehingga kedua gunung payudaranya tertekan-tekan oleh wajahku secara bergantian. Sungguh sedap sekali rasanya ketika hidungku menyentuh dan menghirup dalam-dalam daging payudara yang besar dan kenyal itu. Kemudian bibirku meraup puncak bukit payudara kiri Ika. Daerah payudara yang kecoklat-coklatan beserta putingnya yang pink kecoklat-coklatan itu pun masuk dalam mulutku. Kulahap ujung payudara dan putingnya itu dengan bernafsunya, tak ubahnya seperti bayi yang menetek susu setelah kelaparan selama seharian. Di dalam mulutku, puting itu kukulum-kulum dan kumainkan dengan lidahku.</p>
<p>“Mas Bob… geli… geli …,“ kata Ika kegelian.</p>
<p>Aku tidak perduli. Aku terus mengulum-kulum puncak bukit payudara Ika. Putingnya terasa di lidahku menjadi keras. Kemudian aku kembali melahap puncak bukit payudara itu sebesar-besarnya. Apa yang masuk dalam mulutku kusedot sekuat-kuatnya. Sementara payudara sebelah kanannya kuremas sekuat-kuatnya</p>
<p>dengan tanganku. Hal tersebut kulakukan secara bergantian antara payudara kiri dan payudara kanan Ika. Sementara kontholku semakin menekan dan menggesek-gesek dengan beriramanya di kulit pahanya. Ika semakin menggelinjang-gelinjang dengan hebatnya.</p>
<p>“Mas Bob… mas Bob… ngilu… ngilu… hihhh… nakal sekali tangan dan mulutmu… Auw! Sssh… ngilu… ngilu…,” rintih Ika. Rintihannya itu justru semakin mengipasi api nafsuku. Api nafsuku semakin berkobar-kobar. Semakin ganas aku mengisap-isap dan meremas-remas payudara montoknya. Sementara kontholku berdenyut-denyut keenakan merasakan hangat dan licinnya paha Ika.</p>
<p>Akhirnya aku tidak sabar lagi. Kulepaskan payudara montok Ika dari gelutan mulut dan tanganku. Bibirku kini berpindah menciumi dagu dan lehernya, sementara tanganku membimbing kontholku untuk mencari liang memeknya. Kuputar-putarkan dahulu kepala kontholku di kelebatan jembut di sekitar bibir memek Ika. Bulu-bulu jembut itu bagaikan menggelitiki kepala kontholku. Kepala kontholku pun kegelian. Geli tetapi enak.</p>
<p>“Mas Bob… masukkan seluruhnya mas Bob… masukkan seluruhnya… Mas Bob belum pernah merasakan memek Mbak Dina kan? Mbak Dina orang kuno… tidak mau merasakan konthol sebelum nikah. Padahal itu surga dunia… bagai terhempas langit ke langit ketujuh. mas Bob…”</p>
<p>Jan-jari tangan Ika yang lentik meraih batang kontholku yang sudah amat tegang. Pahanya yang mulus itu dia buka agak lebar.</p>
<p>“Edan… edan… kontholmu besar dan keras sekali, mas Bob…,” katanya sambil mengarahkan kepala kontholku ke lobang memeknya.</p>
<p>Sesaat kemudian kepala kontholku menyentuh bibir memeknya yang sudah basah. Kemudian dengan perlahan-lahan dan sambil kugetarkan, konthol kutekankan masuk ke liang memek. Kini seluruh kepala kontholku pun terbenam di dalam memek. Daging hangat berlendir kini terasa mengulum kepala kontholku dengan enaknya.</p>
<p>Aku menghentikan gerak masuk kontholku.</p>
<p>“Mas Bob… teruskan masuk, Bob… Sssh… enak… jangan berhenti sampai situ saja…,” Ika protes atas tindakanku. Namun aku tidak perduli. Kubiarkan kontholku hanya masuk ke lobang memeknya hanya sebatas kepalanya saja, namun kontholku kugetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungku dengan ganasnya menggeluti lehernya yang jenjang, lengan tangannya yang harum dan mulus, dari ketiaknya yang bersih dari bulu ketiak. Ika menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan.</p>
<p>“Sssh… sssh… enak… enak… geli… geli, mas Bob. Geli… Terus masuk, mas Bob…”</p>
<p>Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat. Sementara gerakan kukonsentrasikan pada pinggulku. Dan… satu… dua… tiga! Kontholku kutusukkan sedalam-dalamnya ke dalam memek Ika dengan sangat cepat dan kuatnya. Plak! Pangkal pahaku beradu dengan pangkal pahanya yang mulus yang sedang dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kulit batang kontholku bagaikan diplirit oleh bibir dan daging lobang memeknya yang sudah basah dengan kuatnya sampai menimbulkan bunyi: srrrt!</p>
<p>“Auwww!” pekik Ika.</p>
<p>Aku diam sesaat, membiarkan kontholku tertanam seluruhnya di dalam memek Ika tanpa bergerak sedikit pun.</p>
<p>“Sakit mas Bob… Nakal sekali kamu… nakal sekali kamu….” kata Ika sambil tangannya meremas punggungku dengan kerasnya.</p>
<p>Aku pun mulai menggerakkan kontholku keluar-masuk memek Ika. Aku tidak tahu, apakah kontholku yang berukuran panjang dan besar ataukah lubang memek Ika yang berukuran kecil. Yang saya tahu, seluruh bagian kontholku yang masuk memeknya serasa dipijit-pijit dinding lobang memeknya dengan agak kuatnya. Pijitan dinding memek itu memberi rasa hangat dan nikmat pada batang kontholku.</p>
<p>“Bagaimana Ika, sakit?” tanyaku</p>
<p>“Sssh… enak sekali… enak sekali… Barangmu besar dan panjang sekali… sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru lobang memekku…,” jawab Ika.</p>
<p>Aku terus memompa memek Ika dengan kontholku perlahan-lahan. Payudara kenyalnya yang menempel di dadaku ikut terpilin-pilin oleh dadaku akibat gerakan memompa tadi. Kedua putingnya yang sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadaku yang bidang. Kehangatan payudaranya yang montok itu mulai terasa mengalir ke dadaku. Kontholku serasa diremas-remas dengan berirama oleh otot-otot memeknya sejalan dengan genjotanku tersebut. Terasa hangat dan enak sekali. Sementara setiap kali menusuk masuk kepala kontholku menyentuh suatu daging hangat di dalam memek Ika. Sentuhan tersebut serasa menggelitiki kepala konthol sehingga aku merasa sedikit kegelian. Geli-geli nikmat.</p>
<p>Kemudian aku mengambil kedua kakinya yang kuning langsat mulus dan mengangkatnya. Sambil menjaga agar kontholku tidak tercabut dari lobang memeknya, aku mengambil posisi agak jongkok. Betis kanan Ika kutumpangkan di atas bahuku, sementara betis kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil terus mengocok memeknya perlahan dengan kontholku, betis kirinya yang amat indah itu kuciumi dan kukecupi dengan gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang kuciumi dan kugeluti, sementara betis kirinya kutumpangkan ke atas bahuku. Begitu hal tersebut kulakukan beberapa kali secara bergantian, sambil mempertahankan rasa nikmat di kontholku dengan mempertahankan gerakan maju-mundur perlahannya di memek Ika.</p>
<p>Setelah puas dengan cara tersebut, aku meletakkan kedua betisnya di bahuku, sementara kedua telapak tanganku meraup kedua belah payudaranya. Masih dengan kocokan konthol perlahan di memeknya, tanganku meremas-remas payudara montok Ika. Kedua gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama. Kadang kedua putingnya kugencet dan kupelintir-pelintir secara perlahan. Puting itu semakin mengeras, dan bukit payudara itu semakin terasa kenyal di telapak tanganku. Ika pun merintih-rintih keenakan. Matanya merem-melek, dan alisnya mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah.</p>
<p>“Ah… mas Bob, geli… geli… Tobat… tobat… Ngilu mas Bob, ngilu… Sssh… sssh… terus mas Bob, terus…. Edan… edan… kontholmu membuat memekku merasa enak sekali… Nanti jangan disemprotkan di luar memek, mas Bob. Nyemprot di dalam saja… aku sedang tidak subur…”</p>
<p>Aku mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontholku di memek Ika.</p>
<p>“Ah-ah-ah… benar, mas Bob. benar… yang cepat… Terus mas Bob, terus…”</p>
<p>Aku bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihan Ika. tenagaku menjadi berlipat ganda. Kutingkatkan kecepatan keluar-masuk kontholku di memek Ika. Terus dan terus. Seluruh bagian kontholku serasa diremas¬-remas dengan cepatnya oleh daging-daging hangat di dalam memek Ika. Mata Ika menjadi merem-melek dengan cepat dan indahnya. Begitu juga diriku, mataku pun merem-melek dan mendesis-desis karena merasa keenakan yang luar biasa.</p>
<p>“Sssh… sssh… Ika… enak sekali… enak sekali memekmu… enak sekali memekmu…”</p>
<p>“Ya mas Bob, aku juga merasa enak sekali… terusss… terus mas Bob, terusss…”</p>
<p>Aku meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontholku pada memeknya. Kontholku terasa bagai diremas-remas dengan tidak karu-karuan.</p>
<p>“Mas Bob… mas Bob… edan mas Bob, edan… sssh… sssh… Terus… terus… Saya hampir keluar nih mas Bob…</p>
<p>sedikit lagi… kita keluar sama-sama ya Booob…,” Ika jadi mengoceh tanpa kendali.</p>
<p>Aku mengayuh terus. Aku belum merasa mau keluar. Namun aku harus membuatnya keluar duluan. Biar perempuan Sunda yang molek satu ini tahu bahwa lelaki Jawa itu perkasa. Biar dia mengakui kejantanan orang Jawa yang bernama mas Bobby. Sementara kontholku merasakan daging-daging hangat di dalam memek Ika bagaikan berdenyut dengan hebatnya.</p>
<p>“Mas Bob… mas Bobby… mas Bobby…,” rintih Ika. Telapak tangannya memegang kedua lengan tanganku seolah mencari pegangan di batang pohon karena takut jatuh ke bawah.</p>
<p>lbarat pembalap, aku mengayuh sepeda balapku dengan semakin cepatnya. Bedanya, dibandingkan dengan pembalap aku lebih beruntung. Di dalam “mengayuh sepeda” aku merasakan keenakan yang luar biasa di sekujur kontholku. Sepedaku pun mempunyai daya tarik tersendiri karena mengeluarkan rintihan-rintihan keenakan yang tiada terkira.</p>
<p>“Mas Bob… ah-ah-ah-ah-ah… Enak mas Bob, enak… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau keluar mas Bob… mau keluar… ah-ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…”</p>
<p>Tiba-tiba kurasakan kontholku dijepit oleh dinding memek Ika dengan sangat kuatnya. Di dalam memek, kontholku merasa disemprot oleh cairan yang keluar dari memek Ika dengan cukup derasnya. Dan telapak tangan Ika meremas lengan tanganku dengan sangat kuatnya. Mulut sensual Ika pun berteriak tanpa kendali:</p>
<p>“…keluarrr…!”</p>
<p>Mata Ika membeliak-beliak. Sekejap tubuh Ika kurasakan mengejang.</p>
<p>Aku pun menghentikan genjotanku. Kontholku yang tegang luar biasa kubiarkan diam tertanam dalam memek Ika. Kontholku merasa hangat luar biasa karena terkena semprotan cairan memek Ika. Kulihat mata Ika kemudian memejam beberapa saat dalam menikmati puncak orgasmenya.</p>
<p>Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada lenganku perlahan-lahan mengendur. Kelopak matanya pun membuka, memandangi wajahku. Sementara jepitan dinding memeknya pada kontholku berangsur-angsur melemah. walaupun kontholku masih tegang dan keras. Kedua kaki Ika lalu kuletakkan kembali di atas kasur dengan posisi agak membuka. Aku kembali menindih tubuh telanjang Ika dengan mempertahankan agar kontholku yang tertanam di dalam memeknya tidak tercabut.</p>
<p>“Mas Bob… kamu luar biasa… kamu membawaku ke langit ke tujuh,” kata Ika dengan mimik wajah penuh kepuasan. “Kak Dai dan pacar-pacarku yang dulu tidak pernah membuat aku ke puncak orgasme seperti ml. Sejak Mbak Dina tinggal di sini, Ika suka membenarkan mas Bob saat berhubungan dengan Kak Dai.”</p>
<p>Aku senang mendengar pengakuan Ika itu. berarti selama aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku selalu membayangkan kemolekan tubuh Ika dalam masturbasiku, sementara dia juga membayangkan kugeluti</p>
<p>dalam onaninya. Bagiku. Dina bagus dijadikan istri dan ibu anak-anakku kelak, namun tidak dapat dipungkiri bahwa tubuh aduhai Ika enak digeluti dan digenjot dengan penuh nafsu.</p>
<p>“Mas Bob… kamu seperti yang kubayangkan. Kamu jantan… kamu perkasa… dan kamu berhasil membawaku ke puncak orgasme. Luar biasa nikmatnya…”</p>
<p>Aku bangga mendengar ucapan Ika. Dadaku serasa mengembang. Dan bagai anak kecil yang suka pujian, aku ingin menunjukkan bahwa aku lebih perkasa dari dugaannya. Perempuan Sunda ini harus kewalahan menghadapi genjotanku. Perempuan Sunda ini harus mengakui kejantanan dan keperkasaanku. Kebetulan aku saat ini baru setengah perjalanan pendakianku di saat Ika sudah mencapai orgasmenya. Kontholku masih tegang di dalam memeknya. Kontholku masih besar dan keras, yang hams menyemprotkan pelurunya agar kepalaku tidak pusing.</p>
<p>Aku kembali mendekap tubuh mulus Ika, yang di bawah sinar lampu kuning kulit tubuhnya tampak sangat mulus dan licin. Kontholku mulai bergerak keluar-masuk lagi di memek Ika, namun masih dengan gerakan perlahan. Dinding memek Ika secara berargsur-angsur terasa mulai meremas-remas kontholku. Terasa hangat dan enak. Namun sekarang gerakan kontholku lebih lancar dibandingkan dengan tadi. Pasti karena adanya cairan orgasme yang disemprotkan oleh memek Ika beberapa saat yang lalu.</p>
<p>“Ahhh… mas Bob… kau langsung memulainya lagi… Sekarang giliranmu… semprotkan air manimu ke dinding-dinding memekku… Sssh…,” Ika mulai mendesis-desis lagi.</p>
<p>Bibirku mulai memagut bibir merekah Ika yang amat sensual itu dan melumat-lumatnya dengan gemasnya. Sementara tangan kiriku ikut menyangga berat badanku, tangan kananku meremas-remas payudara montok Ika serta memijit-mijit putingnya, sesuai dengan mama gerak maju-mundur kontholku di memeknya.</p>
<p>“Sssh… sssh… sssh… enak mas Bob, enak… Terus… teruss… terusss…,” desis bibir Ika di saat berhasil melepaskannya dari serbuan bibirku. Desisan itu bagaikan mengipasi gelora api birahiku.</p>
<p>Sambil kembali melumat bibir Ika dengan kuatnya, aku mempercepat genjotan kontholku di memeknya. Pengaruh adanya cairan di dalam memek Ika, keluar-masuknya konthol pun diiringi oleh suara, “srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret…” Mulut Ika di saat terbebas dari lumatan bibirku tidak henti-hentinya mengeluarkan rintih kenikmatan,</p>
<p>“Mas Bob… ah… mas Bob… ah… mas Bob… hhb… mas Bob… ahh…”</p>
<p>Kontholku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari payudaranya. Kedua tanganku kini dari ketiak Ika menyusup ke bawah dan memeluk punggung mulusnya. Tangan Ika pun memeluk punggungku dan mengusap-usapnya. Aku pun memulai serangan dahsyatku. Keluar-masuknya kontholku ke dalam memek Ika sekarang berlangsung dengan cepat dan berirama. Setiap kali masuk, konthol kuhunjamkan keras-keras agar menusuk memek Ika sedalam-dalamnya. Dalam perjalanannya, batang kontholku bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding memek Ika. Sampai di langkah terdalam, mata Ika membeliak sambil bibirnya mengeluarkan seruan tertahan, “Ak!” Sementara daging pangkal pahaku bagaikan menampar daging pangkal pahanya sampai berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar memek, konthol kujaga agar kepalanya yang mengenakan helm tetap tertanam di lobang memek. Remasan dinding memek pada batang kontholku pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak masuknya. Bibir memek yang mengulum batang kontholku pun sedikit ikut tertarik keluar, seolah tidak rela bila sampai ditinggal keluar oleh batang kontholku. Pada gerak keluar ini Bibir Ika mendesah, “Hhh…”</p>
<p>Aku terus menggenjot memek Ika dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak. Remasan yang luar biasa kuat, hangat, dan enak sekali bekerja di kontholku. Tangan Ika meremas punggungku kuat-kuat di saat kontholku kuhunjam masuk sejauh-jauhnya ke lobang memeknya. beradunya daging pangkal paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kontholku dan memek Ika menimbulkan bunyi srottt-srrrt… srottt-srrrt… srottt-srrrtt… Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecil yang merdu yang keluar dari bibir Ika:</p>
<p>“Ak! Uhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”</p>
<p>Kontholku terasa empot-empotan luar biasa. Rasa hangat, geli, dan enak yang tiada tara membuatku tidak kuasa menahan pekikan-pekikan kecil:</p>
<p>“lka… Ika… edan… edan… Enak sekali Ika… Memekmu enak sekali… Memekmu hangat sekali… edan… jepitan memekmu enak sekali…”</p>
<p>“Mas Bob… mas Bob… terus mas Bob rintih Ika, “enak mas Bob… enaaak… Ak! Ak! Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”</p>
<p>Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kontholku. Gatal yang enak sekali. Aku pun mengocokkan kontholku ke memeknya dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap masuk ke dalam, kontholku berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal dan rasa enak yang luar biasa di konthol pun semakin menghebat.</p>
<p>“Ika… aku… aku…” Karena menahan rasa nikmat dan gatal yang luar biasa aku tidak mampu menyelesaikan ucapanku yang memang sudah terbata-bata itu.</p>
<p>“Mas Bob… mas Bob… mas Bob! Ak-ak-ak… Aku mau keluar lagi… Ak-ak-ak… aku ke-ke-ke…”</p>
<p>Tiba-tiba kontholku mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya. Aku tidak mampu lagi menahan rasa gatal yang sudah mencapai puncaknya. Namun pada saat itu juga tiba-tiba dinding memek Ika mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat dan enak sekali itu. aku tidak mampu lagi menahan jebolnya bendungan dalam alat kelaminku.</p>
<p>Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontholku terasa disemprot cairan memek Ika, bersamaan dengan pekikan Ika, “…keluarrrr…!” Tubuh Ika mengejang dengan mata membeliak-beliak.</p>
<p>“Ika…!” aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Ika sekuat-kuatnya, seolah aku sedang berusaha rnenemukkan tulang-tulang punggungnya dalam kegemasan. Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yang jenjang. Cairan spermaku pun tak terbendung lagi.</p>
<p>Crottt! Crott! Croat! Spermaku bersemburan dengan derasnya, menyemprot dinding memek Ika yang terdalam. Kontholku yang terbenam semua di dalam kehangatan memek Ika terasa berdenyut-denyut.</p>
<p>Beberapa saat lamanya aku dan Ika terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali, sampai-sampai dari alat kemaluan, perut, hingga ke payudaranya seolah terpateri erat dengan tubuh depanku. Aku menghabiskan sisa-sisa sperma dalam kontholku. Cret! Cret! Cret! Kontholku menyemprotkan lagi air mani yang masih tersisa ke dalam memek Ika. Kali ini semprotannya lebih lemah.</p>
<p>Perlahan-lahan tubuh Ika dan tubuhku pun mengendur kembali. Aku kemudian menciumi leher mulus Ika dengan lembutnya, sementara tangan Ika mengusap-usap punggungku dan mengelus-elus rambut kepalaku. Aku merasa puas sekali berhasil bermain seks dengan Ika. Pertama kali aku bermain seks, bidadari lawan mainku adalah perempuan Sunda yang bertubuh kenyal, berkulit kuning langsat mulus, berpayudara besar dan padat, berpinggang ramping, dan berpinggul besar serta aduhai. Tidak rugi air maniku diperas habis-habisan pada pengalaman pertama ini oleh orang semolek Ika.</p>
<p>“Mas Bob… terima kasih mas Bob. Puas sekali saya. indah sekali… sungguh… enak sekali,” kata Ika lirih.</p>
<p>Aku tidak memberi kata tanggapan. Sebagai jawaban, bibirnya yang indah itu kukecup mesra. Dalam keadaan tetap telanjang, kami berdekapan erat di atas tempat tidur pacarku. Dia meletakkan kepalanya di atas dadaku yang bidang, sedang tangannya melingkar ke badanku. Baru ketika jam dinding menunjukkan pukul 22:00, aku dan Ika berpakaian kembali. Ika sudah tahu kebiasaanku dalam mengapeli Dina, bahwa pukul 22:00 aku pulang ke tempat kost-ku sendiri.</p>
<p>Sebelum keluar kamar, aku mendekap erat tubuh Ika dan melumat-lumat bibirnya beberapa saat.</p>
<p>“Mas Bob… kapan-kapan kita mengulangi lagi ya mas Bob… Jangan khawatir, kita tanpa Ikatan. Ika akan selalu merahasiakan hal ini kepada siapapun, termasuk ke Kak Dai dan Mbak Dina. Ika puas sekali bercumbu dengan mas Bob,” begitu kata Ika.</p>
<p>Aku pun mengangguk tanda setuju. Siapa sih yang tidak mau diberi kenikmatan secara gratis dan tanpa ikatan? Akhirnya dia keluar dari kamar dan kembali masuk ke rumahnya lewat pintu samping. Lima menit kemudian aku baru pulang ke tempat kost-ku.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ratubokep.wordpress.com/317/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ratubokep.wordpress.com/317/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/317/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=317&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/22/putri-ibu-kost/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak SMA yg cantik (virgin lagi)</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/20/anak-sma-yg-cantik-virgin-lagi/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/20/anak-sma-yg-cantik-virgin-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 19:09:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis berbuah Seks]]></category>
		<category><![CDATA[cerita bokep]]></category>
		<category><![CDATA[cerita dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Di Sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.wordpress.com/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[waktu 3 bln yg lalu saya pcarandgn seorang wanita.Sebut saja namanya &#8220;A&#8221;..Dia orangnya putih,bersih,toge.Setelah beberapa minggu saya merayunya akhirnya dia pun jatuh pada rayuanku.. Waktu itu pertama kali di kamar kost tmnnya..Dgn begitu bersemangat saya oun mencium bibirnya kemudian lehernya dan kubuka dada nya yg besar..Lalu kujilati sampai terldengar suara dsahan kenikmatan..Setelah selesai saya pun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=321&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>waktu 3 bln yg lalu saya pcarandgn seorang wanita.Sebut saja namanya &#8220;A&#8221;..Dia orangnya putih,bersih,toge.Setelah beberapa minggu saya merayunya akhirnya dia pun jatuh pada rayuanku..<br />
Waktu itu pertama kali di kamar kost tmnnya..Dgn begitu bersemangat saya oun mencium bibirnya kemudian lehernya dan kubuka dada nya yg besar..Lalu kujilati sampai terldengar suara dsahan kenikmatan..Setelah selesai saya pun mulai membuka bagian bawah nya.Bagian vaginannya yg masih berwarna merah muda membuatku semakin bernafsu..Mulai aku meraba daerah mulut <span id="more-321"></span>vaginnanya..Desahahn kenikmatan itu kembali kudengar lagi dan kali ini lebih lagi membuaku bersemangat..Kujilati vagina yg masih merah itu dengan lidahku dandia berkata :&#8221;Ayo terus enak bgt&#8221;..Setelah mendengar itu aku langsung lebih giat lagi menjilatinya..<br />
Setelah selesai aku menjilati vaginannya,sekarang gilirannyameilati penisku yg sudah cukup basah..Dia membuka celanaku dan ia mulai mengocok penisku dengan penuh irama..Aku merasakan ia seperti professional padahal saat itu dia masih virgin..Lalu dia menjilati penisku dgn lidahnya dan bibirnya yg mungil..Semakin lama semakin nikmat kuasakan entah kenapa aku sudah merasakan geli di kepala penisku..tapi dapat kutahan..<br />
Setelah selesai, Mulai kumasukan penisku pada lubang vaginannya yg masih sempit..Pada awalnya ia takut dan menolak.tapi karena aku meraayunya kembali akhirnya dia pun tidak takut lg..<br />
Mulai kumasukan sedikit demi sedikit..Ia pun mulai berteriak kesakitan..Aku tak peduli aku terus memompakan dengan cepat..tak lama kemudian darah pun keluar dari dalam lubang vaginanya yg masih berwarna merah itu..Belum cukup rasanya aku melanjutkan kembali pekerjaan ku..terus menerus aku memompa penisku dengan beberapa style..Suaranya yg mendesah kesakitan dan kenikmatan itu membuatku tak tahan lagi..<br />
Lalu si A berkata..&#8221;aku udah mau keluar udah ga tahan&#8221;..Mendengar hal itu aku terus lebih cepat lagi memompannya dan keuarlah juga cairan putih bening bercampur dengan darah..Lalu kujilati daerah vaginanya lagi sampai bersih..<br />
Setelah selesai aku memasukkan lagi penisku..Taku lama kemudian aku pun mulai menegularkan sperma ku..<br />
Aku pun sudah mulai lemas karena sudah cukup lama aku menikmatinya..<br />
Tapi yg tak ku duga ia berkata: &#8220;Ayo lagiaku masih pengen&#8221;<br />
Mendengar itu aku yg semula sudah lemas tiba2 kuat kembali..mulai lagi kumasukan openisku dan terus memompannya dengan semangat..dan ia menjilati lagi penisku yg sudah keluar spermanya..<br />
Singkat cerita.. Akhirnya kami berduapun bisa keluar sampai 3x..</p>
<p>Itu pengalaman ku yg terbaik..hahahaha..</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ratubokep.wordpress.com/321/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ratubokep.wordpress.com/321/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/321/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=321&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/20/anak-sma-yg-cantik-virgin-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembantu Binal</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/20/pembantu-binal/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/20/pembantu-binal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 19:04:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bokep]]></category>
		<category><![CDATA[cerita dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.wordpress.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Bi Eha sudah cukup lama menjadi pembantu di rumah Tuan Hartono. Ini merupakan tahun ketiga ia bekerja di sana. Bi Eha merasa kerasan karena keluarga Tuan Hartono cukup baik memperlakukannya bahkan memberikan lebih dari apa yang diharapkan oleh seorang pembantu. Bi Eha sadar akan hal ini, terutama akan kebaikan Tuan Hartono, yang dianggapnya terlalu berlebihan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=315&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bi Eha sudah cukup lama menjadi pembantu di rumah Tuan Hartono. Ini merupakan tahun ketiga ia bekerja di sana. Bi Eha merasa kerasan karena keluarga Tuan Hartono cukup baik memperlakukannya bahkan memberikan lebih dari apa yang diharapkan oleh seorang pembantu. Bi Eha sadar akan hal ini, terutama akan kebaikan Tuan Hartono, yang dianggapnya terlalu berlebihan. Namun ia tak begitu memikirkannya. Sepanjang hidupnya terjamin, iapun dapat menabung kelebihannya untuk jaminan hari tua. Perkara kelakuan Tuan Hartono yang selalu minta dilayani jika kebetulan istrinya tak ada di rumah, itu adalah perkara lain. Ia tak memperdulikannya bahkan ikut menikmati pula.<span id="more-315"></span></p>
<p>Walaupun orang kampung, Bi Eha tergolong wanita yang menarik. Usianya tidak terlalu tua, sekitar 32 tahunan. Penampilannya tidak seperti perempuan desa. Ia pandai merawat tubuhnya sehingga nampak masih sintal dan menggairahkan. Bahkan Tuan Hartono sangat tergila-gila melihat kedua payudaranya yang montok dan kenyal. Kulitnya agak gelap namun terawat bersih dan halus. Soal wajah meski tidak tergolong cantik namun memiliki daya tarik tersendiri. Sensual! Begitu kata Tuan hartono saat pertama kali mereka bercinta di belakang dapur suatu ketika.</p>
<p>Dalam usianya yang tidak tergolong muda ini, Bi Eha ? janda yang sudah lama ditinggal suami ? masih memiliki gairah yang tinggi karena ternyata selain berselingkuh dengan majikannya, ia pernah bercinta pula dengan Kang Ujang, Satpam penjaga rumah. Perselingkuhannya dengan Kang Ujang berawal ketika ia lama ditinggalkan oleh Tuan Hartono yang sedang pergi ke luar negeri selama sebulan penuh. Selama itu pula Bi Eha merasa kesepian, tak ada lelaki yang mengisi kekosongannya. Apalagi di saat itu udara malam terasa begitu menusuk tulang. Tak tahan oleh gairahnya yang meletup-letup, ia nekat menggoda Satpam itu untuk diajak ke atas ranjangnya di kamar belakang.</p>
<p>Malam itu, Bi Eha kembali tak bisa tidur. Ia gelisah tak menentu. Bergulingan di atas ranjang. Tubuhnya menggigil saking tak tahannya menahan gelora gairah seksnya yang menggebu-gebu. Malam ini ia tak mungkin menantikan kehadiran Tuan Hartono dalam pelukannya karena istrinya ada di rumah. Perasaannya semakin gundah kala membayangkan saat itu Tuan Hartono tengah menggauli istrinya. Ia bayangkan istrinya itu pasti akan tersengal-sengal menghadapi gempuran Tuan Hartono yang memiliki ’senjata’ dahsyat. Bayangan batang kontol Tuan Hartono yang besar dan panjang itu serta keperkasaannya semakin membuat Bi Eha nelangsa menahan nafsu syahwatnya sendiri. Sebenarnya terpikir untuk memanggil Kang Ujang untuk menggantikannya namun ia tak berani selama majikannya ada di rumah. Kalau ketahuan hancur sudah akibatnya nasib mereka nantinya. Akhirnya Bi Eha hanya bisa mengeluh sendiri di ranjang sampai tak terasa gairahnya terbawa tidur.</p>
<p>Dalam mimpinya Bi Eha merasakan gerayangan lembut ke sekujur tubuhnya. Ia menggeliat penuh kenikmatan atas sentuhan jemari kekar milik Tuan Hartono. Menggerayang melucuti kancing baju tidurnya hingga terbuka lebar, mempertontonkan kedua buah dadanya yang mengkal padat berisi. Tanpa sadar Bi Eha mengigau sambil membusungkan dadanya.<br />
“Remas.. uugghh.. isep putingnya.. aduuhh enaknya..”</p>
<p>Kedua tangan Bi Eha memegang kepala itu dan membenamkannya ke dadanya. Tubuhnya menggeliat mengikuti jilatan di kedua putingnya. Bi Eha terengah-engah saking menikmati sedotan dan remasan di kedua payudaranya, sampai-sampai ia terbangun dari mimpinya.</p>
<p>Perlahan ia membuka kedua matanya sambil merasakan mimpinya masih terasa meski sudah terbangun. Setelah matanya terbuka, ia baru sadar bahwa ternyata ia tidak sedang mimpi. Ia menengok ke bawah dan ternyata ada seseorang tengah menggumuli bukit kembarnya dengan penuh nafsu. Ia mengira Tuan Hartono yang sedang mencumbuinya. Dalam hati ia bersorak kegirangan sekaligus heran atas keberanian majikannya ini meski sang istri ada di rumah. Apa tidak takut ketahuan. Tiba-tiba ia sendiri yang merasa ketakutan. Bagaimana kalau istrinya datang?</p>
<p>Bi Eha langsung bangkit dan mendorong tubuh yang menindihnya dan hendak mengingatkan Tuan Hartono akan situasi yang tidak memungkinkan ini. Namun belum sempat ucapan keluar, ia melihat ternyata orang itu bukan Tuan Hartono?! Yang lebih mengejutkannya lagi ternyata orang itu tidak lain adalah Andre, putra tunggal majikannya yang masih berumur 15 tahunan!?</p>
<p>“Den Andre?!” pekiknya sambil menahan suaranya.<br />
“Den ngapain di kamar Bibi?” tanyanya lagi kebingungan melihat wajah Andre yang merah padam.<br />
Mungkin karena birahi bercampur malu ketahuan kelakuan nakalnya.<br />
“Bi.. ngghh.. anu.. ma-maafin Andre..” katanya dengan suara memelas.<br />
Kepalanya tertunduk tak berani menatap wajah Bi Eha.<br />
“Tapi.. barusan nga.. ngapain?” tanyanya lagi karena tak pernah menyangka anak majikannya berani berbuat seperti itu padanya.<br />
“Andre.. ngghh.. tadinya mau minta tolong Bibi bikinin minuman..” katanya menjelaskan.<br />
“Tapi waktu liat Bibi lagi tidur sambil menggeliat-geliat.. ngghh.. Andre nggak tahan..” katanya kemudian.<br />
“Oohh.. Den Andre.. itu nggak boleh. Nanti kalau ketahuan Papa Mama gimana?” Tanya Bi Eha.<br />
“Andre tahu itu salah.. tapi.. ngghh..” jawab Andre ragu-ragu.<br />
“Tapi kenapa?” Tanya Bi Eha penasaran<br />
“Andre pengen kayak Kang Ujang..” jawabnya kemudian.</p>
<p>Kepala Bi Eha bagaikan disamber geledek mendengar ucapan Andre. Berarti dia tahu perbuatannya dengan Satpam itu, kata hatinya panik. Wah bagaimana ini?<br />
“Kenapa Den Andre pengen itu?” tanyanya kemudian dengan lembut.<br />
“Andre sering ngebayangin Bibi.. juga.. ngghh.. anu..”<br />
“Anu apa?” desak Bi Eha makin penasaran.<br />
“Andre suka ngintip.. Bibi lagi mandi,” akunya sambil melirik ke arah pakaian tidur Bi Eha yang sudah terbuka lebar.</p>
<p>Andre melenguh panjang menyaksikan bukit kembar montok yang menggantung tegak di dada pengasuhnya itu. Bi Eha dengan refleks merapikan bajunya untuk menutupi dadanya yang telanjang. Kurang ajar mata anak bau kencur ini, gerutu Bi Eha dalam hati. Nggak jauh beda dengan Bapaknya.<br />
“Boleh khan Bi?” kata Andre kemudian.<br />
“Boleh apa?” sentak Bi Eha mulai sewot.<br />
“Boleh itu.. ngghh.. anu.. kayak tadi..” pinta Andre tanpa rasa bersalah seraya mendekati kembali Bi Eha.<br />
“Den Andre jangan kurang ajar begitu sama perempuan..,” katanya seraya mundur menjauhi anak itu. “Nggak boleh!”<br />
“Kok Kang Ujang boleh? Nanti Andre bilangin lho..” kata Andre mengancam.<br />
“Eh jangan! Nggak boleh bilang ke siapa-siapa..” kata Bi Eha panik.<br />
“Kalau gitu boleh dong Andre?”</p>
<p>Kurang ajar bener anak ini, berani-beraninya mengancam, makinya dalam hati. Tapi bagaimana kalau ia bilang-bilang sama orang lain. Oh Jangan. Jangan sampai! Bi Eha berpikir keras bagaimana caranya agar anak ini dapat dikuasai agar tak cerita kepada yang lain. Bi Eha lalu tersenyum kepada Andre seraya meraih tangannya.<br />
“Den Andre mau pegang ini?” katanya kemudian sambil menaruh tangan Andre ke atas buah dadanya.<br />
“Iya.. ii-iiya..,” katanya sambil menyeringai gembira.</p>
<p>Andre meremas kedua bukit kembar milik Bi Eha dengan bebas dan sepuas-puasnya. “Gimana Den.. enak nggak?” Tanya Bi Eha sambil melirik wajah anak itu.<br />
“Tampan juga anak ini, walau masih ingusan tapi ia tetap seorang lelaki juga”, pikir Bi Eha.<br />
Bukankah tadi ia merindukan kehadiran seorang lelaki untuk memuaskan rasa dahaga yang demikian menggelegak? Mungkin saja anak ini tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, tetapi dari pada tidak sama sekali?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ratubokep.wordpress.com/315/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ratubokep.wordpress.com/315/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/315/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=315&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/20/pembantu-binal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenikmatan Mahasiswa</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/03/kenikmatan-mahasiswa/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/03/kenikmatan-mahasiswa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Aug 2008 19:01:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bokep]]></category>
		<category><![CDATA[cerita dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.wordpress.com/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[Setelah menikah aku kembali ke alma materku. Fakultasku memanggil aku kembali dan menawarkan pekerjaan sebagi dosen salah satu mata kuliah. Ketika masih mahasiswa, nilaiku untuk matakuliah tersebut selalu A. Akupun selalu mendapatkan nilai yan baik selama menjadi mahasiswa. GPA ku selalu diatas 3,5. Dosenku, ketika itu, yang memberi rekomendasi kepada fakultas untuk menawarkan pekerjaan sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=313&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah menikah aku kembali ke alma materku. Fakultasku memanggil aku kembali dan menawarkan pekerjaan sebagi dosen salah satu mata kuliah. Ketika masih mahasiswa, nilaiku untuk matakuliah tersebut selalu A. Akupun selalu mendapatkan nilai yan baik selama menjadi mahasiswa. GPA ku selalu diatas 3,5. Dosenku, ketika itu, yang memberi rekomendasi kepada fakultas untuk menawarkan pekerjaan sebagai dosen supaya fakultas bisa membuka kelas kedua untuk mata kuliah tersebut, sehingga ada pilihan bagi para mahasiswa, terutama mahasiswa yang statusnya sudah karyawan. Aku sangat senang mendapat tawaran tersebut. Dosen seniorku diawal memberi bimbingan mengenai bagaimana menyusun rencana kuliah untuk satu semester, bagaimana membuat materi yang akan diajarkan di kelas, bagaimana menggunakan kasus2 sebagai pelengkap kuliah. Aku dengan mudah mencerna bimbingan tersebut, dan aku memilih menggunakan kasus saja dalam membawakan kuliah. Mahasiswaku yang sebagian besar orang kantoran mendapat tugas membaca buku text dan memecahkan kasus berdasarkan bacaan yang ada di buku text. Di kelas aku hanya menjadi fasilitator diskusi sehingga para mahasiswa kuajak untuk menemukan sendiri insight apa yang menjadi pelajaran hari ini. Walaupun aku merupakan dosen baru, para mahasiswa menyukai pola diskusi kasus semacam ini, maklumlah mereka sudah bekerja sehingga lebih menyukai pendekatan kuliah yang praktis, walaupun menggunakan kasus.<span id="more-313"></span></p>
<p>Ada seorang mahasiswa yang menarik perhatianku, namanya Rudi. Dia telah bekerja selama 5 tahun dan ingin meneruskan kuliahnya yang terputus beberapa tahun yang lalu karena kesulitan biaya. Orangnya lebih tua dari aku beberapa tahun, ganteng dan badannya tegap, tipeku bangets. Kami cepat menjadi akrab, walaupun ngobrol dengan Rudi hanya kulakukan di kampus sebelum atau setelah jam pelajaranku usai. Memang kuliahku berlangsung sore hari, hari Jumat sampai Minggu. Jumat sore hari, Sabtu dan Minggu the whole day.</p>
<p>Bermula pada suatu siang ketika aku melakukan bimbingan suatu tugas akhir. Rudi menjadi salah satu mahasiswa yang menjadi bimbinganku. Karena memang waktunya untuk belajar yang terbatas, aku banyak membantunya dengan memberikan referensi atau fotocopy materi yang bisa dipakainya untuk mengerjakan tugas akhirnya. Hari Minggu itu setelah kuliah selesai, Rudi bertanya, &#8220;Bu Sintia, apakah saya boleh berkunjung ke rumah&#8221;. Aku menanyakan untuk apa, dia menjawab untuk mengenalku lebih jauh. Suamiku memang sedang tidak berada di rumah, sehingga aku ok kan saja permintaannya. Malamnya dia datang. Rumahku ada di sebuah kompleks perumahan yang sepi dan tenang. Suamiku memang seorang yang sangat workaholic, sehingga waktunya habis hanya untuk ngurusin bisnisnya saja, aku hampir tidak mendapat perhatian darinya, termasuk urusan ranjang. Makanya ketika Rudi minta ijin berkunjung, aku menjadi berdebar2. Aku jadi membayangkan apakah Rudi bisa memuaskan kebutuhan yang praktis tidak terpenuhi oleh suamiku. Napsuku menjkadi berkobar dengan sendirinya.</p>
<p>Malamnya Rudi datang. &#8220;Aku kira gak jadi dateng Rud&#8221;, sapaku. &#8220;Iya Sin, bolehkan aku manggil Sintia, kan gak di kampus&#8221;, jawabnya. &#8220;Oh boleh aja, biar lebih akrab kan. Kalo dikampus karena urusannya formal jadi kaku karena gak bisa langsung manggil nama&#8221;. &#8220;Oh, kamu mau akrab2an dengan aku ya, suami kamu dimana?&#8221; &#8220;Suamiku sibuk dengan kerjaannya, dia sering sekali keluar kota, bahkan keluar negeri untuk urusan bisnisnya&#8221;. &#8220;Asik dong, kamu kan bisa ikutan, suami kerja kamu shopping&#8221;. &#8220;Gak pernah tuh aku diajak&#8221;. &#8220;Kacian deh kamu, kesepian dong jadinya&#8221;. Kami ngobrol ngalor ngidul saja, suasana menjadi sangat akrab. &#8220;Rud, aku boleh minta tolong gak?&#8221; &#8220;Minta tolong apa, kalo aku bisa ya kenapa enggak&#8221;. &#8220;Slot lemari pakaian di kamarku rusak, bisa minta tolong diperbaiki?&#8221; &#8220;Aku liat dulu deh, gak apa nih aku masuk kamar kamu&#8221;. Kemudian aku mengajaknya naik ke lantai dua, ke kamarku. Kamarku wangi dengan penataan interior yang indah. Dia tersenyum ketika melihat sebagian isi lemari pakaianku. Lingerie ku didominasi warna hitam. Aku hanya tersenyum melihat dia &#8220;terkesan&#8221; menyaksikan tumpukan lingerie ku. Dengan serius diperbaikinya slot pintu lemari yang rusak. Aku keluar meninggalkannya sendirian di kamar. Napsuku berkobar sejak kedatangannya, pikiranku penuh dengan angan2 mereguk kenikmatan bersama Rudi. Sesaat kemudian pekerjaannya selesai. Saat itu aku masuk. Aku melap peluh di dahiku dengan lembut. AC di kamar memang dimatikan, sehingga udara gerah. &#8220;Panas Rud? Biar AC-nya kuhidupkan&#8221;, begitu kataku sambil menghidupkan AC. Rudi kaget juga dengan perlakuanku seperti itu. Saat kekagetannya belum hilang, aku kembali melap keringat di dahinya sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya. Bahkan kemudian aku mendekatkan bibirku ke bibirnya. Sesaat kemudian kusadari bibirnya dengan lembut telah melumat bibirku. Kedua tangannya dilingkarkan ke leherku.</p>
<p>Lalu dia pelan-pelan membuka satu persatu kancing blusku. Akupun dengan pelan-pelan pula membuka kancing kemejanya. Setelah kemejanya lepas, aku menarik resliting jeansnya. Begitu pula yang dia lakukan dnegan rokku, ditariknya resliting yang mengunci rokku. Kemudian ia melepaskan bibirnya dari bibirku dan membelalak menatap keindahan yang ada didepan matanya. Rokku sudah meluncur ke lantai meninggalkan bodiku dengan kulit putih, bersih dan segar, menyusul blusku yang sudah terlepas terlebih dahulu. Langsing, meskipun tidak terlalu tinggi. Kaki dan tanganku ditumbuhi bulu-bulu halus, cukup lebat, kontras dengan kulitku yang putih itu. Toketku yang besar terlihat kencang dibungkus bra hitam berenda. Dia melihat ke bawah, dia semakin dibuat terkesan. Di balik cd minim yang juga berwarna hitam berenda yang indah, tersembul bukit nonokku yang menggairahkan. Di tepi renda itu, tampak sebagian jembutku yang lebat yang menyembul.</p>
<p>Aku juga tersenyum menatap lonjoran tegang di balik cdnya. Kuelus dengan lembut lonjoran itu. Diapun membalasnya dengan mengelus bukit nonokku. Aku memejam sesaat dengan erangan yang pelan ketika dia menyentuh daging kecil di tengah bukit itu. Ia kemudian kembali melumat bibirku dengan lembut. Dilanjutkan dengan menyelusuri leherku dengan bibirnya. Napasnya membelai kulit leherku sehingga terasa geli namun nikmat. Kadang-kadang ia menggigit leherku namun rupanya ia tidak ingin meninggalkan bekas. Ia kemudian turun ke dadaku dan mempermainkan pentilku dengan mulutnya, yang membuat aliran darahku dialiri perasaan geli tapi nikmat.</p>
<p>Aku tidak dapat menahan diriku lagi. Aku menatap batang yang tersembunyi di balik cdnya, yang juga berwarna hitam. Aku mempermainkannya dari luar. Terasa besar, panjang dan keras sekali. Dengan tidak sabar aku kemudian menarik cdnya. Aku terbelalak ketika menyaksikan kontolnya yang tegak dan kencang, panjangnya hampir menyentuh pusarnya. Kugenggam, jari telunjukku gak bisa menyentuh ibu jariku saking besarnya. Kemudian aku mengulum kontolnya. Mulutku penuh dengan kontolnya, padahal hanya kepalanya yang masuk, kebayang kan gimana rasanya kalo kontol besar itu menyesaki nonokku, langsung saja nonokku banjir dengan lendir kenikmatanku. Napsuku sudah benar2 memuncak. Sambil mengulum kepalanya, aku mengocok2 batangnya yang keras sekali. Dia melenguh panjang pendek, menikmati apa yang aku lakukan pada kontolnya.</p>
<p>Rupanya diapun ingin meneruskan aksinya yang terputus karena aku menelanjanginya. Dia menarik kontolnya dari mulut lembutku. Gilirannya yang ingin membuat aku terbang ke awang awang. Dibukanya bra yang menutupi toketku. Dia pun kembali terbelalak memandangi toketku yang bediri dengan tegak. Di sekitar puncak toketku, di sekitar pentilku yang merah kecoklatan, tumbuh bulu-bulu halus. Tapi dia tidak memulainya dari situ. Dia hanya mengelus pentilku sebentar. Itupun sudah membuat aku mendesah2 keenakan. Dia mulai dari leherku. Kulit leherku yang halus licin seperti porselen dan wangi disusuri dengan bibirnya yang hangat. Aku mendesah terpatah-patah. Apalagi ketika dia mulai memijit lembut toketku dan kadang-kadang memelintir pelan pentilku yang merah kecoklat-coklatan. Kurasakan semakin lama pentilku itu pun semakin keras dan kencang. Setelah puas menyusuri leherku, dia turun ke dadaku. Dan segera dilahap nya pentilku yang menonjol merah coklat itu. Aku menjerit pelan. Disedotnya pentilku itu dengan lembut. Mulutnya kemudian berpindah ke toket satunya. Sementara itu dia meremas2 dengan gemas toket yang satunya. Puas dengan toketku dia menyusuri kulitku terus kebawah. Aku menjadi menggelinjang kegelian, terutama ketika dia menciumi puserku. Dia rupanya tidak ingin langsung menuju ke sasaran. Maka dari luar cdku, dia menjelajahi bukit nonokku dengan lidah, bibir dan kadang-kadang dengan jari-jemarinya. Disedotnya dengan nikmat bau khas yang keluar dari nonokku. Setelah cukup puas, baru ditariknya cdku pelan-pelan. Dia tersentak menyaksikan apa yang dilihatnya. Bukit nonokku ditumbuhi jembut yang lebat. &#8220;Sin, jembut kamu lebat sekali. Memang temen2 suka becanda ngomongin kamu, luar kota aja rame apalagi dalem kotanya. Bulu di tempat yang terbuka saja subur, apalagi bulu di tempat yang tersembunyi&#8221;. Aku diem saja mendengar gurauannya. Aku sedang menikmati apa yang sedang dia lakukan. Dia segera menenggelamkan diri di situ, di hutan jembutku. Lidahnya segera menyusuri jembutku dan kemudian melanjutkannya pada nonokku. Aku menjerit kecil ketika lidahnya menancap di nonokku. Dan jeritan kecil itu kemudian disusul jeritan dan erangan patah-patah yang terus menerus serta gerakan-gerakan serupa cacing kepanasan. Aku memang kepanasan oleh gairah yang membakarku. Jeritanku membuat dia makin bernapsu menguras lendir kenikmatan dinonokku. Kadang-kadang lidahnya ditancapkan di tonjolan kecil di atas nonokku. Di itilku. Makin santerlah erangan-erangan ku dan aku makin menggelinjang.</p>
<p>Aku sudah tidak bisa menahan napsuku lebih lama lagi. Aku melepaskan nonokku dari jilatannya. Aku menarik sebuah bangku rias kecil yang tadi menjadi ganjal kakiku untuk mengangkang. Dia kuminta duduk di bangku itu. Begitu dia duduk, aku kembali memagut kontolnya dengan mulutku secara lembut. Tapi itu tidak lama, karena aku kemudian memegang kontolnya dan membimbingnya masuk ke dalam nonokku dan aku duduk di atas pangkuannya. Begitu kontolnya amblas ke dalam nonokku, aku menjerit kecil saking nikmatnya. Terasa sekali kontolnya yang besar dan keras itu menyeruak menembus nonokku yang biasanya cuma dilewati kontol suamiku yang kecil, itupun jarang dilakukannya. Aku memegangi pundaknya dan menggerakkan pinggulku dengan gerakan serupa spiral. Naik turun dan memutar dengan pelan tapi bertenaga. Suara gesekan pemukaan kontolnya dengan selaput lendir nonokku menimbulkan suara kerenyit-kerenyit yang indah sehingga menimbukan sensasi tambahan ke otakku. Demikian juga dengan gesekan jembutnya yang lebat dengan jembutku yang juga lebat. Suara-suara erangan dan desahan napas yang terpatah-patah, suara gesekan kontol dan selaput lendir nonokku serta suara gesekan jembut kami berbaur dengan suara lagu mistis Sarah Brightman dari CD yang kuputar. Aku memang sengaja mengiringi permainan cinta kami dengan lagu-lagu seperti itu. Apalagi lampu di kamar juga remang-remang setelah aku tadi mematikan lampu yang terang. Dia tidak membiarkan toketku yang ikut bergerak sesuai dengan gerakan tubuhku. Mataku kadang yang terpejam kadang terbuka dan sorot mataku sayu karena rasa nikmat luar biasa yang sedang menggesek nonokku. Kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sampe akhirnya, &#8220;Ah.. Aku.. Aku nyampe, Rud!&#8221; Sesaat aku terdiam sambil menengadahkan wajahku ke atas, tapi mataku masih terpejam. Sebisa mungkin aku terus menggoyangkan pinggulku agar bisa merasakan kenikmatan yang maksimal. Selain meremas toketku, tangannya disusupkan di selangkanganku dan mencari itil di atas lubang nonokku, yang dipenuhi oleh kontolnya. Otot nonokku seakan mencengkeram dengan kuat otot kontolnya, tapi sejauh ini dia tidak merasakan tanda-tanda mau ngecret.</p>
<p>Tubuhku tetap naik turun perlahan-lahan, menelan seluruh kontolnya. Selanjutnya aku kembali bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak. Pinggulku bergerak turun naik. &#8220;Ouugghh.. Sin, luar biasa!&#8221; jeritnya merasakan hebatnya permainanku. Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Dia mencengkeram kedua toketku, diremas dan dipilin-pilin. Wajahnya dibenamkan ke dadaku. Menciumi pentilku. Dihisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan panasnya udara meski kamar menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk dengan pinggulku. Dia menggoyangkan pantatnya. Tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permainan kami semakin meningkat dahsyat. Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Tak selang beberapa detik kemudian, aku merasakan desakan seperti tadi. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku mulai mengejang, mengerang panjang. Tubuhku menghentak-hentak liar. Akhirnya, aku tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku. Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak berteriak, &#8220;Ah.. Ah.. Ini yang kedua.. Rud, aku nyampe.. Uhh!&#8221;</p>
<p>&#8220;Rud kamu kuat banget, aku udah dua kali nyampe kamu belum ngecret juga. Pindah ke ranjang yuk Rud&#8221;. Dia mengangkatku ke ranjang, tanpa melepaskan kontolnya yang masih menancap di lubang nonokku. Maka begitu aku telentang di ranjang, dia masih ada di atasku. Kontolnya pun masih masuk penuh di dalam nonokku. Kami melanjutkan permainan cinta yang lembut tapi panas itu. Kini dia berada di atas, maka dia lebih bebas bermanuver. &#8220;Pelan aja Rud, aku masih pengen ngerasain nyampe lagi&#8221;, kataku. Kini gerakannya pelan dan lembut memenuhi permintaanku. Erangan dan desahan patah-patahku kembali terdengar. Aku menarik punggungnya agar dia lebih dekat ke badanku. Dadanya bergesekan dengan toketku menambah kenikmatan yang sedang kurasakan. Dia melumat bibir merahku yang menganga, sehingga jeritanku agak bekurang karena kami sibuk saling melumat bibir. Aku melenguh merasakan desakan kontolnya yang besar itu. Aku sampai menahan nafas saat kontolnya terasa mentok di dalam, seluruh kontolnya amblas di dalam. Dia terus menggerakkan pinggulnya pelan2. Enjotan makin berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam nonokku membuat kontolnya keluar masuk dengan lancarnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama enjotannya. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakannya sudah tidak beraturan, enjotannya mencapai bagian-bagian peka di nonokku. Aku bagaikan berada di surga merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Kontolnya menjejali penuh seluruh nonokku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan kontolnya sangat terasa di seluruh dinding nonokku. Aku merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. Aku mengakui keperkasaan dan kelihaiannya di atas ranjang. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga ngentot dengannya. Dia bergerak semakin cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitiveku. Aku meregang tak kuasa menahan kenikmatan, sementara dia dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras. Melihat reaksiku, dia mempercepat gerakanku. Kontolnya yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya. Tubuhku sudah basah bermandikan keringat. Dia pun demikian. Aku meraih tubuhnya untuk kudekap. Kurengkuh seluruh tubuhnya sehingga dia menindih tubuhku dengan erat. Aku membenamkan wajahku disamping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara kedua tanganku menggapai pantatnya dan menekan kuat-kuat. Aku meregang. Tubuhku mengejang-ngejang. &#8220;Rud&#8230;&#8221;, hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya. Dia menciumi wajah dan bibirku. &#8220;Aku.. Ah.. Aku.. Uh.. Yang ketiga.. Aku nyampe lagi, Rud.. Ahh&#8221;. Setelah jeritan panjang itu, mataku terbuka. Aku berbisik terengah-engah. &#8220;Aku.. Aku.. Sudah cukup, Rud. Saatnya untuk kamu&#8221;.</p>
<p>Dia tahu yang aku maksudkan, kontolnya mulai lagi menggesek nonokku. Pinggulnya menghunjam-hunjam dengan cepat mengeluar masukkan kontolnya yang tegang. Aku memeluk punggungnya dengan kuat, kukuku terasa menembus kulitnya. Dia merintih dan memekik kesakitan. Beberapa kali dia sempat menggigit bibirku. Dia merasakan betapa nonokku yang hangat dan lembut itu menjepit sangat ketat kontolnya. Ketika ditarik keluar terasa daging nonokku seolah mencengkeram kuat kontolnya, sehingga terasa ikut keluar. &#8220;Sin, aku nggak tahan lagi nih aahhgghghh”, bisiknya. “Peju ku mau keluar&#8221;. &#8220;Keluarin didalem aja Rud, biar lebih nikmat&#8221;, jawabku. Dan akhirnya pejunya ngecret di nonokku. Kami pun berpelukan puas. Setelah itu, aku memintanya untuk tetap berada di atas tubuhku barang sesaat. Dengan lembut ia menciumi bibirku dan tangannya mengusap-usap pentilku. Sensasi yang kurasakan luar biasa.</p>
<p>Setelah cukup istirahat dia menarik kontolnya yang sebenarnya masih sedikit tegang dari lubang nonokku. Wajahku berkeringat dan anak rambutnya satu dua menempel di dahiku. Kami kemudian pergi ke kamar mandi. &#8220;Sin, kamu justru kelihatan cantik setelah ngentot&#8221;. Aku hanya tertawa.&#8221;Memang setelah ngentot denganmu tadi, seluruh pori-poriku seperti terbuka. Aku capai tapi merasa segar&#8221;, jawabku dengan berbinar-binar. Di bawah shower, kami membersihkan diri dengan mandi bersama-sama. Kadang-kadang kami saling membersihkan satu sama lain. Aku membersihkan kontolnya dengan sabun dan dia membersihkan sekitar nonokku juga. Aku tertawa geli saat dia dengan halus mengusap-usap nonokku yang berjembut lebat itu.</p>
<p>Setelah itu, kami duduk-duduk saja di sofa di depan TV, bertelanjang bulat. Kami menonton TV, sambil mengobrol dan menikmati kopi panas. &#8220;Kamu tadi luar biasa, Rud.&#8221; kataku memuji. &#8220;Aku sampai nyampe tiga kali kamu baru ngecret. Nikmat banget deh&#8221;. Ia hanya tersenyum. Kami mengobrol sampai malam. &#8220;Menginap di sini saja, Rud. Ini sudah malam. Besok pagi-pagi sekali kamu bisa pulang.&#8221; Setelah berpikir sejenak dia mengiyakan saranku. &#8220;Kalau begitu masukkan saja motormu di garasi&#8221; kataku sambil memberikan kunci garasi. Dia mengenakan pakaiannya, turun untuk memasukkan motor tigernya ke garasi seperti yang kusarankan. Ketika dia naik kembali ke atas, aku sudah menyiapkan kopi tambahan. &#8220;Kopinya tambah lagi, Rud?&#8221; tanyaku. Dia mengiyakan saja. Kami kembali mengobrol. Aku kemudian menatapnya lama, sambil bertanya, &#8220;Kau tidak capek, Rud?&#8221;. &#8220;Tidak&#8221;, jawabnya.</p>
<p>Sekali lagi aku menatapnya lama lalu tangannya merangkul leherku dan sesaat kemudian ia telah melumat bibirku kembali dengan lembut. Dia segera meraba toketku. Ia masih melumat bibirku saat tanganku pelan-pelan membuka kancing kemejanya dan kemudian melanjutkannya dengan menarik resliting celananya.Dia tinggal mengenakan cd. Kemudian dia menyambar toketku. Semakin lama, seiring dengan jeritan kecilku yang terpatah-patah, toketku semakin kenyal dan mengeras. Aku menarik cdnya. Sejenak kemudian aku telah mengulum kontolnya yang sejak tadi juga sudah tegang dan keras. Tapi yang kulakukannya tidak lama. Aku memintanya untuk tidur telentang di sofa. Lalu aku telungkup di atasnya membelakanginya. Nonokku yang sudah mulai basah berlendir dan kelihatan merah kudekatkan ke mulutnya. Aku segera menangkap kontolnya yang berdiri tegak dan mengulumnya. Maka kami bedua saling mengulum, saling menjilati dan saling menyedot. Kadang-kadang aku berhenti melakukan aksiku karena rasa nikmat yang luar biasa ketika lubang nonokku yang merah segar serta itilku dimainkan dengan mulut dan lidahnya. Akupun mendesah mengerang terpatah-patah.</p>
<p>Aku sudah ingin menuntaskan permainan kedua ini. Aku menggeser pinggulku dan menggeser menuju kontolnya yang semakin lama semakin keras. Aku menangkap kontolnya dan membimbingnya memasuki nonokku. Dengan masih membelakanginya, aku menggoyang pinggulku dengan lembut. Tapi sesaat kemudian, aku berbalik menghadapnya. Gerakanku saat aku berbalik menimbukan gesekan pada kontolnya yang luar biasa. Membuat sensasi yang semakin nikmat. Maka dengan menghadap dia aku melanjutkan gerakan spiral pinggulku. Naik turun, maju mundur dan memutar. Dia juga berusaha menggerakkan pinggulnya agar menimbulkan sensasi yang lebih nikmat. Maka semakin santerlah erangan dan desahan dari mulutku yang terbuka, sambil mataki terpejam. Suara-suara itu beriringan dengan lagu Deep Forest dari CD yang terus mengalun mistis. Tangannya yang semula memegangi pinggulku menggeser keatas mempermainkan toketku yang bergoyang-goyang mengikuti gerakan pinggulnya. Dielus dan dipelintirnya kedua pentilku yang coklat kemerahan. Sekian lama kemudian aku menjerit sambil meracau..&#8221;Uhh.. Uhh.. Aku nympe lagi, Rud.. Ah.. Ahh..&#8221;</p>
<p>Setelah aku menjerit panjang karena nyampe, aku menelungkup dengan beralaskan bantal sofa, dengan kedua kakiku mengangkang terbuka, sehingga belahan nonokku yang indah, merah dan basah berlendir tampak sangat menggairahkan. Aku memintanya juga untuk menelungkup di atasku. Dengan kedua tangannya yang memegangi kedua toketku sekaligus sebagai penahan berat badannya, dia menelungkup di atasku. Dan disodokkannya dengan lembut kontolnya yang masih tegang dan keras ke lubang nonokku dari arah belakang. Kini dia yang harus lebih aktif menggerakkan pinggulnya maju mundur, naik turun. Aku masih terus mengerang dan mendesah terpatah-patah dengan mata yang terpejam. Tangannya juga tetap aktif mempermainkan toket dan pentilku. Mulutnya menelusuri leherku yang jenjang dan halus. Dia juga merasa bahwa lahar panasnya akan meledak. &#8220;Uhh.. Ahh sebentar lagi.. Sebentar lagi hampir..!&#8221;, katanya terbata-bata. &#8220;Uhh.. Uhh.. Aku juga, Rud. Jangan kau cabut kontolmu. Kita sama-sama.. Ahh.. Ahh&#8221;. Sesaat kemudian kami sama-sama menjerit kecil, menandai puncak kenikmatan yang kami capai bersamaan. Seperti sebelumnya, aku memintanya untuk tidak segera mencabut kontolnya. Mataku masih terpejam menikmati, dia juga masih mempermainkan toketku dengan lembut. &#8220;Aku nikmat sekali malam ini, Rud. Kamu luar biasa, bisa membuatku terkapar saking nikmatnya&#8221;. Aku kemudian memintanya mencabut kontolnya dari lubang nonokku. Lalu aku telentang dan dia mencium bibirku dengan lembut. Ia seterusnya meneguk kopi yang sudah mulai dingin. Tampak bahwa ia kehausan setelah permainan seks yang indah itu. Dengan masih bertelanjang bulat, aku berjalan ke luar ruangan itu dan sesaat kemudian membawa sebuah lap dan semprotan air untuk membersihkan pejunya dan lendir nonokku yang tumpah di atas sofa. Dia membantu membersihkan noda itu. Setelah itu, ia menuntunku menuju kamar mandi untuk bersama-sama membersihkan diri. Karena kecapaian dan memang sudah cukup malam, kami kemudian memutuskan untuk tidur. Kami tidur dengan bertelanjang bulat, supaya tidak dingin suhu AC kuminimalkan saja. &#8220;Aku memang biasa begini, Rud. Rasanya lebih nyaman dan bebas bernapas&#8221;, kataku. Diranjang aku memeluknya dan menyandarkan wajahku di dadanya. Dia tersenyum saja saat toketku yang hangat dan lembut terasa bergesekan dengan dadanya.</p>
<p>Esoknya, pagi-pagi sekali HPnya sudah berbunyi. &#8220;Siapa, Rud? Pacarmu, ya?&#8221; tanyaku. Ia hanya tersenyum dan mengiyakan pertanyaanku. Kemudian aku bangkit dari ranjang. Kemudian ke kamar mandi, pipis. .Sesaat aku keluar dari kamar mandi dan berbisik kepadanya, &#8220;Kau tidak ingin mengulang kenikmatan semalam, Rud?&#8221; Dia tersenyum, &#8220;Sebentar, Sin..&#8221;, jawabnya sambil menuju ke kamar mandi, karena ingin kencing. Kami langsung berpagutan lagi, aku sangat bernapsu meladeni ciumannya. Dia mencium bibirku, kemudian lidahnya menjalar menuju ke toketku dan mengulum pentilku. Terus menuju keperut dan menjilati pusarku hingga aku menggelepar menerima rangsangan itu yang terasa nikmat. “Rud, enak sekali..” nafasku terengah2. Lumatan dilanjutkan pada itilku, dijilati, dikulum2, sehingga aku semakin terangsang hebat. Pantatku terangkat supaya lebih dekat lagi kemulutnya. Diapun memainkan lidahnya ke dalam nonokku yang sudah dibukanya sedikit dengan jari. Ketika responsku nampak sudah hampir mencapai puncak, dia menghentikannya. Dia ganti dengan posisi 69. Dia telentang dan minta aku telungkup diatas tubuhnya tapi kepalaku ke arah kontolnya. Dia minta aku untuk kembali menjilati kepala kontolnya lalu mengulum kontolnya keluar masuk mulutku dari atas. Sementara dia menjilati nonok dan itilku lagi dari bawah. Selang beberapa lama kami melakukan pemanasan maka dia berinisiatif untuk menancapkan kontolnya di nonokku. Aku ditelentangkannya, paha kukangkangkan, pantatku diganjal dengan bantal. “Buat apa Rud kok diganjel bantal segala”, tanyaku. “Biar masuknya dalem banget Sin, nanti kamu juga ngerasa enaknya”, jawabnya sambil menelungkup diatasku. Kontol digesek2kan di nonokku yang sudah banyak lendirnya lagi karena itilku dijilati barusan. “Ayo Rud cepat, aku sudah tidak tahan lagi”, pintaku dengan bernafsu. Dengan pelan tapi pasti dia memasukan kontolnya ke nonokku. Aku melenguh sambil merasakan kontolnya yang besar menerobos nonokku. Dia terus menekan2 kontolnya dengan pelan sehingga akhirnya masuk semua. Lalu dia tarik pelan-pelan juga dan dimasukkan lagi sampai mendalam, terasa kontolnya nancep dalem sekali. “Rud enjot yang cepat dong, aku udah mau nyampe ach.. Uch.. Enak Rud&#8221;, lenguhku. “Aku juga udah mau ngecret, Sin”, jawabnya. Dengan hitungan detik kami berdua nyampe bersama sambil merapatkan pelukan, terasa nonokku berkedutan meremes2 kontolnya. Lemas dan capai kami berbaring sebentar untuk memulihkan tenaga. Kemudian melakukan aktivitas rutin kembali untuk hari itu.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ratubokep.wordpress.com/313/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ratubokep.wordpress.com/313/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/313/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=313&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/03/kenikmatan-mahasiswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadiah Istimewa</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/01/hadiah-istimewa/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/01/hadiah-istimewa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Aug 2008 18:59:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bokep]]></category>
		<category><![CDATA[cerita dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[bokep]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.wordpress.com/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[Villa itu terletak di bagian tengah sebidang tanah perbukitan yang luasnya hampir 2 hektar. Dari jauh, villa itu terlihat asri karena dinding luarnya dihiasi dengan batu-batu pualam dan marmer serta beberapa ornamen kayu jati. Di bagian depan dan belakang, berbatasan dengan villa-villa di sekitarnya, tumbuh beberapa pohon pinus yang lebat. Tingginya mencapai 4 hingga 5 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=311&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Villa itu terletak di bagian tengah sebidang tanah perbukitan yang luasnya hampir 2 hektar. Dari jauh, villa itu terlihat asri karena dinding luarnya dihiasi dengan batu-batu pualam dan marmer serta beberapa ornamen kayu jati. Di bagian depan dan belakang, berbatasan dengan villa-villa di sekitarnya, tumbuh beberapa pohon pinus yang lebat. Tingginya mencapai 4 hingga 5 meter. Halaman di sekelilingnya terlihat hijau karena ditumbuhi oleh rumput yang terpangkas rapi. Beberapa batu alam berwarna abu-abu dan cokelat tua dengan berbagai bentuk dan ukuran tergeletak menghiasi halaman yang luas itu. Di pojok belakang sebelah barat terdapat sebuah rumah kecil yang dihuni oleh penjaga villa.<span id="more-311"></span></p>
<p>Bangunan villa itu tidak terlalu besar. Di lantai 1 hanya ada sebuah kamar tidur utama serta sebuah ruang keluarga dan dapur. Sedangkan di lantai 2 ada dua buah kamar tidur dan ruang kosong yang tembus hingga ke lantai 1. Tak banyak furniture yang melengkapi villa mungil dan mewah itu. Dan hampir semuanya terbuat dari kayu jati berukir. Berbagai bentuk ukiran terasa mendominasi isi villa. Termasuk bingkai cermin berukuran besar yang menempel pada dinding kamar tidur utama. Nuansa artistik terasa sangat menonjol di dalam dan luar villa.</p>
<p>Debby baru saja tiba di villa itu kira-kira 10 menit yang lalu. Setelah meletakkan tasnya di teras dan memberi beberapa instruksi kepada lelaki tua penjaga villa, ia segera melangkah ke kamar tidur depan di lantai 2. Ditanggalkannya celana jeans dan t-shirt yang dipakainya sejak dari Jakarta. Sambil berdiri di depan cermin, dikenakannya sebuah kimono. Sejenak, ia ragu melilitkan tali kimono itu di pinggangnya. Tapi akhirnya, sambil tersenyum, bra dan celana dalam mini yang dikenakannya pun ditanggalkan pula. Ia tersenyum ketika mengikat tali kimono itu. Senyum yang menyimpan sebuah rencana, dan sekaligus senyum untuk dirinya sendiri karena tak ada lagi yang tersembunyi di balik kimono itu.</p>
<p>Debby berdiri di balkon depan yang menghadap ke timur. Sejak kecil ia suka menghabiskan waktunya di balkon itu. Terutama bila sore hari, ia suka menatap embun tipis yang perlahan-lahan turun dari atas dan mulai bertebaran di halaman. Embun itu kadang-kadang sirna tertiup angin tetapi kadang-kadang angin bertiup mendorong segerombol embun yang sebagian di antaranya tersangkut di daun-daun pohon pinus. Kira-kira satu jam kemudian, ketika sore berubah menjadi senja, embun tipis berwarna putih itu mulai menyelimuti pucuk-pucuk pinus. Diam tak beranjak. Hanya beberapa gerombol di atas rumput yang terlihat masih bergerak tertiup angin. Dan ketika senja sirna, lampu-lampu taman yang bertebaran di halaman pun tak berdaya mengusir embun yang menyelimuti villa dan sekelilingnya.</p>
<p>Debby melirik jam tangannya. Hm, kurang lebih setengah jam lagi Theo akan tiba, katanya dalam hati. Setiap kali menyebut nama lelaki itu jantungnya terasa berdebar. Walau lelaki itu 15 tahun lebih tua dari usianya, tetapi ia merasa sangat nyaman bila berada di dekatnya. Lelaki yang selalu memanjakannya, yang berani membantah tetapi bila terus didesak akhirnya akan menuruti kemauannya. Ia tersenyum dikulum, &#8216;Theo memang selalu memperlakukanku seolah aku adalah satu-satunya benda berharga baginya&#8217; gumam gadis remaja itu. Kemudian ia teringat beberapa peristiwa &#8216;nakal&#8217; yang membuatnya merasa sangat dimanjakan.</p>
<p>Saat itu mereka sedang menikmati santap malam di sebuah restoran yang terkenal dengan sajian &#8216;rib roast&#8217;-nya. Mereka duduk berdampingan pada sebuah meja yang posisinya di sudut dan menghadap ke bagian tengah restoran. Sesekali mereka terpaksa berbisik untuk mengalahkan suara musik dan lagu-lagu merdu Frank Sinatra. Ketika ia menggigit rib yang terakhir, setetes kecap jatuh ke lututnya. Ia memang sengaja tidak menggunakan serbet untuk menutupi pahanya. Sejak merasakan nikmatnya lidah Theo saat menjilati paha dalam dan pangkal pahanya, ia selalu menggunakan rok mini yang bagian bawahnya lebar. Ia selalu ingin memperlihatkan sepasang pahanya yang mulus. Bila duduk, rok mini itu semakin tertarik sehingga hanya kira-kira 10 cm saja yang menutupi pahanya. Ia tidak khawatir akan &#8216;ditonton&#8217; tamu-tamu lainnya karena ada taplak meja yang menghalangi, taplak yang menjuntai hingga hampir menyentuh lantai.</p>
<p>&#8220;Theo, jangan dilap pakai tissue,&#8221; katanya ketika melihat Theo menjumput selembar tissue.<br />
&#8220;Jadi pakai apa, Sayang.&#8221;<br />
&#8220;Pakai lidah yang suka &#8216;mimik&#8217; pipis Debby!&#8221;, bisiknya manja.</p>
<p>Theo tertegun. Ditatapnya mata gadis belia itu seolah sedang mencari ketegasan atas kalimat yang baru saja didengarnya. Ia pun terkesima mendengar kata &#8216;mimik&#8217;. Kata yang lebih mesra sebagai pengganti kata &#8216;minum&#8217;. Selintas ia teringat ketika pertama kali mencumbui vagina gadis itu. Sangat sulit dilupakannya kehangatan yang mengalir dari bibir vagina gadis itu ketika menjepit lidahnya. Jepitan yang disertai denyutan-denyutan vagina yang hampir mencapai orgasmenya. Denyutan-denyutan yang membuat ia semakin rakus menghisap-hisap lendir di vagina itu. Dan tak lama kemudian, ia merasakan segumpal lendir orgasme mengalir membasahi kerongkongannya. Dan setelah menjilati bibir luar vagina gadis itu hingga bersih, ia mendengar gadis belia itu bertanya dengan polos, &#8220;Kok pipis Debby diminum?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kok bengong, Theo. Nggak mau ya?&#8221;<br />
&#8220;Kamu memang nakal dan kadang-kadang keterlaluan.&#8221;<br />
&#8220;Udah nggak sayang sama Debby, ya!&#8221;<br />
&#8220;Sayangnya tetap selangit. Tapi ini di restoran. Di tempat umum!&#8221;<br />
&#8220;Biarin!&#8221; kata gadis itu setengah merajuk.<br />
&#8220;Entar dilihat orang lain. Malu &#8216;kan kalau ketahuan.&#8221;<br />
&#8220;Biarin!&#8221;<br />
&#8220;Biarin?&#8221;<br />
&#8220;Paling juga mereka jadi iri. Yang laki-laki ingin jadi Theo, yang perempuan ingin jadi Debby!&#8221; jawab gadis itu sambil tertawa kecil. Tawa yang menggemaskan!</p>
<p>Sekilas, Theo memandang ke sekeliling ruangan. Tak ada tamu yang sedang memandang ke arah mereka. Pelayan-pelayan restoran pun terlihat sibuk melayani tamu-tamu. Dadanya berdebar-debar. Hatinya terpancing untuk mencoba. Lalu dengan cepat ia menunduk dan menjilat. Dan dengan cepat pula ia mengangkat kepalanya kembali. Jantungnya masih berdebar-debar ketika pandangannya menyapu sekeliling ruangan. Tak ada perubahan. Tak ada seorang pun yang memandangnya!</p>
<p>Debby tertawa kecil. Dicubitnya pinggang guru matematikanya itu dengan manja. Sejenak mereka saling tatap, kemudian serentak tertawa renyah. Tak lama kemudian, gadis belia itu sengaja mengerak-gerakkan kakinya. Sesekali sebelah kakinya agak diangkat hingga roknya yang mini semakin tersingkap. Ia semakin bersemangat menggerak-gerakkan kakinya ketika memergoki Theo tertegun menatap keindahan pahanya. Gerakannya baru berhenti setelah ujung roknya tersangkut di pangkal paha. Ia merasa yakin bahwa G-string yang dipakainya telah terlihat mengintip dari pangkal pahanya.</p>
<p>&#8220;Kelihatan nggak?&#8221;<br />
&#8220;Sedikit!&#8221;<br />
&#8220;Warna apa?&#8221;<br />
&#8220;Pink!&#8221;<br />
&#8220;Suka?&#8221;<br />
&#8220;Suka banget!&#8221;<br />
&#8220;Cium dong!&#8221;<br />
&#8220;Ha?! Di sini?&#8221;<br />
&#8220;Hmm!!&#8221;</p>
<p>Jantung Theo kembali berdebar-debar. Tantangan, katanya dalam hati. Tantangan dari seorang gadis belia yang cantik, seksi, masih perawan, dan sekaligus nakal! Itulah salah satu sebab yang membuat ia selalu ingin memanjakan gadis itu. Ide-idenya yang nakal kadang-kadang menciptakan sensasi. Menciptakan gairah untuk menaklukkan tantangan yang disodorkannya. Ia memang belum pernah melakukan hal itu. Dan ia pun yakin bahwa gadis itu -dalam keramaian publik- belum pernah mendapat ciuman di pangkal pahanya. Ia menarik nafas panjang dan berusaha menenteramkan debar-debar jantungnya. Sekilas, ia kembali memandang tamu-tamu di sekelilingnya. Setelah yakin tak ada yang memperhatikan, ia menunduk dan mengecup G-string dari sutera itu. Kecupan yang persis di belahan bibir vagina!</p>
<p>Debby menggelinjangkan pinggulnya. Ia hampir memekik. Tapi karena jari-jari tangannya segera menutupi mulutnya, pekikan itu hanya terdengar lemah. Suara pekikan itu tersangkut di lehernya.</p>
<p>&#8220;Suka?&#8221; tanya Theo sambil mengangkat kepalanya.<br />
&#8220;Suka banget! Nikmat dan mendebarkan!&#8221;<br />
&#8220;Mau lagi?&#8221;<br />
&#8220;Entar ketahuan.&#8221;<br />
&#8220;Biarin!&#8221; jawab Theo sambil tersenyum.<br />
&#8220;Benar?&#8221;<br />
&#8220;Hmm!&#8221;<br />
&#8220;Tapi mata Theo harus tertutup. Dan setelah dikecup, dijilat ya,&#8221; bisik gadis itu. Theo terdiam sejenak, lalu bertanya..<br />
&#8220;Kok harus menutup mata?&#8221;<br />
&#8220;Tentu ada alasannya.&#8221;<br />
&#8220;Kalau hanya mengecup dan menjilat, aku pasti mau.&#8221;<br />
&#8220;Kalau matanya nggak tertutup, Debby yang nggak mau!&#8221; kata gadis itu merajuk manja. Theo terdiam kembali. Tapi tak lama kemudian ia menjawab..<br />
&#8220;OK,&#8221; katanya sambil mengangguk. Gadis itu tersenyum manis.<br />
&#8220;Lihat ke Debby dan tutup matanya. Biar Debby yang mengawasi mereka,&#8221; katanya sambil menolehkan kepalanya ke arah tamu-tamu di restoran itu.<br />
&#8220;Nanti kalau Debby bilang &#8216;cium&#8217; baru menunduk ya.&#8221; sambungnya sambil membuka kedua lututnya lebih lebar. Lutut sebelah kirinya agak diangkat agar pangkal pahanya cukup terbuka untuk menampung sebuah kepala.<br />
&#8220;OK.&#8221; jawab Theo sambil memejamkan matanya. Tak lama kemudian, ia mendengar bisikan di telinganya..<br />
&#8220;Sekarang cium, Theo!&#8221;</p>
<p>Dengan cepat Theo menunduk. Ia merasakan jari-jari tangan gadis itu menekan bagian belakang kepalanya, menuntun agar bibirnya mendarat di tempat yang tepat. Dan.., sejenak ia terkesima setelah bibirnya mendarat di pangkal paha gadis itu. Aroma yang sudah sangat dikenalnya tiba-tiba terasa langsung menyergap lubang hidungnya. Tapi karena khawatir bila harus menunduk terlalu lama di balik meja, ia segera mencium pangkal paha gadis itu. Ia sangat terkejut karena bibirnya bersentuhan langsung dengan bibir vagina yang lembut. Vagina yang hangat dan sedikit lembab.</p>
<p>Secara bergantian, dengan cepat, dikulumnya kedua bibir luar vagina itu. Lalu dijulurkannya lidah untuk menjilat celah sempit di antara ke dua bibir itu. Lidahnya segera tenggelam dalam kehangatan yang licin. Jilatannya tajam seperti mata pisau yang mengiris mentega. Dan.., seolah ada alarm berbunyi di telinganya ketika ia merasakan tarikan rambut di bagian belakang kepalanya. Ia segera mengangkat wajahnya sambil membuka mata. Sebelum kepalanya benar-benar tegak, ia masih sempat melihat jari telunjuk gadis itu melepaskan tarikan tepi G-stringnya agar vaginanya tertutup kembali.</p>
<p>Sejenak mereka saling tatap. Di bola mata mereka tersirat binar-binar birahi. Dan sambil tertawa kecil, keduanya berangkulan dengan mesra!</p>
<p>*****</p>
<p>Debby masih berdiri di balkon. Tatapannya menerawang jauh dan terbentur pada lampu-lampu villa-villa di sekitar villanya. Ia menarik nafas panjang. Udara segar yang bertiup di sekitar Puncak Pass terasa sejuk memenuhi rongga dadanya. Hembusan udara mulai terasa dingin di kulitnya. Tapi ia menyukai dinginnya udara itu, terutama ketika berhembus menerpa bagian bawah pusarnya. Pangkal pahanya terasa sejuk. Dinginnya udara meredakan letupan-letupan gairah yang sempat memanas ketika ia teringat pada ciuman dan jilatan Theo di restoran rib roast itu.</p>
<p>Debby kembali melihat jam tangannya. Tak lama lagi Theo akan tiba, katanya dalam hati. Semakin dekat waktu yang telah mereka sepakati, semakin gelisah ia menunggu. Ia merasa lebih gelisah daripada biasanya karena ia sudah memutuskan bahwa malam itu ia akan mengucapkan &#8220;selamat tinggal masa remaja!&#8221; Dan itu akan ia ucapkan tepat ketika ia berusia 17 tahun. Usia untuk menjadi seorang wanita! Masih terbayang dalam ingatannya raut wajah Theo yang terlihat bingung ketika menerima denah jalan menuju villa. Raut wajah itu semakin bingung ketika ia mengatakan, &#8220;Nanti malam, di villa, Debby akan memberikan sebuah hadiah yang sangat istimewa.&#8221;<br />
anjir182 is online now<br />
Reply With Quote<br />
Sponsored links<br />
Your Ad Here<br />
anjir182<br />
View Public Profile<br />
Send a private message to anjir182<br />
Find More Posts by anjir182<br />
Old 08-04-2008, 06:18 PM 	  #2<br />
anjir182</p>
<p>Join Date: Jun 2008<br />
Location: Planet Keron<br />
Posts: 552<br />
Thanks: 4<br />
Thanked 76 Times in 29 Posts<br />
anjir182 is on a distinguished road</p>
<p>Default<br />
Sebenarnya ia telah membuat keputusan itu beberapa hari yang lalu. Bahkan ingin memberikannya pada saat itu juga. Tapi karena hari ulang tahunnya yang ke-17 tinggal beberapa hari lagi, ia memutuskan untuk menundanya. Ia tahu bahwa Theo akan merasa sangat berbahagia menerima hadiah itu. Ia sadar bahwa lelaki yang selalu memanjakannya itulah orang yang paling tepat dan berhak untuk mendapatkan hadiah itu. Lelaki yang dengan kedua bibirnya dapat membuatnya menderita dalam rintihan nikmat. Lelaki yang telah memberikan arti nikmatnya sebuah cumbuan di pangkal pahanya. Lelaki yang lidahnya menari-nari pertama kali di vaginanya kira-kira sebulan yang lalu, yang kemudian secara rutin seminggu dua kali selalu &#8216;mimik&#8217; pipis enak dari pangkal pahanya. Lelaki yang selama sebulan telah bersabar mencumbu dan dicumbu hanya dengan bibir dan lidah.</p>
<p>&#8216;Theo memang lelaki yang sabar dan penuh perhatian&#8217;, gumamnya ketika teringat pada cendawan di ujung batang kemaluan Theo. Seolah masih terasa lembutnya cendawan itu menyusup ke dalam rongga mulutnya. Cendawan yang terasa mengalirkan kehangatan ketika menyentuh kerongkongannya, yang membuat ia tersendat dalam nikmat, yang membuat rasa dahaganya sirna setelah mendapatkan &#8216;mimik&#8217; pipis enak dari batang kemaluan itu, dan yang membuatnya terpejam ketika segumpal lendir panas tiba-tiba &#8216;menembak&#8217; kerongkongannya.</p>
<p>*****</p>
<p>Gadis remaja itu tersenyum manis ketika melihat cahaya lampu mobil yang mendekati villanya. Tergopoh-gopoh ia menuruni tangga ke lantai 1 dan setengah berlari menuju halaman. Langkahnya yang cepat membuat pahanya yang berwarna kuning gading sesekali menyembul dari belahan kimono yang pakainya. Segera dipeluknya pinggang lelaki itu. Pelukannya yang sangat ketat seolah menunjukkan kerinduan yang mendalam. Padahal mereka baru berpisah beberapa jam yang lalu.</p>
<p>Theo menggamit dagu gadis remaja itu, membuat wajahnya yang cantik menengadah. Lalu ia menunduk dan menggosok-gosokkan hidungnya ke ujung hidung gadis itu. Dalam keremangan cahaya lampu neon di teras, bibirnya memagut bibir gadis itu. Dikulumnya bibir mungil itu dengan penuh perasaan. Ia ingin menunjukkan rasa cintanya yang dalam. Dan ketika lidah gadis itu menjulur, lidah itu segera dipilinnya dengan lidahnya sambil dihisapnya dengan lembut.</p>
<p>&#8220;Kangen nggak?&#8221;<br />
&#8220;Kangen banget, Sayang!&#8221; jawab Theo sambil mengecup leher jenjang gadis itu.<br />
&#8220;Geli, Theo!&#8221;<br />
&#8220;Oh ya. Kalau yang ini..?&#8221; tanya Theo sebelum mengecup dan menjentikkan ujung lidahnya persis di bawah dagu.<br />
&#8220;Enak..!&#8221;</p>
<p>Jawaban itu membuat Theo lebih bersemangat menciumi leher gadis itu. Sesekali lidahnya menjulur menjilat hingga membuat gadis itu beberapa kali mendongakkan kepalanya. Lalu ia merasakan kedua belah lengan yang merangkul pinggangnya berpindah ke lehernya, membuat buah dada gadis itu menempel ketat ke dadanya. Karena senang dan gemas, kedua telapak tangannya segera meremas bongkah pantat gadis itu. Bongkah pantat itu terasa kenyal karena belum sepenuhnya mengembang. Diremasnya berulang kali. Bahkan sambil meremas, bongkah pantat itu agak ditariknya ke atas agar ia tak perlu terlalu menunduk ketika menciumi leher.</p>
<p>Debby menyukai tarikan di bongkah pantatnya walau hal menyebabkan ia harus berjinjit. Tak lama kemudian, karena jari-jari kakinya mulai terasa kelu, ia menggantung di leher agar dapat melingkarkan kedua belah kakinya di pinggang lelaki itu. Tumitnya terpaksa menekan pinggul Theo ketika ia merasakan ciuman-ciuman basah merayap menuju buah dadanya. Ciuman yang membuat ia beberapa kali melengkungkan punggungnya ke belakang, memberi ruang yang lebih luas kepada lelaki itu untuk menciumi buah dadanya. Beberapa menit kemudian, tumitnya menekan lebih keras karena ia ingin mengangkat badannya lebih tinggi agar ciuman-ciuman itu segera mendarat di buah dadanya.</p>
<p>Theo menarik bongkah pantat gadis itu lebih tinggi setelah menyadari bahwa di balik kimono itu tidak ada bra yang menghalangi. Walau kimono itu belum sepenuhnya terbuka, bibirnya sudah tidak sabar untuk segera mengecup celah di antara kedua buah dada yang baru mekar itu. Lidahnya pun mulai merayap dari lekukan bawah hingga ke putingnya yang kecil. Semakin lama lidah itu bergerak semakin cepat. Menjilati bergantian. Buah dada kiri dan kanan. Dan ketika merasakan air liurnya telah membasahi kedua buah dada itu, ia segera mengulum putingnya yang kemerahan.</p>
<p>&#8220;Ooh..! Ooh.., Theo! Aarrgghh..!&#8221; desah Debby ketika merasakan puting dadanya digigit dengan lembut. Dan ketika bibir lelaki itu berpindah ke buah dada sebelahnya, lalu mengulum dan menjentik-jentikkan ujung lidah di putiknya, ia mengerang..<br />
&#8220;Theoo..! Aargh.., enak!!&#8221; Tapi beberapa detik kemudian, ia mendorong kepala lelaki itu.<br />
&#8220;Gendong ke atas dong, Theo,&#8221; katanya sambil menunjuk ke arah balkon.</p>
<p>Debby tahu bahwa setelah menciumi buah dadanya, guru matematikanya yang tampan itu akan menciumi betis, lalu paha, dan pangkal pahanya. Dari beberapa cumbuan oral yang mereka lakukan sejak sebulan yang lalu, ia pun tahu bahwa kedua betisnya akan mendapat ciuman-ciuman basah bila cumbuan itu dilakukan di atas tempat tidur. Tapi kali ini ia menginginkan cumbuan yang agak berbeda. Sesuatu yang berbeda akan menciptakan sensasi yang berbeda pula, yang akan membuat tubuhnya menderita dalam kenikmatan berkepanjangan. Ia menginginkan ciuman dan jilatan basah merayap dari kedua betis hingga ke bibir vaginanya dilakukan ketika ia sedang berdiri di balkon villa! Walaupun sesungguhnya ia tak dapat memastikan apakah hangatnya jilatan-jilatan rakus di vaginanya akan mampu melawan dinginnya embun dan tiupan angin malam yang menerpa tubuhnya.<br />
anjir182 is online now<br />
Reply With Quote<br />
anjir182<br />
View Public Profile<br />
Send a private message to anjir182<br />
Find More Posts by anjir182<br />
Old 08-04-2008, 06:19 PM 	  #3<br />
anjir182</p>
<p>Join Date: Jun 2008<br />
Location: Planet Keron<br />
Posts: 552<br />
Thanks: 4<br />
Thanked 76 Times in 29 Posts<br />
anjir182 is on a distinguished road</p>
<p>Default<br />
Ia merinding membayangkan kenikmatan akibat sensasi yang luar biasa itu. Merinding karena ia ingin mengalami orgasme dalam terpaan embun putih dan dinginnya angin malam! Suasana seperti itulah yang diinginkannya. Di satu sisi ia ingin merasakan dinginnya tiupan angin malam di sekujur tubuh, dan di sisi lain ia ingin merasakan hangatnya lidah yang terselip di bibir vaginanya. Sensasi yang luar biasa itu akan membuat tubuhnya kejang pada saat segumpal lendir orgasmenya akan langsung dihisap oleh lelaki yang dicintainya itu dengan rakus. Lendir orgasme yang tumpah ketika ia berdiri menggigil kedinginan dalam selimut embun malam!</p>
<p>Gadis itu merasa melayang ketika Theo menggendongnya menuju balkon. Vaginanya mulai terasa basah ketika lelaki itu menurunkan tubuhnya dengan hati-hati. Karena tali kimono yang melilit pinggangnya sudah kendur, angin malam yang dingin terasa langsung menerpa bagian depan tubuhnya. Ia mulai menggigil.</p>
<p>&#8220;Di sini?&#8221;<br />
&#8220;Hmm!&#8221;</p>
<p>Debby menyandarkan punggungnya ke kusen pintu, lalu memandang ke sekelilingnya. Putih berkabut. Ia menoleh ke arah rumah penjaga villa di sudut barat, juga putih berkabut. Walaupun lampu neon di balkon tidak dimatikan, ia merasa yakin tidak ada orang yang dapat melihat mereka. Sambil tersenyum, diangkatnya kaki kirinya lalu meletakkan telapak kakinya di sandaran lengan kursi di sebelahnya. Bagian tengah kimononya, dari pinggang ke bawah menjadi terbelah dua.</p>
<p>&#8220;Di sini, Theo. Puaskan Debby di sini! Sepuas-puasnya, Sayang. Debby ingin malam ini menjadi malam yang tak terlupakan. Debby ingin pipis enak di sini. &#8216;Mimik&#8217; ya Sayang. Kalau udah puas &#8216;mimik&#8217;, baru kita pindah ke dalam. Debby akan beri hadiah istimewa untuk Theo di kamar!&#8221;</p>
<p>Theo tertegun. Posisi gadis belia yang disayanginya itu sangat menantang, membuat ia tak mampu menjawab. Matanya nanar menatap keindahan kaki yang keluar dari belahan tengah kimono, yang lututnya tertekuk karena telapaknya menginjak lengan kursi. Mulutnya setengah terbuka ketika matanya menatap pangkal paha gadis itu. Terkesima. Ia baru menyadari bahwa tak ada celana dalam mini atau G-string yang menutupi pangkal paha itu. Dalam keremangan, masih dapat dilihatnya bulu-bulu ikal halus dan tipis di bagian atas vagina yang segar itu.</p>
<p>&#8220;Mau &#8216;kan, Theo?&#8221;<br />
&#8220;Akan kuturuti apa pun yang Debby inginkan,&#8221; kata Theo sambil berlutut di hadapan gadis itu.</p>
<p>Dengan posisi berlutut, betis indah itu berada persis di sebelah pipi Theo. Dan dengan lembut diusap-usapkannya telapak tangannya ke betis itu. Semenit kemudian, dibelai-belainya betis itu dengan pipinya. Ia ingin merasakan kehalusan pori-pori betis itu di pipinya! Lalu ia mengecupnya. Mula-mula ia mengecup bagian bawah, tetapi semakin lama semakin naik ke arah belakang lutut. Mula-mula kecupannya kering, tetapi semakin mendekati belakang lutut, kecupannya semakin basah. Ketika bibirnya telah terselip di belakang lutut yang tertekuk itu, ia mengecup sambil mempermainkan ujung lidahnya.</p>
<p>&#8220;Geli, Theo!&#8221; kata gadis ketika ia merasakan kumis Theo menggelitik belakang lututnya.</p>
<p>Kedua belah tangannya mendekap dada untuk mengurangi dinginnya terpaan angin sekaligus untuk menahan agar belahan tengah kimononya tetap tertutup. Sebaliknya, ia mulai merasakan kehangatan di pangkal pahanya.</p>
<p>Theo memindahkan kecupannya ke betis yang sebelah lagi. Betis itu terasa lebih kenyal karena berat badan Debby bertumpu pada sebelah kaki. Dengan sabar, Theo mengecup kembali. Mengulangnya berulangkali. Dan kemudian mulai menjilat ke arah bawah. Sesekali ia mengecup dengan gemas, setengah menggigit.</p>
<p>Debby menunduk dengan mata terbuka lebar. Ia merasa senang dan tersanjung menatap guru matematikanya itu berlutut di antara kedua belah kakinya. Jantungnya berdebar-debar melihat lelaki yang sabar itu harus membungkuk agar dapat mengecup betisnya. Ia merasa senang dan tersanjung. Perasaan itu seolah membongkah dan memberi kehangatan di rongga dadanya. Membuat dirinya seolah melambung tinggi ke dalam dinginnya embun malam. Ia pun sangat menikmati hembusan nafas yang terasa hangat di betisnya. Setiap kali lelaki itu mengecup, seolah tersisa kehangatan di bekas kecupannya.</p>
<p>Theo mulai menciumi lutut bagian dalam. Sambil mencium, matanya menatap bibir vagina gadis itu. Walau terlihat samar, tetapi cahaya lampu neon di langit-langit balkon membuat bibir vagina tampak mengkilap. Pasti sudah ada sedikit cairan lendir yang terselip di antara bibir itu, katanya dalam hati. Lalu dengan cepat diterkamnya vagina yang segar itu. Lidahnya segera membelah, dan bibirnya segera mengisap. Setelah itu, dengan cepat pula ia menarik kepalanya menjauhi vagina itu. Hanya sedikit cairan lendir yang terhisap.</p>
<p>Debby memekik karena terkejut. Ia tak menduga Theo akan &#8216;menerkam&#8217; vaginanya secepat itu. Walau hanya sekejap, dalam keterkejutannya, terkaman itu ternyata mampu mengalirkan kehangatan di sekujur tubuhnya. Mungkin karena terkejut, sekejap ia lupa pada dinginnya terpaan angin malam.</p>
<p>&#8220;Theo jahat! Nggak sabar ya?&#8221;<br />
&#8220;Ingat, tak ada setetes pun yang terbuang!&#8221;<br />
&#8220;Paha dulu!&#8221; kata gadis itu sambil mendorong kepala Theo ke arah pahanya.</p>
<p>Theo menatap keindahan paha yang terpampang di depannya. Paha itu terbuka lebar dan karena telapaknya terletak di atas sandaran lengan kursi, dengan mudah ia menciumi dan sesekali menjilatnya karena paha itu persis setinggi kepalanya. Kulit paha itu terasa dingin di bibirnya. Lalu diusapkannya wajahnya beberapa kali ke permukaan paha dalam yang mulus itu. Ia suka merasakan kemulusan paha itu di wajah dan pipinya. Semakin sering mengusap-usapkan wajah dan menciuminya, kulit paha itu terasa semakin hangat. Kedua belah telapak tangannya pun giat bergerak menyalurkan kehangatan. Tangan kirinya mengusap-usap paha kanan bagian luar, sedangkan telapak kanannya digunakan untuk mengusap-usap betis kiri gadis itu.<br />
anjir182 is online now<br />
Reply With Quote<br />
anjir182<br />
View Public Profile<br />
Send a private message to anjir182<br />
Find More Posts by anjir182<br />
Old 08-04-2008, 06:19 PM 	  #4<br />
anjir182</p>
<p>Join Date: Jun 2008<br />
Location: Planet Keron<br />
Posts: 552<br />
Thanks: 4<br />
Thanked 76 Times in 29 Posts<br />
anjir182 is on a distinguished road</p>
<p>Default<br />
Debby sangat menyukai usapan-usapan telapak tangan Theo. Usapan-sapan itu mengurangi dinginnya terpaan angin malam. Bahkan kehangatan pun mulai terasa menjalar di bagian bawah perutnya ketika ia merasakan lidah Theo merayap mendekati lipatan antara paha dalam dan vaginanya. Ia merintih ketika bibir lelaki yang suka &#8216;mimik&#8217; pipisnya itu menariki bulu-bulu halus di sekitar bibir vaginanya. Bulu-bulu itu masih terlalu pendek, masih sepanjang bulu alis mata sehingga bibir itu selalu gagal menariknya. Hal itu malah membuat vaginanya semakin basah. Setelah mengencangkan lilitan kimono agar belahan di bagian dadanya tidak terbuka, kedua lengannya segera jatuh di atas kepala lelaki itu. Ia menginginkan lidah hangat itu membelah bibir vaginanya.</p>
<p>&#8220;Theo, mimik dulu dong lendirnya,&#8221; kata gadis itu sambil membuka bibir vaginanya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Sejenak, Theo menghentikan ciuman-ciumannya. Ia menengadah sambil tersenyum, tak lama kemudian, ia kembali menciumi paha kiri gadis itu. Sengaja tidak diturutinya keinginan gadis itu.<br />
&#8220;Theo, jahat!&#8221; kata gadis itu sambil menarik kepala Theo ke arah pangkal pahanya. Kedua tangannya menahan agar kepala itu tetap berada di pangkal pahanya. Dan ketika ia merasakan kehangatan lidah menyusup ke dalam vaginanya, ia merintih..<br />
&#8220;Ooh, ooh.., enak Theo! Aarrgghh..!&#8221;</p>
<p>Tarikan nafasnya pun mulai tak teratur ketika lidah itu menjilati dinding dan bibir dalam vaginanya. Ia mendorong pinggulnya agar lidah itu masuk semakin dalam. Ia mulai lupa dan tak merasakan dinginnya angin malam. Biasanya, keadaan seperti itu membuat pori-pori di sekujur tubuhnya terbuka. Berkeringat. Tapi saat ini, tak ada setetes pun keringat di kulitnya. Pori-porinya tetap tertutup. Kenikmatan dan kehangatan nafas yang mendengus-dengus di vaginanya hanya mampu memberi kehangatan tetapi tak mampu membuatnya berkeringat. Dan ia menyukai hal itu! Sebuah sensasi yang membuat vaginanya semakin basah berlendir. Apalagi ketika merasakan lelaki itu mengisap lendir yang terselip di bibir dalam baginanya, ia merintih berulang kali..</p>
<p>&#8220;Argh..! Argh..! Theo, Oh nikmatnya, sstt, sstt.., aarrgghh..!&#8221; Ia menjadi lupa pada paha kirinya yang belum cukup banyak mendapat cumbuan.</p>
<p>Malam itu Theo merasakan sebuah perbedaan. Aroma segar kemaluan gadis itu tidak setajam biasanya. Mungkin karena aroma itu langsung tertiup angin malam. Karena rindu akan aroma itu, Theo menekan hidungnya ke celah sempit di antara bibir vagina gadis itu. Ditekannya sedalam-dalamnya sambil menghirup aroma yang sangat dirindukannya itu.</p>
<p>Debby terkejut merasakan hidung lelaki itu tiba-tiba menusuk lubang vaginanya. Ia menggelinjangkan pinggulnya. Menggelinjang dalam kenikmatan. Geli dan nikmat tiba-tiba terasa menusuk hingga ke jantungnya. Ia merintih-rintih berkepanjangan akibat dengusan nafas di dalam lubang vaginanya.</p>
<p>&#8220;Aarrgghh..! Aarrghh..! Ampun, Theo..! Aarrgghh.., aarrgghh..!&#8221; rintihannya semakin keras ketika merasakan kumis lelaki itu menyapu klitorisnya.<br />
&#8220;Ampun, ampun.. Theo! Aarrgghh..! Debby mau pipiis!&#8221;</p>
<p>Tapi ia tak berusaha menghindari hidung itu. Ia bahkan memutar pinggulnya sambil menekan bagian belakang kepala lelaki itu. Ia tak ingin hidung itu tak lepas dari jepitan bibir vaginanya. Hal itu tak berlangsung lama. Ia hanya mampu memutar-mutar pinggulnya beberapa kali! Tiba-tiba saja ia merasakan adanya dorongan lendir orgasme yang tak mampu ditahannya. Dorongan itu terasa sangat kuat. Jauh lebih kuat daripada dorongan yang biasanya ia rasakan ketika mendekati puncak orgasmenya.</p>
<p>&#8220;Theo, Theo.., Debby mau pipis! Aarrgghh.., mimik!&#8221;</p>
<p>Theo mendengar rintihan itu. Tapi ia tak ingin menarik hidungnya. Ia tak peduli walaupun merasakan dua lengan memukul-mukul kepalanya dengan gemas. Ia telah terbius oleh aroma, kehangatan, kelembutan, dan kehalusan dinding vagina gadis remaja itu. Bahkan semakin diremas dan ditariknya kedua bongkah pantat gadis itu agar hidungnya semakin tenggelam ke dalam liang vagina yang segar itu.</p>
<p>Remasannya di bongkah pantat itu sangat kuat, membuat gadis itu hanya dapat merintih dan meronta-ronta. Dan tak lama kemudian, ia merasakan lendir hangat membasahi ujung hidungnya. Ia sangat senang merasakan kehangatan lendir itu. Lendir yang membasahi hidungnya ternyata membuat batang kemaluannya semakin tegang. Bengkak. Mungkin karena merasakan nikmat yang berbeda dari biasanya. Selama sebulan, telah berkali-kali ia rasakan orgasme gadis itu di ujung lidahnya. Tapi kali ini berbeda, ia merasakannya di ujung hidungnya!</p>
<p>Walaupun terasa agak sesak, Theo menarik nafas. Ia menghirup aroma yang sangat pribadi itu langsung dari bagian yang sangat dalam dan tersembunyi! Ia pun merasa sangat puas karena baru kali ini ia mendengar gadis cantik itu merintih-rintih minta ampun!</p>
<p>&#8220;Aarrgghh.., ampun! Ampun.., Debby pipiis!&#8221; rintih gadis itu sambil berusaha menarik pinggulnya agar hidung lelaki itu terlepas.</p>
<p>Ia tak mampu mengendalikan rasa nikmat dan geli yang bercampur menjadi satu di lubang vaginanya. Tapi remasan telapak tangan di bongkah pantatnya lebih kuat daripada tarikan pinggulnya. Akhirnya ia hanya merintih-rintih melepaskan lendir orgasmenya ketika hidung itu mendengus-dengus. Seluruh sendi-sendi di sekujur tubuhnya menjadi lunglai. Membuat ia pasrah dan berusaha agar tak terjatuh ke lantai.</p>
<p>Theo menarik hidungnya setelah merasakan lendir orgasme itu berhenti mengalir. Ia menengadah sambil tersenyum puas. Ia dapat melihat kenikmatan yang baru saja usai mendera gadis itu. Hal itu terlihat dari bola mata yang menatap hampa dan kelopak mata yang setengah terpejam.</p>
<p>&#8220;Theo jaa.. haatt.., Theo jahat! &#8221; kata Debby terengah-engah sambil meminjit hidung lelaki itu dengan jempol dan telunjuknya. Tapi jari itu terpeleset karena hidung itu masih dipenuhi lendir licin.<br />
&#8220;Jahat!&#8221; ulangnya sambil memijit kembali.<br />
&#8220;Oh ya?&#8221; sahut Theo sambil menunduk. Lalu ia mulai menjilati vagina yang masih berlepotan lendir itu.<br />
anjir182 is online now<br />
Reply With Quote<br />
anjir182<br />
View Public Profile<br />
Send a private message to anjir182<br />
Find More Posts by anjir182<br />
Old 08-04-2008, 06:20 PM 	  #5<br />
anjir182</p>
<p>Join Date: Jun 2008<br />
Location: Planet Keron<br />
Posts: 552<br />
Thanks: 4<br />
Thanked 76 Times in 29 Posts<br />
anjir182 is on a distinguished road</p>
<p>Default<br />
Debby menggeliat ketika merasakan kembali lidah yang menjilati bibir luar vaginanya. Ia merasa lelah tetapi ia pun tahu bahwa ia tak dapat menghindar dari lidah yang selalu rajin membersihkan sisa-sisa lendir orgasme di vaginanya. Ia tetap berdiri walau tungkai kakinya mulai terasa pegal, terutama tungkai kakinya yang menginjak lengan kursi. Ia tidak akan mendorong kepala itu menjauhi vaginanya. Percuma. Ia tahu bahwa lelaki yang selalu memanjakannya itu tak akan berhenti menjilati sebelum vaginanya benar-benar bersih. Selain itu masih ada hal yang belum ia dapatkan. Malam itu ia belum merasakan nikmatnya &#8216;menumpahkan&#8217; lendir orgasmenya langsung ke dalam mulut yang terjebak di dalam vaginanya. Terjebak di bagian yang paling dalam dan tersembunyi. Belum merasakan nikmatnya &#8216;menumpahkan&#8217; lendir orgasme langsung ke dalam bibir dan lidah yang menghisap-hisap vaginanya ketika dinginnya angin malam menerpa tubuhnya.</p>
<p>Ia menunduk sambil mengusap-usap rambut lelaki tampan yang masih rajin menjilati vaginanya. Kelopak matanya kembali terbuka. Bola matanya berbinar-binar menikmati pemandangan erotis di pangkal pahanya. Menikmati indahnya lidah yang menjulur dan menghilang dalam belahan bibir vaginanya. Lidah yang basah mengkilap ketika keluar dari lubang vaginanya. Tanpa sadar ia mendesah ketika lidah itu mulai mencari-cari sisa lendir di balik sekumpulan urat saraf yang menutupi klitorisnya. Ia menggeliat. Dan menggeliat lagi ketika merasakan klitorisnya dijentik-jentik dengan ujung lidah. Lalu diturunkannya telapak kaki kirinya dari lengan kursi. Setelah memindahkan berat badannya ke kaki kirinya, diangkatnya kaki kanannya dan diletakkannya pahanya di pundak lelaki itu. Ia menarik nafas lega merasakan kehangatan di bagian dalam pahanya, bagian yang menempel dengan pipi Theo.</p>
<p>&#8220;Nggak apa-apa &#8216;kan, Sayang.&#8221; kata gadis itu sambil mempermainkan jari-jari tangannya di rambut lelaki itu.</p>
<p>Ia terpaksa bertanya karena sebelumnya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Tidak pernah berdiri sambil menjepit kepala di pangkal pahanya.</p>
<p>Theo menengadah, lalu mengangguk.</p>
<p>&#8220;Puaskan Debby ya, Sayang. Sebentar lagi, mimik lagi ya.&#8221; Theo mengangguk kembali sambil mengulum klitoris gadis remaja yang nakal itu.</p>
<p>Melihat anggukan kepala itu, Debby jadi lebih bersemangat untuk meraih puncak orgasmenya. Kedua tangannya segera menekan kepala lelaki itu agar semakin terdesak ke vaginanya. Satu tangan menekan bagian belakang kepala, dan yang sebelah lagi menjambak segenggam rambut. Posisi seperti itu membuatnya sangat bergairah. Kelopak matanya terbuka lebar menatap kepala yang pasrah di pangkal pahanya. Seolah kepala itu dipersembahkan sebagai alat untuk meraih puncak orgasmenya.</p>
<p>Walaupun vaginanya telah pernah beberapa kali dioral oleh guru matematikanya itu, tetapi ia belum pernah merasakan nikmatnya mengendalikan kepala itu di pangkal pahanya. Mengendalikan sesuka hatinya. Jantungnya berdebar-debar ketika ia mulai menggerak-gerakkan pinggulnya. Ia merasa lebih nikmat karena pinggulnya bebas bergerak sesuka hatinya. Ia pun merasa bebas untuk mengerak-gerakan kepala lelaki itu ke arah yang ia inginkan. Menekannya, mendorongnya, atau bahkan menariknya. Beberapa kali ia terpaksa menariknya sambil berjinjit karena kumis lelaki itu terasa menyentuh ujung atas belahan vaginanya.</p>
<p>&#8220;Argh..! Argh..!&#8221; rintihnya menahan nikmat yang mendera sekujur tubuhnya. Debby merasakan lendir yang semakin deras mengalir ke vaginanya.<br />
&#8220;Mimik, Sayang,&#8221; katanya sambil menekan pundak Theo dengan paha belakangnya.</p>
<p>Ia ingin lidah itu menyusup ke dalam vaginanya, menarik lendir dan mengisapnya. Ia merasa bahwa sebentar lagi ia akan mencapai puncak orgasmenya. Ia ingin merasakan kelembutan dan kehangatan bibir itu ketika dinding vaginanya berdenyut-denyut. Sambil agak menekuk kedua lututnya, dihentakkannya pinggulnya agar lidah dan bibir lelaki itu masuk lebih dalam ke lubang vaginanya. Ia seolah mendapat sinyal ketika merasakan remasan di bongkah pantatnya, sinyal yang menyatakan bahwa lelaki itu menyukai hentakan pinggulnya. Tanpa ragu, ia kembali menghentakkan pinggulnya sambil menekan bagian belakang kepala lelaki itu. Dilakukannya berulang kali, seolah ingin menunjukkan bahwa vaginanya ingin menelan lidah dan mulut lelaki itu.</p>
<p>&#8220;Theoo.., aarrgghh..,&#8221; rintihnya sambil menekan dahi lelaki itu dengan ujung jarinya. Tekanan itu menyebabkan wajah Theo terdongak hingga mulutnya persis berada di bawah vaginanya.<br />
&#8220;Mimik &#8216;pipis&#8217; Debby, Sayaang,&#8221; rintihnya sambil menghentak-hentakkan pinggulnya dengan cepat.</p>
<p>Sekujur tubuhnya menggigil merasakan nikmatnya lidah yang tertanam di lubang vaginanya, lidah yang dapat ia perlakukan sesuka hatinya. Seolah ada &#8216;penis&#8217; kecil tertanam di lubang kemaluannya. Ia menggigil merasakan sensasi nikmat yang luar biasa dalam terpaan dinginnya angin malam yang berembun. Bulu-bulu roma di sekujur tubuhnya merinding ketika merasakan lahapnya lidah dan mulut lelaki itu menghisap-hisap, menanti lendir orgasme yang akan tumpah dari vaginanya.</p>
<p>&#8220;Aarrgghh.., hasshh.., hasshh.., aarrgghh, aarrgghh, aarrgghh..!&#8221; rintihnya berkepanjangan ketika &#8216;menumpahkan&#8217; orgasmenya.</p>
<p>Ia masih merintih-rintih bekepanjangan ketika merasakan liarnya lidah lelaki itu menjentik-jentik bibir dalam vaginanya. Lidah itu masih rajin bergerak seolah belum terpuaskan dengan segumpal lendir yang telah mengalir dari lubang vaginanya.</p>
<p>Theo masih menjilat-jilat. Sesekali mengulum bibir luar vagina gadis yang masih terengah-engah itu. Ia pun merasakan nikmat yang luar biasa ketika merasakan lendir orgasme gadis remaja itu mengalir ke kerongkongannya. Mungkin karena dinginnya terpaan angin, lendir orgasme yang ditelannya terasa lebih hangat dari biasanya. Paha yang menekan pipinya pun terasa lebih hangat. Dan.., hentakan-hentakan pinggul itu lebih liar dari biasanya!</p>
<p>&#8220;Ooh Theo, nikmatnya!&#8221; desah Debby sambil menatap bola mata lelaki yang masih dijepitnya di pangkal pahanya. Jari-jari tangannya mengusap-usap dahi dan rambut lelaki itu. Dibelai-belainya dengan mesra. Bibirnya tersenyum bahagia.<br />
&#8220;Sekarang kita ke kamar yuk!&#8221; sambungnya sambil mengangkat pahanya dari pundak lelaki itu.<br />
anjir182 is online now<br />
Reply With Quote<br />
anjir182<br />
View Public Profile<br />
Send a private message to anjir182<br />
Find More Posts by anjir182<br />
Old 08-04-2008, 06:20 PM 	  #6<br />
anjir182</p>
<p>Join Date: Jun 2008<br />
Location: Planet Keron<br />
Posts: 552<br />
Thanks: 4<br />
Thanked 76 Times in 29 Posts<br />
anjir182 is on a distinguished road</p>
<p>Default<br />
Di atas &#8216;king size bed&#8217; tergeletak tubuh telanjang seorang gadis belia. Tubuh itu tergeletak dengan pose yang sangat menantang. Satu kaki terbujur lurus di atas kasur, dan yang sebelah lagi menekuk setengah terbuka mengangkang. Dan bibir gadis itu tersenyum manis. Merekah. Di cermin besar di dinding, bayangan tubuh indah itu terpantul seutuhnya. Seolah ada dua gadis belia yang sedang telanjang atas tempat tidur.</p>
<p>Theo menaiki tempat tidur dan menjatuhkan dadanya di antara kedua belah paha gadis belia itu. Lalu dengan gemas, diciumnya pusar gadis itu.</p>
<p>&#8220;Theoo, geli!&#8221;</p>
<p>Theo tersenyum sambil mengangkat kepalanya. Tapi tak lama kemudian diulang-ulangnya mencium hingga membuat gadis belia itu menggelinjang beberapa kali. Lalu ia merasakan dua buah lengan yang menarik dagu dan rambutnya. Dengan menggunakan kedua siku dan lututnya, ia merangkak hingga wajahnya terbenam di antara kedua buah dada gadis itu. Dikecupnya lekukan buah dada yang putih itu. Lidahnya sedikit menjulur ketika mengecup. Kecupan basah. Ia tak merasa puas bila lidahnya tak merasakan kehalusan kulit buah dada gadis belia itu.</p>
<p>Tak lama kemudian, lidahnya melata menjilat buah dada yang sebelah kanan. Diulangnya beberapa kali hingga buah dada itu mulai basah tersapu air liurnya. Ia berhenti sejenak untuk menatap keindahan puting di pucuk buah dada itu. Lalu tangannya kirinya bergerak mengusap bagian bawah buah dada itu, kemudian bergerak ke arah atas sambil meremas dengan lembut. Sesaat ia menahan nafas menikmati kekenyalan buah dada itu di telapak tangannya. Remasannya membuat puting itu terlihat semakin tinggi. Menggemaskan. Dan dengan cepat dikecupnya puting buah dada yang masih kecil itu. Dikulumnya sambil mengusap-usapkan tangan kanannya di punggung gadis itu.</p>
<p>&#8220;Kau murid yang cantik sekali,&#8221; kata Theo sambil mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.</p>
<p>Debby tersenyum. Ia senang mendengar pujian itu. Dirangkulnya leher guru matematika yang disayanginya itu dengan tangan kirinya, kemudian diciumnya bibir lelaki itu dengan mesra. Dihisapnya lidah yang menyusup ke bibirnya. Dihisapnya sambil mengait-ngaitkan ujung lidahnya. Tak lama kemudian, tangannya kanannya bergerak ke arah pangkal paha lelaki itu. Setelah mengusap-usap beberapa kali, digenggamnya batang kemaluan lelaki itu. Lalu diarahkannya cendawan batang kemaluan itu ke celah di antara bibir vaginanya yang mulai berlendir.</p>
<p>&#8220;Ambil hadiahnya, Theo,&#8221; bisik gadis itu sambil mengusap-usapkan cendawan itu ke bibir vaginanya.</p>
<p>Theo menarik nafas panjang merasakan kelembutan dan kehangatan di ujung batang kemaluannya. Untuk pertama kalinya lendir dari celah bibir vagina gadis belia itu mengolesi ujung cendawannya. Batang kemaluannya menjadi semakin keras. Urat-urat berwarna hijau di kulit batang kemaluannya semakin membengkak. Setelah menunjukkan kesabarannya selama sebulan, kesabaran mencumbui vagina gadis itu hanya dengan lidahnya, ternyata kesabarannya membuahkan hasil. Gadis itu akhirnya memberikan hadiah istimewa yang akan membawanya ke pintu surga dunia. Hadiah istimewa yang tak pernah diduganya akan diberikan oleh salah seorang muridnya.</p>
<p>Theo sedikit menekan pinggulnya agar cendawan itu terselip di bibir vagina yang berwarna pink itu. Ia menatap wajah gadis belia itu ketika merasakan pinggul yang ditindihnya menggeliat. Dengan tambahan tekanan yang lebih keras, cendawan batang kemaluannya akhirnya terselip. Ia menahan nafas ketika merasakan hangat dan sempitnya bibir vagina itu menjepit cendawan kemaluannya. Setelah sebulan bersabar, akhirnya vagina yang segar ini dapat kumiliki, katanya dalam hati. Lalu ia mulai menciumi leher gadis itu. Dadanya direndahkan hingga menekan kedua buah dada gadis itu. Ia sengaja melakukan hal itu karena ingin merasakan kekenyalan buah dada itu ketika menggeliat. Ia yakin gadis itu akan mengeliat-geliat ketika ia mendorong batang kemaluannya lebih dalam.</p>
<p>&#8220;Ohh.., Theo.&#8221; Theo menciumi telinga gadis itu.<br />
&#8220;Belit pinggangku dengan kakimu, Sayang,&#8221; bisiknya di sela-sela ciumannya.</p>
<p>Tangan kirinya meremas buah dada gadis itu, sedangkan tangan kanannya mengelus-elus paha luar yang baru membelit pinggangnya. Lalu ia mendorong batang kemaluannya lebih dalam. Sesak! Perlahan-lahan ia menarik sedikit batang kemaluannya, kemudian mendorongnya. Hal itu dilakukannya beberapa kali hingga ia merasakan cairan lendir yang semakin banyak mengolesi cendawan kemaluannya.</p>
<p>Sambil menghembuskan nafas berat, didorongnya batang kemaluannya lebih dalam hingga ujung cendawannya menyentuh sesuatu. Ia menahan gerakan pinggulnya ketika melihat gadis belia itu meringis. Ia tak ingin menyakiti murid yang sangat disayanginya itu. Selain itu, tubuhnya sendiri pun bergetar merasakan sempitnya lubang vagina itu. Dadanya berdebar-debar ketika ia membiarkan ujung kemaluannya bersentuhan dengan selaput tipis yang sebentar lagi akan dirobeknya.</p>
<p>&#8220;Sakit, Theo!&#8221;<br />
&#8220;Tahan sedikit ya, Sayang.&#8221;</p>
<p>Theo kembali menarik batang kemaluannya hingga hanya ujung cendawan kemaluannya yang terselip di bibir luar vagina sang gadis. Lalu didorongnya kembali perlahan-lahan. Diulangnya beberapa kali. Ia diam sejenak mengamati raut wajah yang cantik itu ketika ujung kemaluannya kembali menyentuh selaput tipis itu. Mata gadis itu setengah terpejam, tetapi bibirnya sudah tidak meringis.<br />
anjir182 is online now<br />
Reply With Quote<br />
anjir182<br />
View Public Profile<br />
Send a private message to anjir182<br />
Find More Posts by anjir182<br />
Old 08-04-2008, 06:20 PM 	  #7<br />
anjir182</p>
<p>Join Date: Jun 2008<br />
Location: Planet Keron<br />
Posts: 552<br />
Thanks: 4<br />
Thanked 76 Times in 29 Posts<br />
anjir182 is on a distinguished road</p>
<p>Default<br />
&#8220;Debby, nanti dorong pinggulnya, ya,&#8221; katanya sambil menarik kembali batang kemaluannya.</p>
<p>Lalu diciumnya bibir gadis itu dengan lahap. Ia tak ingin mendengar gadis itu menjerit ketika ia mendorong kembali batang kemaluannya. puting buah dada gadis itu diremasnya dengan jempol dan jari telunjuknya. Dan ketika merasakan gadis itu mendorong pinggulnya, dengan cepat didorongnya pula batang kemaluannya.</p>
<p>&#8220;Hmm.., hhmm..!&#8221; gumam gadis itu sambil mengisap lidah Theo sekeras-kerasnya.</p>
<p>Ia hanya dapat bergumam ketika merasakan batang kemaluan Theo menghunjam ke dalam lubang vaginanya. Sekejap, tiba-tiba ia merasakan nyeri ketika batang kemaluan itu menembus selaput di lubang vaginanya. Ia menggeliat-geliat berusaha untuk melepaskan diri. Tapi semakin ia menggeliat, batang kemaluan itu masuk semakin dalam. Akhirnya ia pasrah, diam tak bergerak!</p>
<p>Theo menahan gerakan pinggulnya. Ia telah mendapatkan hadiah yang dijanjikan gadis itu. Tapi ia tidak ingin egois. Ia tidak ingin melihat gadis belia itu meringis kesakitan ketika memberikan hadiahnya. Ia akan membuat gadis itu bahagia dan turut menikmati pemberiannya. Oleh karena itu, ia menghentikan gerakan pinggulnya. Sesaat, ia hanya membelai-belai rambut di dahi gadis itu. Lalu mengecup keningnya dengan mesra. Tak lama kemudian, bibir gadis itu dikecupnya dengan lembut. Dikulumnya dengan penuh perasaan. Ia baru menarik batang kemaluannya perlahan-lahan setelah merasakan lidah gadis itu menyusup ke dalam mulutnya.</p>
<p>Setelah menyadari tak ada perubahan di raut wajah gadis itu, Theo kembali membenamkan batang kemaluannya perlahan-lahan. Kali ini ia hanya mendengar gadis itu mendesis beberapa kali sambil merangkul lehernya erat-erat. Ia pun merasakan dua buah kaki yang semakin erat membelit pinggangnya. Ia masih tetap mendengar gadis itu mendesis ketika menarik batang kemaluannya.</p>
<p>Setelah menarik nafas panjang, dan tak sanggup lagi menahan kesabarannya, ia menghentakkan pinggulnya sedalam-dalamnya hingga pangkal pahanya bersentuhan dengan pangkal paha gadis itu. Ia mendesah beberapa kali ketika merasakan seluruh batang kemaluannya terbenam ke dalam vagina gadis itu. Bahkan ia merasakan ujung kemaluannya menyentuh mulut rahim gadis belia itu. Sejenak ia diam tak bergerak. Ia sengaja membiarkan batang kemaluannya menikmati sempitnya lubang vagina itu. Ia terpejam merasakan remasan lembut di batang kemaluannya ketika vagina itu berdenyut.</p>
<p>&#8220;Aarrgghh.., ooh, ohh..,&#8221; rintih debby ketika seluruh batang kemaluan lelaki yang disayanginya itu telah terbenam ke dalam lubang vaginanya.</p>
<p>Ia merasakan pedih dan nikmat di sekujur tubuhnya. Rasa yang membuat bulu-bulu roma di sekujur tubuhnya meremang, yang membuat ia terpaksa melengkungkan punggungnya. Kuku-kuku jari tangannya menancap di punggung lelaki itu ketika ia merasakan biji kemaluan Theo memukul lubang duburnya. Ia semakin melengkungkan punggungnya menjauhi kasur ketika lelaki itu menarik batang kemaluannya. Ia tak mampu bernafas ketika merasakan nikmatnya saat bibir dalam vaginanya tertarik bersama batang kemaluan itu.</p>
<p>Tak ada lagi pedih yang tersisa. Hanya ada nikmat yang menjalar dari vaginanya, nikmat yang membuat punggungnya terhempas ke atas kasur ketika lelaki itu kembali menghunjamkan batang kemaluannya. Ia menggigit bibirnya meresapi kenikmatan yang mengalir dari klitorisnya. Klitoris yang tergesek ketika gurunya yang jantan itu menghunjamkan batang kemaluannya. Kenikmatan itu membuat ia terengah-engah karena hanya mendapatkan sedikit udara setiap kali ia menarik nafas.</p>
<p>Theo mendesah setiap kali mendorong batang kemaluannya. Seumur hidupnya, Ia tak pernah merasakan ada vagina yang menjepit batang kemaluannya sekeras itu. Vagina sempit yang membuat telapak tangannya harus menekan kasur sekeras-kerasnya ketika ia menarik batang kemaluannya. Akhirnya ia tertelungkup di dada gadis itu. Tangannya menyusup ke balik punggung dan menggenggam kedua bahu gadis itu. Ia terpaksa hanya mengandalkan lututnya untuk menekan kasur agar ia tetap dapat mengangkat dan mendorong pinggulnya. Ia hampir tak mampu membendung air maninya lebih lama lagi. Dipandangnya pangkal pahanya. Air mani di kantung biji kemaluannya terasa semakin meronta-ronta ketika ia melihat bibir luar vagina mungil itu ikut terbenam setiap kali ia mendorong batang kemaluannya.</p>
<p>&#8220;Aarrgghh.., Debbyy..!&#8221; desah Theo.</p>
<p>Nafasnya mendengus-dengus. Kelopak matanya terbeliak-beliak. Telinganya mendengar bunyi &#8220;plak&#8221; setiap kali ia menghunjamkan batang kemaluannya. Bunyi yang sangat mesra itu terdengar setiap kali pangkal pahanya beradu dengan pangkal paha gadis belia itu. Bunyi itu semakin keras terdengar setiap kali gadis itu mengangkat pinggulnya untuk menyongsong batang kemaluannya yang menghunjam.</p>
<p>&#8220;Aarrgghh.., Debby, aaku.. Aaku..&#8221;<br />
&#8220;Theoo.., aarrgghh..!&#8221;</p>
<p>Theo tak mampu lagi mengendalikan air mani yang meronta-ronta. Tekanan air mani di kantung biji kemaluannya terasa sangat kuat. Ia masih mencoba bertahan. Tapi semakin lama vagina yang menelan kemaluannya terasa meremas semakin kuat. Remasan yang berdenyut-denyut, seolah ingin menghisap air mani yang tertahan di batang kemaluannya.</p>
<p>&#8220;Aarrgghh.., aarrgghh.., aku pipiiss..,&#8221; raung Theo ketika merasakan air maninya menerobos lubang saluran kemaluannya.</p>
<p>Ia menghunjamkan pinggulnya sekeras-kerasnya agar ujung cendawannya tertanam sedalam-dalamnya ketika air maninya menerobos ke luar dari kantung biji kemaluannya. Ia mencengkeram kedua bahu gadis itu dengan erat saat ia pun merasakan gigitan manja di bahu kanannya..</p>
<p>&#8220;Theoo, aarrgghh.., aarrgghh.., Debby pipiiss jugaa..!&#8221; rintih gadis belia itu ketika merasakan air mani yang sangat panas &#8216;menembak&#8217; mulut rahimnya!</p>
<p>Akhirnya setelah sang gadis mempersembahkan hadiah istimewanya untuk sang kekasih, mereka tidur berpelukan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ratubokep.wordpress.com/311/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ratubokep.wordpress.com/311/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/311/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=311&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/08/01/hadiah-istimewa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Abg Tetangga</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/28/abg-tetangga/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/28/abg-tetangga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 18:58:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bokep]]></category>
		<category><![CDATA[cerita dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[bokep]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.wordpress.com/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno sejak pagi penisku tak mau diajak kompromi. Si adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina. Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=309&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno sejak pagi penisku tak mau diajak kompromi. Si adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina. Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri dengan mandi, lalu berbaring di ranjang. Tetapi penisku tetap tak berkurang ereksinya. Malah sekarang terasa berdenyut-denyut bagian pucuknya. “Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku sendiri nonton CD porno seharian “, gumamku. Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil segelas air es lalu menghidupkan tape deck.<span id="more-309"></span><br />
Lumayan, tegangan agak mereda. Tetapi ketika ada video klip musik barat agak seronok, penisku kembali berdenyut-denyut. Nah, belingsatan sendiri jadinya. Sempat terpikir untuk jajan saja. Tapi cepat kuurungkan. Takut kena penyakit kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang belum ada obatnya sampai sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir kali barangku terpakai untuk menyetubuhi istriku. Ya, tiga hari lalu. Pantas kini adik kecilku uring-uringan tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus nancap. “Sekarang minta jatah..”. Sambil terus berusaha menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan membaca surat kabar pagi yang belum tersentuh. Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku mengalihkan pandangan ke arah suara.<br />
Renny anak tetangga mendekat. “Selamat sore Om. Tante ada?” “Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada apa?” “Wah gimana ya..” “Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa”, kataku ramah. ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut.<br />
Dia duduk di kursi kosong sebelahku. “Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa bantu”, tuturku sambil menelusuri badan gadis yang mulai mekar itu. “Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru..” “Majalah apa sich?”, tanyaku.<br />
Mataku tak lepas dari dadanya yang tampak mulai menonjol. Wah, sudah sebesar bola tenis nih. “Apa saja. Pokoknya yang terbaru”. “Oke silakan masuk dan pilih sendiri”. Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak ragu-ragu mengikuti.<br />
Di ruang tengah aku berhenti. “Cari sendiri di rak bawah televisi itu”, kataku, kemudian membanting pantat di sofa. Renny segera jongkok di depan televisi membongkar-bongkar tumpukan majalah di situ. Pikiranku mulai usil. Kulihati dengan leluasa tubuhnya dari belakang. Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya. Pinggulnya padat berisi. Bra-nya membayang di baju kaosnya. Kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau saja bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang itu. “Nggak ada Om. Ini lama semua”, katanya menyentak lamunan nakalku. “Nggg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana” Selama ini aku tak begitu memperhatikan anak itu meski sering main ke rumahku. Tetapi sekarang, ketika penisku uring-uringan tiba-tiba baru kusadari anak tetanggaku itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal. Mataku mengikuti Renny yang tanpa sungkan-sungkan masuk ke kamar tidurku. Setan berbisik di telingaku, “inilah kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut.<br />
Tapi dia masih kecil dan anak tetanggaku sendiri? Persetan dengan itu semua, yang penting birahimu terlampiaskan “. Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar kulihat anak itu berjongkok membongkar majalah di sudut. Pintu kututup dan kukunci pelan-pelan. “Sudah ketemu Ren?” tanyaku. “Belum Om”, jawabnya tanpa menoleh. “Mau lihat CD bagus nggak?” “CD apa Om?” “Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini.” Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir ranjang.</p>
<p>Aku memasukkan CD ke VCD dan menghidupkan televisi kamar. “Film apa sih Om?” “Lihat saja. Pokoknya bagus”, kataku sambil duduk di sampingnya. Dia tetap tenang-tenang tak menaruh curiga. “Ihh..”, jeritnya begitu melihat intro berisi potongan-potongan adegan orang bersetubuh. “Bagus kan?” “Ini kan film porno Om?!” “Iya. Kamu suka kan?” Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung, tetapi tak berusaha memalingkan pandangannya. Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi.<br />
Aku memeluk gadis itu dari belakang. “Kamu ingin begituan nggak?”, bisikku di telinganya. “Jangan Om”, katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku yang melingkari lehernya. Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.”Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak lo..” “Tapi.. tapi.. ah jangan Om.” Dia menggeliat berusaha lepas dari belitanku. Namun aku tak peduli. Tanganku segera meremas dadanya. Dia melenguh dan hendak memberontak.<br />
badannya kurebahkan di ranjang tetapi kakinya tetap menjuntai. Mulutku tak sabar lagi segera mencercah pangkal pahanya yang masih dibalut celana warna hitam. “Ohh.. ahh.. jangan Om”, erangnya sambil berusaha merapatkan kedua kakinya.<br />
Tetapi aku tak peduli. Malah celana dalamnya kemudian kupelorotkan dan kulepas. Aku terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu begitu mungil, berwarna merah di tengah, dan dihiasi bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya juga mungil.Tak menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu vaginanya. Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk liangnya yang sempit. Wah masih perawan dia. Renny terus menggelinjang sambil melenguh dan mengerang keenakan.<br />
Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku, seolah-olah meminta dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi. Oke Non. Maka lidahku pun makin dalam  milik ABG itu kuhajar dengan mulutku. Kuhitung paling tidak dia dua kali orgasme. Lalu aku merangkak naik. Kaosnya kulepas pelan-pelan. Menyusul kemudian BH hitamnya berukuran 32. Setelah kuremas-remas buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti mulutku bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium putingnya yang kecil. “Ahh..” keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas rambutku menahan kenikmatan tiada tara yang mungkin baru sekarang dia rasakan.”Enak kan beginian?” tanyaku sambil menatap wajahnya. “Iii.. iya Om. Tapi..” “Kamu pengin lebih enak lagi?” Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi badannya. Kedua kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia tampak telentang pasrah.<br />
Penisku pun sudah tak sabar lagi mendarat di sasaran. Namun aku harus hati-hati. Dia masih perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan. Mulutku kembali bermain-main di vaginanya. Setelah kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah tegak kutempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat kugesek-gesekkan sampai Renny makin terangsang. Kemudian kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang masih sempit itu. Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga makin melesak ke dalam.Butuh waktu lima menit lebih agar kepala penisku masuk seluruhnya. Nah istirahat sebentar karena dia tampak menahan nyeri. “Kalau sakit bilang ya”, kataku sambil mencium bibirnya sekilas. Dia mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol perawannya.<br />
Genjotan kutingkatkan meski tetap kuusahakan pelan dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher penisku mulai masuk. “Auw.. sakit Om..” Renny menjerit tertahan. Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa menerima penisku yang berukuran sedang. Satu menit kemudian aku maju lagi. Begitu seterusnya. Selangkah demi selangkah aku maju. Sampai akhirnya.. “Ouuu..”, dia menjerit lagi. Aku merasa penisku menembus sesuatu. Wah aku telah memerawani dia. Kulihat ada sepercik darah membasahi sprei.</p>
<p>Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya untuk menenangkan. Setelah agak tenang aku mulai menggenjot anak itu. “Ahh.. ohh.. asshh…”, dia mengerang dan melenguh ketika aku mulai turun naik di atas tubuhnya. Genjotan kutingkatkan dan erangannya pun makin keras. Mendengar itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis itu. Berkali-kali dia orgasme. Tandanya adalah ketika kakinya dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit lengan atau pundakku. “Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?” “Ouuu enak sekali Om…” Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai posisi senggama. Tapi kupikir untuk kali pertama tak perlu macam-macam dulu. Terpenting dia mulai bisa menikmati.menggerayangi dinding vaginanya yang mulai basah. Lima menit lebih barang kenikmatan.<br />
Lain kali kan itu masih bisa dilakukan. Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan sebelum spermaku muncrat membasahi perut dan payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi perawan. Sungguh-sungguh beruntung aku ini. “Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?” tanyaku sambil memeluk tubuhnya yang lunglai setelah sama-sama mencapai klimaks. “Tapi takut Om..” “Nggak usah takut. Takut apa sih?” “Hamil” Aku ketawa. “Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu. Nggak mungkin hamil dong ” Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku tersenyum puas bisa meredakan adik kecilku. “Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar berbagai gaya lewat CD “. “Kalau ketahuan Tante gimana?” “Ya jangan sampai ketahuan dong” Beberapa saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini Renny kugenjot dalam posisi menungging. Dia sudah tak menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya.Betapa nikmatnya memerawani ABG tetangga.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ratubokep.wordpress.com/309/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ratubokep.wordpress.com/309/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/309/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=309&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/28/abg-tetangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pagar Ayu</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/26/pagar-ayu/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/26/pagar-ayu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jul 2008 18:56:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bokep]]></category>
		<category><![CDATA[cerita dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[bokep]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.wordpress.com/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu merupakan hari yang sangat bahagia sepanjang hidupku kerena hari itu merupakan hari dimana aku menjadi pengantin dan di rayakan disebuah hotel berbintang yang cukup mewah,seperti biasanya saya di damping oleh dua pagar ayu yang cukup manis dan cakep,yang satu bernama yulia dan yang satu lagi bernama Dewi,dua jam sebelum pertemuan dengan calon istriku,rasanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=307&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari itu merupakan hari yang sangat bahagia sepanjang hidupku kerena hari itu merupakan hari dimana aku menjadi pengantin dan di rayakan disebuah hotel berbintang yang cukup mewah,seperti biasanya saya di damping oleh dua pagar ayu yang cukup <a href="http://ratubokep.com/">manis dan cakep</a>,yang satu bernama yulia dan yang satu lagi bernama Dewi,dua jam sebelum pertemuan dengan calon istriku,rasanya aku sudah tidak sabar menunggu dan aku masih duduk sendiri di dalam kamar hotel dengan baju jas yang sudah aku pakai dengan sangat rapih.<span id="more-307"></span><br />
Tak berapalama kemudian aku dukagetkan oleh satu ketukan pintu kamar hotel dan akupun bergegas membukakan pintu kamar hotel,&#8221;Selamat siang kak kata panitia, pengantin pria di suruh bersiap-siap karena satu jam lagi acara akan di mulai&#8230;?!kata Dewi berbicara padaku sambil berdiri di depan pintu dan aku sempat agak sedikit tertegun karena ternyata Dewi anak temenku sekarang sudah besar dan sangat cantik dan sexy dengan mengunakan gaun putih dan bawahan yang agak sedikit mini.&#8221; Hey kak di ajak ngomong kok malah bengong&#8230;&#8230;..!! candanya padaku.</p>
<p>Iya&#8230;iya &#8230;wi silahkan masuk dulu&#8230;.?! sambil aku mempersilahkan Dewi untuk masuk ke dalam kamarku dan Dewipun lalu masuk dan duduk di salah satu sudut ruangan kamarku.<br />
&#8221; Wi &#8230;Dewi sekarang kamu umur berapa&#8230;? tanyaku padanya,Tujuh belas tahun kak,memangnya kenapa,tanya Dewi kepadaku.<br />
&#8221; oh tujuh belas tahun, kamu cantik deh&#8230;..godaku padanya.<br />
&#8221; Ah kakak udah mau jadi pengantin juga masih aja ngerayu cewek&#8230;gombal ah&#8230;dasar kakak genit.jawabnya padaku.<br />
Lalu aku menghampiri Dewi sambil tangaku menjewer kuping Dewi.<br />
&#8221; Hayooo&#8230;.tadi siapa yang bilang kakak genit&#8230;..!!!!<br />
&#8221; Aduh&#8230;.aduh kak sakit kak&#8230;.nanti rambut Dewi berantakan semua nih&#8230;.?! sambil kulihat bibir dewi agak meringis kesakitan.<br />
&#8221; Biar berantakan&#8230;abis kakak bilang cantik tapi kamu malah tidak percaya,sambil aku tidak melepaskan jeweranku padanya.<br />
&#8216;Udah kak nanti ketahuan banyak orang ,Dewi nanti malah kita berdua di dalam kamar&#8230;..?!<br />
Aku baru menyadari ternyata aku hanya berdua saja di kamar bersama Dewi paga Ayuku.Tapi karena dari sejak kemarin kontolku udah tegang karena aku berpikir aku akan bertempur dengan calon istriku sehingga kesempatan inipun tidak aku sia-siakan dan aku tangaku tetap menjewer telinga dewi,bahkan langsung aku dekap dia dari depan.<br />
&#8221; Kak jangan&#8230;ah..!!!sambil tanga Dewi mencoba melepaskan diri dari pelukanku,tapi pelukanku makin kencang saja bahkan bibirku dengan ganas sudah melumat bibir Dewi.<br />
&#8221; Hmmm&#8230;.hmmmmm&#8230;ah..kak jangan&#8230;&#8230;.&#8221;<br />
Lalu ciumanku mulai menjalar sampai ke telingga Dewi dan Dewipun sudah agak sedikit terangsang.<br />
&#8221; ah&#8230;kakak jangan&#8230;.kak jangan nanti baju Dewi kusut semua&#8230;&#8230;.!!!<br />
&#8221; Bentar wi&#8230;bentar aja sayang&#8230;..kakak cuma pingin olesin kontol kakak ke memek dewi&#8230;..!!<br />
sambil meumat bibir Dewi tangan kiriku menelusup ke bagian selangka Dewi dan karena mengunakan rok pendek maka dengan mudah saja,tangakiriku sudah mencapai cd dan mengelus-ngelus bagian depan memek dewi.<br />
Lalu aku membuka retsletingku sehingga burungku yang sudah tegang keluar dengan garangnya dan mulai aku oles-oleskan diantara kedua pangkal pahanya.<br />
&#8220;kakak&#8230;oh&#8230;kak jangan lirihnya&#8230;.!!!<br />
&#8221; Wi kontol kakak besar,kakak masukin ya&#8230;&#8230;&#8230;?!<br />
&#8221; ah kakak jangan dong&#8230;.aduh kak jangan&#8230;ah&#8230;.ah&#8230;ah..kak..jangan&#8230;!!<br />
Dewi tampak kaget ketika pinggiran cd nya aku taruk sedikit dan kepala kontolku mulai menempel di pintu mulut memeknya.dan ketika ujung kontolku mersakan bagian memek Dewi yang agak lembab lalu aku agak sedikit menyodoknya sehingga kepala kontolku agak sedikit masuk ke memek Dewi.<br />
&#8221; aduh apa ini kak&#8230;..sambil Dewi melihatku dan agak sedikit nyengir&#8230;&#8230;!!<br />
&#8221; Itu kepala kontol kakak Wi&#8230;? Kakak masukin ya&#8230;&#8230;&#8230;!!!??<br />
&#8221; jangan kak&#8230;ah &#8230;..kak janga di masukin..ah&#8230;ah&#8230;.sakit kak&#8230;sakit..!!!!<br />
Dengan pelan-pelan aku tusukan kontolku ke dalam memek dewi dan kurasakan betapa masih sempitnya dinding mememk Dewi.Sret&#8230;sreeet&#8230;!<br />
&#8221; ah kak &#8230;.sakit&#8230;.sakit kak&#8230;?! semetara Dewi merasakan kesakitan ketika lubang memeknya aku tusuk dan treus aku genjot&#8230;..&#8221; ka perih kak&#8230;dewi agak sedikit merintih&#8230;&#8230;!!!<br />
&#8216;Bentar Wi kakak lagi enak sayang dan Dewi teriaknya jangan kenceng-kenceng nanti kedengaran orang,lalu Dewi hanya bisa pasrah ketika seluruh kontolku masuk membenam memeknya,</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ratubokep.wordpress.com/307/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ratubokep.wordpress.com/307/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/307/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=307&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/26/pagar-ayu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak Kost Baru</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/24/anak-kost-baru/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/24/anak-kost-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 18:54:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bokep]]></category>
		<category><![CDATA[cerita dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Kost]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.wordpress.com/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[Walaupun bulan ini penuh dengan kesibukanku, aku termasuk orang yang sangat susah untuk dapat mengontrol keinginan seks atas wanita. Pengalaman ini kualami beberapa hari sebelum bulan-bulan sibukku yang lalu di tempat kost. Di tempat kost kami berlima dan hanya ada satu-satunya cewek di kost ini, namanya Sari. Aku heran ibu kost menerima anak perempuan di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=304&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Walaupun bulan ini penuh dengan kesibukanku, aku termasuk orang yang sangat susah untuk dapat mengontrol keinginan seks atas wanita. Pengalaman ini kualami beberapa hari sebelum bulan-bulan sibukku yang lalu di tempat kost. Di tempat kost kami berlima dan hanya ada satu-satunya cewek di kost ini, namanya Sari. Aku heran ibu kost menerima anak perempuan di kost ini. Oh, rupanya Sari bekerja di dekat kost sini.<span id="more-304"></span></p>
<p>Sari cukup cantik dan kelihatan sudah matang dengan usianya yang relatif sangat muda, tingginya kira-kira 160 cm. Yang membuatku bergelora adalah tubuhnya yang putih dan kedua buah dadanya yang cukup besar. Ahh, kapan aku bisa mendapatkannya, pikirku. Menikmati tubuhnya, menancapkan penisku ke vaginanya dan menikmati gelora kegadisannya.</p>
<p>Perlu pembaca ketahui, umurku sudah 35 tahun. Belum menikah tapi sudah punya pacar yang jauh di luar kota. Soal hubungan seks, aku baru pernah dua kali melakukannya dengan wanita. Pertama dengan Mbak Anik, teman sekantorku dan dengan Esther. Dengan pacarku, aku belum pernah melakukannya. Swear..! Beneran.</p>
<p>Kami berlima di kost ini kamarnya terpisah dari rumah induk ibu kost, sehingga aku dapat menikmati gerak-gerik Sari dari kamarku yang hanya berjarak tidak sampai 10 meter. Yang gila dan memuncak adalah aku selalu melakukan masturbasi minimal dua hari sekali. Aku paling suka melakukannya di tempat terbuka. Kadang sambil lari pagi, aku mencari tempat untuk melampiaskan imajinasi seksku.</p>
<p>Sambil memanggil nama Sari, crot crot crot.., muncratlah spermaku, enak dan lega walau masih punya mimpi dan keinginan menikmati tubuh Sari. Aku juga suka melakukan masturbasi di rumah, di luar kamar di tengah malam atau pagi-pagi sekali sebelum semuanya bangun. Aku keluar kamar dan di bawah terang lampu neon atau terang bulan, kutelanjangi diriku dan mengocok penisku, menyebut-nyebut nama Sari sebagai imajinasi senggamaku. Bahkan, aku pernah melakukan masturbasi di depan kamar Sari, kumuntahkan spermaku menetesi pintu kamarnya. Lega rasanya setelah melakukan itu.</p>
<p>Sari kuamati memang terlihat seperti agak binal. Suka pulang agak malam diantar cowok yang cukup altletis, sepertinya pacarnya. Bahkan beberapa kali kulihat suka pulang pagi-pagi, dan itu adalah pengamatanku sampai kejadian yang menimpaku beberapa hari sebelum bulan itu.</p>
<p>Seperti biasanya, aku melakukan masturbasi di luar kamarku. Hari sudah larut hampir jam satu dini hari. Aku melepas kaos dan celana pendek, lalu celana dalamku. Aku telanjang dengan Tangan kiri memegang tiang dan tangan kanan mengocok penisku sambil kusebut nama Sari. Tapi tiba-tiba aku terhenti mengocok penisku, karena memang Sari entah tiba-tiba tengah malam itu baru pulang.</p>
<p>Dia memandangiku dari kejauhan, melihat diriku telanjang dan tidak dengan cepat-cepat membuka kamarnya. Sepertinya kutangkap dia tidak grogi melihatku, tidak juga kutangkap keterkejutannya melihatku. Aku yang terkejut.</p>
<p>Setelah dia masuk kamar, dengan cuek kulanjutkan masturbasiku dan tetap menyebut nama Sari. Yang kurasakan adalah seolah aku menikmati tubuhnya, bersenggama dengannya, sementara aku tidak tahu apa yang dipikirkannya tentangku di kamarnya. Malam itu aku tidur dengan membawa kekalutan dan keinginan yang lebih dalam.</p>
<p>Paginya, ketika aku bangun, sempat kusapa dia.<br />
&#8220;Met pagi..&#8221; kataku sambil mataku mencoba menangkap arti lain di matanya.<br />
Kami hanya bertatapan.</p>
<p>Ketika makan pagi sebelum berangkat kantor juga begitu.<br />
&#8220;Kok semalam sampai larut sih..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Kok tak juga diantar seperti biasanya..?&#8221; tanyaku lagi sebelum dia menjawab.<br />
&#8220;Iya Mas, aku lembur di kantor, temenku sampai pintu gerbang saja semalam.&#8221; jawabnya sambil tetap menunduk dan makan pagi.<br />
&#8220;Semalam nggak terkejut ya melihatku..?&#8221; aku mencoba menyelidiki.<br />
Wajahnya memerah dan tersenyum. Wahh.., serasa jantungku copot melihat dan menikmati senyum Sari pagi ini yang berbeda. Aku rasanya dapat tanda-tanda nih, sombongnya hatiku.</p>
<p>Rumah kost kami memang tertutup oleh pagar tinggi tetangga sekeliling. Kamarku berada di pojok dekat gudang, lalu di samping gudang ada halaman kecil kira-kira 30 meter persegi, tempat terbuka dan tempat untuk menjemur pakaian. Tanah ibu kostku in cukup luas, kira-kira hampir 50 X 100 m. Ada banyak pohon di samping rumah, di samping belakang juga. Di depan kamarku ada pohon mangga besar yang cukup rindang.</p>
<p>Rasanya nasib baik berpihak padaku. Sejak saat itu, kalau aku berpapasan dengan Sari atau berbicara, aku dapat menangkap gejolak nafsu di dadanya juga. Kami makin akrab. Ketika kami berbelanja kebutuhan Puasa di supermarket, kukatakan terus terang saja kalau aku sangat menginginkannya. Sari diam saja dan memerah lagi, dapat kulihat walau tertunduk.</p>
<p>Aku mengajaknya menikmati malam Minggu tengah malam kalau dia mau. Aku akan menunggu di halaman dekat kamarku, kebetulan semua teman-teman kostku pulang kampung. Yang satu ke Solo, istrinya di sana, tiap Sabtu pasti pulang. Yang satunya pulang ke Temanggung, persiapan Puasa di rumah.</p>
<p>Aku harus siapkan semuanya. Kusiapkan tempat tidurku dengan sprei baru dan sarung bantal baru. Aku mulai menata halaman samping, tapi tidak begitu ketahuan. Ahh, aku ingin menikmati tubuh Sari di halaman, di meja, di rumput dan di kamarku ini. Betapa menggairahkan, seolah aku sudah mendapat jawaban pasti.</p>
<p>Sabtu malam, malam semakin larut. Aku tidur seperti biasanya. Juga semua keluarga ibu kost. Aku memang sudah nekat kalau seandainya ketahuan. Aku sudah tutupi dengan beberapa pakaian yang sengaja kucuci Sabtu sore dan kuletakkan di depan kamarku sebagai penghalang pandangan. Tidak lupa, aku sudah menelan beberapa obat kuat/perangsang seperti yang diiklankan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ratubokep.wordpress.com/304/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ratubokep.wordpress.com/304/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/304/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=304&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/24/anak-kost-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya presenter.</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/22/nikmatnya-presenter/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/22/nikmatnya-presenter/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 18:50:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bokep]]></category>
		<category><![CDATA[cerita dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.wordpress.com/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Aku ikut dalam acara realty show di salah satu tv swasta. Presenternya, Ines, sangat seksi. aku napsu sekali melihatnya. Selama show, bodinya yang bahenol terbungkus dengan tank top ketat dan jeans yang juga ketat. Toketnya yang besar tampak sangat menonjol. Pantatnya yang besar juga tampak sangat menggairahkan.Karena tank topnya sepinggang, puser dan pinggangnya sering terlihat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=302&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku ikut dalam acara realty show di salah satu tv swasta. Presenternya, Ines, sangat seksi. aku napsu sekali melihatnya. Selama show, bodinya yang bahenol terbungkus dengan tank top ketat dan jeans yang juga ketat. Toketnya yang besar tampak sangat menonjol. Pantatnya yang besar juga tampak sangat menggairahkan.Karena tank topnya sepinggang, puser dan pinggangnya sering terlihat karena dia sangat aktif bergerak. Acara tersebut adalah acara mencari pasangan. Pada satu kesempatan, aku berkata pada Ines : &#8220;Aku sih milih Ines aja deh boleh gak. Dari pertama kita ketemu, aku sudah tertarik dengan kamu Nes&#8221;. &#8220;Kan Ines host nya, gak termasuk dalam prempuan yang mencari pasangannya. Mas boleh milih Ines, Sintia atau yang lainnya&#8221;. &#8220;Enggak ah, aku milih Ines aja yach&#8221;. &#8220;Kalo gitu kita omongin diluar acara aja ya mas, macem2 aja si mas teh&#8221;, katanya sambil tersenyum. Ketika sampai waktunya harus menentukan aku tidak memilih siapapun. Ines hanya tersenyum ketika aku menyatakan alasanku tidak memilih, &#8220;Kan aku maunya milih Ines tapi gak bisa&#8221;. Selesai acara yang diselenggarakan disalah satu resort diluar kota, aku nungguin Ines. Lama juga aku nunggunya, akhirnya dia keluar juga dari resort, masih memakai pakaian seksinya. &#8220;Ines pulang ama siapa?&#8221;, tanyaku. &#8220;Sendiri mas, mas mo nganterin Ines pulang&#8221;, dia minta to the point. &#8220;Bole banget, tapi pulangnya ke tempatku ya&#8221;. &#8220;Mo ngapain di tempat mas&#8221;. &#8220;Aku mo ngobrol ama Ines, belum puas ngobrolnya sih&#8221;. &#8220;Belum puas <span id="more-302"></span>ngobrolnya atawa mo ngepuasin yang lainnya mas?&#8221;, katanya nantangin. &#8220;Kalo aku minta dipuasin yang lainnya, Ines mo muasin aku gak&#8221;, langsung kujawab, to the point juga. &#8220;Bisa diatur&#8221;, kata Ines sambil masuk ke mobilku. Dalam perjalanan pulang, kami ngobrol ngalor ngidul, Ines sangat open. Dia crita petualangan sexnya dengan banyak lelaki, terutama dengan yang bukan abg. Dia bilang sudah sebulan ini dia gak kencan ama lelaki. &#8220;Wah, kalo gitu kamu dah napsu banget dong Nes. Aku kan sudah gak termasuk abg, jadi boleh dong ikut dalam petualangan Ines&#8221;. &#8220;Bisa diatur kok mas&#8221;. Selama perjalanan, aku mengelus pahanya, dari luar jeans ketatnya tentunya. &#8220;Ih, si mas, dah napsu sama Ines ya&#8221;. &#8220;Kalo napsu sih dari tadi Nes&#8221;. &#8220;Kalo dah napsu artinya dah ngaceng ya mas&#8221;, katanya sambil mengelus selangkanganku. &#8220;Ih, kayanya besar ya mas, keras lagi&#8221;, dia mulai meremas selangkanganku. &#8220;Ines mo liat duluan, buka aja ritsluitingnya&#8221;. Dia segera menurunkan ritsluiting celanaku dan tangannya masuk ke dalam cd ku merogoh kontolku. &#8220;Ih besar banget mas, panjang lagi. Ines belum pernah ngerasain yang sebesar dan sepanjang ini&#8221;, katanya sambil mengeluarkan kontolku. Segera dikocok2nya batangnya. Lalu Ines menunduk dan mengemut kepala kontolku. &#8220;Nes, diisep sampe aku ngecret dong&#8221;. &#8220;Tempatnya sempit mas, Ines kocok aja yach. Nonok Ines jadi basah mas, dah kepingin kemasukan kontol gede mas&#8221;, dia mulai mengocok kontolu keatas dan kebawah. Aku jadi melenguh kenikmatan. &#8220;Masih jauh mas, tempatnya&#8221;. &#8220;Enggak kok Nes, sebentar lagi sampe&#8221;, kataku sambil mempercepat lajunya kendaraanku. Tak lama kemudian, sampailah kami dirumah milik kantorku. Aku belum ngecret dan Ines menyudahi sepongannya. &#8220;Mas, besar banget rumahnya kaya kontol mas aja besar, punya mas ya&#8221;. &#8220;Bukan Nes, punya kantor. Ini mes kantor, buat tamu yang perlu nginep. Sekarang lagi kosong, jadi kita pake aja yach&#8221;. Kami menuju ke bagian belakang rumah, ada kolam renang disana. Tempatnya teduh karena banyak pepohonan dan tertutup tembok tinggi sehingga gak mungkin ada yang bisa ngintip.</p>
<p>Aku duduk didipan dipinggir kolam renang, Ines duduk disebelahku. Aku memeluknya. Kucium pipinya sambil jemariku membelai-belai bagian belakang telinganya. Matanya terpejam seolah menikmati usapan tanganku. Kupandangi wajahnya yang manis, hidungnya yang mancung lalu bibirnya. Tak tahan berlama-lama menunggu akhirnya aku mencium bibirnya. Kulumat mesra lalu kujulurkan lidahku. Mulutnya terbuka perlahan menerima lidahku. Lama aku mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Lidahnya begitu agresif menanggapi permainan lidahku, sampai-sampai nafas kami berdua menjadi tidak beraturan. Sesaat ciuman kami terhenti untuk menarik nafas, lalu kami mulai berpagutan lagi dan lagi. Kubelai pangkal lengannya yang terbuka. Kubuka telapak tanganku sehingga jempolku bisa menggapai permukaan dadanya sambil membelai pangkal lengannya. Bibirku kini turun menyapu lehernya seiring telapak tanganku meraup toketnya. Ines menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik mentari. Suara rintihan berulang kali keluar dari mulutnya di saat lidahku menjulur menikmati lehernya yang jenjang. &#8220;Maas&#8230;.&#8221; Ines memegang tanganku yang sedang meremas toketnya dengan penuh napsu. Bukan untuk mencegah, karena dia membiarkan tanganku mengelus dan meremas toketnya yang montok. &#8220;Nes, aku ingin melihat toketmu&#8221;, ujarku sambil mengusap bagian puncak toketnya yang menonjol.</p>
<p>Dia menatapku. Ines akhirnya membuka tank top ketatnya di depanku. Aku terkagum-kagum menatap toketnya yang tertutup oleh BH berwarna hitam. Toketnya begitu membusung, menantang, dan naik turun seiring dengan desah nafasnya yang memburu. Sambil berbaring Ines membuka pengait BH-nya di punggungnya. Punggungnya melengkung indah. Aku menahan tangan Ines ketika dia mencoba untuk menurunkan tali BH-nya dari atas pundaknya. Justru dengan keadaan BH-nya yang longgar karena tanpa pengait seperti itu membuat toketnya semakin menantang. &#8220;Toketmu bagus, Nes&#8221;, aku mencoba mengungkapkan keindahan pada tubuhnya. Perlahan aku menarik turun cup BH-nya. Mata Ines terpejam. Perhatianku terfokus ke pentilnya yang berwarna kecoklatan. Lingkarannya tidak begitu besar sedang ujungnya begitu runcing dan kaku. Kuusap pentilnya lalu kupilin dengan jemariku. Ines mendesah. Mulutku turun ingin mencicipi toketnya. &#8220;Egkhh..&#8221; rintih Ines ketika mulutku melumat pentilnya. Kupermainkan dengan lidah dan gigiku. Sekali-sekali kugigit pentilnya lalu kuisap kuat-kuat sehingga membuat Ines menarik rambutku. Puas menikmati toket yang sebelah kiri, aku mencium toket Ines yang satunya yang belum sempat kunikmati. Rintihan-rintihan dan desahan kenikmatan keluar dari mulut Ines. Sambil menciumi toket Ines, tanganku turun membelai perutnya yang datar, berhenti sejenak di pusarnya lalu perlahan turun mengitari lembah di bawah perut Ines. Kubelai pahanya sebelah dalam terlebih dahulu sebelum aku memutuskan untuk meraba nonoknya yang masih tertutup oleh celana jeans ketat yang dikenakan Ines. Aku secara tiba-tiba menghentikan kegiatanku lalu berdiri di samping dipan.</p>
<p>Ines tertegun sejenak memandangku, lalu matanya terpejam kembali ketika aku membuka kancing jeans warna hitamnya. Aku masih berdiri sambil memandang tubuh Ines yang tergolek di dipan, menantang. Kulitnya yang tidak terlalu putih membuat mataku tak jemu memandang. Perutnya begitu datar. Celana jeans ketat yang dipakainya terlihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada bagian pinggulnya begitu pas untuk menunjukkan lekukan pantatnya yang sempurna. Puas memandang tubuh Ines, aku lalu membaringkan tubuhku di sampingnya. Kurapikan untaian rambut yang menutupi beberapa bagian pada permukaan wajah dan leher Ines. Kubelai lagi toketnya. Kucium bibirnya sambil kumasukkan air liurku ke dalam mulutnya. Ines menelannya. Tanganku turun ke bagian perut lalu menerobos masuk melalui pinggang celana jeans Ines yang memang agak longgar. Jemariku bergerak lincah mengusap dan membelai selangkangan Ines yang masih tertutup CDnya. jari tengah tanganku membelai permukaan CDnya tepat diatas nonoknya, basah. Aku terus mempermainkan jari tengahku untuk menggelitik bagian yang paling pribadi tubuh Ines. Pinggul Ines perlahan bergerak ke kiri, ke kanan dan sesekali bergoyang untuk menetralisir ketegangan yang dialaminya. aku menyuruh Ines untuk membuka celana jeans yang dipakainya. Ines menurunkan reitsliting celana jeansnya. CD hitam yang dikenakannya begitu mini sehingga jembut keriting yang tumbuh di sekitar nonoknya hampir sebagian keluar dari pinggir CDnya. Aku membantu menarik turun celana jeans Ines. Pinggulnya agak Inesikkan ketika aku agak kesusahan menarik celana jeans Ines. Akupun melepas pakeanku. Posisi kami kini sama-sama tinggal mengenakan CD. Tubuhnya semakin seksi saja. Pahanya begitu mulus. Memang harus kuakui tubuhnya begitu menarik dan memikat, penuh dengan sex appeal. Kami berpelukan. Dia menyentuh kontolku dari luar CD ku. Ines melorotkan CD ku. Langsung kontolku yang panjangnya kira-kira 18 cm serta agak gemuk dibelai dan digenggamnya. Belaiannya begitu mantap menandakan Ines juga begitu piawai dalam urusan yang satu ini. &#8220;Tangan kamu pintar juga ya, Nes,&#8221;´ ujarku sambil memandang tangannya yang mengocok kontolku. &#8220;Ya, mesti dong!&#8221; jawabnya sambil cekikikan. Jari-jariku masuk dari samping CD langsung menyentuh bukit nonok Ines yang sudah basah. Telunjukku membelai-belai itilnya sehingga Ines keenakan. &#8220;Diisep lagi Nes. Kan sekarang lebih leluasa&#8221; kataku. Ines tertawa sambil mencubit kontolku. Aku meringis. &#8220;&#8221;Nggak muat di mulut Ines, tadi dimobil kan cuma kepalanya yang masuk. Itu juga udah ampir gak muat. gede banget sih kontolnya&#8221; selesai berkata demikian Ines langsung tertawa kecil. &#8220;Kalau yang dibawah, gimana, muat gak?&#8221; tanyaku lagi sambil menusukkan jari tengahku ke dalam nonoknya. Ines merintih sambil memegang tanganku. Jariku sudah tenggelam ke dalam liang nonoknya. Aku merasakan nonoknya berdenyut menjepit jariku. Ugh, pasti nikmat sekali kalau kontolku yang diurut, pikirku. Segera CD nya kulepaskan.</p>
<p>Perlahan tanganku menangkap toketnya dan meremasnya kuat. Ines meringis. Diusapnya lembut kontolku yang sudah keras banget. Tangannya begitu kreatif mengocok kontolku sehingga aku merasa keenakan. Aku tidak hanya tinggal diam, tanganku membelai-belai toketnya yang montok. Kupermainkan pentilnya dengan jemariku, sementara tanganku yang satunya mulai meraba jembut lebat di sekitar nonok Ines. kuraba permukaan nonok Ines. Jari tengahku mempermainkan itilnya yang sudah mengeras. kontolku kini sudah siap tempur dalam genggaman tangan Ines, sementara nonok Ines juga sudah mulai mengeluarkan cairan kental yang kurasakan dari jemari tanganku yang mengobok-obok nonoknya. Kupeluk tubuh Ines sehingga kontolku menyentuh pusarnya. Tanganku membelai punggung lalu turun meraba pantatnya yang montok. Ines membalas pelukanku dengan melingkarkan tangannya di pundakku. Kedua telapak tanganku meraih pantat Ines, kuremas dengan sedikit agak kasar lalu aku menaiki tubuhnya. Kaki Ines dengan sendirinya mengangkang. Kuciumi lagi lehernya yang jenjang lalu turun melumat toketnya. Telapak tanganku terus membelai dan meremas setiap lekuk dan tonjolan pada tubuh Ines.</p>
<p>Aku melebarkan kedua pahanya sambil mengarahkan kontolku ke bibir nonoknya. Ines mengerang lirih. Matanya perlahan terpejam. Giginya menggigit bibir bawahnya untuk menahan laju birahinya yang semakin kuat. Ines menatapku, matanya penuh nafsu seakan memohon kepadaku untuk memasuki nonoknya. &#8220;Aku ingin mengentoti kamu, Nes&#8221; bisikku pelan, sementara kepala kontolku masih menempel di belahan nonok Ines. Kata ini ternyata membuat wajah Ines memerah. Ines menatapku sendu lalu mengangguk pelan sebelum memejamkan matanya. aku berkonsentrasi penuh dengan menuntun kontolku yang perlahan menyusup ke dalam nonok Ines. Terasa seret, memang, nikmat banget rasanya. Perlahan namun pasti kontolku membelah nonoknya yang ternyata begitu kencang menjepit kontolku. nonoknya begitu licin hingga agak memudahkan kontolku untuk menyusup lebih ke dalam. Ines memeluk erat tubuhku sambil membenamkan kuku-kukunya di punggungku hingga aku agak kesakitan. Namun aku tak peduli. &#8220;Maas, gede banget, ohh..&#8221; Ines menjerit lirih. Tangannya turun menangkap kontolku. &#8220;Pelan mas&#8221;. Akhirnya kontolku terbenam juga di dalam nonok Ines. Aku berhenti sejenak untuk menikmati denyutan-denyutan yang timbul akibat kontraksi otot-otot dinding nonok Ines. Denyutan itu begitu kuat sampai-sampai aku memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yang begitu sempurna. Kulumat bibir Ines sambil perlahan-lahan menarik kontolku untuk selanjutnya kubenamkan lagi. Aku menyuruh Ines membuka kelopak matanya. Ines menurut. Aku sangat senang melihat matanya yang semakin sayu menikmati kontolku yang keluar masuk dari dalam nonokya. &#8220;Aku suka nonokmu, Nes.. nonokmu masih rapet&#8221; ujarku sambil merintih keenakan. Sungguh, nonok Ines enak sekali. &#8220;Kamu enak kan, Nes?&#8221; tanyaku lalu dijawab Ines dengan anggukan kecil. Aku menyuruh Ines untuk menggoyangkan pinggulnya. Ines langsung mengimbangi gerakanku yang naik turun dengan goyangan memutar pada pinggangnya. &#8220;Suka kontolku, Nes?&#8221; tanyaku lagi. Ines hanya tersenyum. kontolku seperti diremas-remas ditambah jepitan nonoknya. &#8220;Ohh.. hh..&#8221; aku menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat. Aku mencoba mengangkat dadaku, membuat jarak dengan dadanya dengan bertumpu pada kedua tanganku. Dengan demikian aku semakin bebas dan leluasa untuk mengeluar-masukkan kontolku ke dalam nonok Ines. Kuperhatikan kontolku yang keluar masuk dari dalam nonoknya. Dengan posisi seperti ini aku merasa begitu jantan. Ines semakin melebarkan kedua pahanya sementara tangannya melingkar erat di pinggangku. Gerakan naik turunku semakin cepat mengimbangi goyangan pinggul Ines yang semakin tidak terkendali. &#8220;Nes.. enak banget, kamu pintar deh.&#8221; ucapku keenakan. &#8220;Ines juga, mas&#8221;, jawabnya. Ines merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan. Berulang kali mulutnya mengeluarkan kata, &#8220;aduh&#8221; yang diucapkan terputus-putus. Aku merasakan nonok Ines semakin berdenyut sebagai pertanda Ines akan mencapai puncak pendakiannya. Aku juga merasakan hal yang sama dengannya, namun aku mencoba bertahan dengan menarik nafas dalam-dalam lalu bernafas pelan-pelan untuk menurunkan daya rangsangan yang kualami. Aku tidak ingin segera menyudahi permainan ini hanya dengan satu posisi saja. Aku mempercepat goyanganku ketika kusadari Ines hampir nyampe. Kuremas toketnya kuat seraya mulutku menghisap dan menggigit pentilnya. Kuhisap dalam-dalam. &#8220;Ohh.. hh.. mas..&#8221; jerit Ines panjang. Aku membenamkan kontolku kuat-kuat ke nonoknya sampai mentok agar Ines mendapatkan kenikmatan yang sempurna. Tubuhnya melengkung indah dan untuk beberapa saat lamanya tubuhnya kejang. Kepalaku ditarik kuat terbenam diantara toketnya. Pada saat tubuhnya menyentak-nyentak aku tak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi. &#8220;Nes, aakuu.. keluaarr, Ohh.. hh..&#8221; jeritku. Ines yang masih merasakan orgasmenya mengunci pinggangku dengan kakinya yang melingkar di pinggangku. Saat itu juga aku memuntahkan peju hangat dari kontolku. Kurasakan tubuhku bagai melayang. secara spontan Ines juga menarik pantatku kuat ke tubuhnya. Mulutku yang berada di belahan dada Ines kuhisap kuat hingga meninggalkan bekas merah pada kulitnya. Telapak tanganku mencengkram toket Ines. Kuraup semuanya sampai-sampai Ines kesakitan. Aku tak peduli lagi. Aku merasakan nikmat yang tiada duanya ditambah dengan goyangan pinggul Ines pada saat aku mengalami orgasme. Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Ines. kontolku masih berada di dalam nonok Ines. Ines mengusap-usap permukaan punggungku. &#8220;Ines puas sekali dientot mas,” katanya. Aku kemudian mencabut kontolku dari nonoknya.</p>
<p>Aku masuk kembali ke rumah. Ines langsung masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower . Aku bisa mendengarnya karena pintu kamar mandi tidak ditutup. Tak lama kemudian, shower terdengar berhenti dan Ines keluar. Ganti aku yg masuk ke kamar mandi, aku hanya membersihkan tubuhku. Keluar dari kamar mandi, Ines berbaring diranjang telanjang bulat. &#8220;Nes, kamu kok mau aku ajak ngentot&#8221;, kataku. &#8220;Kan Ines dah lama gak ngerasain nikmatnya kontol mas, kontol mas besar lagi&#8221;, jawab Ines tersenyum. &#8220;Malem ini kita men lagi ya mas&#8221;. Hebat banget Ines, gak ada matinya. Pengennya dientot terus. &#8220;Ok aja, tapi sekarang kita cari makan dulu ya, biar ada tenaga bertempur lagi nanti malem&#8221;, kataku sambil berpakaian. Ines pun mengenakan pakaiannya dan kita pergi mencari makan malem. Kembali ke rumah sudah hampir tengah malem, tadi kita selain makan santai2 di pub dulu.</p>
<p>Di kamar kita langsung melepas pakaian masing2 dan bergumul diranjang. Tangan Ines bergerak menggenggam kontolku. Aku melenguh seraya menyebut namanya. Aku meringis menahan remasan lembut tangannya pada kontolku. Ines mulai bergerak turun naik menyusuri kontolku yang sudah teramat keras. Sekali-sekali ujung telunjuknya mengusap kepala kontolku yang sudah licin oleh cairan yang meleleh dari lubang diujungnya. Kembali aku melenguh merasakan ngilu akibat usapannya. Kocokannya semakin cepat. Dengan lembut aku mulai meremas-remas toketnya. Tangan Ines menggenggam kontolku dengan erat. Pentilnya kupilin2. Ines masukan kontolku kedalam mulutnya dan mengulumnya. Aku terus menggerayang toketnya, dan mulai menciumi toketnya. Napsuku semakin berkobar. Jilatan dan kuluman Ines pada kontolku semakin mengganas sampai-sampai aku terengah-engah merasakan kelihaian permainan mulutnya. Aku membalikkan tubuhnya hingga berlawanan dengan posisi tubuhku. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku. Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Lidahku menyentuh nonoknya dengan lembut. Tubuhnya langsung bereaksi dan tanpa sadar Ines menjerit lirih. Tubuhnya meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidahku di nonoknya. Kedua pahanya mengempit kepalaku seolah ingin membenamkan wajahku ke dalam nonoknya. Kontolku kemudian dikempit dengan toketnya dan digerakkan maju mundur, sebentar. Aku menciumi bibir nonoknya, mencoba membukanya dengan lidahku. Tanganku mengelus paha bagian dalam. Ines mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakinya yang tadinya merapat.</p>
<p>Aku menempatkan diri di antara kedua kakinya yang terbuka lebar. Kontol kutempelkan pada bibir nonoknya. Kugesek-gesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Ines merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. nonoknya yang sudah banjir membuat gesekanku semakin lancar karena licin. Ines terengah-engah merasakannya. Aku sengaja melakukan itu. Apalagi saat kepala kontolku menggesek-gesek itilnya yang juga sudah menegang. &#8220;Maas.?&#8221; panggilnya menghiba. &#8220;Apa Nes&#8221;, jawabku sambil tersenyum melihatnya tersiksa. &#8220;Cepetan..&#8221; jawabnya. Aku sengaja mengulur-ulur dengan hanya menggesek-gesekan kontol. Sementara Ines benar-benar sudah tak tahan lagi mengekang birahinya. &#8220;Ines sudah pengen dientot mas&#8221;, katanya. Ines melenguh merasakan desakan kontolku yang besar itu. Ines menunggu cukup lama gerakan kontolku memasuki dirinya. Serasa tak sampai-sampai. Maklum aja, selain besar, kontolku juga panjang. Ines sampai menahan nafas saat kontolku terasa mentok di dalam, seluruh kontolku amblas di dalam. Aku mulai menggerakkan pinggulnya pelan2. Satu, dua dan tiga enjotan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam nonoknya membuat kontolku keluar masuk dengan lancarnya. Ines mengimbangi dengan gerakan pinggulnya. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama enjotanku. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting enjotanku mencapai bagian-bagian peka di nonoknya. Ines bagaikan berada di surga merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Kontolku menjejali penuh seluruh nonoknya, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan kontolku sangat terasa di seluruh dinding nonoknya. Ines merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. Ines mengakui keperkasaan dan kelihaianku di atas ranjang. Yang pasti Ines merasakan kepuasan tak terhingga ngentot denganku. Aku bergerak semakin cepat. kontolku bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitivenya. Ines meregang tak kuasa menahan napsu, sementara aku dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulku naik turun, ke kiri dan ke kanan. Erangannya semakin keras. Melihat reaksinya, aku mempercepat gerakanku. kontolku yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya. Tubuhnya sudah basah bermandikan keringat. Aku pun demikian. Ines meraih tubuhku untuk didekap. Direngkuhnya seluruh tubuhku sehingga aku menindih tubuhnya dengan erat. Ines membenamkan wajahnya di samping bahuku. Pinggul nya diangkat tinggi-tinggi sementara kedua tangannya menggapai pantatku dan menekannya kuat-kuat. Ines meregang. Tubuhnya mengejang-ngejang. &#8220;maas..&#8221;, hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya saking dahsyatnya kenikmatan yang dialaminya bersamaku. Aku menciumi wajah dan bibirnya.</p>
<p>Ines mendorong tubuhku hingga terlentang. Dia langsung menindihku dan menciumi wajah, bibir dan sekujur tubuhku. Kembali diemutnya kontolku yang masih tegak itu. Lidahnya menjilati, mulutnya mengemut. Tangannya mengocok-ngocok kontolku. Belum sempat aku mengucapkan sesuatu, Ines langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuhku. Nonoknya berada persis di atas kontolku. &#8220;Akh!&#8221; pekiknya tertahan ketika kontolku dibimbingnya memasuki nonoknya. Tubuhnya turun perlahan-lahan, menelan seluruh kontolku. Selanjutnya Ines bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhnya melonjak-lonjak. Pinggulnya bergerak turun naik. &#8220;Ouugghh. Nes.., luar biasa!&#8221; jeritku merasakan hebatnya permainannya. Pinggulnya mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tanganku mencengkeram kedua toketnya, kuremas dan dipilin-pilin. Aku lalu bangkit setengah duduk. Wajah kubenamkan ke dadanya. Menciumi pentilnya. Kuhisap kuat-kuat sambil kuremas-remas. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan panasnya udara meski kamar menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Ines berkutat mengaduk-aduk dengan pinggulnya. Aku menggoyangkan pantatku. Tusukan kontolku semakin cepat seiring dengan liukan pinggulnya yang tak kalah cepatnya. Permainan kami semakin meningkat dahsyat. Sprei ranjang sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. AKu merasa pejuku udah mau nyembur. Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Tak selang beberapa detik kemudian, Ines pun merasakan desakan yang sama. Ines terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku mulai mengejang, mengerang panjang. Tubuhnya menghentak-hentak liar. Akhirnya, pejuku nyemprot begitu kuat dan banyak membanjiri nonoknya. Ines pun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam dirinya. Sambil mendesakan pinggulnya kuat-kuat, Ines berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan berbarengan denganku. Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat. &#8220;maas., nikmaat!&#8221; jeritnya tak tertahankan. Ines lemes, demikian pula aku. Tenaga terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 1 jam! Akhirnya kami tertidur kelelahan. Liar sekali Ines diranjang, baru sekali aku nemu abg seliar Ines, tetapi dia telah memberikan kenikmatan yang luar biasa yang belum pernah aku dapatkan dari abg lainnya yang pernah kuentot.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ratubokep.wordpress.com/302/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ratubokep.wordpress.com/302/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/302/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=302&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/22/nikmatnya-presenter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Derita Mitha</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/20/derita-mitha/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/20/derita-mitha/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 17:36:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.wordpress.com/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[Mitha terlambat bangun untuk berangkat sekolah, padahal sebelumnya dia selalu bangun lebih pagi. Mungkin semalam keasyikan nonton acara TV, sehingga pagi ini dia harus buru-buru kalau tidak ingin terlambat sampai di SMU. Mitha adalah pelajar kelas 1, minggu depan dia akan berulang tahun yang ke-15. Dengan wajah yang manis, rambut sebahu, kulit putih bersih, mata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=291&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mitha terlambat bangun untuk berangkat sekolah, padahal sebelumnya dia selalu bangun lebih pagi. Mungkin semalam keasyikan nonton acara TV, sehingga pagi ini dia harus buru-buru kalau tidak ingin terlambat sampai di SMU. Mitha adalah pelajar kelas 1, minggu depan dia akan berulang tahun yang ke-15.<span id="more-291"></span></p>
<p>Dengan wajah yang manis, rambut sebahu, kulit putih bersih, mata bening dan ukuran payudara 34B, tak heran Mitha selalu menjadi incaran para lelaki, baik yang sekedar iseng menggoda atau yang serius ingin memacarinya. Tetapi sampai hari ini Mitha belum menjatuhkan pilihannya.<br />
Alasannya cukup klasik, &#8220;Maaf ya.., kita temenan aja dulu.., soalnya saya belum berani pacaran.., khan masih kecil, ntar dimarahin ortu kalau ketahuan&#8230;&#8221; begitu selalu kilahnya kepada setiap lelaki yang mendekatinya.</p>
<p>Begitulah Mitha, gadis manis yang belum terjamah bebasnya pergaulan metropolis seperti Jakarta tempatnya tinggal. Mitha mungkin akan cukup lama bertahan dalam keluguannya kalau saja peristiwa itu tidak terjadi.</p>
<p>Pagi itu selesai menyiapkan diri untuk berangkat, Mitha sedikit tergesa-gesa menjalankan Honda Supra-nya. Tanpa disadarinya dari kejauhan tiga pasang mata mulai mengintainya. Anton (25 tahun) mahasiswa salah satu PTS yang pernah ditolak cintanya oleh Mita, hari itu mengajak dua rekannya (Iwan dan Tejo) yang terkenal bejat untuk memberi pelajaran buat Mitha, karena Anton yang playboy paling pantang untuk ditolak, apalagi oleh gadis ingusan macam Mitha.</p>
<p>Tepat di jalan sempit yang hampir jarang dilewati orang, Anton dan kawan-kawan memalangkan Toyota Land Cruser-nya, karena mereka tahu persis Mitha akan melewati jalan pintas ini menuju sekolahnya. Sedikit kaget melihat mobil menghadang jalannya, Mitha gugup dan terjatuh dari motornya. Anton yang berada di dalam mobil beranjak keluar.<br />
&#8220;Hai Mit.., jatuh ya..?&#8221; kata Anton dengan santainya.<br />
&#8220;Apa-apaan sih kamu..? Mau bunuh aku ya..?&#8221; hardik Mitha dengan wajah kesal.<br />
&#8220;Nggak.., cuman aku mau kamu jadi pacarku, jangan nolak lagi lho..! Ntar&#8230;&#8221; kata Anton yang belum sempat menyelesaikan kata-katanya.<br />
&#8220;Ntar apa..?&#8221; potong Mitha yang masih dengan wajah kesal.<br />
&#8220;Ntar gue perkosa lo..!&#8221;<br />
&#8220;Sialan dasar usil, cepetan minggir aku udah telat nih..!&#8221; bentak Mitha.</p>
<p>Air mata di pipinya mulai menetes karena Anton tetap menghalangi jalannya.<br />
&#8220;Anton please.., minggir dong..!&#8221; pintanya sudah tidak sabaran lagi.<br />
Anton mulai mendekati Mitha yang gemetar tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi bajingan ini. Tiba-tiba dari arah belakang sebuah pukulan telak mendarat di tengkuk Mitha yang membuatnya pingsan seketika. Rupanya Iwan yang sedari tadi bersembunyi di balik pohon bersama delapan orang lainnya sudah tidak sabar lagi.<br />
&#8220;Ayo kita angkut dia..!&#8221; perintah Anton kepada teman-temannya.</p>
<p>Singkat cerita, Mitha dibawa ke sebuah rumah kosong di pinggir kota. Letak rumah itu menyendiri, jauh dari rumah-rumah yang lainnya, sehingga apapun yang terjadi di dalamnya tidak akan diketahui siapapun.</p>
<p>Sebuah tamparan di pipinya membuat gadis ini mulai siuman. Dengan tatapan nafsu dari dua lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya kecuali satu orang, yaitu Anton. Mitha mulai ketakutan memandang sekelilingnya. Apa yang akan terjadi samar-samar mulai terbayang di matanya. Jelas sekali dia akan diperkosa oleh 3 orang. Rupanya mereka sudah tidak sabaran lagi untuk segera memperkosa Mitha. Tangan-tangan mereka mulai merobek-robek pakaian gadis itu dengan sangat kasar tanpa perduli teriakan ampum maupun tangisan Mitha.</p>
<p>Setelah menelanjangi Mitha sehingga Mitha benar-benar bugil. Sekali sentak Iwan menjambak rambut Mitha dan menariknya, sehingga tubuh Mitha yang tekulai di lantai terangkat ke atas dalam posisi berlutut menghadap Iwan.<br />
&#8220;An.., lo mau gue apain nih cewek..?&#8221; kata Iwan sambil melirik ke arah Anton.<br />
&#8220;Terserah deh.., emang gue pikirin..!&#8221;<br />
Iwan menatap sebentar ke arah Mitha yang sudah sangat ketakutan, air matanya nampak mengalir dan, &#8220;PLAK..!&#8221; tamparan Iwan melayang ke pipinya.</p>
<p>Anton dan yang lainnya mulai membuka pakaian masing-masing, sehingga sekejap orang-orang yang berada dalam ruangan itu semuanya telanjang bulat. Mitha yang terduduk di lantai karena dicampakkan Iwan kembali menerima perlakuan serupa dari Anton yang kembali menjambak rambutnya, hanya saja tidak menariknya ke atas, tetapi ke bawah, sehingga sekarang Mitha dalam posisi telentang. Teman-teman Anton memegangi kedua tangan dan kaki Mitha, sedangkan Anton duduk tepat di atas kedua payudara Mitha. Penis Anton yang sudah mengeras dengan panjang 18 cm ditempelkan ke bibir Mitha.</p>
<p>&#8220;Ayo isep ****** gue..!&#8221; bentak Anton tidak sabaran.<br />
Karena Mitha tidak juga membuka mulutnya, Anton menampar Mitha berkali-kali. Karena tidak tahan, akhirnya mulut mungil Mitha mulai terbuka. Tanpa ampun Anton yang sudah tidak sabaran memasukkan penisnya sampai habis, tonjolan kepala penis Anton nampak di tenggorokan Mitha. Anton mulai memaju-mundurkan penisnya di mulut Mitha selama 5 menit tanpa memberi kesempatan Mitha untuk bernafas. Mitha kesakitan dan mulai kehabisan nafas, Anton bukannya kasihan tetapi malah semakin brutal menancapkan penisnya.</p>
<p>Selang beberapa saat, Anton mengeluarkan penisnya dari mulut Mitha, dan segera diganti oleh Penis Iwan yang panjangnya hampir 20 cm. Tejo yang sedari tadi memegang kaki Mitha mulai menjalankan aksinya. Paha Mitha ditarik ke atas dan mengarahkan penisnya ke vagina Mitha. Penis Tejo yang paling besar di antara kedua rekannya tidak terlalu gampang menembus vagina Mitha yang memang sangat sempit, karena masih perawan. Tetapi Tejo tidak perduli, penisnya terus ditekan ke dalam vagina Mitha dan tidak berapa lama Mitha tampak meringis kesakitan, tetapi tidak mampu bersuara karena mulutnya tersumbat penis Iwan yang dengan kasarnya menembus hingga tenggorokannya.</p>
<p>Tejo memaju-mundurkan penisnya ke dalam vagina Mitha dan nampak darah mulai menetes dari vagina Mitha. Keperawanan Mitha telah dikoyak Tejo. Iwan yang tidak puas akan &#8220;pelayanan&#8221; Mitha nampak kesal.<br />
&#8220;Ayo isep atau gue cekik lo..!&#8221; bentaknya ke arah Mitha yang sudah dingin pandangannya.<br />
Mitha yang sudah putus asa hanya dapat menuruti keinginan Iwan. Mulutnya dimaju-mundurkan sambil menghisap penis Iwan.<br />
&#8220;Ayo cepat..!&#8221; kata Iwan lagi.<br />
Karena dalam posisinya yang telentang, agak sulit bagi Mitha menaik-turunkan kepalanya untuk mengulum penis Iwan, tetapi Iwan rupanya tidak mau perduli. Mitha melingkarkan tangannya ke pinggang Iwan, sehingga dia dapat sedikit mempercepat gerakannya sesuai keinginan Iwan.</p>
<p>Hampir 30 menit berlalu, Iwan hampir ejakulasi, rambut Mitha ditarik ke bawah sehingga wajahnya menengadah ke atas. Iwan mencabut penisnya dari mulut Mitha.<br />
&#8220;Buka yang lebar dan keluarin lidah lo..!&#8221; bentaknya lagi.<br />
Mitha membuka mulutnya lebar-lebar dan menjulurkan lidahnya keluar. Iwan memasukkan kembali setengah penisnya ke mulut Mitha dan, &#8220;Ah.., crot&#8230; crot&#8230; crot..!&#8221; sperma Iwan yang banyak masuk ke mulut Mitha.<br />
&#8220;Telan semuanya..!&#8221;</p>
<p>Mitha terpaksa menelan semua sperma Iwan yang masuk ke mulutnya, walau sebagian ada yang mengalir di sela-sela bibirnya.</p>
<p>Tejo yang juga hampir ejakulasi mencabut penisnya dari vagina Mitha dan merangkat ke atas dada Mitha dan bersamaan dengan Iwan mencabut penisnya dari mulut Mitha. Tejo memasukkan penisnya ke mulut Mitha sampai habis masuk hingga ke tenggorokan mitha.<br />
Dan, &#8220;Crot.. crot.. crot..!&#8221; kali ini sperma Tejo langsung masuk melewati tenggorokan Mitha.<br />
Anton yang sedari tadi menonton perbuatan kedua rekannya melakukan hal serupa yang dilakukan Tejo, hanya saja Anton menyemprotkan spermanya ke dalam vagina Mitha.</p>
<p>Begitulah selanjutnya, masing-masing dari mereka kembali memperkosa Mitha sehingga baik Anton, Tejo dan Iwan dapat merasakan nikmatnya vagina Mitha dan hangatnya kuluman bibir Mitha yang melingkari penis-penis mereka. Mereka benar-benar sudah melampaui batasan keinginan berbalas denadam terhadap Mitha yang tadinya masih polos itu.</p>
<p>Sebelum meninggalkan Mitha sendirian di rumah kosong, mereka sempat membuat photo-photo telanjang Mitha yang dipergunakan untuk mengancam Mitha seandainya buka mulut. Photo-photo tersebut akan disebarkan ke seantero sekolah Mitha jika memang benar-benar Mitha melaporkan hal tersebut ke orang lain.</p>
<p>Hari-hari selanjutnya dengan berbagai ancaman, Mitha terpaksa pasrah diperkosa kembali oleh Anton dan kawan-kawan sampai belasan kali. Dan setiap kali diperkosa, jumlahnya selalu bertambah, hingga terakhir Mitha diperkosa 40 orang, dan dipaksa menelan sperma setiap pemerkosanya. Sungguh malang nasib Mitha.</p>
<p>TAMAT</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ratubokep.wordpress.com/291/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ratubokep.wordpress.com/291/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/291/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=291&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/20/derita-mitha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Derita dua gadis</title>
		<link>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/20/derita-dua-gadis/</link>
		<comments>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/20/derita-dua-gadis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 17:35:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratubokep.wordpress.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini ada seorang mahasiswi yang kebetulan sedang tugas magang di pabrik itu namanya Maya, usianya masih 19 tahun dan dia adalah seorang mahasisiwi Fakultas Teknik Industri pada sebuah perguruan tinggi negeri yang terkenal di kota Bandung. Maya cukup lincah dalam bekerja. Gadis cantik itu pintar dan rajin dalam melakukan tugas-tugasnya. Dia memiliki wajah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=289&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini ada seorang mahasiswi yang kebetulan sedang tugas magang di pabrik itu namanya Maya, usianya masih 19 tahun dan dia adalah seorang mahasisiwi Fakultas Teknik Industri pada sebuah perguruan tinggi negeri yang terkenal di kota Bandung. Maya cukup lincah dalam bekerja. Gadis cantik itu pintar dan rajin dalam melakukan tugas-tugasnya. Dia memiliki wajah yang imut-imut dan cantik sekali seperti mojang-mojang Bandung umumnya yang memiliki kulit putih bersih. Selama bekerja magang di pabrik itu, Tomi sering memperhatikan Maya. Potongan tubuhnya sintal padat proporsional dengan tinggi tubuhnya yang sekitar 160-an cukup membuat Tomi tertarik perhatiannya kepada Maya.<span id="more-289"></span></p>
<p>Penampilan Maya memang lain dibandingkan dengan gadis-gadis lainnya. Maya lebih senang menggunakan celana jeans dan baju yang ketat seperti umumnya penampilan seorang mahasiswi sehingga lekuk-lekuk tubuhnya terlihat jelas. Hal itulah yang membuat para lelaki dipabrik itu sering memandangi kemolekan tubuh Maya. Begitu pun dengan Tomi yang selalu mencuri-curi pandang melihat keindahan dan kemolekan tubuh Maya. Hal ini tidak disadari oleh Maya karena dia lebih serius untuk menyelesaikan tugas-tugasnya selama magang di pabrik itu.</p>
<p>Sesekali Tomi menyempatkan diri untuk memasang muka ramah dan bercakap-cakap dengan Maya hanya sekedar menukmati kecantikan wajah gadis tersebut. Padahal dengan karyawati atau buruh wanita yang lainnya boro-boro dia memasang muka ramah yang ada selalu tampang sangar yang diperlihatkannya dan ucapan-ucapan yang jauh dari keramahan. Singkat kata Tomi telah jatuh hati berat kepada Maya, mahasiswi cantik itu.<br />
***<br />
Beberapa detik kemudian suasana berubah, secepat kilat Maya diringkus oleh Cecep dan Afung yang memiliki tubuh tegap. Sedangkan temannya diringkus oleh Asep dan Ujang. Maya serta temannya mencoba melawan dan meronta-ronta akan tetapi beberapa pukulan dilayangkan oleh Cecep dan Afung dan akhirnya Mayapun pingsan. Setelah itu tubuh tak berdaya itu dibopong oleh Cecep.</p>
<p>Sementara itu teman Maya yang juga meronta ronta dibekap dan dipukuli oleh Ujang hingga akhirnya tak sadarkan diri pula. Lantas tubuhnya digendong oleh Asep.<br />
&#8220;Beres semuanya boss&#8230;&#8221;, ujar Asep kepada Tomi yang kemudian keluar dari persembunyiannya.<br />
&#8220;Good&#8230; good&#8230;, ayo lekas kita bawa ke rumah kosong itu&#8221;, perintah Tomi.</p>
<p>Penghadanganpun berjalan dengan sukses, sasaran telah dilumpuhkan dan kini siap &#8220;diproses&#8221;. Didalam rumah kosong itu tubuh Maya dan temannya dibaringkan disebuah dipan kayu. Kedua tangannya Maya diikat kebelakang.<br />
Setelah lampu diruangan itu dinyalakan, kelima orang yang telah dirasuki nafsu itupun menggunam terkagum-kagum melihat kecantikan dan kemolekan tubuh Maya yang tengah tergolek pingsan. Dia menggunakan kaos lengan panjang serta jeans birunya yang kesemuanya berukuran ketat sehingga kemolekan tubuhnya terlihat jelas. Ternyata Tomi mengenali sosok wanita satunya yang juga ikut dilumpuhkan tadi.<br />
&#8220;Ah gue inget ini kan si Anny, temannya Maya&#8230; wah&#8230; wah&#8230; sial sekali nasibnya&#8221;, ujar Tomi.<br />
Anny memang teman akrab Maya, usianya lebih muda dari Maya yaitu 16 tahun, dan masih duduk dibangku kelas 2 SMU. Anny adalah keponakan dari pemilik kost dimana Maya tinggal.</p>
<p>Anny juga memiliki wajah yang manis, tubuhnya mungil namun padat.<br />
&#8220;OK jatah gue si Maya&#8230; ini pengantin gue, yang satunya boleh elo sikat&#8221;, balas Tomi.<br />
&#8220;Ok sekarang elu-elu pada nyingkir deh, silahkan elo bikin pesat sendiri sama si Anny itu, dan jangan ganggu malam pengantin gue, OK!&#8221;, ujar Tomi kepada teman-temannya.<br />
&#8220;Sip boss&#8230; kita bikin pesta sendiri&#8221;, ujar Asep. Dan menyingkarlah ke-4 teman-teman Tomi sambil membopong Anny.<br />
&#8220;Hmmm&#8230; sayangku&#8230; mari kita nikmati malam pengantin kita sayang&#8230;&#8221;, bisik Tomi kepada Maya yang tengah pingsan.</p>
<p>Dengan senyum kemenangan Tomi memandangi gadis itu yang tengah tergeletak di sebuah dipan kayu.<br />
&#8220;Akhirnya aku dapatkan kau&#8230;&#8221; ujarnya dalam hati.<br />
Kedua tangannya bergerak meraba payudara gadis itu. Mulanya pelan-pelan hingga lama kelamaan semakin keras, bahkan kini kedua tangannya dengan ganas meremas-remas payudara Maya yang kalau terlentang terlihat membukit, Tomi merasakan payudara Maya begitu lembut dan kenyal.</p>
<p>Setelah puas meremas-remas payudara Maya, kini Tomi mengeluarkan pisau lipatnya yang memang selalu dibawanya kemana-mana sebagai senjata. Dengan kasarnya kemudian Tomi merobek-robek baju kaos lengan panjang Maya, hingga tinggal BH putihnya saja yang menutupi kedua payudaranya yang berukuran 34B. Namun akhirnya diputuskannya tali BH itu dan dicampakannya BH itu kelantai sehingga kini terlihatlah kedua gundukan indah payudara Maya yang putih mulus, membusung kencang, dan padat berisi, dengan putting susunya yang masih mungil berwarna kemerahan. Setelah itu serta merta dengan bernafsu dikulumnya dan dijilat-jilatnya kedua payudara itu dengan sesekali digigit-gigitnya kedua puting payudara itu.<br />
Puas dengan bagian payudara kini Tomi melepas celana jeans yang dikenakan Maya, sreett&#8230; sekali tarik terlihatlah bagian bawah dari Maya dengan celana dalamnya yang berwarna putih. Kedua mata Tomi kembali terbelalak melihat pemandangan indah itu, diusap-usapnya kedua paha putih mulus Maya juga gundukan dipangkal pahanya itu.</p>
<p>Sedang asyik asyiknya mengusap-usap gundukan kemaluan Maya, tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari ruang sebelah. Tomipun menghentikan aktifitasnya lalu bangkit seraya berlari mendekati arah suara itu. Sesampainya disuatu ruangan asal muasal suara itu, matanya kembali terbelalak melihat pemandangan erotis yang tengah terjadi diruangan itu. Jantungnya berdetak keras, birahinya memuncak melihat pemandangan diruangan itu. Diruangan itulah Tomi melihat Anny yang rupanya telah sadar tengah &#8220;dibantai&#8221; oleh Asep, Ujang, Afung dan Cecep.</p>
<p>Tubuh Anny yang dengan posisi merangkak nampak tengah disodomi dari belakang oleh Asep yang memiliki badan yang jauh lebih besar daripada Anny. Asep dengan sangat keras dan kasarnya mengocok-ngocok batang kemaluannya didalam lobang anus Anny. Mula-mula Anny meraung-raung ampun-ampunan karena kesakitan, namun teriakan-teriakannya tidak berlangsung lama karena kemudian dimulut Anny telah tertanam batang kemaluan Ujang. Ujang memposisikan dirinya didepan Anny, setelah berhasil menyumpalkan batang kemaluannya didalam mulut Anny kemudian dengan tangan kirinya yang memegang kepala Anny dia paksa kepala Anny untuk bergerak maju mundur.</p>
<p>Ujang dan Asep nampak sangat menikmati keadaan itu, mereka mendesah-desah merasakan nikmatnya bagin-bagian tubuh Anny itu. Tak berapa lama kemudian merekapun berejakulasi. Asep menyemburkan spermanya didalam lubang anus Anny dan sejenak kemudian Ujang memuntahkan cairan spermanya didalam mulut Anny. Nampak Anny megap-megap dibuatnya di saat harus menelan cairan sperma Ujang yang cukup banyak.</p>
<p>Setelah itu kedua orang tadi menyingkir dan posisinya digantikan oleh Cecep. Cecep ini baru berusia 23 tahun, namun perawakannya besar dan tinggi, batang kemaluannyapun nampak telah mengacung membesar dan siap menelan mangsa. Kini Cecep bersiap-siap menyetubuhi Anny, direntangkannya tubuh Anny yang kepayahan itu dan langsung ditindihnya. &#8220;Oouugghhh&#8230;&#8221;, Anny melengking disaat kemaluan Cecep yang besar itu melesak kedalam liang vaginanya. Pemandangan ini sudah cukup untuk membangkitkan birahi Tomi diapun berjalan meninggalkan ruangan pembantaian Anny itu dan kembali menghampiri Maya pasangannya.</p>
<p>Tiba-tiba Maya terbangun dan membuka mata. Maya kaget mendapati kedua tangannya terikat dan keadaan tubuhnya hanya tinggal celana dalam. Dan lebih kaget lagi ketika dihadapannya melihat Tomi tertawa terkekeh-kekeh menyaksikan dirinya yang tak berdaya.<br />
&#8220;Rasain deh lu, makanya jadi cewek jangan sombong. Jadi terpaksa elu gua kerjain deh?&#8221; Tomi berbicara.<br />
&#8220;Kepaksa, malam ini elo harus bisa memuaskan gue, kekasih elo&#8221; lanjutnya.<br />
Maya semakin takut karena dia tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, badannya mulai gentar, mukanya memucat. Air matanya mulai meleleh seiring dengan kata-kata ampunan yang keluar dari bibirnya.<br />
&#8220;Pak Tomi&#8230; ampun pak&#8230; jangan sakiti aku&#8230;&#8221;, pintanya sambil terisak-isak. Permohonannya ini nampaknya semakin membuat Tomi terangsang.<br />
Satu persatu dilepaskannya baju dan celananya hingga akhirnya telanjang bulat. Badan Tomi nampak gemuk dengan perut yang membuncit, beberapa gambar tatto nampak menghiasi tubuhnya.</p>
<p>Kemaluannya nampak telah menegang keras, ukuran juga besar dengan ujungnya yang telah basah. Maya semakin merintih-rintih ketakutan, dia pejamkan matanya sambil terus menangis. Dia sadar akan diperkosa. Tomi kemudian bergerak mendekati Maya dan meraih kepala Maya. Belum sempat berteriak, mulut Maya tiba-tiba dijejali dengan batang kemaluannya yang sudah menegang dan membuat gadis itu tersedak.</p>
<p>Maya berusaha terus menutup mulutnya namun setelah jempol dan jari telunjuk Tomi menutup lobang hidung Maya, diapun membuka mulutnya sebagai reaksi karena kekurangan oksigen. Langsung mendapat kesempatan itu dihujamkannya batang kemaluannya kedalam mulut Maya. Dia tak bisa berbuat apa-apa karena Tomi memegang kepala gadis itu. Rasa mual membuat Maya hampir muntah dan berusaha melepaskan kemaluan Tomi di mulutnya. Tomi gerak-gerakkan batang kemluannya di mulut gadis itu, maju-mundur dan diputar-putar didalam rongga mulut Maya. Selama sepuluh menit Tomi menjejali mulut gadis itu dengan batang kemaluannya.<br />
Puas dengan itu kemudian Tomi mengeluarkan kemaluannya dari mulut gadis itu. Maya langsung mencoba berteriak tapi Tomi cepat-cepat membekap mulutnya dan berkata, &#8220;Diem lu, jangan berteriak atau gue bunuh kamu?&#8221;, sambil menempelkan pisau lipatnya. Maya terdiam karena takut ancaman itu. Dan hanya bisa menangis sampai gadis itu kelelahan dan lemas. Setelah sejenak menikmati wajah Maya, kini Tomi menurunkan celana dalam putih Maya dan melemparkannya ke lantai, Mayapun hanya bisa pasrah tanpa perlawanan.</p>
<p>&#8220;Gile, memek elo bagus banget&#8230; waw indah sekali&#8230;?&#8221; bisik Tomi kepada Maya.<br />
Memang gadis seusia Maya memiliki kemaluan yang indah, masih perawan, bulu-bulunyapun tipis dan halus-halus tumbuh rapih berjajar disekitar lobang vaginanya dan kulit di sekitar vagina Maya tampak putih bersih.<br />
Kedua tangan Tomi kembali meremas-remas payudara gadis itu. Maya menjerit-jerit ketika Tomi memijat-mijat putting susunya. Kembali Maya berteriak lagi, kembali pula Tomi ancam Maya &#8220;Lu bisa diem ngga&#8230;!?&#8221;.<br />
&#8220;Sekarang, Lu harus nyobain ****** gue ini&#8230;pasti nikmat.?&#8221; Tomi berkata.<br />
&#8220;Kita jadikan malam ini sebagai malam pengantin kita, hahaha&#8230;&#8221;, sambungnya.<br />
&#8220;Jangaaan pak&#8230; oouuhh&#8230; jangaaan, &#8230;ampuunn pakk&#8230; ? Maya memelas.<br />
Tapi Tomi tak peduli dengan ucapan gadis itu.<br />
Diapun jongkok didepan Maya, dia angkat pahanya dan melebarkannya. Kepala Tomi menunduk memperhatikan kemaluannya Maya yang ditumbuhi bulu-bulu tipis, tampak belahan kewanitaan Maya masih sempit sekali dan berwarna kemerahan . Kepalanya bergerak dan mulutnya mulai menjilati kemaluan gadis itu.</p>
<p>Mendapatkan perlakuan itu badan Maya langsung menggeliat-geliat suaranya terengah-engah merasakan kemaluannya kegelian karena dijilati. Hanya suara erangan gadis itu saja yang terdengar, &#8220;Ehhmmhh&#8230; engghh&#8230; ouuhhh&#8230; oohh&#8230; dst&#8221;. Sementara mulut Tomi terus menjilati kemaluan Maya, tangannya bergerak ke atas dan memijat-mijat payudara Maya serta mempermainkan putting susu gadis itu.. Maya menggeliat antara sakit, geli dan takut.<br />
Tiba-tiba Maya mengangkat pinggulnya dan mendesah lemah. Rupanya Gadis itu telah orgasme. Dari vagina gadis itu keluar cairan. Ketika melihat bibir vagina gadis itu telah basah, cepat-cepat Tomi mengarahkan kontolnya yang sudah menegang dan mendekatkannya ke bibir vagina gadis itu. Sambil memegang pinggul gadis itu, Tomi melesakkan batang kemaluannya.</p>
<p>Dan&#8230;&#8221;Aahhh&#8230; sssakittt&#8230; oouughhh&#8230; a.. ammpunn&#8230; pak.. oouhhh&#8230;&#8221;, Maya merintih tajam tubuhnya menegang kaku menahan rasa sakit dipangkal pahanya. Walaupun dengan susah payah akhirnya Tomi berhasil menanamkan batang kemaluannya masuk amblas ke dalam lubang kemaluan Maya yang masih sangat sempit itu. Maya menjerit kesakitan, badannya meregang kesakitan, saat merasakan penis Tomi merobek selaput daranya. Sejenak Tomi merasakan kenikmatan hangatnya lobang kemaluan Maya dan merasakan denyut-denyut dinding kemaluan Maya serasa memijat-mijat batang kemaluannya.</p>
<p>Akhirnya Tomipun mulai mengerakkan kemaluannya maju mundur. Tangannya memegang pundak gadis itu sedang mulutnya menciumi bibir dan pipi Gadis itu. Maya mendesah-desah dan mengerang-erang membuat Tomi semakin bergairah dan mempercepat gerakan memaju-mundurkan kemaluannya itu. &#8220;Oohh&#8230; oouufffh&#8230; ooouuh&#8230; aahh&#8230; dst&#8221;, Maya mengerang-ngerang. Tubuh keduanya telah dibanjiri oleh peluh seolah-olah mereka sedang mandi.</p>
<p>Puas dengan posisi itu kini Tomi mencabut kemaluannya dan membalikkan tubuh Maya. Dan memposisikan tubuh telanjang gadis itu seperti ******. Dari arah belakang kembali Tomi menghujamkan kontolnya yang kini ke dalam liang dubur gadis itu.<br />
&#8220;Aaakhhh&#8230;!!!&#8221;, Maya kembali memekik kesakitan, badannya kembali mengejang keras menahan sakit yang teramat sangat ketika liang anusnya dibobol oleh kemaluan Tomi.</p>
<p>Setelah tertanam, Tomi kembali memompa dengan gerakan yang semakin cepat. Kedua tangan Tomi yang besar semakin kasar meremas-remas susu gadis itu. Maya semakin mengerang-ngerang kesakitan. Tapi Tomi tak peduli. Terus saja Tomi maju mundurkan pinggulnya dengan cepat. Sadar dirinya akan mencapai klimaks, Tomi mencabut batang kemaluannya dari lobang dubur Maya. Setelah itu dihempaskannya tubuh Maya hingga kembali terlentang. Kembali Tomi menancapkan batang kemaluannya didalam liang vagina Maya yang telah dibasahi oleh cairan kewanitaannya yang bercampur darah perawannya.</p>
<p>Bless&#8230;batang kemaluan Tomi menghujam masuk tanpa kesulitan, kembali digenjotnya tubuh Maya dengan cepat dan kasar, sampai-sampai dada Tomi menghantam-hantam wajah Maya yang meringis-ringis kesakitan. Kini Tomi menggoyang tubuh Maya dengan hebat hingga tubuh Maya terbanting-banting disodok oleh Tomi. Sampai akhirnya saat yang ditunggu-tunggu oleh Tomi, kini tubuh Tomi mengejang, wajahnya menyeringai menengadah keatas, otot-ototnya mengeras dan akhirnya dia menyemprotkan spermanya di vagina gadis itu, Croottt&#8230; crrottt&#8230; crrottt&#8230; jumlahnya banyak sekali.</p>
<p>&#8220;Oogghhh&#8230; ahh&#8230;&#8221;, Tomi memekik puas sambil terus menyemprotkan spermanya memenuhi rongga vagina Maya sambil kedua tangannya mencengkram erat pinggul Maya.<br />
Mayapun tiba-tiba mendesah panjang&#8230; &#8220;ooouuuuhhgggg&#8230;&#8221;, sambil menerima tumpahan sperma Tomi yang melimpah ruah itu hingga meluber keluar dari sisi-sisi rongga kemaluannya badannyapun mengejang dan bergetar, sepertinya diapun mengalami ejakulasi sesuatu yang baru dialaminya seumur hidup.</p>
<p>Beberapa detik kemudian setelah sama-sama mengalami orgasme tubuh kedua insan itupun melemas, tubuh Tomi jatuh menindih tubuh Maya. Kini hanya suara nafas kedua insan itu yang saling memburu menghiasi akhir dari pergumulan itu. Setelah diam selama 15 menit, Tomi kemudian bangkit dari atas tubuh Maya serta melepaskan kontolnya, &#8220;Ooohhh&#8230;&#8221;, Maya mendesah panjang disaat Tomi mencabut batang kemaluannya yang beberapa menit lamanya mengisi rongga kemaluannya.<br />
&#8220;Sayang&#8230; gimana rasanya ? enak kan ?&#8221;, tanya Tomi kepada Maya.</p>
<p>Mayapun diam seribu bahasa dan memalingkan wajahnya dari pandangan Tomi.<br />
&#8220;Ayo sini sayang ada lagi tugas buat kamu&#8230;&#8221;, ujar Tomi serta meraih dan mengangkat kepala gadis itu untuk kemudian memaksa Maya menjilati batang kemaluan Tomi yang masih basah oleh sperma dan darah.<br />
Anehnya Maya hanya pasrah dan menuruti saja perintah Tomi tadi secara perlahan-lahan diraihnya betang kemaluan Tomi yang kembali menegang itu dan kemudian dijilat-jilat serta dikulumnya batang kemaluan Tomi bak makan permen sampai bersih.</p>
<p>Setelah selesai dan merasa puas, Tomi bangkit dan membiarkan tubuh Maya yang telanjang itu terjatuh lemas. Tomi bergerak mendekati Maya yang masih lemah dan membisikkan kata-kata mesra di telinganya<br />
&#8221; Kamu hebat sayang&#8230; aku cinta sama kamu&#8221;.<br />
Karena dilihat Maya terkulai lemas dan sepertinya tertidur karena kecapaian, maka Tomi memutuskan untuk meninggalkannya dulu. Tomi ingin melihat kegiatan di ruangan lain dimana tadi terjadi pembantaian itu.</p>
<p>Sesampainya dirungan yang ditujunya mata Tomi terbelalak ketika melihat pemandangan yang ada diruangan itu. Teman-temannya nampak tidur tiduran sambil melepas lelah setelah membantai Anny yang tubuh telanjang Anny nampak tergeletak dengan posisi telentang dilantai, kedua kakinya mengangkang lebar dengan lutut tertekuk. Setelah diamati dari dekat oleh Tomi ternyata kondisi Anny sangat mengenaskan dia telah diperkosa secara buat oleh teman-temannya, mulutnya dipenuhi oleh cairan sperma yang mengental sampai meluber disekitar mulut dan pipinya. Rupanya oleh teman-temannya Tomi Anny dipaksa melakukan oral sex dan mereka telah menumpahkan spermanya didalam mulut Anny.</p>
<p>Matanya nampak sayu serta nafasnya terdengar pelan terengah-engah. Kuturunkan tatapan mataku keseputar payudaranya yang berukuran tidak begitu besar, disitu terdapat banyak bekas-bekas gigitan dan salah satu putingnya nampak berdarah, disitu juga terdapat tumpahan sperma yang telah mengering. Dan akhirnya kutatap kemaluan gadis itu, kondisinya rusak parah, kemaluannya sudah memerah dan membengkak, banyak ceceran darah dan sperma didaerah itu. Tomi menggeleng-gelangkan kepalanya melihat kondisi Anny.</p>
<p>Tiba-tiba Asep bangkit dia menyalakan rokoknya dan kemudian menyelipkannya dibibir kemaluan Anny.<br />
Tomi dan Aseppun tertawa terbahak-bahak, &#8220;Kasihan dia sudah bekerja keras memuasin kita-kita orang ini, aku kasih dia rokoklah&#8221;, ujar Asep.<br />
&#8220;Eh sebentar gwe mau kencing dulu&#8221;, ujar Asep berjalan meninggalkan ruangan pembantaian Anny sambil mengakhiri tawanya.</p>
<p>Diruangan itu pula Tomi bergerak kearah tumpukan pakaian Anny yang berserakan dilantai, dia rupanya tertarik dengan tas punggung Anny. Dengan rasa penasaran dia buka-buka isi tas Anny, membaca buku hariannya, membuka-buka dompet Anny, memerika ponsel milik Anny, kurang lebih 5 menit lamanya dia buka-buka itu semua. Sedang asyik-asyiknya dia membuka-buka buku Anny, tiba-tiba dia dikejutkan dengan teriakan diruangan samping. Serta merta dia berlari menuju kearah situ.</p>
<p>Kembali mata Tomi terbelalak serta menggeleng-gelengkan kepalanya tatkala melihat Asep ternyata tengah asyik menyetubuhi Maya.<br />
&#8220;Sss&#8230; sorry.. b.. boss.. gwe kagak tahan&#8230; lihat cewek cantik ini&#8230;&#8221;, ujar Asep sambil terus memompakan kemaluannya didalam kemaluan Maya.<br />
&#8220;Oouuhhh&#8230; aaahhh&#8230; jj&#8230; jangann&#8230; kasar&#8230; kassarr&#8230; oohh&#8230; oohh&#8230;&#8221;, Maya kembali merintih-rintih sambil tubuhnya terhempas-hempas sebagai akibat sodokan-sodokan keras Asep.</p>
<p>&#8220;D.. diem&#8230; luh&#8230; rasain&#8230; aja.. ****** gue&#8230; inii&#8230; aakkhh&#8230; akhh.. fuck ! ohh&#8230; fuck&#8230;!!&#8221;, ujar Asep sambil terus menggenjot tubuh Maya.<br />
&#8220;Akhh&#8230; oouhhh&#8230; oh&#8230; a.. ampunn&#8230; oohh&#8230;&#8221;, Maya merintih-rintih dengan tubuh yang terhempas-hempas wajahnya meringis menahan rasa ngilu diselangkangannya.<br />
Sepuluh menit lamanya tubuh Maya disetubuhi oleh Asep, hingga akhirnya Asep memuntahkan spermanya di lubang kemaluan Maya.</p>
<p>Asep terlihat sangat puas sekali dan diapun kemudian menjatuhkan dirinya disisi Maya yang kembali tubuhnya melemas. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam saat mereka tersadar akan waktu yang semakin mepet, tidak terasa sekian lamanya mereka mengerjain kedua gadis itu serasa waktu berlalu cepat.</p>
<p>Tiba-tiba birahi Tomi bangkit kembali, didekatinya kembali tubuh Maya yang tertidur kerena kecapaian itu dan dibangunkannya Maya dari tidurnya.<br />
&#8220;Hoeii bangunnn&#8230;&#8221;, bentak Tomi kepada Maya.<br />
&#8220;Oohhh&#8230;&#8221;, Mayapun terbangun.<br />
&#8220;Sayangku&#8230; layanian aku lagi ya&#8230;&#8221;, bisik Tomi dengan tersenyum.<br />
&#8220;Pedangku udah bangkit lagi nih&#8230;gara-gara kamu sih yang menggairahkan sekali&#8230;&#8221;, lanjutnya.<br />
Mimik wajah Mayapun berubah menjadi cemas, matanya mulai berkaca-kaca.</p>
<p>&#8220;Pak.. Tomi&#8230; Maya udah engga kuat pak&#8230; rasanya sakittt&#8230; sekali&#8230; jangann&#8230; pak.. tolong&#8230;&#8221;, ujar Maya dengan suara yang lirih.<br />
&#8220;Peduli setan &#8220;, balas Tomi seraya memposisikan dirinya diatas tubuh Maya.<br />
&#8220;ooohhh&#8230; oohh&#8230;&#8221;, Maya mendesah panjang tatkala Tomi menanamkan kembali kemaluannya didalam lobang kemaluannya. Kembali tubuh Maya digenjot, disetubuhi secara kasar oleh Tomi.</p>
<p>Maya hanya bisa pasrah, air matanya berlinangan, tubuhnya lemah hanya mengikuti irama gerakan dari Tomi yang tengah menyodok-nyodokkan kemaluannya.<br />
Dan setelah beberapa menit lamanya Tomi kembali berejakulasi dilobang kemaluan Maya cairan hangatnya menyembur membasahi rahim Maya.<br />
Rasa puas nampak di raut wajah Tomi, &#8220;Hahaha&#8230;akhirnya aku berhasil mendapatkanmu gadis cantik&#8221;.<br />
&#8220;Gue mau tanya ke elu yang terakhir kalinya, mau engga elu jadi istri gue hah ?&#8221;</p>
<p>Maya hanya diam membisu sambil menangis.<br />
&#8220;Kalo elu engga mau, gue suruh temen-temen gue perkosa elu sampai mati !&#8221;, ancam Tomi.<br />
&#8220;Inget memek elu udah gue siram ama peju gue, dan sebentar lagi elu hamil&#8221;, ujar Tomi.<br />
Kurang lebih setengah jam lamanya Tomi &#8220;merayu&#8221; Maya, kadang terdengar bentakan-bentakan, kadang Tomi menampar wajah Maya, kadang dengan kata-kata halus, yang jelas Tomi terus meneror hati Maya.</p>
<p>Rupanya bujuk rayu dari Tomi tak membuahkan hasil sementara waktu sudah menunjukkan pukul 2 dinihari.<br />
Akhirnya Tomi mempersilahkan teman-temannya untuk &#8220;mencicipi&#8221; tubuh Maya.<br />
&#8220;Rasain tuh ******-kontolnya temen-temen gue biar mampus elu, cewek sombong !&#8221;, ujar Tomi dengan mencibir.<br />
Tanpa membuang waktu lagi keempat teman Tomi mulai menjamah tubuh Maya.</p>
<p>Mereka mulai memperlakukan Maya seperti Anny. Mulai dengan Afung yang langsung menyodomi Maya setelah itu vagina Maya kembali dihajar oleh kemaluan milik Ujang, juga mulut Maya dipaksa mengulum batang kemaluannya Cecep dan setelah berejakulasi menelan spermanya, terakhir ketika Maya telah kepayahan Asep kembali menyetubuhi Maya. Kini keadaan Maya tidak jauh beda dengan Anny, seluruh wajah badan dan kemaluannya yang telah membengkak penuh dengan cairan sperma.</p>
<p>Kini waktu telah menunjukkan pukul 4 pagi, seluruh pemerkosa tadi telah berpakaian lengkap dan rapi. Sebelum mereka pergi, mereka menggotong tubuh Maya untuk disatukan dengan Anny. Kedua tubuh yang tak berdaya itu kini tergolek lemah, keduanya diposisikan terlentang sejajar dengan kondisi tubuh mereka yang telanjang bulat. Sebelum pergi Tomi mengecup kening Maya dan Asep kembali menyelipkan sebatang rokok yang menyala dikemaluan Maya juga Anny. Dengan diiringi tawa serta canda kelima pemerkosa itu pergi meninggalkan rumah kosong tempat dimana tubuh Maya dan Anny tergolek pingsan..</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ratubokep.wordpress.com/289/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ratubokep.wordpress.com/289/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ratubokep.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ratubokep.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ratubokep.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ratubokep.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ratubokep.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ratubokep.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ratubokep.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ratubokep.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ratubokep.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ratubokep.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ratubokep.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ratubokep.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ratubokep.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ratubokep.wordpress.com/289/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ratubokep.wordpress.com&amp;blog=3238500&amp;post=289&amp;subd=ratubokep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratubokep.wordpress.com/2008/07/20/derita-dua-gadis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/39666b443c5ed3b783b16caa6a8deccb?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
