Tjoan dan Pipit ngentot

Panggil saja aku Tjoan, aku WNI keturunan yang dibesarkan di Pontianak, tubuhku langsing berisi karena aku berprofesi sebagai instruktur aerobik dengan rambut panjang sebahu dan wajah yang kata orang cukup tampan. Pengalamanku ini terjadi di Bandung pada bulan Agustus 1998.
Saat itu Indonesia baru saja dilanda kerusuhan berbau SARA. Aku yang sedang menjalani bisnis sepatu lisensi Finoti di Bandung terpaksa memindahkan tempat produksiku dari Kiara Condong ke daerah Karasak. Aku mengontrak sebuah rumah yang cukup besar di sana. Aku merekrut pegawai dari daerah sekitar kontrakanku sehingga tak heran aku cepat akrab dengan warga sekitarku.

Saat itu mendekati Bulan Agustus, Karang Taruna di daerahku tengah membentuk kepanitiaan agustusan. Karena aku dianggap sebagai pengusaha muda yang sukses, maka warga sekitar menunjukku sebagai bendahara panitia. Saat itulah aku dikenalkan dengan seorang gadis manis yang seksi yang ditunjuk sebagai wakilku. Namanya Pipit, orang sunda asli, usianya baru 18 tahun.Aku sudah tertarik padanya sejak pandangan pertama walaupun saat itu aku sudah punya pacar, Susan, gadis keturunan juga, dan aku pun tahu kalau Pipit juga sudah punya pacar.
Sejak itu aku dan Pipit sering bertemu karena tugas panitia. Kami sering berkumpul di rumah kontrakanku. Aku dan Pipit semakin akrab, bahkan aku sudah tak canggung untuk menggandeng tangannya atau memeluk bahunya. Nampaknya Pipit juga tertarik kepadaku. Aku pernah memboncengnya dengan kawasaki ninjaku untuk membeli keperluan alat tulis panitia. Saat itu payudara Pipit terasa menempel di punggungku. Aku jadi merasa horny dan timbul niatku untuk mencumbunya.
Hari itu Minggu pagi, aku masih terlelap karena tadi malam aku habis berkencan dengan Susan, tiba-tiba Telepon rumahku berdering. Dengan malas-malasan aku mengangkatnya. ” Hai An, masih tidur ya?, Pipit tadi ketuk-ketuk pintu kok nggak dibuka?, sekarang Pipit mau ke rumah ambil buku catatan keuangan panitia, ganggu nggak?”, dengan tergagap aku menjawab: “Nggak-nggak, datang aja ke sini, Tjoan tunggu ya”. Akhirnya kesempatan itu datang juga bisikku dalam hati, segera saja aku ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh.
Tak lama Pipit datang, dia memakai baju ketat berwarna biru dan celana bahan ketat warna hitam sehingga lekuk-lekuk tubuhnya terlihat jelas. Aku meneguk air liur melihat pemandangan itu. Segera saja aku persilahkan Pipit masuk. Aku mengajaknya ke dalam kamarku dengan dalih buku panitia ada di kamar. Kamarku tanpa tempat tidur, hanya beralaskan karpet. Pipit duduk di karpet sambil membuka-buka buku catatan panitia. Aku sudah tak tahan, langsung saja aku peluk tubuhnya dan kucium pipinya. Awalnya Pipit berontak, “An, apa-apaan sih?, malu kan kalau ada yang liat?”, protesnya, “Tenang aja Pit, pintunya udah Tjoan kunci, emang Pipit nggak suka ya sama Tjoan?”, kataku merajuk. Akhirnya sikapnya melunak, Pipit mulai membalas ciumanku bahkan tangannya mulai memeluk pundakku. Kami berciuman cukup lama, aku bisa merasakan kalau pentil susu Pipit mulai mengeras.
Tanganku mulai bergerilya meremas-remas payudaranya. Perlahan kusingkap bajunya dan kutarik BH-nya ke atas, maka tampaklah pemandangan yang sangat menggairahkan, Payudara putih bulat besar dengan pentilnya yang coklat seperti menantang untuk aku kerjai. Segera saja kulumat pentilnya, lidahku menjilat-jilat sambil sesekali kuhisap kuat-kuat pentil susunya. Pipit menggelinjang kegelian sambil mulutnya mendesah nikmat. Penisku sudah tegang dari tadi dan tampak menonjol di balik celana pendek hawaiku. Pipit tidak tinggal diam, tangannya mengusap-usap penisku. Aku kemudian menurunkan celanaku hingga batas lutut, penisku seperti loncat keluar dari celanaku. Penisku, seperti penis warga keturunan lainnya, tidak besar tetapi cukup panjang dengan kepalanya yang berwarna merah muda. Pipit kemudian mengocok-ngocok penisku sambil memandanginya, aku berpikir mungkin dia sedang membandingkan penisku dengan penis pacarnya. Tiba-tiba Pipit merunduk di selangkanganku, mulutnya yang kecil melumat kepala penisku, “Akh..”, aku menjerit kecil merasakan belaian lidahnya yang seperti besi panas di sekeliling kepala penisku. Pipit semakin asik mengerjai penisku, aku sudah seperti cacing kepanasan merasakan mulutnya menyedot-nyedot batang dan kepala penisku.
Aku tidak tinggal diam, tanganku yang bebas segera membuka kancing celana panjang Pipit dan menarik turun celananya. Pipit mengenakan celana dalam warna pink dengan pita di atasnya. Bulu jembutnya yang hitam tebal tampak membayang di balik CD-nya. Segera kutarik turun CD-nya dan tampaklah belahan memeknya yang kecoklatan terpampang di hadapanku. Aku tarik pantatnya agar mendekati wajahku, maka kali ini kami berposisi 69. Dengan rakus kujilati lubang memeknya, kuhisap itilnya dan kadang-kadang lidahku menyodok-nyodok lubang vaginanya. Pipit masih sibuk dengan penisku, dijilatinya biji pelirku sambil tangannya mengocok-ngocok batang kontolku. Tidak berapa lama Pipit mengerang, ditekannya pantatnya ke wajahku, tampaknya dia sudah mau keluar. “Akh.., An, Pi..pit..mau..akh!”, Pipit menjerit kecil, kurasakan pantatnya berdenyut beberapa kali di wajahku, lidahku kembali menyodok-nyodok lubang memeknya,kurasakan cairan kental asin membasahi lubang memek Pipit.
Aku kemudian membalikan tubuh Pipit ke sampingku. Dari cara permainannya aku yakin kalau Pipit sudah biasa berhubungan sex sehingga aku tidak ragu lagi untuk menyetubuhinya. Kubuka kedua paha Pipit dan kuarahkan penisku ke lubang memeknya sementara kedua tanganku menyangga pantatnya agar memeknya mengarah ke atas. Bless.., penisku gampang saja masuk ke lubang memeknya yang sudah basah oleh lendir. Aku mulai memaju-mundurkan pantatku, paha kami saling beradu sementara batang penisku sibuk keluar-masuk lubang memeknya. Bunyi decakan dari lubang memek Pipit semakin membuatku bersemangat menggenjot pantatku. Tak berapa lama kurasakan sesuatu mendesak-desak ingin keluar dari batang penisku, aku hampir mencapai puncak, kupeluk tubuh Pipit dan kuciumi bibirnya dengan bernapsu sampai akhirnya “okh..Tjoan nggak kuat Pit.. akh!”, aku menjerit, bersamaan dengan itu air maniku muncrat membasahi lubang memeknya. Kutekan kuat-kuat penisku ke lubang memeknya. Aku pun terkapar di atas tubuhnya.
lama kami berpelukan sampai bunyi telepon rumahku menyadarkan kami. Pipit berlari ke kamar mandi sementara aku mengangkat telepon. “Ini Tjoan?”, terdengar suara wanita dewasa diseberang telepon sana, “Iya bu, ini siapa ya?”, jawabku. “Ini mamahnya Pipit, Pipit ada di sana?”, “Eh, ada bu, mau bicara sama Pipit?”, kataku tergagap karena tidak menyangka akan menerima telepon dari mamanya Pipit. “Nggak, bilangin aja Pipit cepat pulang, kan mau pergi ke undangan”, “Baik bu, Tjoan sampaikan”, jawabku. Setelah menutup telepon ku hampiri Pipit yang sudah berpakaian kembali. “Pit, mamah telepon, katanya kamu cepat pulang, kan mau ke undangan”, kataku, “Eh, iya yah Pipit hampir lupa, untung mamah nggak nyusul ke sini”, jawabnya sambil tersenyum nakal. Aku gemas, kupeluk tubuhnya dan kucium bibirnya. Beberapa saat kami berciuman mesra sebelum akhirnya Pipit mendorong dadaku. “Udah ah, nanti jadi pengen lagi”, katanya sambil tersenyum. Pipit berjalan ke arah pintu rumahku. “Besok-besok main ke sini lagi ya Pit”, kataku sambil mengedipkan mata, “Maunya tuh ha ha”, jawabnya sambil berlalu dari halaman rumahku.
Sejak itu aku dua kali lagi berhubungan badan dengan Pipit, kedua-duanya dilakukan di rumahku setelah kami lari pagi di hari Minggu. Hampir semua gaya sex kami praktekan hingga aku benar-benar merasa puas. Pacar-pacar kami tidak mencurigai hubungan kami. Sayang aku tidak bisa lama berhubungan dengan Pipit karena orang tuaku memintaku kembali ke Pontianak. Sampai sekarang aku tidak mendengar lagi berita tentang Pipit, tetapi kenanganku bersamanya akan selalu kubawa.

KOMENTAR YANG BERISI ALAMAT EMAIL, NO. TELP/HP ATAU PIN BB PADA BOX KOMENTAR AKAN DIHAPUS OLEH ADMIN (SPAM)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s