Kekuatan cinta

Si Bule petugas Imigration ini mulai membuatku kesal. Dia lebih lama meneliti pasporku dibanding orang-orang sebelumku tadi. Dibolak-balik lagi, padahal visa Italy yang kudapat masih berlaku. Ini memang kunjunganku ketiga ke Roma. Tentu kali ini kunjungan yang berbeda, bukan training seperti sebelumnya, tapi aku melakukan perjalanan ribuan mil kemari hanya punya satu tujuan: Menemui Florence, kekasih gelapku.

Sobatku di Bandung, sebut saja Erwin, barangkali benar. Dia menyebutku gila. Gimana nggak, aku terbang belasan jam meninggalkan keluarga dan pekerjaan. Selama ini dia hanya menyebutku ‘nekat’ untuk affairku yang lain beberapa tahun lalu. Di matanya, berarti aku ‘naik grade’ dengan kenekatanku sekarang ini. Biarlah. Inilah mungkin yang orang sebut sebagai ‘the power of love’.

Kenapa aku sampai segila ini, well.. kubawa Anda flashback sebentar pada awal perkenalanku dengan Florence. Bermula dari sepucuk mail yang kuterima mengomentari tulisanku di 17tahun. Mail yang masuk itu berasal dari mail-address Yahoo.com. Dari namanya, jelas aku dapat menebak bahwa pengirimnya wanita dari etnis Chinese.

Kesan pertamaku, pengirim mail ini orangnya terbuka, sebab puluhan mail yang kuterima sebelumnya seluruhnya menggunakan domain web based mail yang gratis dan 100 % menyembunyikan identitas (termasuk aku juga lho…). Maklumlah, di negeri kita soal yang menyangkut seks dibahas tertutup atau malu-malu. Florence berbeda, dia mengirim komentar ‘kisah tabu’ku menggunakan address yang ‘terang benderang’. Inilah yang menarik, sehingga aku cepat-cepat membalas comment-nya mendahulukan mail-mail lain yang masuk duluan. Aku ingin mengenalnya lebih dekat, siapa tahu kelak berlanjut.

Waktu itu aku berpikir juga, siapa tahu aku bisa terlibat affair lewat virtual world, seperti yang pernah kubaca di majalah dan di tabloid, kelihatannya excited, gitu. Hal lain yang membuatku begitu bersemangat adalah, terus terang, karena dia Chinese. Aku belum pernah berpacaran dengan keturunan China. Bergaul sih sering, di kantor atau di kompleks perumahan di mana aku tinggal.

Mail pertama yang kukirim ke Florence langsung kusebutkan statusku sebenarnya dengan jujur, yaitu umurku yang sudah jauh di atas ABG, berkeluarga, kota tinggal, dll kecuali nama asli. Aku masih menyembunyikan nama asliku. Pembaca bisa maklum kan, di cyber world ini awalnya wajib berhati-hati, siapa tahu mail-pal kita ini ternyata tetangga sebelah atau kawan kantor, kan bisa terbuka ‘kenakalan’ku selama ini, berabe…

Niat awalku sih bisa mengenalnya lebih jauh, kemudian janjian ketemu, dan berlanjut ke ranjang (kenyataannya kemudian berlanjut lain, melibatkan emosi dan perasaan cinta, sungguh di luar dugaanku). Balasannya menyebutkan bahwa dia pernah tinggal di Bandung, nah.. kalau dia sekarang tinggal di Jakarta atau kota lain yang agak dekat, aku bisa mewujudkan keinginanku itu. Tapi ternyata dia sekarang tinggal di negara lain yang ribuan mil jaraknya dari negeriku. Oh, pupus sudah harapanku. Tapi mail-mail Florence memang menarik dibaca karena begitu terbuka, blak-blakan menceritakan kehidupannya sehari-hari, termasuk kehidupan seks bersama pacar tetapnya yang sekarang (yang ternyata pencemburu berat) dan juga bersama teman-teman prianya yang lalu. Aku begitu exited mengikuti pengalaman seks-nya yang diceritakan lewat mail dan situs 17thn. Bayangkan, dengan beraninya dia ML dengan anjing di dalam rumahnya ketika pacarnya tidak ada di rumah. Juga ketika dia menikmati betul-betul ketika ‘dikerjain’ sama orang di atas bis kota di Roma. Libidonya memang termasuk tinggi dan nekat.

“Coba aja kamu tulis cerita pengalaman pribadi kamu rada banyakan ke situs ini,” kataku lewat mail.
“Nggak ah, bahasa Indonesia gue nggak bagus,” katanya, juga melalui mail.
“Ah, siapa bilang, bagus gitu kok,” kataku jujur. Walaupun sudah belasan tahun di negeri barat, Florence masih fasih berbahasa Indonesia, hanya logatnya memang terasa campuran (aku bisa mengetahuinya ketika bertemu dia).

Selain nekat, jujur, blak-blakan, dan libido tinggi, Florence juga periang, suka humor dan smart. Ketawanya lepas dan terdengar seksi. Masih muda sudah menduduki posisi bagus di perusahaan teknologi informasi di negara Sphagetti, punya penghasilan lebih dari cukup, menunjukkan dia mampu ‘mengalahkan negara maju itu. Hanya orang yang cerdas yang mampu melakukan itu.

Lalu muncullah rasa aneh di dada, suatu desiran perasaan yang nyeri-nikmat. Perasaan sama yang pernah kerasakan sewaktu kelas II SMA ketika pertama kali mengenal indahnya cinta. Sepanjang petualanganku bersama wanita, jarang aku merasakan yang seperti ini. Umumnya hanya satu rasa yaitu nafsu seksual. Apalagi ketika Florence memanggilku dengan sebutan “Mas” sementara aku memanggilnya dengan “Sayang” atau “Yang” saja (romantis ya?).

Lama kelamaan pikiranku banyak dipenuhi oleh Florence di manapun dan sedang apapun. Perasaan nyeri tapi nikmat ini makin sering kualami ketika aku mengenang kembali ucapan mesranya melalui mail. Padahal pembaca, saat itu aku sedang berpacaran dengan seseorang, sebut saja Shanty, yang tinggal di salah satu kota di Sumatera. Masa pacaranku dengan Shanty sudah memasuki tahun kedua. Rata-rata kami bertemu 2 bulan sekali dan tempat pertemuan bisa di kotanya, atau di kotaku, atau di Jakarta. Semua pertemuanku dengan Shanty kami lakukan di hotel, tentu saja menginap satu kamar beberapa malam, layaknya pasangan yang melakukan bulan madu. Perkenalanku dengan Shanty terjadi sewaktu kami sekelas dalam suatu training manajemen di Jakarta. Kini, kedudukan Shanty di hatiku dengan perlahan namun pasti telah tergeser oleh Florence. Aku lebih banyak melamunkan Florence dibanding Shanty, lebih suka membaca mail-mail Florence ketimbang mail Shanty.

Sejujurnya, aku tidak suka dengan keadaanku ini, begitu mudah beralih. Aku menginginkan seorang saja kekasih tetap, selain isteri lho. Aku merasa lelah berpetualang. Kehadiran Shanty mampu mengurangi kenakalanku bersama cewek-cewek lain. Aku mengharapkan hubunganku dengan Shanty akan berjalan terus sampai kami sepakat untuk berpisah baik-baik dan setelah itu aku akan berhenti sama sekali melakukan affair.

Memanage kekasih gelap memang melelahkan. Harus pandai-pandai mengatur waktu, banyak berbohong pada yang di rumah. Menyiapkan jawaban yang masuk akal ketika suatu saat istri nanya. Siap berkelit. Kini aku lelah memanage Shanty. Benar-benar lelah. Saat itulah Florenceti hadir memasuki kehidupanku. Dia hadir begitu saja tanpa kurencanakan, tanpa mampu aku menolaknya. Florenceti lebih matang, lebih mengerti kondisi masing-masing untuk membina suatu hubungan, sehingga kuperkirakan dia tak akan melakukan tindakan yang membahayakanku atau rumah tanggaku.

Kami makin sering berkirim mail, bisa 2 – 3 kali sehari. Rasanya ada sesuatu yang kurang kalau aku tidak membaca mailnya sehari saja. Kadang pertanyaannya membuatku terhenyak kaget. “Are you circumsized?” tanyanya suatu ketika. Wah! Kujawab jujur iya. Dengan senang kujawab semua pertanyaan Florence tentang perbedaan penis yang disunat dengan yang asli. Rupanya, pria-pria yang pernah jadi pacarnya semuanya tidak disunat. Dia begitu penasaran sama yang satu ini.

Kontak kami makin berkembang, tak hanya lewat mail tapi juga lewat telepon. Dia punya usulan yang menyenangkan.
“Gue aja deh yang nelepon,” katanya.
“Lho, kenapa?” sahutku.
“Dari sini lebih murah, gue beli kartu buat sejam nelepon ke Indonesia cuma 10 dollar.
“Murah banget, separoh dari tarif di Indonesia.”
Tapi kalau aku lagi kangen, nekat nelepon juga pakai HP. Dan kemudian Florence yang menelepon balik. Aku tak berani pakai telepon rumah atau kantor. Tagihan membengkak bisa jadi masalah.

Untuk memperkaya media komunikasi, Florence usul untuk chatting. Padahal aku paling tidak suka chatting, sebab selain butuh waktu yang khusus juga bandwidth kantor tak menunjang buat chatting. Menulis mail bisa dilakukan kapan saja di sela-sela jam kerja. “Tapi kalau lewat mIRC beda, begitu instant,” kata Florence sambil menyebut nama server yang sering dia pakai yakni DALNET yang terkenal itu. Diajarinya aku men-“donloat” (Istilah lucu Florence untuk menyebut down load) software dari website itu dan bagaimana memulai chat. Eh, ternyata menyenangkan dan aku jadi kecanduan. Cuma aku harus memperhitungkan perbedaan waktu yang 15 jam. Demi Florence aku rela begadang sampai jam 1 malam dan berangkat kantor jam 6.30 untuk bisa chatting. Again, that’s a kind of power of love.. padahal temanku si Erwin menasihatiku bahwa jangan terlalu percaya sama cewek dari Internet (maklum sih dia pernah ditipu bulat bulat sewaktu naksir sama cewek yang dia kenal dari IRC).

Aku jadi susah tidur, yang semakin mengurangi waktu tidurku sampai aku jatuh sakit! Mungkin karena kurang tidur, atau karena lagi banyak kerjaan, atau kombinasi keduanya. Yang jelas aku merasakan indahnya cinta, bak remaja puber saja. Atau ini memang masa puber keduaku yang datang lebih awal? Tak tahulah.. Yang membuatku ganjil adalah, aku sudah jatuh cinta pada Florence, padahal kami belum pernah ketemu dan si Erwin sudah memberikan info kepadaku bahwa si Florence ini mungkin saja penipu setelah dia mendapatkan info dari temannya bahwa temannya pernah kenal cewek dengan nama Florence tetapi e-mailnya jarang dibalas! kadang aku berpikir bahwa akulah pria terberuntung di muka bumi ini dan benar juga, Savage Garden bilang “I know I love you before I met you” bukan bohongan. Aku mengalaminya. Kasusku inipun memperkuat pendapat psychologist Erlich Fromm bahwa cinta tak harus memiliki. Aku punya anak isteri. Florence telah dimiliki pacar tetapnya yang bernama Erick, tapi kami saling mencintai.

Saling berkirim foto merupakan cerita tersendiri yang kupikir agak lucu. Aku men-scan foto yang kuambil dari rumah sedapatnya (jangan sampai isteriku tanya ada angin apa nih nyari-nyari foto) dan kukirim lewat mail. Florence juga telah kirim pic-nya lewat yahoo emailnya tapi Florence belum juga membuka file jpeg fotoku, belum siap katanya (ini membuatku agak kurang pede juga, jangan-jangan Florence jadi berubah ketika melihat wajahku yang “biasa-biasa” saja). Lalu dia bilang, kalau dia akan membuka pic-ku pada saat yang bersamaan di hari jumat karena disaat itulah kita berkenalan pertama kali dan Florence ingin mencoba membuat hari itu tidak terlupakan. Jadilah, Jumat pukul 13.00 WIB kami tahu wajah masing-masing.

Ingin tahu kesanku setelah membuka e-mail berisi 1 lembar foto Florence? Tak kusangka, Florence itu muda dan cantik! Muda layaknya gadis baru lulus SMA, yang berarti lebih muda beberapa tahun dari umurnya sekarang, dan cantik mirip artis GS. Matanya tidak sipit seperti layaknya Chinese meskipun kesan mandarin-nya ada. Eh, pembaca pria yang barangkali tertarik pada Florence, mendingan nggak usah coba-coba deh. Bukan apa-apa, Florence ini kalau sudah jatuh cinta adalah tipe setia. Selama 3 bulan aku mengenalnya, sudah ada 2 cowok di sekitar pergaulannya yang coba mendekati dan semuanya ditolak. Dan keduanya ‘jatuh’ pada pandangan pertama. Kenapa Florence menolak? Demikian kira-kira pertanyaan Anda bukan? Good question. Sayangnya, aku belum tahu jawabannya apalagi jika anda membaca ceritanya disaat dia menikmati percintaannya dengan anjing dan disaat diisengin sama orang asing di bis kota.

Ok, lanjut ke kisah cintaku, Apa reaksinya setelah tahu tampangku? Dag-dig-dug juga aku menunggu mail di hari berikutnya. Florence tak berubah, ini membuatku makin sayang kepadanya. Well, Erwin, teman baikku bahkan tidak percaya bahwa Florence begitu cantik bahkan dia sempat menggodaku bahwa dia sempat naksir sewaktu aku menunjukkan pic-nya kepada si Erwin tetapi setelah dia selesai menggodaku, dia kembali menasehatiku bahwa itu bisa saja cowok yang berpura-pura menjadi cewek, tetapi aku tetap tidak percaya dengan pernyataannya.

Bukan Florence kalau tak membuat kejutan dalam mailnya. “Suatu saat gue pengin tidur sama Mas” tulisnya. Mabuk dah gua jadinya. Sudah tentu, aku mulai cari-cari peluang untuk bisa terbang belasan jam menemuinya. Segala kemungkinan kujajaki. Semua cara mengandung resiko. Resiko memang harus kuambil kalau ingin berhasil mencapai sesuatu. Aku nekat. Bahkan percaya atau tidak, si Erwin sempat bilang kalau aku termasuk cowok terbodoh yang pernah dia temui karena aku rela terbang jauh hanya untuk menemui seseorang yang tidak jelas jati dirinya dengan alasan yang sudah kuuraikan diatas.

Akhirnya Bule itu menyerahkan passporku sambil senyum ‘standar “Welcome to America,” katanya.
“Thank you,” balasku datar.
Lepas dari imigrasi aku lewati saja gerbang Customs tanpa hambatan, karena memang aku hanya membawa satu koper kecil persediaan pakaian buat seminggu. Lega. Tak lega benar sebenarnya, deburan jantungku makin menguat ketika mendekati pintu keluar. Beberapa menit lagi aku menjumpai kekasihku yang selama ini hanya ada dalam bayangan. Tiba-tiba terlintas dalam kepalaku, bagaimana kalau Florence tak menjemput? bagaimana jika selama ini aku ditipu dan pernyataan si Erwin menjadi kenyataan? Apa yang harus kulakukan di Roma apalagi aku tidak mempunyai kenalan sama sekali di negeri barat ini? Ini sama sekali tak pernah kubayangkan. Pokoknya ke luar dulu, urusan lain dipikir nanti saja lagipula aku bawa uang yang lumayan banyak ini.

Ha! Aku bersorak, dengan senyum lebar Florence bangkit dari duduknya menyambutku.
“Hallo Flo…”
Kami berpelukan erat, deburan dadaku bukannya reda, malah bertambah. Gugup dan salting. Mulutku terkunci.
“Nih..” katanya sambil menyerahkan 5 tangkai mawar merah (means: I love you very much), sesuai permintaanku, juga rok yang dikenakannya. Florence jarang memakai rok, jelas ini hanya khusus buatku. Aku memang lebih suka melihat cewek memakai rok dibanding celana panjang, lebih feminim.

Dalam perjalanan menuju tempat parkir kami tak banyak bicara, lidahku benar-benar kelu. Kami hanya saling pandang dan lempar senyum. Sambil jalan tangan kiriku merangkul bahunya. November di Roma dinginnya menusuk tulang. Tapi bukan karena kedinginan itu aku memeluk bahunya. Ini memang sering kukhayalkan sebelumnya, aku ingin semesra mungkin. Wow, Florence membuka pintu mobilnya yang iklannya berbunyi, “Kelas tersendiri” warna biru dan jendela kaca yang gelap.
“Welcome to America, Mas…” sambutnya setelah kami duduk di mobil.
“Oh, makasih Yang,” sahutku menatap matanya. Kami saling bertatapan.

Kusingkirkan derai-derai poninya lalu kukecup dahinya, lembut tapi penuh perasaan. Matanya terpejam, bahkan belum terbuka ketika aku melepaskan kecupanku. Kusentuhkan punggung jari-jariku ke pipinya. Florence membuka mata. Kukecup ujung hidungnya yang mancung, sekejap. Lalu wajahnya mendekat, bibirnya sedikit membuka dan kami siap berciuman untuk pertama kalinya. Aku kecele. Bibir Florence mendarat di bawah bibirku. Oh.. Kenapa aku lupa! Dalam chatting kami Florence pernah menulis dia suka mencium daerah antara bibir dengan dagu. Tapi aku tak mau kalah, kupegang dagunya dan kukecup bibirnya. Lumatan erat diikuti dengan permainan lidah. Tubuhku mulai menghangat. Sesak nafas dan sesak ‘di bawah’ sana.

Bibir Florence bergeser ke bawah, aku segera tahu apa yang akan dilakukan: menggigiti daguku. Kubalas dan Florence melenguh, lenguhan pertama yang kudengar. Posisi ciuman yang kurang nyaman sebenarnya, sebab tubuh kami dipisahkan oleh box dan tongkat gigi automatic mobilnya. Pinggang kami masing-masing harus diputar 45 derajat. Tapi tak mengapa, perasaan nikmat bercumbu yang sudah lama ditunggu mampu mengatasi rasa pinggang tak nyaman. Ketika aku mencumi lehernya, kurasakan ada bayangan sekelebat lewat. Dengan refleks aku melepaskan ciuman dam memeriksa sekeliling. Bayangan dari orang yang menyeret koper besar lewat di depan kami. “Tenang aja, dia nggak akan lihat…” kata Florence. Kulepas jacket Florence. “Nggak dingin kan Yang?” Florence menggeleng, walaupun hanya memakai blouse tanpa lengan. Bibirku menelusuri lengan atasnya yang terbuka. Benar-benar sehalus kulit bayi.

Blouse tanpa lengan itupun telah kulepas. Kujilati dadanya yang masih tertutup bra cream muda, mulai di belahan terus bergeser kiri dan kanan. Perlahan kuturunkan tali bra kirinya lalu kuciumi bagian atas gumpalan bukit kirinya. “Aauw..” teriakan kecilnya ketika tanpa sadar aku menggigit buah dadanya. Gemes! Ketika aku ingin melepaskan bra-nya, Florence menahan. Kupandangi matanya, caraku bertanya tanpa suara. Florence menjawab dengan melepaskan kancing kemejaku satu persatu, juga singletku. jari-jarinya menelusuri bulu-bulu dadaku, lalu menciuminya. Kesempatan ini kugunakan untuk melepas kaitan bra dipunggungnya. Dengan gemas aku mengunyel-unyel kedua bukit kembarnya.

Florence melepas sepatu dan mengangkat kakinya ‘menyeberang’ tongkat perseneling ke arahku. Aku tanggap, mengelus-elus sepasang kaki panjangnya sebelum menciuminya. Kedua tanganku menerobos masuk rok hijaunya menelusuri lengkungan pahanya. Aku harus bangkit agar mulutku bisa mencapai sepasang paha putihnya. Mulut Florence terus mencerecau. Melenguh dan merintih, kadang teriak. Pada saat kedua tanganku mencapai pinggangnya, kutarik celana dalamnya. Sekilas sempat kulihat cairan bening ketika kain itu berpisah dengan isinya. Belum sempat aku menyerbu kewanitaannya, tiba-tiba Florence bangkit melepaskan ciumanku di pahanya. Dengan tergesa dibukanya ikat pinggangku, kancing celanaku dan reitsleting-nya lalu mengeluarkan ‘isinya’ yang tegak menjulang. Dan.. ohh.. mulutku berdesis seperti orang yang kepedasan. Entah apa saja yang dilakukan mulut Florence pada milikku itu, hasilnya: nikmat. Kadang ujung lidahnya yang sedikit keluar dari mulutnya menelusuri bagian bawah seluruh batangku, kadang seolah-olah menggigit dari arah samping, dan kadang punyaku lenyap ke dalam mulutnya.

Kami berdua telah siap untuk tahap terpenting: penetrasi. Tapi aku ragu melangkah, aku belum pernah bersetubuh di dalam mobil. Bercinta di dalam mobil adalah ‘agenda’ pertama yang sudah kami rencanakan jauh hari sebelumnya. Aku yang memintanya dan Florence merancang agenda 1 ini di tempat parkir. Gimana posisinya? Florence yang mengambil inisiatif. Dia pindah dari kursi di belakang setir ke kursiku lalu duduk di pangkuanku dengan kakinya yang membentang. Digenggamnya kemaluanku lalu disapu-sapukannya di selangkangannya.

Saat Florence melepas pegangannya dari milikku, kurasakan tubuhnya menekanku. Aku mulai memasuki tubuhnya. Hangat, basah, dan nikmat. Kami lalu ‘berkudaan’. Kedua tanganku mengunci punggungnya dan mulutku bermain di dadanya. Kedua kakiku bertumpu kuat di lantai mobil sehingga sesekali aku menusuk kuat dengan sekali mengangkat tubuhnya. Florence jadi lebih aktif dengan posisi begini. Tubuhnya berguncang makin cepat. Kadang aku harus melambatkan gerakannya agar aku bisa merasakan sensasi gesekan batang kejantananku pada dinding-dinding kemaluannya. Gerakannya jadi bervariasi yang membuat tubuhku serasa melayang-layang.

“Oohhh Yaang..!” teriakku.
“Maaasss….” balasnya.
Kucengkeram tubuh Florence kuat-kuat, tanpa ragu aku memuntahkan spermaku ke dalam tubuh Florence. Aku berani ejakulasi di dalam, karena Florence telah mempersiapkan semuanya. Dia telah memproteksi tubuhnya agar aman, khusus hanya untukku. Bahkan untuk pacar tetapnya Florence, Erick dan bahkan ketika dia bersenggama dengan pacar gelapnya yang bernama Herman (kata dia lho) masih melakukan coitus interuptus.

Oh Florence, sungguh aku terharu atas upayamu ini. Aku mencintaimu. Setelah itu Florence memelukku dengan erat dan setelah aku check-in di hotel, kita melakukannya lagi seharian apalagi menurut pengakuannya, kekasihnya Erick selalu sibuk dengan urusan bisnisnya dan sekarang dia sedang pergi ke Pontianak, Indonesia untuk urusan bisnisnya dan aku berada di Roma bersama kekasih gelapku sementara istriku menungguku di rumah, gila ya? Tapi aku senang sekali karena aku bisa menikmati liang kewanitaan dari cewek yang cukup.

KOMENTAR YANG BERISI ALAMAT EMAIL, NO. TELP/HP ATAU PIN BB PADA BOX KOMENTAR AKAN DIHAPUS OLEH ADMIN (SPAM)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s