Kenangan Ebtanas

Pertama-tama aku mau memperkenalkan diri dulu. Namaku “Eot” (nama panggilan dari orangtua dan teman-teman). Aku sekarang berumur 24 tahun dan sudah bekerja di salah satu perusahaan konsultan swasta di Jakarta. Cerita ini merupakan kisah nyata yang benar-benar terjadi beberapa tahun yang lalu (kira-kira bulan July tahun 1989), saat itu aku baru duduk di kelas 1 SMA di SMA Negeri ‘XXX’ di kota Bandung. Pada saat itu aku punya seorang pacar yang sudah kupacari selama kurang lebih 1 tahun 2 bulan, aku dan dia memang sudah pacaran semenjak di bangku SMP (pada saat itu aku dan dia sama-sama di SMP negeri-Bandung). Pacarku adalah adik kelasku pada saat itu.

“Poppy”, ya Poppy adalah pacar pertamaku pada saat itu, Poppy merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara, kakaknya semua cowok. Poppy tinggal pada sebuah keluarga yang serba berkecukupan, orang tuanya termasuk salah satu orang terpandang di kota Bandung saat itu. Poppy memiliki wajah yang menurutku sangat imut-imut, dengan potongan body yang relatif kecil (163 cm, 45 kg), kulit putih bagai kapas tanpa cacat sedikitpun. Ditambah dengan penampilannya yang cuek tapi rapih, tentu saja dia membuatku semakin jatuh cinta. Satu hal yang membuatku tergila-gila padanya adalah matanya yang bulat dihiasi dengan hidung kecil mancung dan bibir kecilnya yang berwarna merah muda tanpa lipstik dan selalu basah itu.

Aku dan dia berpacaran sudah cukup lama, selama berpacaran aku sangat menghargai dia, pertama karena aku sangat mencintai dia, selain itu aku pun melihat keberadaan keluarganya. Waktu berjalan tidak terasa 1 tahun lebih aku berpacaran dengannya tanpa ada masalah, bahkan aku dan keluarganya (ayah, ibu dan kakak-kakaknya) sudah benar-benar diterima seperti layaknya anak sendiri, hal ini membuatku semakin yakin akan gadis pilihanku ini. Dalam waktu yang sekian lama kegiatan pacaran kami hanya berkisar antara nonton di bioskop ataupun makan-makan di restoran, selama itu aku belum pernah mencium bibir merahnya, ataupun memeluknya walaupun pada dasarnya aku memiliki hasrat untuk melakukan hal itu, namun hasrat tersebut kalah oleh rasa cinta dan sayangku padanya, sehingga aku tidak ingin sedikitpun melukai hatinya. Paling-paling cium kening sebelum pulang apel yang selalu kulakukan padanya selama kurun waktu tersebut sebagai penghias cinta kami berdua.

Singkat cerita, pada saat aku duduk di kelas 1 SMA, dimana Poppy yang adik kelasku itu duduk di kelas 3 SMP akan menghadapi EBTANAS untuk masuk ke SMA, Aku yang sudah benar-benar dipercaya oleh keluarganya, mendapatkan perintah dari kedua orangtuanya untuk memberikan bimbingan kepada Poppy selama masa EBTANAS tersebut. Aku yang jelas-jelas sangat menyayanginya sudah barang tentu tidak akan mengecewakan dirinya apalagi kedua orang tuanya. Karena aku sudah mendapatkan mandat untuk memberikan bimbingan selama masa EBTANAS itu, maka aku pun dianjurkan untuk menginap di rumahnya selama kurang lebih 2 malam. Pada mulanya aku ragu untuk menginap di rumahnya, karena memang aku belum pernah menginap di rumah teman cewek, apalagi di rumah cewekku sendiri seperti ini. Namun berkat dorongan kedua orangtua serta kakak-kakaknya yang terus memaksa, akhirnya aku pun memberanikan diri untuk menginap selama 2 malam di rumah kekasihku.

Malam Senin (malam pertama aku menginap). Aku datang ke rumahnya (kira-kira pkl 18.30 WIB)menggunakan sepeda motorku, sesampainya di rumahnya, aku memencet bel, tak lama kemudian Poppy muncul dengan berlari-lari kecil, “Eh, Kaka, kok jam segini baru dateng sih, Poppy sudah nungguin dari tadi tau, katanya mau dari siang”, ujar Poppy sambil membukakan pintu garasi rumahnya. (Oh iya aku lupa menjelaskan pada pembaca bahwa selama berpacaran Poppy selalu memanggilku dengan panggilan “Kaka”). Aku pun menuntun sepeda motorku masuk dalam garasi rumahnya.

“Ayo, Kak, buruan masuk, itu tasnya taruh saja di kamarnya Mas Dody”, ujar Poppy sambil menarik lenganku menuju kamar kakaknya (Mas Dody) yang kebetulan sedang pergi ke Pangandaran bersama teman-temannya. “N’tar dulu dong Pop, aku kan belon ketemu Ibu dan Bapak, masa sih langsung main masuk kamar saja, entar disangka nggak sopan lagi”, ujarku.
“Oh, iya lupa”, ujar Poppy sambil tersenyum kecil dan mencubit lenganku, yang membuatku semakin gemes kepingin mencium bibir mungilnya itu. Tak sadar aku pun terbengong-bengong melihat wajah imutnya sambil pikiranku membayangkan aku sedang mencium bibir sambil berpelukan dengannya. “Eh, kok malah bengong bukannya masuk, hayo lagi mikirin siapa yaa?” ujar Poppy. Aku pun tersentak kaget dan tersadar dari lamunanku. “Eh, nggak kok, ujarku sambil buru-buru membuang pikiran kotorku, takut ketahuan lagi mikirin yang jorok-jorok.

Tak lama kemudian muncul Ibunya, “Eh, Nak Eot, kapan dateng kok nggak kedengeran”, ujar ibunya sambil mempersilakan aku masuk ke dalam ruang keluarganya. “Sudah, dari tadi bu”, sahutku pelan sambil berjalan menuju ke dalam. “Nanti, Nak Eot tidur saja di kamarnya Dody, kebetulan Dody sedang keluar kota jadi kamarnya kosong”, ujar ibunya.
“Iya Bu”, sahutku.
“Poppy, ayo ajak masnya makan malem dulu, sebelum belajar!” ujar ibunya sambil mengajak kami ke ruang makan untuk makan malam. “Kak, ayo makan dulu, nanti masuk angin lho”, ajak Poppy sambil menuntun tanganku menuju ruang makan. Kami pun makan malam bersama bertiga. Ternyata ayahnya sedang dinas keluar kota sedangkan kakak-kakaknya pergi semua keluar dengan alasan malas untuk mengajarkan adiknya yang sedang menghadapi EBTANAS ini. “Untung ada Nak Eot, kalau nggak bisa gawat nih, mana kakak-kakaknya Poppy pada ngabur lagi, wah maaf ya Nak Eot, jadi merepotkan nih”, ujar ibunya. “Oh, nggak apa-apa kok Bu, kan kalau Poppy NEM-nya bagus, saya juga yang senang Bu”, balasku sambil melirik ke arah Poppy yang tersenyum-senyum manja. Setelah makan malam, aku dan Poppy ditinggal oleh ibunya, masuk ke dalam kamar.

Aku pun mulai mengajari Poppy di ruangan komputer, malam itu Poppy menggunakan baju kaos tipis berwarna putih, dipadu dengan rok mini corak kotak-kotak merah-hitam sehingga tampak kontras sekali di kulit pahanya yang putih bersih. Selama mengajarinya mataku kadang terpaku kepada pahanya yang putih mulus, ingin rasanya aku mengelusnya, merasakan kehangatan pahanya, namun apakah hal itu mungkin, sedangkan selama ini aku belum pernah melakukan hal tersebut. Tak terasa aku menjadi terangsang, dan kemaluanku pun menjadi tegang, namun sebelum menjadi semakin parah segera kubuang pikiran itu jauh-jauh.

Soal demi soal dikerjakan, waktu pun tidak terasa sudah menunjukkan pukul 22.30 (setengah sebelas malam).
“Kak, sudah dulu ah, istirahat dulu sebentar, Poppy kan capek”, ujar Poppy sambil menggelendot manja.
“Eh, Poppy masak sih baru sebentar saja sudah capek, nanti NEM-nya jelek lho”, sahutku.
“Ya, tapi kan kalau sudah capek dipaksain terus belajar juga malah nggak bagus”, jawab Poppy.
“Dasar kamu pinter ngomong, ya sudah kalau gitu kukasih kamu 1 soal lagi, nanti kalau bisa ngerjain dan jawabannya benar, kamu aku kasih hadiah dan boleh istirahat”, ujarku lagi.
“Asyiiikkk…, benar ya, tapi hadiahnya apa?” tanya Poppy padaku.
“Ya, sudah sekarang kerjain saja dulu nanti hadiahnya surprise”, jawabku. Poppy pun mengerjakan soal, sementara aku bingung memikirkan hadiah apa yang bakal diberikan padanya sedangkan tadinya aku hanya iseng saja, dan benar-benar tidak memiliki sesuatu yang akan diberikan padanya. Akhirnya tidak lama kemudian Poppy pun menyelesaikan soal, kuperiksa dan ternyata jawabannya tidak ada yang salah.
“Gimana Pak Guru, apa jawabannya benar”, tanya Poppy,
“Aku pun menganggukkan kepalaku sambil tersenyum padanya.
“Nah, sekarang mana janjinya, katanya mau ngasih hadiah”, tanya Poppy.
“Oh iya ya, naah sekarang pejamkan dulu mata kamu baru nanti saya kasih hadiahnya”, ujarku pelan. Poppy pun menurut memejamkan kedua belah matanya.
“Sudah belum”, ujar Poppy mendesakku.
“Sebentar, dulu dong”, jawabku. Aku pun memandangi wajah imutnya, bibir mungilnya, hidung mancungnya, semua terasa sangat indah malam itu, aku pun memang sudah berniat untuk memberanikan diri akan memberikan sesuatu yang belum pernah kuberikan padanya malam ini. Aku pun mendekatkan wajahku padanya, pelan-pelan kudekati bibir mungilnya, dengan perasaan dag-dig-dug tak menentu akhirnya kuberanikan diriku dan kedua bibir kami pun bersentuhan, bibirnya terasa sangat lembut dan hangat. Aku takut dia akan marah atau menganggapku kurang ajar. Sesaat kemudian dia membuka kedua matanya, kupandang wajahnya takut-takut, tak lama kemudian ia pun tersenyum padaku, “Ma kasih ya Kak”, ujarnya sambil tersenyum manja, manis sekali. Ingin rasanya aku berteriak karena girang, ternyata bisa juga aku merasakan bibirnya walaupun hanya sekejap, batinku dalam hati. “Sudah, ya hanya segitu saja hadiahnya Kak”, ujar Poppy lagi. “Ya, kalau pengen hadiah lagi juga nggak apa-apa”, harapku ragu-ragu.

Tak disangka Poppy pun memelukku sambil mencium bibirku, akhirnya kami pun saling berciuman sambil berpelukkan, nafsuku semakin tinggi setelah kedua buah dadanya menyentuh dadaku, terasa kenyal dan hangat, ingin rasanya aku memegangnya. Kami terus berciuman, sementara tanganku sudah mulai berani mengelus-elus punggung, kemudian pelan-pelan turun ke arah pantat, gila benar… pantatnya empuk benar, sudah gitu hangat lagi, tapi aku tidak berani berlama-lama di area tersebut, aku pun kembali memindahkan tanganku di punggungnya, kembali mengelus-elus punggungnya sambil lidah kami berdua saling berpagutan di dalam, benar-benar malam spesial yang sangat indah, batinku dalam hati.
“Pop, apa Ibu sudah tidur, n’tar ketauan lagi”, kataku sambil melirik ke arah kamar sang Ibu, “Nggak apa-apa kok, kalau Ibu biasanya jam sepuluh sudah tidur”, jawab Poppy menenangkanku. Jawaban Poppy benar-benar membuatku tenang, tapi juga membuat birahiku semakin memuncak, akhirnya kami pun kembali berciuman, aku pun memberanikan diri untuk memegang buah dadanya, mula-mula kuelus dari belakang, kemudian menjalar dari samping, terasa kenyal, ternyata bagian bawah buah dadanya sudah terpegang olehku, dia diam saja, sementara aku semakin lupa diri, dan akhirnya kuberanikan diri untuk memegang buah dadanya dari depan, ternyata dia diam saja bahkan kudengar nafasnya semakin tidak beraturan, rupanya dia terangsang juga, pikirku dalam hati. “Pop, boleh nggak tangan kakak masuk ke dalam?” tanyaku takut-takut, Poppy pun mengangguk pelan malu-malu, akhirnya kumasukkan tanganku dari bawah baju kaosnya, pertama tersentuh kulit perutnya yang halus dan hangat, membuat pikiranku melayang kemana-mana, semakin ke atas akhirnya ketemu juga gunung kembar yang selama ini hanya bisa kubayangkan tanpa bisa kupegang.

Buah dada Poppy masih sangat kencang dan bulat, kuelus buah dadanya dari luar bra yang digunakannya, baru kemudian kuberanikan untuk menyusupkan jemariku ke dalam bra, halus dan hangat terasa jemari tanganku menyentuhnya, Poppy pun melenguh, nafasnya semakin tak beraturan ketika tanganku menyentuh buah dadanya bagian dalam. Bra yang kurasakan sangat mengganggu tersebut akhirnya dengan jerih payah berhasil kubuka, (karena kebetulan kancing pengaitnya ada di depan, jadi mudah untuk menemukannya). Setelah terbuka, tanganku menjadi semakin leluasa menggerayangi kedua buah dada Poppy. Kuelus-elus buah dada Poppy memutar keliling bagian luarnya, baru kemudian kutemukan pentil susunya yang masih sangat kecil mungil, dan kubayangkan pasti warnanya merah muda. Kupelintir-pelintir pentil susunya, membuat Poppy semakin menggelinjang “aahh, kakk, Poppy… gelii… banget nih”, ujar Poppy, aku tak bisa menjawab, karena nafsu birahiku semakin memuncak, aku hanya dapat tersenyum sambil mengecup keningnya. Tanganku pun semakin berani bergerilya, sementara tangan kananku sibuk menggerayangi buah dada, maka tangan kiriku mulai berani untuk mengelus-elus paha putihnya, busyeet! teman-teman, pahanya halus banget, kuelus dari lutut, kemudian naik sedikit sampai kira-kira 20 cm dari lutut, kemudian turun lagi, ingin rasanya elusan tanganku ini kuteruskan ke atas, namun keberanian diriku belum penuh.

Bibir kami terus berpagutan, sambil terus berpelukan. Nafsu birahiku semakin bergejolak, ingin rasanya aku membuka kaos putihnya, sehingga aku dapat melihat sekaligus menciumi buah dadanya, namun kutakut kalau Poppy nantinya malah tersinggung mengingat hal ini baru pertama kali kami lakukan.
“Sudah diijinkan memegang sampai ke dalam saja sudah untung”, batinku dalam hati.
Aku sadar bahwa segala sesuatu itu harus melalui proses, demikian juga dengan “hal ini” walaupun permasalahannya berkisar hubungan antara 2 insan manusia yang berlainan jenis, namun kuyakin apabila dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, maka hasilnya pun akan lebih memuaskan. Kuurungkan niatku, walaupun kemaluanku sudah semakin menegang, menuntut sesuatu yang lebih dari sekedar berciuman dan berpelukan, walaupun sudah dihiasi dengan elusan-elusan ringan ke arah 2 bukit kembarnya.

Sedang asyik-asyiknya kami berciuman, tiba-tiba kudengar suara derit pintu yang terbuka, aku dan Poppy tersentak kaget, Poppy pun membenahi rambutnya yang sedikit acak-acakan sekaligus memasang kait tali BH-nya yang sempat kubuka tadi.
“Siapa Pop?” bisikku padanya. Poppy menggelengkan kepalanya, “Mungkin Ibu”, balasnya setengah berbisik. Kami pun langsung bergegas untuk kembali pada posisi semula. Aku mengambil buku sambil berusaha untuk mengatur jalan nafasku yang masih ngos-ngosan tak karuan.
“Waahh, sialan, lagi nikmat-enaknya, adaa saja gangguan”, batinku dalam hati.

Ternyata dugaan Poppy benar, Ibu keluar dari kamar, terbangun karena haus sekalian menengok anaknya yang sedang belajar.
“Waahh… rajinnya anakku, jam segini masih belajar juga”, ujar Ibu sambil membelai rambut Poppy.
“Gimana Nak Eot, apa Poppy sudah siap untuk ujian besok?” tanya Ibu padaku.
“Lumayan Bu, soal-soal yang kuberikan tadi hampir semuanya terjawab benar”, jawabku sambil melirik ke arah Poppy.
“Ya sudah, dilanjutkan belajarnya, Ibu mau bikin susu dulu buat kalian, biar nggak masuk angin”, sahut Ibu lagi.
“Nggak usah Bu, jadi ngerepotin saja nih”, kataku berbasa-basi.

Tidak lama kemudian Ibu kembali membawa 2 gelas susu coklat panas plus roti buat kita berdua.
“Makasih ya Bu”, ujarku pada Ibu, Ibu tersenyum kecil sambil mempersilakan kami untuk meminum susu buatannya.
“Poppy, kalau sudah beres lekas tidur, biar besok nggak kesiangan bangun, Ibu sudah ngantuk, mau tidur duluan.”

Kami pun kembali ditinggal berdua di ruang tersebut. “Wah, hampiiirrr saja ketauan, untung pintunya kedengeran”, ujar Poppy sambil mengelus dada.
“Ya… yaa… yaa, kalau nggak bisa gawat nih, disuruh belajar PMP kok malah belajar ciuman”, sahutku sambil tertawa lega ibarat maling lolos yang lolos dari sergapan Satpam.
“Uu… uuuhh… dasar guru ngeres, bukannya ngasih ilmu buat besok kok malah ‘nyonyo’ susu batur” (mainin payudara orang—-> dalam bahasa Sunda)”, kata Poppy sambil mencibirkan bibirnya.
“Tapi… suka kan!” kataku sambil memeluk Poppy dari belakang.
“Naahh, sekarang mau lanjutin belajar PMP atau lanjutin belajar dokter-dokteran?” tanyaku pada Poppy.

Poppy tidak menjawab, ia melepaskan pelukanku dan berpindah untuk berbaring di sofa panjang yang kebetulan terdapat di pojok ruangan. Aku pun berjalan menghampirinya.
“Sakit apa Mbak?” tanyaku sambil pura-pura memegang keningnya bak seorang dokter yang menanyai pasiennya.
“Ini Dok, saya dari tadi sesak nafas, kalau nafas berat banget kayak ada sesuatu yang ngeganjel di mulut”, jawab Poppy sambil tersenyum manja ke arahku.
“O… ok, kalau begitu coba Mbak buka mulutnya”, sahutku lagi. Poppy pun kemudian membuka mulutnya, laganya seorang dokter, aku pun pura-pura mensenter mulutnya bagian dalam, terlihat barisan gigi putih rapih menghiasi bagian dalam bibir mungilnya. Melihat posisi Poppy yang berbaring pasrah di sofa, timbul lagi hasratku untuk kembali melanjutkan permainan kami yang sempat terpotong tadi.

“Waduuuhh… ini sih harus diberi nafas bantuan”, kataku lagi. Aku pun kembali mendekatkan bibirku pada bibirnya, kita pun segera berciuman kembali dengan gemasnya, lidahku dan lidahnya saling berkaitan, kadangkala lidahku digigitnya lembut, mungkin saking gemasnya. Tanganku pun tidak mau tinggal diam, segera ikut bergerilya di sekitar permukaan buah dadanya. Walaupun masih tertutup baju dan BH, namun aku dapat merasakan bahwa puting susu Poppy sudah mulai mengeras pertanda bahwa ia mulai terangsang, hal itu juga tampak dari jalan nafasnya yang sangat tidak beraturan. Kemaluanku sudah sangat menegang, nafsu birahiku kian memuncak, keringat mengucur deras, otakku sudah benar-benar dipenuhi oleh pikiran ngeres meminta sesuatu yang lebih. Aku pun berfikir keras agar dapat melihat buah dadanya, memegang dan mengelusnya langsung tanpa ada baju dan BH yang menghalangi.

Sesaat kuhentikan ciumanku di bibirnya. Kupandangi wajah imutnya sambil bertanya, “Gimana Mbak, apa sudah baikan sesak nafasnya?”
“Belum Dok, malahan sekarang tambah parah, gimana dong dok?”
Aku pun pura-pura berfikir sambil mengerutkan dahiku.
“Ooo… Gitu”, kataku sambil mengangguk-anggukan kepalaku.
Aku mengambil sendok yang kebetulan ada di atas meja.
“Buat apa itu Dok?” tanya Poppy.
“Yaa.. buat periksa dong”, sahutku.
“Naahh… sekarang aku mau periksa detak jantung Mbak, tolong bajunya agak dikeataskan”, pintaku padanya takut-takut.
“Baik Pak Dokter”, jawab Poppy sambil mulai mengangkat kaos putihnya setengah badan. Tampaklah perut putihnya dan sebagian buah dada bagian bawah yang masih terbungkus BH warna putih gading. Aku kaget setengah gembira melihat pemandangan tersebut, aku tidak menyangka kalau ternyata malam ini, malam EBTANAS aku dapat memegang sekaligus melihat buah dada Poppy, pacarku tercinta.

“Maaf ya Mbak”, sahutku sambil pura-pura memulai memeriksa pasiennya. Pertama-tama dengan menggunakan punggung sendok yang cembung, aku menekan lembut perut Poppy kemudian kugeser sedikit demi sedikit naik ke arah buah dada Poppy.
“Waahh… maaf nih Mbak, sepertinya BH-nya harus dikendorkan habis menghalangi jalannya pemeriksaan”, sahutku ragu-ragu. Tak disangka Poppy pun melepas tali BH-nya (kaitannya ada di depan sehingga sangat mudah untuk membukanya). Dadaku bergemuruh keras, bagai akan meledak melihat pemandangan yang demikian menakjubkan, dimana di depan mataku sepasang buah dada indah, putih nan cantik belum pernah terjamah sedikitpun menantang, menanti belaian tangan-tangan kasarku. Untuk pertama kalinya kumelihat langsung buah dada wanita seumur hidupku, buah dada yang berdiri tegak, bulat dihiasi dengan puting kecilnya yang menonjol berwarna coklat kemerahan. Untuk beberapa saat lamanya aku duduk tertegun, tak bergerak, diam membisu, pandanganku sedetikpun tidak terlepas dari 2 buah dada indah itu. Seluruh tubuhku seakan lemas tak bertenaga, otakku berputar cepat, bingung memikirkan tindakan apa yang akan kulakukan selanjutnya.

“Kaak… kak, kok bengong sih”, tanya Poppy menyadarkan aku dari lamunanku.
“Buah dada kamu bagus sekali”, ujarku refleks. Poppy pun tersenyum malu sambil menutupi buah dadanya dengan kedua belah tangannya. Kusibakkan dua tangannya dari gumpalan daging indah itu, dengan lembut kuelus buah dada itu dari bawah kemudian berputar ke atas mengelilingi puting susunya yang semakin menonjol itu. Poppy menggelinjang kegelian, tampak seluruh badannya bergoyang menahan rasa geli dan nikmat yang tak terkirakan itu. Mungkin baru sekarang ini buah dadanya dipermainkan oleh seorang cowok. Nafasnya seakan-akan berhenti, terutama ketika jemariku perlahan mengelus dan memutar mempermainkan puting susunya.
“Kaak…., Poppy geliii… banget”, ujar Poppy sambil mendekap tanganku ke arah buah dadanya.

Kukecup keningnya untuk menenangkan hatinya, kucium bibir mungilnya, kemudian kuciumi leher indahnya, kutelusuri, kujilati lehernya sampai bersih. Ciumanku perlahan beranjak turun ke bawah, kucium buah dadanya satu persatu, baru kemudian kutelusuri buah dada indah itu dari atas memutar ke bawah, hingga akhirnya sampai ke puting susunya yang sudah sangat keras itu. Kujilat puting susunya perlahan, baru kemudian kuhisap-hisap bagai anak kecil menyusu ke ibunya. Poppy memejamkan kedua matanya, seluruh badan Poppy tampak mengejang terutama ketika lidahku mengenai puting susunya.

Nafsuku sudah tak tertahankan lagi, ingin rasanya aku menelanjanginya, dan kemudian menidurinya, “Tapi itu mustahil”, batinku dalam hati. Sementara mulutku bermain di buah dadanya, tanganku tak mau kalah, mulai meraba-raba paha putih Poppy dari bawah bergerak perlahan ke atas, kusingkap rok mini yang dipakainya sedikit ke atas, paha indah itu semakin tampak jelas dihiasi bulu-bulu halus, tanganku terus bergerak ke atas hampir sampai ke pangkal pahanya, terasa semakin hangat dan halus. Tiba-tiba tangan Poppy memegang tanganku yang tinggal beberapa centimeter saja mengenai kemaluannya.

“Ka…. ka…, nanti saja ya”, ujar Poppy.
“Disini nggak aman”, ujar Poppy lagi.
Aku pun menurunkan tanganku. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 01.30 malam. Di sini aku dihadapkan pada 2 pilihan, di satu sisi aku merasa bahwa kesempatan ini tidak boleh disia-siakan, namun di sisi lain aku merasa kasihan pada Poppy yang besok pagi harus mengikuti ujian EBTANAS. Akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri permainan ini. “Toh besok aku masih menginap di rumah ini, sudah barang tentu kesempatan pun akan lebih banyak”, pikirku dalam hati. Akhirnya Poppy pun kusuruh untuk beristirahat, aku pun beranjak ke kamar Mas Doddy, namun sampai subuh aku tak dapat tidur, pikiranku terus melayang pada kejadian yang baru saja terjadi antara kami berdua, “Besok aku harus mendapatkan yang lebih”, batinku dalam hati.

One thought on “Kenangan Ebtanas

KOMENTAR YANG BERISI ALAMAT EMAIL, NO. TELP/HP ATAU PIN BB PADA BOX KOMENTAR AKAN DIHAPUS OLEH ADMIN (SPAM)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s