Kisah dokter di desa terpencil

Ini kisah yang terjadi di desa Kolesabano, sebuah desa kecil yang agak terpencil. Akses jalanannya tidak seperti di Jakarta sudah aspal semuanya, di sana masih tanah liat dan batu.

Orang-orangnya sederhana dan lugu. Kalau pagi mereka selalu saling menyapa dan murah senyum. Rasa gotong royong pun masih kental disini.

Mereka bermatapencaharian sebagai petani. Disana ada sawah dan ladang. Kebun buah-buahan pun ada banyak disini. kalau mau makan tinggal petik.

Disana tidak ada sekolah, orang tidak bisa mengenyam pendiidikan. Jadi kalau ada orang pintar disini, mereka puja seperti dewa. Dr. Teddy adalah seorang dokter umum yang dikirim kesana untuk melayani masyarakat disana. Apa yang dikatakan olehnya pasti didengarkan dan dituruti, misalnya saja seorang dokter. Jangan dokter, lulusan SD saja mereka posisikan di atas mereka.

Suatu hari di ruang praktek Dr. Teddy yang sederhana seorang ibu paruh baya sedang berkonsultasi dengannya mengenai kondisi buah hatinya. Cahaya pagi yang menembus jendela kayu menunjukkan kekhawatiran di raut wajahnya. Alisnya tak henti-hentinya mengernyit setiap kali ia menceritakan keadaan anak perempuannya yang memakai jilbab warna biru sama seperti yang sedang dikenakannya. Pundak anaknya dipegani seperti seorang ibu yang takut anaknya akan lenyap kalau dilepas.

“Dok, anak saya kayaknya kurang sehat beberapa hari ini.”
“Oh..gimana kondisinya apakah batuk-batuk?”
“Ya sedikit, nafsu makannya berkurang dok.”
Dr. Teddy mengangguk-angguk.
“Nama kamu siapa,dik?”
“Andin, dok.”
“Sudah berapa lamu kamu sakit?”
“3 hari dok…gak sembuh-sembuh…dah minum teh manis.”
“Pusing-pusing gak?”
“Gak, dok.”
“Sebelumnya ada makan apa, gak?”
“Makan biasa aja dok..”
“Ada jajan?”
“Paling gulali.”
“Hmm….”
Dr. Teddy tampak sedang berpkiri untuk menganalisa kondisi Andin.

“Ya udah kamu naik ke ranjang periksa yah…dokter periksa”
“Iya dok…”
Andin berjalan ke ranjang periksa yang tak jauh dari situ, ia menaiki tangga kecil hingga ia bisa sampai ke atas ranjang dan tiduran.
“Di angkat ya bajunya, biar dokter bisa periksa pakai stetoskop.”
Andin mengangguk dan menarik ke atas bajunya sehingga payudaranya yang masih mengkal kelihatan.
Dr. Teddy mulai menggunakan stetoskopnya dan mencoba mendegar detak jantungnya. Stetoskop itu di letakkan di dada dan dipindah-pindahkan di sekitar situ. Kadang ditaruh di atas putingnya Andin.
“Dingin dok…,” komentar Andin.
“Tahan dikit ya…”
Saat Dr. Teddy memindahkan stetoskopnya, saat diangkat kadang pinggirannya menyenggol ujung puting Andin. Entah sengaja atau tidak, jari kelingkingnya kadang juga menoel putingnya. Si ibu tidak bisa melihat yang dilakukan Dr. Teddy sebab ia berada di belakangnya.
Andin merasakan sesuatu yang aneh, dan pipinya berubah memerah. Tanpa disadari puting coklatnya menjadi mengeras mencuat. Kalau tertoel lagi, kakinya langsung mengapit seperti menahan sesuatu di bagian bawah situ.
“MMmm…untuk pemeriksaan selanjutnya ibu tunggu di bangku yah, saya harus melakukan tes.”
“Iya dok.”
Dr. Teddy menarik gorden yang mengelilingi ranjang periksa. Ibu Andin tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi di dalam.

2 menit tidak ada apa-apa. Namun setelah agak lama si ibu mulai mendengar suara-suara aneh dari dalam. Seperti anaknya sedang melenguh-lenguh…”Ah..ahh…ahhhh…”

Merasakan firasat buruk ia bangkit menyibak gordennya. Betapa terkejutnya saat ia melihat CD putrinya sudah turun setengah paha dan tangan Dr. Teddy sudah berada di kemaluan putrinya. Saking kagetnya si ibu sampai tidak bisa bicara apa-apa.
“A..a..a”

“Ibu! apa yang sedang ibu lakukan, saya sedang di tengah pemeriksaan.”
Si ibu tiba-tiba merasa bersalah, apakah benar ia sedang mengganggu jalannya pemeriksaan anaknya? Pikiran akal sehatnya seperti sedang terpecah saking syoknya.
“Tunggu disitu yah.”
Lalu si dokter menutup lagi gordennya.

Tak lama suara lenguhan terdengar lag, “Mmmhh ahh.ah..ah…”.
Si ibu menjadi ragu-ragu apakah sebaiknya ia membuka gorden itu atau dibiarkan saja. Tapi Lama-kelamaan bukan cuma suara putrinya, kini ia mendengar suara si dokter, “Mmhh…shh…ahh..yah..dihisap…biar lekas sembuh.”

Si ibu semakin khawatir. Akhrinya dia sibak lagi gordennya.
Kali kagetnya menjadi-jadi, sebab burungnya si dokter sudah keluar dari celananya dan ada di dalam mulut anaknya.

“Dokter! Dokter…lagi apa…?” dengan nada agak histeris.
Si ibu tidak mempercayai penglihatannya.
“Aduh ibu ini lagi-lagi mengganggu,” Tukas Dr. Teddy kesal, “Saya sudah analisa, anak ibu terkena penyakit Vibilio Facumacis, obatnya adalah ia harus dibikin orgasme dan menelan sperma. Kalau ibu ganggu terus, gak selesai loh ini. Saya gak tanggung kalau penyakitnya bertambah parah.”
“Ii..iya..tapi dok….”

“Hhhhhh…,” Si dokter menghela nafas panjangsambil geleng-geleng. “Ya sudah ibu bantu deh, ibu colok-colok kemaluan anak ibu untuk membangun kekebalan tubuhnya.”
Si ibu terdiam dan ragu-ragu.
“Ayo sini…bantu saja…gak apa-apa…daripada ganggu terus..gak selesai-selesai.”
“Ii..iya…”
Si ibu berjalan mendekati tempat tidur periksa. Dr. Teddy membelakangi si ibu itu lalu ia meraih tangannya dan meletakkan di kemaluan putrinya.
“Nah…sekarang keluar masukin jarinya di lubangya yah…”
“Iii…iya dok…”
Si ibu pun mulai memasturbasi anaknya. Andin langsung memejamkan mata dan melenguh-lenguh kecil, “Aah..ah…ah…”
Dr Teddy tiba-tiba menarik ke atas gamis si ibu. Tentu saja perbuatannya membuat si ibu kaget.
“Dokter ngapain lagi?!”
“Ibu juga perlu dibangun kekebalannya, kalau gak penyakit ini akan menular. Jadi kemaluan ibu juga harus dimainin.”
“Yang bener dok…”
“Ya bener, siapa disini dokternya?”
Si ibu kebingungan.
“Ii..iya…”
“Jangan khawatir saya tidak akan sentuh ibu, kalau itu yang ibu khawatirkan, Andin yang akan bantu prosesnya.”
“Maksudnya…?”
“Andin yang akan gituin ibu..ngerti kan…”
“Hah?”
“Sudah ibu tenang aja, nurut aja kalau mau sembuh yah.”

Dr. Teddy lalu membungkuk dan memberikan penjelasan kepada Andin.
“Andin supaya ibumu gak ketularan kamu keluar masukin jari kamu di lubangnya ibu yah…kayak yang diakukan ibu ke kamu..ok”
“Iya dok…”
“Pinter,” ujar Dr. Teddy menepuk-nepuk kepala Andin.

Dr. Teddy bangkit lagi, “Nah ibu..siap ya…saya angkat gamisnya yah…biar Andin bisa masturbasiin ibu untuk cegah penyakit.”
“II..iya dok…”
Dr. Teddy pun mengankat gamis si ibu hingga seperut dan menarik turun CD putihnya. Si ibu membantu memegangi kain gamisnya agar jangan jatuh. Dr. Teddy sempat menelan ludah saat ia melihat paha si ibu yang semok. Gak kurus, tapi berisi.
“Nah Andin, sekarang tangannya yuk…”
Andin mengulurkan tangannya dan menjamah kemaluan ibunya. Jari tengahnnya dimasukkan ke dalam lubang ibunya perlahan, lalu ditarik lagi.
“UUuhh…”
Si ibu langsung memejamkan matanya dan melenguh keenakan.

“Bu maafin Andin ya, gara-gara Andin sakit, ibu bisa ketularan juga.”
Si ibu buru-buru membungkukkan badannya dan mengelus kepala putrinya
“Sudah kamu gak perlu pikiran itu, yang penting sekarang Andin keluar masukin jari lubang di lubang ibu, dan ibu colok-colok lubang Andin yah..biar kita sama-sama sehat,” ujar si ibu menenangkan anaknya.
Andin mengangguk tersenyum.

“Nah sekarang Andin buka mulutnya AAaaa,” perintah Dr. Teddy. Andin menurut.
Dr Teddy kembali mengarahkan penisnya ke mulut Andin dan memasukkannya ke dalam.
“Nah, sekarang kulum batang Dokter ya…obatnya ada di dalamnya mesti dikeluarin, Ok”
“Ngg..” Andin mengiyakan dengan mulut yang tersumpal batang Dr. Teddy.

Dr Teddy lalu memaju mundurkan pinggulnya, menikmati batangnya disepong Andin. Ia tarik lagi ke atas bajunya Andin, agar ia bisa melihat jelas kedua putingnya. Tngan kanannya bergerak, menjamah dan remas-remas lembut dada Andin. Sesekali ia pelintir-pelintir putingnya.
“Ngghh…nghh..,” responnya.
Sementara itu tangan kirinya digunakan untuk menahan kepala Andin yang berjilbab agar ia bisa bersenggama di mulutnya.

Nafas si ibu lama kelamaan berubah menjadi tak beraturan. Gerakan jarinya di lubang putrinya pun berubah menjadi semakin cepat.
“Mmhmhh..nghhh..nghh…,” lenguh Andin

Jari Andin pun juga ikut-ikutan menusuk-nusuk vagina ibunya dengan cepat. Jari mungi itu kelihatan sudah menjadi basah. Cairan bening ada yang mulai turun mengalir dari lubang vagina si ibu ke pahanya.

“Dok…remas dada saya juga dok…plis…” pinta si ibu
Dr. Teddy senang mendengar permintaan si ibu.
“Di buka donk bajunya.”
SI ibu menurut dan melepaskan bajunya dan dijatuhkan ke tanah. Kini ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan BH saja. Dr Teddy berdecak kagum melihat payudara si ibu yang besar.
“BH-nya…di lepas juga….,” pinta Dr. Teddy dengan suara bergetar.
Tanpa berpikir panjang si ibu melepaskan pengait depan BHnya dan meloloskannya talinya dari pundaknya. Lalu ia jatuhkan ke lantai.
Dr. Teddy jadi bernafsu banget ngeliat payudara si ibu yang mantap. Ia pun menangkupnya dari belakang punggung, melewati bawah tangannya, serta memainkan buah dada yang kenyal itu.

Andin baru kali ini ngeliat ibunya buka-bukaan seperti itu, dan baru pertama ngeliat seroang pria cemek-cemek dada ibunya. Darahnya berdesir. Jantungnya berdegup keras. Semuanya serba baru baginya.

Si Ibu pun mulai menggapai buah zakar Dr. Teddy dan mengelus-elusnya.
“AAhh…” Dr. Teddy merasakan kehangatan di pelernya..
“Ahh….gak kuat….ahh…keluar…keluar…”

Dr. Teddy memegang kepala Andin dengan kedua tangannya dan memaju mundurkan batangnya di mulut Andin. dengan cepat. Kumpulan sperma itu tak lama lagi akan meledak di rongga mulut gadis mungil ini.
“Ke..luaaar….aaahhh ahh….”
CROT CROOT CROTT CROT CRET CRET!
“Ahhh….”
Dr. Teddy merasakan kelegaan luar biasa. Lalu ia mencabutnya dari mulut Andin.
“Ditelan yah Andin…itu obatnya…”
Andin mengangguk. Ia teguk cairan Dr. Teddy. Otot lehernya tampak berkontraksi.
“PInter…”
“Dokter kasih sesuatu buat kamu yah…”
“Apa tuh?”

Dr. Teddy mendekatkan wajahnya ke wajah Andin. Keduanya saling memandang. Lalu Dr. Teddy mencium Andin dan menghisap-hisap bibir atas dan bawahnya.

Si ibu membelalak… melihat Dr. Teddy mencumbu putrinya dan Andin tampak menyukai setiap deitknya.
“Dokter apakah itu juga termasuk pengobatannya?”

Dr. Teddy menegakkan tubuhnya.
“Iyah…sudah pasti dan…sekarang ibu jilat vaginanya Andin, ya”
“Lho kenapa?”
“Iya…karena saliva ibu bisa menjadi bahan tambahan yang menguatkan kekebalan Andin, seperti vitamin. Jadi jangan lupa, nanti sambil dijilat, juga diludahin sedikit yah.”
“Gitu ya dok..?”
“Iyah…”

Si ibu memandang anaknya dengan penuh kasih sayang.
“Ibu jilat yah, nak..”
Andin mengangguk.
“Iya, bu terima kasih ya.”
Si ibu tersenyum dan mengelus kepala anaknya. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke alat kelamin putrinya. Di buka sedikit bibir vaginanya, diludahi lalu ia mulai menjilat-jilat belahan vaginanya.
“AAhh…ahhh…ahh….enak bu…”
Andin yang sedang keenakan sudah lupa untuk memasturbasi ibunya. Dr. Teddy tidak ingin membiarkan lubang vagina si ibu mubazir.
Dr. Teddy pun menarik turun gamis roknya, dan ia bisa melihat gundukan yang terbelah dari arah belakang. Ia lalu mengarahkan batangnya ke lubang si ibu. kebetulan posisinya sudah siap untuk di doggy. Tanpa meminta izin lagi, Ia langsung mendorong masuk batangnya ke dalam lubang si ibu yang sudah basah.
“OOhhh…Dr. Praz…” Sebentar ia melihat ke belakang, kemudian ia mulai merasakan kenikmtan hujaman-hujaman tusukan batang si dokter. “Astaga enaknya….” Lalu ia lanjut lagi mengoral anaknya di atas ranjang periksa.

Andin yang baru kali ini mengalami rasanya di oral, tidak dapat membendung cairannya untuk keluar.
“Bu…mau pipis…”
“Pipis aja Andin biar kamu sehat…”
“Ahh..ahh..ahh…ibu…duh..gak tahan lagi….KYA!” Andin menjerit histeris, saat ia mencapai orgasme. Kakinya mendorng pantatnya sampai ke udara, dan vaginanya menyemprotan cairan hingga keluar.

Si ibu buru-buru berpindah untuk melihat wajah putrinya.
“Ahh..ahh..dah keluar nak?”
Dia menanyakan keadaan Andin selagi sedang disodok sama Dr. Praz dari belakang.
Andin bisa meihat dari dekat, wajah ibunya yang sedang sangat keenakan. Tubuhnya bergerak-gerak maju mundur, demikian juga buah dadanya.

“Ibu lagi diapain? lagi diobati juga yah?”
“Mmhh ahh ahh.. iya nak..”
“Andin juga mau…diobati yang seperti ibu…”

Si ibu terkejut mendengar permintaan Andin…
“Andin….Andin masih kecil..ahh ahh..ahh. Belum boleh diobati seperti ini.”

Sementara itu dari belakang mempercepat memompa tubuh si ibu.
“Ahh…ahh..ahh..ahhh…”
Alis si ibu mengernyit menahan kenikmatan yang semakin memuncak.

“Tapi Andin mau….,” ucapnya menelan ludah melihat Dr. Praz menyetubuhi ibunya. Walaupun ia belum tahu itu namanya.

Di dalam keadan birahi yang sangat, pikiran si ibu tampaknya semakin tertutup. Bahkan ia mulai merasa birahi terhadap putirnya. Ia menggapai lagi kemaluan Andin. Ia colok-colok lagi dengan satu jari.
Andin agak mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang ibunya lakukan di bawah situ. Ia diam saja membiarkan perbuatan ibunya. Sensai nikmat mulai menjalar dari alat kelaminnya. Kemudian dari satu jari berubah jadi dua jari.
“Ohh…oh…yeaaahhh…”

Tapi saat jari ketiga masuk…raut wajah Andin berubah kesakitan.
“Aw sakit bu..udah..buat keluarin jarinya…sakit…”
“Tahan nak…tahan…biar ibu yang ambil keperawanan kamu yah…”
Andin bangkit dari tidurnya dan mencoba mencabut jari ibunya dari guanya.
“Sakit bu…”
“Tahan nakk..entar jadi enak lagi..”
Si ibu menidurkan lagi putrinya, kemudian ia jilat-jilat putingnya agar ia merasa lebih nyaman.
“Owwh…shh…kit…”
Sedikit demi sedikit membran keperawanan Ftri pun robek oleh jemari ibunya.
“AAhh sakit….”
Perlahan rasa sakit itu berubah menjadi enak.
“Mmhhh ahh…ahh…shh….”
Ketiga jari si ibu pun berbalur darah keperawan Andin dan cairan kewanitaannya.
Tiba-tiba hentakan keras penis Dr. Praz menyentuh batas klimaksnya, sehingga si ibu kelojotoan mencapai orgasme.
“Aahhhh…sampai….”
Ia mendorong Dr. Praz agar mencabut penisnya dari lubangnya.

“Saya nanggung bu,” keluh Dr. Teddy.

Tanpa menanggapinya, si ibu menyuruh Andin bangun. Andin menuruti perintah ibunya dan ia duduk di pinggir ranjang periksa.
Si ibu berbalik badan dan naik duduk di sebelahnya.
“Andin duduk di pangkuan ibu yuk.”
“Iyah.”
“Lepas tuh CDnya.”
“Iya bu.”

Setelah itu Andin berpindah posisi duduk di atas paha ibunya. Kedua kakinya berada disisi luar kaki ibunya. Vaginanya jadi agak terbuka. Setelah itu ibunya membuka lebar kedua pahanya, sehingga kedua paha Andin juga turut terbuka lebar, mempertontonkan lubang senggamanya.
“Kamu mau diobati Dr. Teddy seperti tadi kan?”
Andin memandang batang Dr. Teddy yang mengacung dan gak bergerak-gerak dikit. Ia menunduk, lalu mengangguk.

Si ibu memandang ke Dr. Teddy, “Tolong obati anak saya juga, dok. Pakai cara yang tadi”

Dada Dr. Teddy bergemuruh melihat posisi ibu dan anak itu. Mereka berdua masih memakai jilbab. Si ibu sudah tidak berpakaian, Andin masih lengkap berpakaian, tetapi semuanya sudah disibak.
“Eh..iyah…sebelumnya kalan berdua ciuman dulu biar saliva kalian bercampur di mulut agar bakteri kumannya mati. Si ibu merendahkan kepalanya dan Andin mengadahkan kepalanya ke atas menyamping. Bibir mereka bersentuhan, lalu si ibu melumat bibir putrinya. Ludahnya dipindahkan ke mulut Andin, kemudia dengan lidahnya ia mengaduk-ngaduknya di dalam.

Dr. Praz benar-benar terangsang oleh keduanya, ia pun mendekat sambil mengocok titinya. Ia naik ke anak tangga agar batangnya bisa sejajr dengan lubang Andin. Lalu Blezzzz!
Andin membelalak saat merasakan sebuah benda besar yang panjang menerobos masuk lubang senggamanya.

Ibunya saja merasa Dr. Teddy gede banget, apalagi anaknya.

Dr. Teddy tidak bisa leluasa mengeluar masukkan batangnya, sebab seret banget, meskipun lubang Andin sudah distimulasi sejak tadi dan basah licin.

Batang Dr. Teddy benar-benar tidak bisa masuk penuh, meskipun sudah berusaha didorong. Dr. Teddy sampai menganga mulutnya, karena jepitannya luar biasa banget. ia yakin pertahannya tidak akan bisa lama dengan keadaan seperti ini. Ia pun mulai memajumundurkan pantatnya dan bersetubuh dengan Andin.

“Ahh…aahh….shhh…ahhh…”

Kenikamtan yang sama pun juga dirasakan Andin. Lubangnya terasa penuh. Setiap sensor di kemaluannya mendapatkan gesekan penuh dari bendanya Dr. Teddy. Apalagi ini pengalaman pertamanya.
“Dr…dr…dr…Praz….shhh…ahh..”

Si ibu pun membuat anaknya makin gak kuasa menahan nikmatnya seks. Tangannya meraba-raba dan memainkan buah dadanya. Andin sudah benar-benar pasrah ia bisa meraskan gelombang klimaks bentar lagi datang. Sesaat ia hendak mencapai orgasme, tiba-tiba…
“AKh…keluar.! Dr. keluar!”
Andin bisa merasakan cairan panas menyembur di lubangnya. Di saat itu juga ia mencapai orgasme. Srrr…Sr…srrr….srr..
“Dr. Aku pipis lagi….”
“Ya bagus itu…”

Keduanya mencapai klimaks bersamaan.

Tak berapa lama setelah itu, kedua nya berpakaian lagi yang lengkap. Mereka kembali ke meja.
“Ok…kalian berdua sudah diberi obat dan disuntik kekebalan, kalau masih belum sembuh datang lagi untuk diadakan pemeriksaan.”
“Baik, dok, terima kasih ya. Ayo Andin bilang apa ke Dr.”
“Terima kasih dok.”
“Iya…lekas sembuh ya…”
“Ngg!..iya”

Ternyata beberapa hari kemudian Andin telah kembali menjadi sehat. Kehebatan pengobatan Dr. Teddy pun semakin terkenal di antara para wanita.

Sementara untuk si ibu itu dan anaknya, mereka berdua pun jadi sering mencolok-colok vagina mereka satu sama lain, untuk meningkatkan kekebalan tubuh merka dan tetap sehat.

Mbak Parmi

Cerita Dari Komentator: Jati P (Terima kasih atas bantuan ceritanya)

Biasanya aku sarapan pagi bersama papa dan mama, tapi pagi itu sarapan sendiri, karena papa dan mama pulang kampung ke Yogya mengajak Sigit, anak mbak Parmi. Di rumah hanya ada mbak Parmi, pembantu asal jawa dan aku.

Selesai sarapan, aku menaruh piring di cucian. Ketika melewati kamar mandi, pemandanganku terhenti memperhatikan mbak Parmi lagi mandi. Badannya membelakangi pintu sehingga tidak sadar pintu kamar mandi setengah terbuka. Tubuh tinggi padat berisi dan rambut hitam lebat panjang basah tersiram air menyebabkan sexku muncul menggebu. Aku segera kembali ke kamar. Disana langsung onani menggunakan pelicin baby oil sambil membayangkan seolah sedang menyetubuhi mbak Parmi. Tiba-tiba terpikir olehku kenapa tidak sekali-kali minta mbak Parmi melayani sexku? Bukankah dia juga pernah memergoki aku lagi onani di kamar?

Aku tidak menyelesaikan onaniku. Dengan penis mengacung tegang tanpa busana bagian bawah, aku menuju kamar madi. Ternyata mbak Parmi sudah selesai mandi dan ada di kamarnya. Kamar mbak Parmi yang tertutup langsung aku buka. Saat itu mbak Parmi sedang mengeringkan badan dengan handuk. Ia menjerit kaget. Tapi secepatnya mbak Parmi aku peluk dan aku dorong rebah ke tempat tidurnya. Ia meronta “jangan…..mas….. aku nggak mau…. Jangan….. aku takut…..”. Aku memaksanya sambil membentak “mbak diam saja…. nurut aku”. Aku semakin kalap ketika mbak Parmi mendorongku dan akhirnya tangan mbak Parmi aku kunci ke belakang. Setelah beberapa kali meronta tidak berhasil, akhirnya mbak Parmi menangis sesenggukan. Aku mengendorkan pegangan tanganku dan mengusap air matanya “Mbak, maafin aku ya…. aku kepingin merasakan. Mbak mau ya…. “. Kemudian mbak Parmi aku tarik berdiri dan aku peluk, aku ciumi. Penisku yang telah kendur kembali berdiri perkasa. Mbak Parmi diam dan kedua tangannya menutup dada dan perut bawah. Sekali lagi aku membisikkan kata “mbak,….. aku sayang sama mbak, maafin. Aku belum pernah merasakan seperti ini, beri aku sekali saja ya mbak….”. Aku usap-usap keningnya dan aku dekatkan mukaku ke mukanya sampai hidungku bersentuhan dengan hidungnya. “Mas…. mbak takut……mbak…. nggak mau…. nanti papa dan mama marah kalau tahu dan …. mbak takut hamil”. Aku peluk mbak Parmi dengan erat dan aku bisikkan kata “Mbak…. aku tahu caranya tidak hamil. Aku tidak keluarkan di dalam dan aku keluarkan di luar seperti onani. Aku ingin sekarang mbak, mumpung papa dan mama juga tidak di rumah. Aku kepingin banget merasakan dari mbak,…. boleh ya mbak….”.

Setelah mendapatkan berbagai bujukan dan rayuan, nafas mbak parmi melonggar dan kelihatan sedikit tenang. Kemudian ia semakin bisa menerima pelukanku yang tidak pernah lepas. Harum wangi sabun yang melekat di tubuh mbak Parmi menambah tinggi gairahku. Badan mbak Parmi aku balik searah dengan tubuhku. Penisku yang tegak berdiri menonjol ke pantatnya. Tanganku mengarah ke dadanya. Ternyata ia tetap tidak mau melepaskan kedua tangan yang menutupinya. Beberapa kali tanganku disibakkan. Akhirnya leherku menjulur dan mulutku menelusuri belakang telinga dengan kecupan lembut dan jilatan merangsang. Perlahan-lahan mbak Parmi bereaksi menengokkan kepala supaya lehernya tidak terjangkau mulutku. Setelah beberapa saat kemudian mbak Parmi bertambah tenang, tanganku berhasil menjangkau ujung buah dadanya. Dengan tarikan dan pelintiran halus di putingnya, mbak Parmi tidak melawan lagi. Tangan kananku melingkar meraba ke perut bawah tapi dengan sigap tangannya menyingkirkan tanganku. Ketika tanganku ke atas menuju buah dadanya kembali, ternyata ia membiarkan saja. Aku semakin yakin bisa berhasil menyetubuhi sehingga jariku dengan pelan mengusap gunung kenyal menonjol. Remasan halus di buah dada mbak Parmi dengan pijitan ke arah depan dan pelintiran perlahan di puting susu, menyebabkan mbak Parmi menarik nafas dalam.

Ketika mulutku mengisap tengkuknya dan kedua tanganku meremas gemas di kedua gunung kembarnya, nafas mbak Parmi mulai memburu. Aku melirik matanya terpejam. Tarikan nafas di mulutnya terdengar mendesis dan kepala yang semula tegak sudah dirobohkan ke pundakku. Aku mendudukkan dan merebahkan mbak Parmi ke tempat tidurnya dengan kaki menjuntai ke bawah. Mulutku mulai menelusuri gunung kembar sambil melepaskan baju kaus yang masih di badanku. Puting kecil kemerahan mulai aku sedot dengan mulutku dan satunya aku memelintir. Semakin ke bawah mulutku bergerak menelusuri perutnya, semakin panjang tarikan nafas mbak Parmi.

Ketika mulutku sampai ke belahan paha, lidahku menjulur memasuki lipatan basah dan menyusup ke dalam. Aku mencari daging kecil seperti yang aku lidat dalam tontonan VCD. Daging itu aku usap dengan ujung lidah. Tiba-tiba mbak Parmi menggelinjang dan tangannya meremas rambutku serta menekan ke dalam. Lidahku liar masuk ke liang vagina dan daging lembut menonjol itu aku permainkan dengan lidahku. Mbak Parmi mengerang lembut sambil nafasnya sedikit tersengal dan kepalanya digoyangkan ke kanan dan kiri, aku segera mengakhiri permainan itu dan ganti penisku menyusup vagina mbak Parmi.

Posisiku berdiri dan badan mbak Parmi rebah di kasur dan kakinya menjuntai ke tanah. Ketika ujung penisku menyusup di ujung liang senggama, mbak Parmi membuka pahanya lebar sehingga memudahkan aku memasukkan penis. Untuk lebih memudahkan, maka kedua kakinya aku letakkan di atas pundak. Aku merasakan nikmat ketika penis makin masuk ke dalam dan akhirnya …. bles…. sampai pangkalnya. Tarikan dan dorongan sambil gerakan diputar menyebabkan gerakan kepala mbak Parmi ke kiri dan kanan semakin sering. Tiba-tiba ujung penisku seperti disedot dalam vagina sehingga aku mengocok maju mundur lebih cepat. Mbak Parmi tiba-tiba mengejang dan pantatnya diangkat sambil mendesis suara tertahan “…….mmmaaass…….ssss…..ooohhhahhh…..sessss…..aauuw…..ssss….”. Di penisku terasa ada gerakan denyut yang memeras. Begitu nikmat sehingga ujung penisku merasakan ada sesuatu yang mau keluar. Dengan cepat penisku aku cabut. Tumpahlah maniku di pahanya dan jatuh di ubin. Terasa badabku ringan dan otot-otot mengendur santai. Kemudian aku tertidur disisi mbak Parmi. Hari itu perjakaku hilang untuk mbak Parmi.

Aku terbangun dan mbak Parmi tidak ada disisiku. Aku mencarinya karena kawatir mbak Parmi minggat dari rumah. Aku menemukan mbak Parmi di gudang belakang duduk di lantai sambil menangis. Aku dekati dia dan aku usap rambutnya yang hitam panjang. Aku bisikan kata-kata “mbak, maafin aku ya….. aku telah khilaf membuat mbak Parmi marah”. Kemudian aku berkotbah tentang moralitas dan kebutuhan sex perempuan “mbak… bayangkan kalau aku tidak dikasih mbak Parmi, berarti aku dengan pelacur kan…. Mbak Parmi pasti tahu seusiaku seperti ini kebutuhan penyaluran pasti sangat besar”. Kepala mbak Parmi aku jatuhkan ke pundakku “begitu juga kalau wanita nggak pernah melakukan senggama, dia cepat tua dan bisa kena kangker lho… dan yang menakutkan keinginannya bisa hilang..” Khotbahku panjang lebar mulai meluluhkan hatinya “Apapun yang telah terjadi…. aku berterimakasih aku lebih memilih mbak Parmi yang pasti bersih, sehat dan pernah punya pengalaman. Disamping itu mbak Parmi sangat sayang padaku”. Setelah aku merayu cukup lama, akhirnya mbak Parmi mau ku ajak makan siang. Untuk menambah kemesraan, sesekali mbak Parmi aku suapi.

Sambil makan aku mengemukakan keinginanku merasakan lagi. Semula mbak Parmi menolak, tapi akhirnya dia bersedia dengan syarat tidak boleh ada yang keluar dalam rahimnya. Aku setuju dan aku juga meminta ke mbak Parmi kalau merasa nikmat dan kepingin menjerit, jangan sungkan-sungkan. Kemudian aku keluar sebentar membeli jamu biar bisa main lebih lama. Mbak Parmi aku minta menutup semua pintu agar tidak ada tamu yang mengganggu.

Aku dan mbak Parmi mandi bersama. Elusan dan remasan di buah dada dengan sabun cair menyebabkan mbak Parmi seperti tersihir dengan menciumi pipi dan bibirku seperti kesetanan. Kelihatan sekali nafsu mbak Parmi tiba-tiba berkobar luar biasa. Shower air hangat aku buka untuk mengakhiri mandi bersama. Mbak Parmi aku peluk menghadap ke depan di bawah shower air hangat sambil kedua tanganku meremas dan menarik buah dadanya. Aku merasakan gejolak nafsunya mbak Parmi telah sampai puncak dengan ditandai dia menarik penisku untuk dimasukkan ke vaginanya. Secepatnya aku dan mbak Parmi mengeringkan badan dan menuju kamarku.

Pantatnya aku ganjal bantal sehingga vaginanya menonjol lebih tinggi. Aku susupkan penisku setahap-setahap dan tiba-tiba tanganku diraih mbak Parmi diletakkan ke buah dadanya. Aku remas kedua gunung kenyal itu dan pinggulku bergerak maju-mundur, sesekali diputar dan dalam hitungan tertentu hanya tudung penis yang masuk dan saat berikutnya dengan gerak menggenjot seluruh penis masuk sampai pangkal pinggul. Mbak Parmi menggoyangkan pantat dan kepalanya bergerak kanan kiri.
“Ooooohhhhh……..aaaahhhhhhh……sssstttttttt……ttterrrruuuuuusssss ……… yaaaaaaahhhhhh.. mbbaaakk….. ma..u.. keluaaaarrrrrr ….. oohh..oohh..oohh…aahh..aahh..” . Mbak Parmi tidak malu lagi mengeluarkan suara rintih dan jerit kenikmatan. Remasan di penisku dan suara rintih dan jerit kenikmatan yang dikeluarkan mbak Parmi menyebabkan aku tidak kuat menahan lebih lama. Ujung penis yang semakin mendesak menyebabkan aku cabut dari liang vagina dan …. croott……crootttt……croott…. maniku muncrat ke perut mbak Parmi.

Hari itu aku dan mbak Parmi bermain sampai puas. Pagi harinya mbak Parmi aku ajak ke dokter untuk pasang susuk KB. Sejak saat itu aku tidak perlu mencabut penis setiap kali maniku muncrat. Nikmat dan nikmat paling tinggi rasakan ketika penis dalam cengekeraman vagina disodokkan sampai pangkal sambil memuncratkan air mani.

Selesai

Ngentot bos ku

Selama satu minggu Ibu Mertuaku berada di Jakarta, hampir setiap hari setiap ada kesempatan aku dan Ibu Mertuaku selalu mengulangi persetubuhan kami. Apalagi setelah Indri istriku ditugaskan ke Medan selama tiga hari untuk mengerjakan proyek yang sedang di kerjakan kantor istriku, Aku dan Ibu mertuaku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang kami peroleh, kami berdua semakin lupa diri. Aku dan Ibu mertuaku tidur seranjang, layaknya suami istri, ketika hasrat birahi kami datang aku dan Ibu Mertuaku langsung menuntaskan hasrat kami berdua. Kusirami terus menerus rahim Ibu Mertuaku dengan spermaku, akibatnya fatal. Baca lebih lanjut

Kenangan Ebtanas

Pertama-tama aku mau memperkenalkan diri dulu. Namaku “Eot” (nama panggilan dari orangtua dan teman-teman). Aku sekarang berumur 24 tahun dan sudah bekerja di salah satu perusahaan konsultan swasta di Jakarta. Cerita ini merupakan kisah nyata yang benar-benar terjadi beberapa tahun yang lalu (kira-kira bulan July tahun 1989), saat itu aku baru duduk di kelas 1 SMA di SMA Negeri ‘XXX’ di kota Bandung. Pada saat itu aku punya seorang pacar yang sudah kupacari selama kurang lebih 1 tahun 2 bulan, aku dan dia memang sudah pacaran semenjak di bangku SMP (pada saat itu aku dan dia sama-sama di SMP negeri-Bandung). Pacarku adalah adik kelasku pada saat itu. Baca lebih lanjut

Tempat Kostku

Panggil aku Andi (bukan nama sebenarnya), aku kuliah di salah satu perguruan tinggi di Surabaya, fakultas kedokteran. Cerita ini bermula ketika aku secara tidak sengaja menemukan sebuah tempat kos yang ideal di pinggiran kota surabaya, walaupun tempatnya lumayan jauh dari fakultas tapi tempatnya sepi, cocok untuk aku menyelesaikan skripsiku.
Aku memang secara tidak sengaja menemukanya pada saat aku dalam perjalanan pulang dari rumah temanku. Ketika itu aku mampir di sebuah warung untuk makan dan disana aku berkenalan dengan pak Iwan dan iseng aku menanyakan apakah ada tempat kos di daerah sini. Dan ternyata dia menawarkan rumahnya yang tidak jauh dari situ untuk saya tempati dan ketika itu juga aku diajak melihat langsung ke rumahnya. Disana pak Iwan tinggal bertiga dengan Istrinya dan dengan keponakan perempuannya bernama Mila yang juga kuliah di salah satu PTN di Surabaya. Baca lebih lanjut

Orang-orang Pasar

Malam itu pasar sudah sedikit sepi, dan dibeberapa sudut kios sudah terlihat gelap, cukup menyeramkan bagi orang-orang yang tidak pernah memasuki pasar pada malam hari lain halnya dengan orang-orang berikut ini…

Si Ujang

Ujang anak jalanan, umurnya baru 15 tahun, badannnya kurus. Ujang yang biasa tidur di salah satu kios pasar, setelah sibuk ngamen diperempatan jalan pasar “X”. Malam itu seperti biasanya si Ujang masuk pasar, saat dia sedang mencari kardus bekas untuk alas tidurnya, Ujang didatangi oleh Rono preman pasar tersebut yang saat itu sedang setengah mabuk setelah minum minuman keras bersama teman-temannya. Baca lebih lanjut

Anak kedokteran

//cerita-panas.info/img/ad.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.

saya adalah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di kota medan.sekarang duduk di semester 7..saya tinggal di daerah medan tuntungan.tinggi saya 164 berat 60 kg dan dapat digolongkan gemuk.saya mempunyai tetangga nmaanya dewi seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di medan dia mengambil jurusan kedokteran.

sudahlah lupakan siapa saya dan dewi.ini peristiwa terjadi setahun yang lalu begini ceritanya.pada hari sabtu pukul 14;30 saya berdiri didepan rumah saya lalu saya dipanggil oleh dewi”bang kemarilah”kata dewi “ada apa wi”jawabku ‘abang bisa bantu kami ” kata dewi “bantu apa kalau bisa pasti aku bantu”jawabku setelah itu aku diajak kedalam rumahnya dan didalam rumahnya talah ada dua orang temannya lalu aku diperkenalkannya rini dan rina (samaran). Baca lebih lanjut

Seorang Napi

Hari itu Warso dipanggil oleh sipir penjara ,karena ada suatu keperluan yang amat penting. Lalu iapun menerima surat pembebasan yang jatuh pada hari itu.. Ia amat gembira dan sangat bahagia sebab ia akan bebas dan bisa menentukan arah dan sisa hidup selanjutnya. Meski saat itu usianya menginjak 60 tahun. Setelah meninggalkan penjara itu iapun melangkahkan kaki menuju rumah temannya yang telah bebas lebih dulu darinya yang berada di kota Solo itu untuk menemui Gondo. Gondo adalah sahabatnya saat di penjara yang telah dahulu bebas. Ia menemui Gondo karena dijanjikan untuk bekerja sebagai penarik becak dikota itu. Kebetulan Gondo amat dekat dengan Warso. Tidak lama kemudian Warsopun bertemu Gondo yang rumahnya tidak terlalu sulit ia temukan. Baca lebih lanjut

Mbak Suster

Seperti sebagian besar teman senasib, saat menjadi mahasiswa saya menjadi anak kost dengan segala suka dan dukanya. Mengenang masa-masa sekitar lima belas tahun lalu itu saya sering tertawa geli. Misalnya, karena jatah kiriman dari kampung terlambat, padahal perut keroncongan tak bisa diajak kompromi, saya terpaksa mencuri nasi lengkap dengan lauknya milik keluarga tempat saya kost. Masih banyak lagi kisah-kisah konyol yang saya alami. Namun sebenarnya ada satu kisah yang saya simpan rapat-rapat, karena bagi saya merupakan rahasia pribadi. Kisah rahasia yang sangat menyenangkan.

Keluarga tempat kost saya memiliki anak tunggal perempuan yang sudah menikah namun tetap tinggal di rumah orang tuanya. Mbak Sus, demikian kami anak-anak kost memanggil, berumur sekitar 35 tahun. Tidak begitu cantik tetapi memiliki tubuh bagus dan bersih. Menurut ibu kost, anaknya itu pernah melahirkan tetapi kemudian bayinya meninggal dunia. Jadi tak mengherankan kalau bentuk badannya masih menggiurkan. Kami berlima anak-anak kost yang tinggal di rumah bagian samping sering iseng-iseng memperbincangkan Mbak Sus. Perempuan yang kalau di rumah tak pernah memakai bra itu menjadi sasaran ngobrol miring.

“Kamu tahu nggak, kenapa Mbak Sus sampai sekarang nggak hamil-hamil?” tanya Robin yang kuliah di teknik sipil suatu saat.
“Aku tahu. Suaminya letoi. Nggak bisa ngacung” jawab Krus, anak teknik mesin dengan tangkas.
“Apanya yang nggak bisa ngacung?” tanya saya pura-pura tidak tahu.
“Bego! Ya penisnya dong”, kata Krus.
“Kok tahu kalau dia susah ngacung?” saya mengejar lagi.
“Lihat saja. Gayanya klemar-klemer kaya perempuan. Tahu nggak? Mbak Sus sering membentak-bentak suaminya?” tutur Krus.
“Kalian saja yang nggak tanggap. Dia sebenarnya kan mengundang salah satu, dua, atau tiga di antara kita, mungkin malah semua, untuk membantu”, kata Robin.
“Membantu? Apa maksudmu?” tanyaku tak paham ucapannya.
Robin tertawa sebelum berkata, “Ya membantu dia agar segera hamil. Dia mengundang secara tidak langsung. Lihat saja, dia sering memamerkan payudaranya kepada kita dengan mengenakan kaus ketat. Kemudian setiap usai mandi dengan hanya melilitkan handuk di badannya lalu-lalang di depan kita” Baca lebih lanjut

Janin Tak Berayah

Aku dibilang anak dari keluarga broken home sepertinya tidak bisa, walaupun ayah dan ibuku bercerai saat aku baru saja diterima di perguruan tinggi. Adanya ketidakcocokan serta pertengkaran-pertengkaran yang sering kali terjadi terpaksa meluluh-lantakkan pernikahan mereka yang saat itu telah berusia 18 tahun dengan aku sebagai putri tunggal mereka. Baca lebih lanjut